Choco

Choco
Berziarah



Widia mengajak Dika keluar untuk mencari Pak Arthama. Mereka menemui Pak Arthama yang sedang duduk di halaman belakang rumah bersama Bryan dan Amel.


Melihat kedatangan mereka, Pak Arthama, Bryan, dan Amel pun menghampiri mereka. Hati Pak merasa lebih lega karena akhirnya Dika mau keluar kamar dan menemui dirinya.


"Dika minta maaf pa, seharusnya Dika bisa ngertiin papa. Maafin Dika..." ucap Dika.


Pak Arthama langsung memeluk Dika. "Papa juga minta maaf. Papa udah bohong sama kamu. Maafkan papa."


"Iya pa," balas Dika.


Pak Arthama melepaskan pelukannya kemudian ia mengusap kepala Dika.


"Amel, kakak minta maaf karena udah marah-marah sama kamu," ucap Dika.


"Kakak nggak perlu minta maaf, kakak nggak salah," balas Amel.


"Gue juga minta maaf sama lo Yan," ucap Dika kepada Bryan.


"Iya, nggak apa-apa," ucap Bryan.


"Pa, Dika mau berziarah ke makam Dimas. Anterin Dika ke sana pa," ucap Dika.


"Iya Dika, sekarang kita pergi ke sana," balas Pak Arthama.


Mereka pun pergi berziarah ke makam Dimas.


...****************...


"Ini makam Dimas," ucap Pak Arthama.


Dika memperhatikan makam tersebut yang batu nisannya bertuliskan nama Dimas.


"Dimas Putra Arthama... Kenapa harus secepat ini?" ucap Dika dalam hati. Sedikitpun tak pernah terbersit di benaknya jika saat ini ia akan membaca sebuah batu nisan yang bertuliskan nama Dimas.


Mereka pun duduk mengelilingi makam Dimas. Pak Arthama, Amel, Widia, dan Bryan terlihat sibuk menaburkan bunga. Sementara itu Dika hanya diam terpaku menatap makam Dimas.


"Gue akan berusaha kuat Dim, gue nggak akan nangis," batin Dika.


Dika berusaha untuk tegar dan tidak menangis. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun, ia hanya menundukkan kepalanya dengan ekspresi datar. Namun apalah daya, seberapa keras Dika berusaha untuk menahan tangisannya, air matanya tetap keluar tanpa bisa ia kendalikan. Bibirnya pun mulai bergemetar.



"Nggak! Gue nggak akan nangis, gue nggak akan nangis lagi. Gue kuat Dim... Nggak... Nggak, nggak, nggak... Gue nggak bisa, maafin gue Dimas. Biarin gue nangis sekali ini aja, kali ini aja. Gue janji setelah ini gue nggak akan nangis lagi. Maafin gue, sekali ini aja Dim..." ucap Dika dalam hati.


Dika pun akhirnya membiarkan tangisannya keluar, ia menghapus air matanya yang terus menerus keluar.


"Aaa aa.. aa a..."


Dika menutup matanya menggunakan lengannya.


"Kamu harus ikhlas dan tabah Dika," ucap Pak Arthama sembari mengusap punggung Dika.


Dika pun kembali berusaha untuk menghentikan tangisnya. Akhirnya beberapa saat kemudian Dika dapat mengendalikan dirinya dan berhenti menangis. Mereka semua pun mendoakan Dimas.


Tak terasa sudah dua jam lebih mereka berada di sana. Beberapa kali Pak Arthama dan yang lainnya sudah mengajak Dika untuk pulang namun Dika terus menolaknya.


"Dika, udah hampir malam. Lebih baik kita pulang sekarang," ucap Widia. Sementara itu Dika hanya diam sambil menundukan kepalanya.


"Dimas malah akan sedih lihat lo kayak gini," ucap Bryan.


"Dika..." ucap Pak Arthama. Dika pun mengalihkan pandangannya pada Pak Arthama.


"Ayo pulang," lanjut Pak Arthama dan dibalas anggukan oleh Dika.


Dika mengusap batu nisan Dimas. "Gue pulang dulu Dim..." ucap Dika dalam hati.


Mereka pun kemudian pergi meninggalkan makam Dimas.


Sejenak Dika menengok ke arah belakang dan memandang makam Dimas dari jauh.


"Kita harus mengikhlaskan apa yang telah pergi, menghargai apa yang masih tersisa, dan menantikan apa yang akan datang selanjutnya," batin Dika.


...****************...


Walaupun belum bisa bersekolah seperti biasa, setiap hari saat ada waktu senggang Dika selalu menyempatkan dirinya untuk belajar atau sekedar membaca-baca buku. Ia tidak ingin menjadi Dika yang dulu, Dika yang selalu mendapatkan nilai buruk. Ia ingin berubah menjadi lebih baik dan membanggakan papanya.


