Choco

Choco
Mengajak Liburan



Di pagi hari, sekitar pukul 10 pagi. Dika mengunjungi rumah Widia. Di depan rumah, terlihat Bu Asih dan Aldi sedang menyirami tanaman.


"Eh, Dika..." ucap Bu Asih melihat kedatangan Dika.


Dika pun mencium tangan Bu Asih. "Pagi bu..."


"Pagi..." balas Bu Asih.


Dika kemudian hanya tersenyum kepada Aldi untuk menyapanya, Aldi pun juga membalasnya dengan senyuman.


"Ini bu, saya bawa bebek panggang. Ini saya buat sendiri loh..." Dika memberikan bebek tersebut kepada Bu Asih.


Bu Asih menerima bebek tersebut, ia kemudian mencium bau bebek panggang tersebut. "Heumm.. baunya aja udah enak banget. Terima kasih ya. Hebat banget kamu bisa buat sendiri."


"Dika caper banget sama tante Asih," batin Aldi.


"Ibuk bisa aja. Itu saya nyoba beberapa kali baru bisa berhasil. Awalnya ada gosong, ada mentah, pokoknya gagal," ucap Dika.


"Malahan ibu tambah kagum karena kamu sudah berusaha dan tetap mencoba berkali-kali walaupun gagal."


Dika pun merasa malu karena dipuji oleh Bu Asih, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ah, ibu muji saya terlalu berlebihan."


Beberapa saat Bu Asih menatap bebek panggang tersebut, Bu Asih kemudian mengembalikan bebek panggang tersebut kepada Dika. "Ini..."


"Loh kenapa dikembaliin buk?" ucap Dika kaget.


"Jangan-jangan gue salah ngomong," batin Dika.


Aldi yang melihat hal tersebut pun menahan tawanya. "Huft.. rasain lo," ucap Aldi dalam hati.


Bu Asih pun tersenyum melihat ekspresi kaget Dika. "Kamu tidak usah kaget seperti itu. Ibu cuma mau nyuruh kamu naruh bebek ini di dapur. Nggak mungkin kan ibu nyiram tamanan sambil bawa bebek."


"Yah, nggak jadi dikembaliin deh," batin Aldi.


Dika tertawa kecil. "Oohh.. saya kira apa. Iya bu, saya taruh di dapur sekarang... Widianya ada kan bu?"


"Ada, tadi dia lagi mandiin anjingnya," jawab Bu Asih.


"Ya udah, kalo gitu saya masuk dulu ya buk," ucap Dika.


"Iya," balas Bu Asih.


Dika masuk ke dalam rumah, dan ia kemudian langsung menaruh bebek panggang tersebut di dapur. Ketika Dika menuju halaman belakang rumah untuk menemui Widia, di ruang tengah ia melihat Bryan sedang duduk di sofa sembari mengerjakan tugas di laptopnya, namun sesekali Bryan mengalihkan pandangannya pada televisi di depannya. Dika lantas memilih duduk di samping Bryan, ia pun mengurungkan niatnya untuk menemui Widia di halaman belakang.


Dika memperhatikan layar laptop Bryan. "Ya ampunn.. Bryan, Bryan.. kalo nonton tv, nonton tv aja kali, santai.. jangan pake isi buat tugas. Sekali-sekali nikmatiin hidup."


"Kalo nggak sambil buat tugas, nggak akan selesai-selesai tugas gue. Tugas gue banyak banget," ucap Bryan sembari tetap fokus pada laptopnya.


"Ribet banget jadi lo wkwkwk... Lagian lo sih, semua kerjaan diambil, jadi ketua OSIS, sering ikut lomba ini itu..."


"Gue mah udah biasa, nggak kayak lo, nggak pernah buat PR, ke sekolah sering telat, kena hukum juga hampir tiap hari," ucap Bryan.


"Itu kan gue yang dulu, sekarang gue udah berubah. Ranking gue aja udah naik, sekarang gue ranking 21, nggak kayak dulu lagi, ranking 1 dari belakang wkwkwk..." ucap Dika dengan bangga.


Bryan menahan tawanya. "Huft.. bener, bener, hidup emang harus disyukuri. Yah, setidaknya lo udah nggak ranking 40 lagi wkwkwk..."


"Iya dong..." balas Dika.


"Ngomong-ngomong lo tau nggak? Kenapa Dimas mengundurkan diri jadi wakil ketua OSIS? Dia bilang sih, karena capek, tapi gue nggak yakin. Selama gue bareng sama dia, gue nggak pernah denger dia ngeluh soal tugas-tugasnya jadi wakil ketua OSIS, malahan dia selalu semangat," ucap Bryan.


