Choco

Choco
Mengeringkan Rambut



Bryan dan Widia akhirnya sampai di rumah. Bryan memberikan anak kucing yang didapatnya tadi kepada Mbak Ayu (pembantu rumah tangga)


"Tolong bawa anak kucing ini ke kandang ya mbak. Langsung kasi dia makan," ucap Bryan.


"Iya Den..." Mbak Ayu pun pergi ke belakang membawa anak kucing tersebut.


"Bryan, Widia, kalian basah kuyup begini. Cepetan ganti baju, nanti kalian sakit," ucap Bu Asih.


"Iya, sekarang Widia langsung mandi," ucap Widia.


"Bukannya ibu tadi keluar?" tanya Bryan.


"Iya, tadi ibu pergi belanja. Cepetan mandi sana."


"Iya bu..."


...****************...


Setelah selesai mandi Widia menemui Bu Asih di kamarnya.


"Ada apa Widia?" tanya Bu Asih.


"Batuin Widia ngeringin rambut hehe..." Widia memberikan hairdryer kepada Bu Asih.


"Kamu kan bisa ngeringin rambut sendiri."


"Tapi Widia mau ibuk yang ngeringin."


"Iya, sini ibu bantu. Kamu tau aja kalau ibu nggak akan bisa menolak permintaan putri kesayangan ibu ini."


"Makasii ibuku tersayangg..."


Tak berselang lama Bryan pun datang. "Buk, bantuin Bryan. Tolong olesin minyak angin di punggung Bryan."


"Iya, sini ibu bantuin."


"Tapi buk, rambut Widia belum kering," ucap Widia.


"Ibuk bantuin kakak kamu dulu. Cuma sebentar kok ngolesin minyak anginnya," ucap Bu Asih.


"Tapi kan Widia duluan," ucap Widia.


"Jangan dengerin Widia buk, bantuin Bryan aja dulu," ucap Bryan.


"Widia dulu," ucap Widia.


"Bryan," ucap Bryan.


"Ya ampun kalian ini. Kalau kayak gini ibuk jadi bingung. Biar adil ibuk nggak akan bantuin siapa-siapa," ucap Bu Asih.


"Nggak bisa gitu buk. Bantuin Bryan dulu," ucap Bryan.


"Widia duluan."


"Biar adil gimana kalau kita suit?" ucap Bryan.


"Oke," balas Widia.


"Gunting batu kertas..." Mereka berdua pun melakukan suit. Akhirnya suit tersebut dimenangkan oleh Bryan.


"Ha hah, kamu gunting dan kakak batu. Kakak menang. Yuk buk olesin minyak angin."


Bu Asih kemudian mengoleskan minyak angin di punggung Bryan.


"Sama adek sendiri aja nggak mau ngalah. Abang apaan kayak gitu?" ucap Widia.


"Yee.. nggak perduli, yang penting abang menang. Seorang Bryan Cahyana nggak mungkin kalah sama siapapun."


"Eleh..." balas Widia.


"Sekalian pijit juga buk," ucap Bryan.


"Loh, tadi kan cuma ngolesin aja, sekarang kenapa malah jadi dipijit?" ucap Widia.


"Biar sekalian. Lagian kamu kan bisa ngeringin rambut sendiri, keringin sendiri aja," ucap Bryan.


"Nggak bisa kayak gitu. Buk Bang Iyan buk..."


"Kalian ini, udah besar masih aja kayak anak kecil. Kalian berdua kan sudah besar, tapi masih aja minta ibu bantuin ini itu," ucap Bu Asih.


"Berapa pun usia Bryan, Bryan akan tetap membutuhkan ibu, Bryan akan selalu butuh bantuan ibu, sampai kapanpun itu..."


"Dihadapan ibu, Widia tetap putri kecil ibu."


Bu Asih mengusap kepala Bryan dan Widia. "Ibu sayang sekali sama kalian. Ibu sudah menganggap kalian seperti anak kandung ibu sendiri. Kalian berdua itu hidup ibu..."


"Kita juga sayang sama ibu..." ucap Bryan dan Widia.


"Karena ibu dan bapak, Widia jadi dapat merasakan kasih sayang orang tua."


"Semenjak kedatangan ibuk dan bapak, Bryan dapat merasakan rasanya punya orang tua."


"Ibu sangat beruntung memiliki kalian berdua." Seketika mata Bu Asih berkaca-kaca.


Bryan pun langsung memeluk Bu Asih. "Ibu jangan nangis..."


Widia juga memeluk Bu Asih. "Kok malah jadi haru kayak gini sih? Padahal tadi aja ribut-ribut. Ibu jangan nangis..."


"Kamu sih Widia, gara-gara kamu ibu jadi nangis," ucap Bryan.


"Kok jadi Widia sih? Bang Iyan tuh..."


"Nah, mulai lagi kalian berdua," ucap Bu Asih.


"Bang Iyan sembarangan nuduh-nuduh Widia."