Saat ini Pak Arthama sudah mencabut tuntutannya kepada Bu Yuni dan Bu Yuni pun sudah dapat dibebaskan dari penjara. Pak Arthama memberikan Bu Yuni dan Amel tempat tinggal, selain itu Pak Arthama juga memberikan Bu Yuni pekerjaan di salah satu perusahaannya. Bu Yuni pun sudah sadar dan meminta maaf atas semua kesalahannya selama ini. Hubungan diantara mereka pun kembali membaik.


Beberapa bulan pun berlalu, tak terasa waktu kenaikan kelas sudah tiba. Bryan, Restu, dan teman-temannya yang lain kini sudah lulus SMA. Namun berbeda halnya dengan Dika, ia tidak bisa mendapat kelulusan lantaran ia belum bisa melanjutkan sekolahnya karena ia masih dalam masa pemulihan.


Dika memperhatikan foto dan video perayaan kelulusan yang teman-temannya posting di media sosial. "Coba aja gue nggak sakit, sekarang gue pasti udah ngerayain kelulusan sama mereka," gumam Dika.


Seperti biasa sekitar pukul 2 siang Widia datang mengunjungi Dika. Kali ini ia datang dengan membawa buku-buku yang di pesan oleh Dika. Widia mendapati Dika tengah tidur siang di kamarnya.


Widia kemudian menaruh buku yang dibawanya di atas meja.


"Udah dari tadi di sini?" tanya Dika.


"Udah bangun ternyata. Gue baru aja dateng. Ini gur bawain buku-buku yang lo minta kemarin," ucap Widia.


"Makasi ya."


"Iya... Kita keluar yuk, gue bawa Moza ke sini, dia di halaman."


"Wah, gue juga udah lama nggak lihat dia."


"Dia sekarang udah besar loh, badannya gede banget... Sini, gue bantu lo." Widia kemudian membantu Dika untuk pindah ke kursi rodanya.


"Makasi ya, udah sabar, udah mau nerima kekurangan yang gue. Dengan keadaan gue yang seperti ini, gue nggak bisa ngapa-ngapain," ucap Dika sembari menundukkan kepalanya.


" Dika..." ucap Widia.


Dika kemudian menatap Widia. Mereka berdua pun saling bertatapan.


"Lo ngomong apaan sih?... Gue nggak mencintai lo dengan mata gue. Karena saat gue menatap lo, mata gue akan menemukan kekurangan. Tapi hati gue mencintai apa yang tidak dilihat oleh mata. Tidak bisa tertipu dengan penampilan fisik. Lo nggak perlu jadi lebih baik dari ini ataupun melakukan lebih banyak. Lo nggak harus lebih. Lo cukup jadi diri lo sendiri, cukup apa adanya aja..."


"Makasi Widia..."


"Lo nggak perlu bilang makasi, gue nggak melakukan apa-apa," ucap Widia dan Dika hanya membalasnya dengan senyuman.


Widia kemudian mengajak Dika ke halaman untuk bertemu dengan Moza, anjing peliharaan mereka. Moza langsung berlari menghampiri Dika dan menjilat kaki dan tangan Dika. Moza terlihat sangat senang bertemu dengan Dika, nampaknya ia masih ingat dengan Dika dan ia sangat merindukan Dika.


"Hey hey hey.. nggak bisa diem. Gue kan jadi kewalahan, lo udah besar banget sekarang," ucap Dika.


Dika kemudian memeluk Moza. Moza pun menjilat pipi Dika.


"Hey diem wkkwkwk..." ucap Dika.


Dika kemudian memberi sepotong roti pada Moza. Moza pun duduk di samping Dika sembari memakan roti tersebut.


Dika mengelusi kepala Moza. "Dulu waktu kita nemuin dia, dia masih kecil banget. Sekarang dia udah sebesar ini. Badannya juga gemuk banget."


"Iya, gimana nggak gemuk, kerjaannya makan terus."


"Oh iya, sekarang lo udah naik kelas 2, lo dapet ranking berapa Nyet?"


"Gue dapet ranking 1 umum lagi."


Terlihat senyuman bahagia di wajah Widia begitu juga di wajah Dika.


"Waah, selamat ya, gue ikut seneng. Lo hebat banget."


"Ini semua berkat dari Tuhan dan dukungan dari orang-orang di sekitar gue... Ngomong-ngomong rencana lo kedepannya apa?"


"Gue mau kejar paket dan setelah itu gue akan kuliah."


"Gue akan selalu dukung dan doain lo. Gue yakin lo pasti berhasil, lo selalu berusaha dengan keras selama ini."


"Amin..."


...°...


...°...


...----------------...


...BERSAMBUNG...


...----------------...


...°...


...°...


...°...


...Sambil menunggu cerita ini update, yuk mampir ke cerita author yang lainnya yang berjudul "Berbeda"...


...Jangan lupa dijadiin fav yaaa🤭......


...Jangan lupa like, komentar, vote, dan ratenya ya agar author jadi lebih semangat 🤗......


...Terima kasih 🙏💕......