"Kalo soal itu, gue juga nggak tau. Yang jelas, pasti ada sebabnya dia mengundurkan diri. Tapi mungkin aja sih, seperti yang dia bilang, karena dia emang bener capek."


"Hmm.. bisa jadi," balas Bryan.


"Sebenarnya akhir-akhir ini gue ngerasa ada yang aneh sama Dimas. Dulu Dimas rajin banget, hampir setiap saat gue lihat dia belajar terus. Tapi sekarang, dia sering tidur, sering keluar rumah, bahkan dia mengundurkan diri sebagai wakil ketua OSIS," batin Dika.


Dika mengambil sebungkus keripik kentang yang ada di samping Bryan, ia pun memakan keripik kentang tersebut.


Bryan mengambil kembali keripik kentang tersebut. "Eh, lo main makan-makan aja..." Bryan memakan beberapa keripik kentang tersebut, ia kemudian menaruhnya kembali di atas meja.


"Adeh, gue cuma makan dikit doang. Lagian gue tau, lo juga nggak akan kekurangan makanan walau gua makan 10 bungkus keripik kentang lo."


"Bukan itu, masalahnya kalo lo habisin, juga jadi harus ngambil lagi ke kulkas. Gue harus jalan ke sana, dan semua itu butuh tenaga, males gue."


"Dasar pelit," ucap Dika.


"Emang pelit. Tapi cuma sama lo doang."


"Lo nggak pernah denger apa? Tamu itu adalah raja."


"Ngomong lagi lo, gue nggak restuin jadi adik ipar!" Ancam Bryan.


"Eleh, ancaman lo itu terus. Nggak ada yang lain apa? Wkwkwk... Daripada berduaan sama lo, mending gue cari adek lo aja," Dika pun kemudian pergi meninggalkan Bryan.


"Pergi sana! Ganggu gue aja lo," ucap Bryan kepada Dika yang berjalan pergi.


...****************...


Di halaman belakang terlihat Widia sedang sibuk memberi makan anjingnya bernama Moza. Dika pun menghampiri Widia dan Moza.


"Akhirnya lo dateng juga," ucap Widia.


Dika mengelus kepala Moza. "Nggak kerasa Moza udah sebesar ini, waktu kita nemuin dia di jalan, dia masih kecil, badannya juga kurus banget. Udah 1 minggu dia di sini, gue bawa pulang ya?"


"Yaah.. biarin dia sama gue lagi 3 hari aja ya, pliss..." ucap Widia sembari tersenyum.


Dika pun ikut tersenyum. "Ya ampun, senyumnya," batin Dika.


"Iya, iya, lagi 3 hari lagi," ucap Dika.


"Nah, gitu dong..."


"Lo jangan senyum terus, gue nggak tahan, gue jadi ikutan senyum-senyum kayak orang gila." Dika menjepit bibirnya untuk menahan senyumannya.


Namun bukannya menuruti perkataan Dika, Widia malah terus tersenyum kepada Dika. Dika kini sudah tidak bisa menahan senyumannya, ia pun juga ikut tersenyum. Dika kemudian mengalihkan pandangan sembari menahan senyum. Sementara Widia terus memperlihatkan senyumannya di depan wajah Dika.


"Ah, lo apaan sih Nyet? Gue jadi kayak orang gila senyum-senyum terus," ucap Dika.


"Wkwkwk..." Widia hanya membalas Dika dengan tertawa.


Tiba-tiba Aldi datang menghampiri mereka dengan membawa 2 es krim cokelat.


Aldi memberikan salah satu es krim tersebut kepada Widia. "Ini, kakak beliin es krim buat kamu 1."


"Buat gue mana?" tanya Dika.


"Gue lupa," jawab Aldi singkat.


Dika pun menatap malas pada Aldi, namun Aldi tidak menghiraukan Dika.


"Kebetulan tadi kakak keluar dan lihat ada dagang es krim, kakak langsung inget deh sama kamu, kamu kan suka banget makan es krim cokelat. Gimana? Es krimnya enak kan? Ini katanya varian baru," ucap Aldi kepada Widia.


"Enak lah kak, ini kan kesukaan Widia," balas Widia.


"Aldi cari perhatian aja," batin Dika.


Aldi pun tersenyum mendengar ucapan Widia. Aldi memperhatikan Widia dan terlihat ada noda es krim di sudut bibir Widia. Ia pun mengusap bibir Widia. "Kalo makan jangan belepotan, kayak anak kecil aja."


