Choco

Choco
Kak Dimas & Dek Dika



Waktu sudah menunjukkan pukul 2 dini hari, namun Dika belum juga bisa tidur. Dika terus berusaha untuk tidur, akan tetapi setiap ia memejamkan mata pikirannya tetap terjaga.


Dika bengong menatap langit-langit kamarnya. "Kenapa Dimas sampai bisa menderita penyakit seperti itu? Gue samasekali nggak nyangka hal seperti ini akan terjadi sama dia. Ya Tuhann... Kenapa harus Dimas? Kenapa bukan saya saja?" batin Dika.


Dika pun bangun dan menghidupkan lampu kamarnya. Ia menatap jam dinding dan terlihat kini waktu sudah menunjukkan pukul 02.35 dini hari. Dika kemudian keluar dari kamarnya. Ia pergi ke kamar Dimas untuk melihat keadaan Dimas.


Clekk...


Dengan hati-hati Dika membuka pintu kamar agar Dimas tidak terbangun. Terlihat Dimas sudah tertidur namun pintu kamarnya masih menyala.


Dengan hati-hati Dika berjalan menghampiri Dimas. Ia berusaha sebisa mungkin untuk tidak membangunkan Dimas. "Dia udah tidur," batin Dika.


Dika kemudian membenarkan selimut Dimas. Ia hendak mematikan lampu kamar namun ia mengurungkan niatnya. "Lebih baik nggak usah dimatiin. Mungkin aja Dimas emang sengaja nyalain lampu kamarnya supaya dia lebih mudah ngambil sesuatu kalau dia buru-buru," batin Dika.


Dika pun kemudian keluar dari kamar Dimas. Dengan setengah sadar Dimas melihat seseorang menutup pintu kamarnya. Dimas melihat jam dinding untuk mengetahui waktu. "Siapa yang ke kamar gue jam segini?" batin Dimas.


Dengan hati-hati Dimas membuka pintu kamarnya dan melihat orang tersebut.


"Dika... Dia pasti nggak bisa tidur," batin Dimas.


Dimas kemudian menutup pintu kamarnya dan kembali tidur. Akan tetapi kali ini ia tidak dapat kembali tidur, pikirannya terus saja terjaga.


"Ini yang gue nggak mau. Dika pasti nggak bisa tidur karena kepikiran soal penyakit gue. Tu bocah.. padahal selama ini gue udah jahat sama dia, tapi dia tetep perduli sama gue... Apa sekarang dia udah tidur?" batin Dimas.


1 jam sudah berlalu namun Dimas belum juga bisa tidur. Ia pun memutuskan pergi ke kamar Dika untuk memastikan apakah Dika sudah tidur atau belum.


Clekk...


Dengan hati-hati Dimas membuka pintu kamar Dika. Dari pintu Dimas memperhatikan Dika tengah tertidur namun lampu kamarnya masih menyala.


"Syukurlah dia udah tidur. Tapi dia lupa matiin lampu kamarnya," batin Dimas.


Dimas memperhatikan sekeliling kamar Dika, ia melihat dua buah bantal berada di lantai. "Naikin nggak ya? Biarin aja deh, kalau gue naikin nanti dia malah tau kalau ada orang yang masuk ke kamarnya," pikir Dimas.


Dimas kemudian menutup kembali pintu kamar Dika. Sebenarnya Dimas paling tidak bisa melihat barang-barang berantakan, ia selalu memastikan barang-barang selalu bersih dan berada pada tempatnya karena ia memang pada dasarnya merupakan orang yang perfeksionis. Namun karena ia tidak ingin Dika mengetahui kedatangannya, ia pun memilih membiarkan bantal tersebut berada di lantai.


"Siapa sih yang ke kamar gue jam segini?" gumam Dika.


Sedari tadi Dika memang belum tidur, ia hanya berpura-pura tidur ketika mendengar ada orang yang membuka pintu kamarnya.


"Ni bantal pake jatuh lagi."


