Choco

Choco
Makan Malam



Sepulang dari rumah Aulia, Dika langsung mencari papanya ke rumah untuk memberitau fakta tentang mama tirinya.


Di kediaman keluarga Arthama telihat banyak pelayan yang sedang sibuk mempersiapkan acara makan malam.


"Dika?..." ucap Amel melihat kedatangan Dika.


Namun Dika tidak menghiraukan Amel dan tetap berjalan masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah terlihat Dimas dan mama tirinya yang juga sedang sibuk mempersiapkan acara nanti malam.


"Dika?..." ucap Dimas.


Yuni pun menghampiri Dika dengan ramah. "Eh, anak mama dateng..."


Namun Dika tidak menghiraukan mamanya, ia langsung berjalan menghampiri Dimas.


"Awas aja kamu!" batin Yuni atau mama tirinya Dika.


"Papa dimana bang?" tanya Dika.


"Papa belum dateng," jawab Dimas.


"Papa kamu nanti siang baru datang, kamu nanti malam dateng ya," ucap Yuni sambil tersenyum.


Dika tersenyum menyerigai. "Cih... drama banget!."


"Jangan keterlaluan lo sama mama!" ucap Dimas dengan nada tinggi.


"Lo nggak tau siapa dia yang sebenarnya!" ucap Dika juga dengan nada tinggi.


"Mending lo sekarang pergi daripada cuma mau bikin ribut disini!."


"Udah nak, jangan marah-marah," ucap Yuni menenangkan Dimas.


"Ya ampunn... belajar akting dimana sih lo?," ucap Dika pada Yuni.


"DIKA!..." bentak Dimas.


"Tapi bang..." ucapan Dika terpotong oleh Dimas.


"Mending lo pergi!. Kalo lo mau nemuin papa, ntar malem lo dateng. Tapi inget, jangan bikin ribut!."


"Gue nggak tertarik sama acara kayak gitu, tenang aja, gue nggak akan dateng. Tapi gue akan buktiin ke lo bang."


"Mending lo kemasin barang-barang lo buat pergi dari sini!" ucap Dika pada Yuni. Dika kemudian langsung meninggalkan rumah.


"Kita lihat aja kamu bisa apa," batin Yuni.


* * * * * * * * * *


Sore harinya Dimas menjeput Widia untuk diajak ke acara makan malam keluarganya.


"Dimas?..." ucap Bryan.


"Widia ada?."


"Ada di dalem, yuk masuk..." Bryan pun mengajak Dimas masuk ke dalam rumah. Dimas pun duduk di ruang tamu dan Bryan memanggil Widia di atas.


"Kakek..." sapa Dimas, Dimas langsung menyalami tangan Kakek Dharma.


"Kamu jam segini udah rapi aja, bukannya acaranya nanti malam?."


"Iya kek, sekarang saya mau jemput Widia. Katanya Widia mau bantu-bantu, padahal udah saya larang."


"Anak itu dari kecil memang sudah rajin... Jaga Widia baik-baik ya Dimas, dia itu cucu kesayangan kakek."


"Pasti kek."


"Kakek tinggal dulu ya, nanti malam pasti kakek kesana."


"Iya kek..."


Kakek Dharma dari dulu memang sudah berteman baik dengan almarhum ayahnya Pak Arthama, mereka sudah seperti keluarga.


Bu Asih yang melihat Dimas langsung menghampirinya. Bu Asih yang tidak mengenal Dimas, mengira Dimas adalah Dika.


"Eh, nak Dika... Kok tumben rapi banget," ucap Bu Asih karena melihat gaya Dimas yang rapi tidak seperti Dika.


"Tante..." Dimas langsung menyalami tangan Bu Asih.


"Saya bukan Dika tante. Perkenalkan, saya Dimas."


"Ah, nak Dika emang suka bercanda. Jangan kira baru gaya rambutnya rapi begini, ibu nggak bisa ngenalin kamu."


"Dia nggak bohong buk," ucap Bryan yang baru datang bersama Widia.


"Iya buk, dia ini Kak Dimas, saudara kembarnya Dika," ucap Widia.


"Yang bener?. Kok bisa mirip banget, maaf ya, tante nggak tau," ucap Bu Asih.


"Iya, nggak apa-apa tante."


"Buk, Widia ijin ke rumahnya Kak Dimas ya."


"Kamu udah pamit sama kakek sama bapak?."


"Udah dong buk... Widia duluan ya Buk, Bang," ucap Widia pada Bu Asih dan Bryan.


"Ya udah, hati-hati ya," ucap Bu Asih.


"Hati-hati ya, nanti abang nyusul," ucap Bryan.


"Iya."


"Iya." ucap Bu Asih dan Bryan.