"Abang nggak nuduh kok..."


"Kalian berdua lanjutin aja berantemnya. Lebih baik ibu masak daripada nemenin kalian berantem." Bu Asih kemudian pergi meninggalkan Bryan dan Widia.


"Yah buk," ucap Widia.


"Buk..." ucap Bryan.


Bu Asih tetap pergi, ia samasekali tidak menghiraukan Bryan dan Widia.


"Tuh kan, ibuk jadi pergi," ucap Widia.


"Gara-gara kamu sih."


"Yah, masak ngambek."


Widia tidak merespon ucapan Bryan, ia hanya memasang wajah kesal. Widia kemudian mengeringkan rambutnya.


"Beneran ngambek nih?" tanya Bryan.


Lagi-lagi Widia tidak merespon ucapan Bryan.


"Sini kakak bantu ngeringin rambut." Bryan kemudian mengambil hairdryer yang dipegang oleh Widia, ia pun membantu Widia mengeringkan rambut.


"Eh, kenapa senyum-senyum?" tanya Bryan.



"Widia nggak ngambek kok, Widia cuma mau Bang Iyan bantuin Widia ngeringin rambut," ucap Widia


"Tuh kan, kakak udah tau apa yang ada di pikiran kamu."


"Hehe..."


Kring kring kring...


Handphone Widia berbunyi, terdapat panggilan video masuk dari Dika.


"Eh, Dika..." gumam Widia.


"Sini, kakak mau bicara sama Dika." Bryan segera merampas handphone Widia. Bryan pun mengangkat panggilan video tersebut.


"Dikaaa..." ucap Bryan sembari tersenyum.


"Lah, kok malah lo yang nongol sih? Widia mana?" ucap Dika.


"Nih adek gue lagi nyisir rambut." Bryan mengarahkan kamera pada Widia.


"Lo ngobrol aja dulu sama Bang Iyan. Kalian kan udah lama nggak ngobrol," ucap Widia.


"Tapi..." ucap Dika terpotong.


"Tapi apa? Gaya banget lo nggak mau ngobrol sama gue. Gue nggak restuin lo jadi calon adek ipar gue," ucap Bryan.


"Ah, ancaman lo dari dulu itu-itu aja. Ancaman kayak gitu nggak mempan sama gue."


"Gue itu kakak kesayangan Widia. Dia pasti nurut apa kata gue."


"Iya, bener kata Bang Iyan," ucap Widia.


"Kalaupun tanpa restu lo, gue masih tetep bisa sama Widia," ucap Dika.


"Nggak mungkin, mustahil," ucap Bryan.


"Mungkin lah.. dedek bayi solusinya. Ya nggak sayang?" ucap Dika sembari tersenyum jahil.


"Dikaa..." tegur Widia.


"Lo bilang apa barusan? Coba bilang sekali lagi." Bryan menatap Dika dengan tatapan seram.


"Wkwkk... Nggak nggak, gue cuma bercanda doang wkwkw..."


"Awas aja lo," ancam Bryan.


"Iya iya, gue cuma bercanda. Gue kan cowok baik-baik. Ngomong-ngomong bukannya lo lagi di provinsi C? Sejak kapan lo pulang?" ucap Dika.


"Gue lagi libur, gue pulang lima hari yang lalu. Lama banget gue nggak lihat lo. Apa kabar lo sekarang?"


"Gue baik, baru beberapa bulan ini gue udah bisa jalan normal."


"Syukur deh lo udah bisa jalan lagi."


"Kalau lo apa kabar?"


"Kabar gue baik. Kapan lo balik ke Indonesia?"


"Kayaknya dalam waktu dekat ini gue belum bisa balik ke Indonesia."


"Kenapa?" tanya Widia.


"Bukannya sebentar lagi lo akan lulus kuliah?" ucap Bryan.


"Iya, tapi kerjaan papa gue di sini belum selesai. Jadi beberapa tahun lagi gue masih tinggal di sini, gue masih harus bantu-bantu papa."


"Lama banget lo pulangnya," ucap Widia sedikit kecewa.


"Lo jangan sedih kayak gitu, gue jadi ikutan sedih. Maafin gue yah, tapi gue janji, setiap gue ada waktu gue pasti pulang."


"Iya, nggak apa-apa kok."


"Makasih ya, lo udah ngertiin gue."


"Tapi inget, sesibuk apapun lo, lo harus sempatin telepon gue sama Widia," ucap Bryan.


"Iya, pasti," balas Dika.


...°...


...°...


...----------------...


...BERSAMBUNG...


...----------------...


...°...


...°...


...°...


...Sambil menunggu cerita ini update, yuk mampir ke cerita author yang lainnya yang berjudul "Berbeda"...


...Jangan lupa dijadiin fav yaaa🤭......


...Jangan lupa like, komentar, vote, dan ratenya ya agar author jadi lebih semangat 🤗......


...Terima kasih 🙏💕......