Dika pun menaikan bantalnya yang terjatuh. Baru saja ia menaikan salah satu bantalnya, tiba-tiba kembali ada orang yang membuka pintu kamarnya, dengan segera ia pun kembali berpura-pura tidur. Orang tersebut tak lain adalah Dimas.


"Ya ampunn.. gue nggak bisa lihat barang -barang berantakan kayak gini. Kalau gue naikin bantalnya, dia pasti nggak akan tau." Dimas pun menaikan bantal Dika yang terjatuh. "Eh, bukannya tadi ada 2 bantal yang jatuh? Sekarang kok cuma satu? Mungkin aja gue tadi salah lihat."


Dimas sejenak memperhatikan Dika yang sedang tidur, ia kemudian berjalan pergi meninggalkan kamar Dika.


"Dimas..."


Dimas pun membalikan badannya karena mendengar Dika memanggil namanya.


"Ternyata lo belum tidur," ucap Dimas.


"Lo sendiri ngapain ke kamar gue jam segini?" tanya Dika.


"Lo juga ke kamar gue tadi."


"Gue.. gue cuma mau lihat keadaan lo."


"Gue baik-baik aja. Mendingan lo sekarang tidur, besok lo kan harus sekolah."


"Lo juga jangan begadang... Ngomong-ngomong gue juga mau minta maaf sama lo gara-gara tadi gue udah bentak lo."


"Lo nggak usah minta maaf. Seharusnya gue yang minta maaf sama lo."


"Udahlah, jangan diperpanjang lagi."


"Ya udah, sekarang lo langsung tidur."


Dimas pun berjalan keluar namun langkahnya terhenti karena Dika kembali memanggil namanya.


"Kak..." ucap Dika.


Dimas tertawa kecil karena ia merasa lucu dengan kata yang diucapkan oleh Dika sebab kata tersebut terdengar sangat asing di telinganya, sebelumnya ia tidak pernah mendengar Dika mengucapkan kata tersebut untuknya. "Lo bilang apa?... Kakak?" Dimas pun tertawa karena ia merasa lucu dengan suara Dika saat mengucapkan kata tersebut.


"Kenapa ketawa? Lo kan emang kakak gue. Emang salah gue panggil lo kakak?"


Dimas kemudian duduk di samping Dika. "Nggak sih, nggak salah. Tapi gue ngerasa lucu aja denger suara lo bilang kakak. Selama ini lo kan nggak pernah panggil gue kakak. Dari dulu lo selalu nolak kalau disuruh panggil gue kakak karena kita cuma beda beberapa jam." ucap Dimas yang diakhiri dengan tawa kecil. Dika pun juga ikut tertawa karena hal tersebut.


"Seneng banget rasanya lihat Dimas ketawa kayak gini," batin Dika.


"Ngomong-ngomong ada apa lo panggil gue?" tanya Dimas.


"Dika boleh nggak tidur di kamar Kak Dimas?"


Dimas pun tertawa mendengar ucapan dan gaya bicara Dika yang tidak biasa tersebut. "Wkwkwk.. udah ah, jangan bicara kayak gitu lagi. Geli gue dengernya."


"Kak Dimas nggak suka emangnya?"


"Tapi gue sukanya panggil Kak Dimas," ucap Dika yang diakhiri dengan senyuman jahil.


"Oohh.. jadi gitu? Kalau gitu gue juga suka panggil Dek Dika," ucap Dimas yang juga diakhiri dengan senyuman.


"Iihh.. lo apa-apaan sih Dim? Aneh gue dengernya."


"Wkwkwk.. nah, itu juga yang gue rasain. Tau rasa lo sekarang." Dimas menatap Dika dengan tatapan mencurigakan. "Dek-Di-ka." lanjut Dimas.


"Iyuuhh... Geli gua. Dasar lo, Kak Di-mas."


"Yah, ternyata lo nggak kapok-kapok ya Dek Dika."


"Kak Dimas wkwkwk..."


"Lo tu yang Dek Dika wkwkwk..."


"Wkwkwk..." Mereka berdua pun tertawa karena hal sederhana tersebut. Sejenak mereka bisa melupakan beban pikiran yang mereka miliki.


