
Secara perlahan Dika mulai membuka matanya. Akhirnya Dika siuman setelah 11 hari mengalami koma. Pak Arthama yang melihat hal tersebut pun merasa sangat senang.
"Dika..." sudut bibir Pak Arthama naik membentuk senyuman bahagia.
Pak Arthama langsung memanggil Dokter dan perawat. Dika pun segera diperiksa oleh dokter. Pak Arthama kemudian segera mengabari Amel, Widia, dan yang lainnya mengenai hal tersebut. Mereka pun juga merasa sangat senang akan kabar tersebut. Tak berselang lama dokter keluar dari ruang ICU.
"Bagaimana keadaan anak saya dokter?" tanya Pak Arthama.
"Akhirnya pasien sudah sadar dari komanya. Tapi karena kondisinya yang masih belum stabil, ia masih harus dirawat di ruang ICU," jelas dokter.
"Baik dokter, lakukan apapun yang terbaik untuk anak saya," ucap Pak Arthama.
"Pasti pak, kami selalu berusaha semaksimal mungkin..."
"Terima kasih dokter..."
"Apa saya boleh masuk dokter?" tanya Widia.
"Saya juga mau masuk dok," ucap Restu.
"Demi kenyamanan pasien, untuk saat ini hanya 1 orang saja yang boleh menemaninya di dalam. Lebih baik jika masuk secara bergantian," ucap dokter.
"Baik dok," balas Widia dan Restu.
"Kalau begitu saya permisi dulu..." ucap Dokter.
"Iya dok..."
Dokter pun pergi meninggalkan mereka.
"Terima kasih Tuhan, akhirnya kak Dika sudah sadar," batin Amel.
"Widia boleh masuk kan om?" tanya Widia kepada Pak Arthama.
"Restu boleh ke dalam kan om?" tanya Restu secara bersamaan.
Restu dan Widia sejenak saling bertatapan.
"Pokoknya gue harus ketemu sama Dika sekarang," batin Widia.
"Gue yang harus masuk ke ruang ICU sekarang," batin Restu.
"Iya," balas Pak Arthama.
Setelah mendapat persetujuan dari Pak Arthama, Widia langsung berjalan masuk ke ruang ICU.
"Yah, langsung masuk aja si Widia," gumam Restu.
Restu pun juga menyusul Widia masuk ke ruang ICU, namun Bryan menghentikannya.
Bryan memegang tangan Restu. "Lo mau ke mana?"
"Mau masuk lah," balas Restu.
"Lo nggak denger dokter bilang apa tadi? Yang boleh masuk cuma satu orang."
"Tap..." ucapan Restu terpotong.
"Lo kan cowok, jadi lo harus ngalah sama Widia."
Restu menatap malas pada Bryan. "Iya, iya..."
Restu berdiri di depan pintu ICU. "Pokoknya setelah Widia keluar, gue yang akan masuk ke dalam. Nggak ada yang boleh nyalip gue. Gue mau ketemu sama Dika."
Pak Arthama, Bryan, dan yang lainnya pun tertawa kecil.
"Iya, iya..." ucap Pak Arthama.
"Nggak sabar banget lo mau ketemu sama Dika wkwkk..." ucap Bryan.
Restu memperhatikan Dika dari luar melalui jendela. "Lo udah seperti saudara gue sendiri Dika. Kita bersaudara bukan melalui darah. Kita jadi saudara melalui perasaan," batin Restu.
Sementara itu di ruang ICU Widia duduk di samping Dika. Widia sangat senang melihat Dika kini sudah membuka matanya.
"Akhirnya lo sadar juga, gue kangen sama lo... " ucap Widia.
Dika sama sekali tidak merespon ucapan Widia. Bahkan ia samasekali tidak melirik Widia. Dengan matanya yang setengah terbuka, Dika hanya menatap ke arah depan.
"Walaupun Dika belum bisa merespon ucapan gue, tapi setidaknya sekarang dia udah buka matanya," batin Widia.
...****************...
Sampai keesokan harinya Dika belum juga merespon orang-orang di sekitarnya. Walaupun seperti itu Pak Arthama dan yang lainnya masih tetap berusaha berkomunikasi dan mengobrol dengan Dika.
"Selama 11 hari kamu koma, banyak yang jengukkin kamu. Mereka semua sedih lihat kamu sakit... Kamu cepetan sembuh Dika..." ucap Pak Arthama. Namun Dika tetap saja tidak merespon ucapan Pak Arthama.
Beberapa saat kemudian terlihat Dika berusaha menggerakkan bibirnya. Dika terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu. Pak Arthama yang melihat hal tersebut pun merasa senang.
"Iya Dika, kamu mau bicara apa? Katakan?" ucap Pak Arthama.
Dengan susah payah dan dengan bibirnya yang bergemetar Dika berusaha mengatakan sesuatu.
"Di-as..." ucap Dika kurang jelas.
Deg...
Pak Arthama tertegun mendengar ucapan Dika.