Dimas dan Widia pun pergi menuju kediaman keluarga Arthama.


* * * * * * * * * *


Sesampai di kediaman keluarga Arthama, terlihat banyak pelayan yang masih sibuk mempersiapkan acara makan malam.


"Si cewek kampungan ternyata juga dateng," ucap Amel dalam hati melihat kedatangan Dimas dan Widia.


Dimas dan Widia langsung menghampiri dan menyalami tangan Bu Yuni.


"Kenalin ma, dia cewek yang Dimas ceritain."


"Perkenalkan tante, saya Widia."


"Widia ya, pacarnya Dimas cantik banget," ucap Bu Yuni dengan ramah.


"Bicaranya lembut banget, kalo gue nggak tau siapa dia sebenarnya bisa aja gue juga ketipu. Dia masih inget nggak ya sama gue?" batin Widia.


"Biasa aja tante," ucap Widia sambil tersenyum.


"Dia kan cewek yang sama Dika di mall waktu itu. Hebat juga dia bisa dapetin Dimas sekaligus, tapi lihat aja kalo suamiku datang," batin Yuni.


"Hai Widia."


"Lah, ni bocah kenapa tiba-tiba ramah ke gue?" batin Widia.


"Hai juga Mel," ucap Widia.


"Kalian udah saling kenal?" tanya Bu Yuni.


"Iya ma, kita sering ketemu di sekolah. Selain itu Kak Dimas kan pernah cerita sama Amel."


"Kalo bukan karena lo adiknya Bryan, ogah banget gue nyapa lo," batin Amel


"Bagus deh kalo gitu," ucap Bu Yuni.


Mereka pun melanjutkan mempersiapkan acara makan malam. Beberapa saat kemudian datang Pak Arthama. Bu Yuni langsung membantu membawakan barang-barang suaminya.


"Selamat datang pa." Dimas langsung memeluk papanya.


"Selamat datang pa, Papa apa kabar?." Amel langsung memeluk papanya.


"Papa baik, kalian apa kabar?."


"Kita baik pa," ucap Dimas dan Amel.


"Kenalin pa, dia Widia," ucap Dimas.


"Perkenalkan om, saya Widia." Widia menyalami tangan Pak Arthama.


"Dia kan perempuan yang waktu itu di mall sama Dika, batin Pak Arthama.


"Kamu pacarnya Dimas?."


"Iya om."


"Papa nggak setuju kamu pacaran sama dia," ucap Pak Arthama pada Dimas.


"Kenapa pa?"


"Papa yakin dia bukan perempuan baik-baik, waktu itu papa lihat dia sama Dika di mall."


"Papa pasti salah paham, Widia ini perempuan baik-baik pa."


Amel yang melihat Bryan dan keluarganya datang, langsung membela Widia. "Iya pa, Widia orangnya baik pa,"


"Permisi om, dia ini adik saya!" ucap Bryan yang terlihat kesal.


"Maksud kamu apa?" ucap Pak Arthama yang kebingungan.


"Widia ini cucuku, masih kurang jelas lagi?!. Pertama kalinya keluargaku dihina, jika ayahmu masih hidup, dia pasti kecewa padamu," ucap Kakek Dharma.


"Jadi Widia ini keluarga Cahyana," batin Yuni.


"Maaf pak, saya tidak tau kalau Widia ini cucu bapak. Saya tidak mungkin berani menghina keluarga Cahyana, keluarga kita sudah seperti saudara dan bapak sudah saya anggap seperti ayah saya sendiri. Saya benar-benar minta maaf pak," ucap Pak Arthama dengan rasa bersalah.


"Maafin papa saya kek, papa bener-bener nggak tau kalau Widia cucu kakek," ucap Dimas.


"Maafin Om Arthama ya kek..." ucap Widia.


"Untuk kali ini saya maafkan, tapi lain kali tidak ada maaf lagi," ucap Kakek Dharma.


"Terima kasih pak..."


Beberapa saat kemudian datang keluaganya Aulia dan beberapa keluarga teman bisnis pak Arthama lainnya. Mereka pun melaksanakan acara makan malam. Di acara makan malam ini sekaligus Kakek Dharma mengumumkan bahwa Widia adalah cucunya Candra yang sudah lama hilang, dan Bu Asih serta Pak Wahyu adalah anggota baru dari keluarga Arthama. Sebenarnya Kakek Dharma memang ingin membuat acara sendiri untuk mengumumkan hal tersebut, tapi Widia, Bu Asih, serta Pak Wahyu tidak ingin Kakek Dharma sengaja repot-repot hanya untuk membuat acara seperti itu.


°


°


°


Jangan lupa like, komentar, dan ratenya ya, agar author lebih semangat 🤗...


Terima kasih 🙏💕...