"Udah, udah, sekarang mendingan lo tidur," ucap Dimas.


"Tapi gue boleh tidur di kamar lo kan?"


"Hah? Ada-ada aja lo. Ngapain lo tidur di kamar gue?"


"Gue nggak bisa tidur. Gue cuma bisa tenang kalau gue deket sama lo."


Seketika raut wajah Dimas berubah menjadi sedih.


"Ekspresi Dimas langsung berubah. Apa gue salah bicara?" pikir Dika.


"Lo pasti nggak bisa tidur gara-gara khawatir sama gue kan?" tanya Dimas.


"Iya..."


"Ini yang gue nggak mau Dik. Ini alasan gue nggak kasi tau lo soal penyakit gue, karena gue nggak pengen buat lo khawatir. Gue nggak mau nyusahin lo lagi, selama ini gue udah sering nyusahin lo."


"Nggak Dim, lo jangan ngomong kayak gitu. Lo sama sekali nggak nyusahin gue..."


"Padahal selama ini gue udah jahat sama lo. Gue udah buat lo menderita. Tapi lo selalu aja baik sama gue."


"Udahlah Dim, jangan bahas itu lagi. Semuanya udah berlalu."


"Gue heran sama lo Dika. Lo itu sebenarnya manusia atau bukan sih?... Nggak, lo bukan manusia, lo itu malaikat... Kenapa di saat gue bisa ngerasain kebersamaan sama lo, gue malah menderita penyakit seperti ini? Kenapa Tuhan memberikan gue sedikit waktu saat gue bisa bersama-sama dengan lo?"


"Lo jangan bicara kayak gitu Dim. Lo pasti sembuh, lo harus semangat Dim."


"Iya Dika, gue selalu semangat. Gue pengen sembuh dan menikmati lebih banyak waktu sama lo. Sekarang gue sadar setiap saat yang pernah gue lalui sama lo itu adalah saat-saat yang sangat berharga di hidup gue... Kita nggak akan pernah tau nilai dari sebuah momen sampai momen itu menjadi sebuah kenangan."


"Iya Dim, gue juga ngerasa saat-saat itu adalah saat yang paling berharga di hidup gue."


Dimas menatap Dika, bibirnya menorehkan senyuman namun matanya terlihat berkaca-kaca. "Gue.. gue sayang sama lo." Dimas mengusap rambut Dika.


"Gue nggak nyangka Dimas bicara kayak gini sama gue. Ini pertama kalinya Dimas ngusap kepala gue. Gue bersyukur banget bisa ngerasain semua ini, gue nggak pernah seakrab ini sama Dimas sebelumnya," batin Dika.


"Sekarang lo tidur," ucap Dimas.


Tanpa disangka-sangka Dimas langsung tidur di kasur Dika.


"Lo tidur di sini?" tanya Dika.


"Iya, katanya lo nggak bisa tenang kalau nggak deket-deket sama gue. Sekarang cepetan tidur."


"Iya, iyaa..." Terlihat bibir Dika menorehkan senyuman. Dika pun akhirnya bisa tertidur. Tetapi berbeda dengan Dimas, ia hanya memejamkan matanya namun pikirannya masih terjaga.


"Apa gue bisa sembuh? Gue nggak yakin bisa ngabisin waktu lama sama Dika, papa, ataupun temen-temen... Rasanya gue ingin memutar ulang waktu untuk merasakan detik singkat itu lagi karena gue yakin kalau gue nggak akan pernah mendapatkan kesempatan untuk merasakannya lagi," batin Dimas


...----------------...


...BERSAMBUNG...


...----------------...


...°...


...°...


...°...


...Sambil menunggu cerita ini update, yuk mampir ke cerita author yang lainnya yang berjudul "Berbeda"...


...Jangan lupa dijadiin fav yaaa🤭......


...Jangan lupa like, komentar, vote, dan ratenya ya agar author jadi lebih semangat 🤗......


...Terima kasih 🙏💕......