Walaupun Dika berbicara dengan kurang jelas, tapi Pak Arthama masih bisa mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Dika.
"Dimas... dia masih dirawat... Sudah, kamu jangan mikir macam-macam. Yang terpenting sekarang kamu harus fokus sama kesembuhan kamu dulu," ucap Pak Arthama.
...****************...
Hari demi hari pun berlalu, kondisi Dika sudah berangsur-angsur membaik. Dika pun sudah dipindahkan ke ruang rawat. Kini ia sudah bisa duduk dan berkomunikasi dengan baik. Setiap hari Dika bertanya mengenai Dimas, namun Pak Arthama dan yang lainnya sampai saat ini masih belum mengatakan hal yang sebenarnya pada Dika. Bahkan agar Dika tidak curiga, Pak Arthama sesekali berbohong bahwa ia pergi untuk menemani Dimas.
...****************...
Karena Dika terus memikirkan Dimas, ia sampai memimpikan Dimas.
Dimas tengah duduk di sofa sambil memperhatikan Dika yang sedang tertidur. Ketika Dika membuka matanya, ia begitu senang melihat Dimas. Secara ajaib Dika dapat berdiri dan menghampiri Dimas. Dimas pun berdiri dan langsung memeluk Dika.
"Lo jangan khawatir sama gue. Lo harus fokus sama kesehatan lo. Gue mohon, lo jangan sedih, jangan nangis. Gue juga ikut sedih lihat lo sedih..." ucap Dimas.
Dika tidak berkata sepatah kata pun, ia hanya memejamkan matanya sembari memeluk Dimas dengan sangat erat.
...****************...
Tiba-tiba Dika membuka matanya, ia langsung memperhatikan sekeliling ruangan. Dika melirik jam dinding dan terlihat waktu menunjukkan pukul 12.00 malam. Suasana begitu sunyi, terlihat hanya ada Pak Arthama yang tengah tertidur di sofa.
"Ternyata cuma mimpi... Gue kangen banget sama Dimas, gue kepikiran sama dia terus. Semoga dia baik-baik aja. Besok apapun yang terjadi gue harus ketemu sama Dimas..." batin Dika.
Beberapa saat Dika masih terjaga. Dika pun kemudian kembali memejamkan matanya dan tertidur.
...****************...
Keesokan paginya ketika Dika terbangun, ia sudah mendapati Amel, Restu, Widia, dan Bryan sudah berada di sana.
"Kalian pagi-pagi banget udah ada di sini," ucap Dika.
"Iya, sekarang kan hari libur, jadi kita bisa kesini sepagi ini," ucap Widia.
"Akhirnya lo bangun juga. Emang lo dasarnya tukang tidur, jam segini baru bangun," ucap Restu.
"Eleh, kayak lo sering bangun pagi aja... Ngomong-ngomong apa kabar sama bebek-bebek gue?" ucap Dika.
"Wkwkwk.. lagi sakit masih aja inget sama bebek," ucap Widia.
"Tenang aja, gue udah suruh orang buat jagain bebek-bebek lo," ucap Restu.
"Thanks ya."
"Santai aja," balas Restu.
"Oh iya, papa di mana?" tanya Dika.
"Tadi papa bilang, papa ada urusan mendadak di kantor," ucap Amel.
"Jadi papa udah pergi ke kantor lagi. Pasti kondisi Dimas udah membaik, makanya papa berani ninggalin dia..." batin Dika.
"Apa papa perginya udah dari tadi?" tanya Dika.
"Belum, papa baru aja pergi. Apa Kak Dika ada perlu sama papa?" ucap Amel.
"Gue mau minta papa buat ajak gue ketemu sama Dimas."
Seketika semua terdiam saat mendengar ucapan Dika.
"Gimana keadaan Dimas sekarang?" tanya Dika.
"Dia.. masih di ruang ICU," ucap Bryan.
"Gue pengen ketemu sama dia. Anterin gue ke ruang ICU."
"Dika, lebih baik lo jangan ketemu Kak Dimas dulu. Kondisi lo masih belum pulih sepenuhnya. Selain itu Kak Dimas juga belum boleh di jenguk," ucap Widia.
"Tapi gue cuma mau lihat dia sebentar aja. Walaupun cuma dari luar jendela juga nggak apa-apa."
"Nanti setelah om kesini, lo bisa minta injin sama papa lo. Lo bicara langsung sama papa lo," ucap Bryan.
"Iya," balas Dika.
"Gue berharap Om Arthama akan segera mengatakan yang sebenarnya sama Dika. Ini semua udah nggak bisa ditutupi lagi," batin Bryan.
...°...
...°...
...----------------...
...BERSAMBUNG...
...----------------...
...°...
...°...
...°...
...Sambil menunggu cerita ini update, yuk mampir ke cerita author yang lainnya yang berjudul "Berbeda"...
...Jangan lupa dijadiin fav yaaa🤭......
...Jangan lupa like, komentar, vote, dan ratenya ya agar author jadi lebih semangat 🤗......
...Terima kasih 🙏💕......