Widia hanya diam karena ia merasa kaget tiba-tiba Aldi mengusap bibirnya. Karena Widia tidak ingin melihat Dika cemburu, ia langsung menjauhkan wajahnya dari tangan Aldi.


"Aldi cari kesempatan aja, pengen banget gue nonjok mukanya yang sok ganteng Itu... Gue diam karena cuma nggak pengen Widia nganggap gue posesif dan buat Widia merasa terkekang," batin Dika.


Widia pun mengusap sendiri bibirnya. "Iya ya kak? Widia nggak sadar."


"Itu masih ada," ucap Aldi sembari menunjukkan bibir Widia.


Aldi kemudian ingin mengusap bibir Widia lagi, namun Widia segera menjauhkan wajahnya.


"Biar Widia bersihin di toilet aja." Widia pun kemudian pergi.


"Lo kapan pulang?" tanya Dika kepada Aldi.


Aldi menatap remeh Dika. "Kenapa? Insecure lo ada gue?"


Dika menatap kesal kepada Aldi. "Nggak, gue nggak pernah Insecure sama lo. Gue cuma nggak suka aja, setiap hari gue lihat lo tambah caper sama Widia."


"Emangnya kenapa?" tanya Aldi.


"Gue nggak suka lo deket-deket sama Widia! Jangan-jangan lo suka sama Widia?"


Aldi tersenyum menyeringai. "Ck! kalo iya emang kenapa?"


"Jadi bener dugaan gue," batin Dika.


"Mendingan lo jangan berharap banyak. Jauhin Widia! Lo itu kakak sepupunya!" ucap Dika.


"Kenapa gue nggak boleh deketin Widia? Gua kan cuma sepupu tirinya. Lebih baik lo yang jauhin dia, lo itu cuma bocah SMA. Cinta lo itu cuma cinta monyet."


"Jangan sembarang bicara lo!"


Aldi dan Dika saling menatap satu sama lain dengan tatapan kesal. Seketika mereka langsung mengalihkan pandangannya karena kehadiran Widia.


"Kalian sibuk nggak?" tanya Widia kepada Dika dan Aldi.


"Nggak," jawab Dika.


"Emang ada apa?" tanya Aldi.


"Karena Bang Iyan lagi sibuk, dia suruh gue mandiin kucingnya. Kalian tau kan, kucing Bang Iyan ada 5. Nggak mungkin gue sendiri yang mandiin, bantuin ya?"


"Oke, nggak masalah," ucap Aldi.


"Ya udah gue bantuin," ucap Dika.


Merekapun memandikan kucing peliharaan Bryan.


"Setiap gue ke sini pasti Bryan nyuruh gue ngurus peliharaannya," ucap Dika.


"Hehe.. ternyata lo udah hafal. Mumpung ada lo, kan jadi ada yang bantuin."


"Oh ya, sampai lupa gue. Lusa gue sama temen-temen mau ke puncak. Rencananya kita mau ngindep di villa papa gue. Mumpung sekarang lagi libur semester, itung-itung juga ngerayain kemenangannya Restu. Lo ikut ya, sekalian ajak temen-temen semua," ucap Dika.


"Wah, seru kayaknya. Nanti gue kasi tau temen-temen," ucap Widia.


"Lo kasi tau semua, jangan sampai ada yang kelupaan."


"Oke, tenang aja... Kak Aldi ikut kan?" ucap Widia.


Aldi pun menganggukkan kepalanya. "Iya"


"Lah, Aldi ikut?" tanya Dika.


"Widia ngapain pake ngajak Aldi sih?" batin Dika.


"Iya, lo kan nyuruh ngajak semua orang. Emang kenapa kalo Kak Aldi ikut? Nggak boleh?"


"Em.. bukan gitu sih. Maksud gue, emangnya lusa Aldi masih di sini?"


"Masih, Kak Aldi di sini sampai liburan selesai."


"Ohh..." balas Dika.


"Nyebelin banget," batin Dika sembari menatap Aldi. Aldi pun tersenyum mengejek pada Dika.


......................


...BERSAMBUNG...


......................


...°...


...°...


...°...


Sambil menunggu cerita ini update, yuk mampir ke cerita author yang lainnya judulnya "Berbeda"


Jangan lupa like, komentar, vote, dan ratenya ya, agar author jadi lebih semangat 🤗...


1 like dan komentar singkat dari para pembaca sangat berharga bagi Author 😊...


Terima kasih 🙏💕...