Choco

Choco
Kedatangan Aldi



Terlihat Dika tengah sibuk memotong kangkung untuk pakan bebek-bebeknya. Agar tidak merasa kesepian, Dika pun mendengarkan lagu melalui earphone.


Di sisi lain Widia sudah sampai di depan kandang bebek Dika, terlihat juga Widia bersama seorang laki-laki. Widia dan laki-laki tersebut kemudian masuk ke dalam.


Karena Dika terlalu asik melakukan aktivitasnya, sampai-sampai ia tidak menyadari kedatangan Widia.


"Oi..." Widia menepuk pundak Dika.


Dika pun langsung menggalihkan pandangannya ke arah Widia dan seorang laki-laki yang diajak oleh Widia. Dika kemudian melepas earphonenya dan berdiri.


Dika sejenak memperhatikan laki-laki tersebut, laki-laki yang terlihat dewasa dan bertubuh sedikit lebih tinggi darinya. Wajah laki-laki tersebut bisa dikatakan tampan karena wajahnya mulus tanpa ada jerawat sedikit pun, ditambah lagi dengan hidungnya yang mancung dan matanya yang cerah.



"Dia siapa?" tanya Dika kepada Widia.


Belum sempat Widia menjawab, laki-laki tersebut sudah memperkenalkan dirinya.


Laki-laki tersebut menjulurkan tangannya kepada Dika. "Gue Aldi, sepupunya Widia," ucap Aldi dengan ekspresi dinginnya. Aldi adalah anak dari kakaknya Bu Asih.


Dika pun menyalami tangan Aldi. "Gue Dika, pacarnya Widia."


"Gue udah tau dari Widia," ucap Aldi.


"Jadi, ini cowok yang diceritakan sama Widia," batin Aldi.


"Bagus kalo gitu," ucap Dika.


"Ni orang gayanya sombong banget," batin Dika.


Mereka berdua pun saling bertatapan, dan terlihat ekpresi saling tidak menyukai diantara mereka berdua, namun tak begitu mereka tunjukkan.


"Kak Aldi sama Dika kok saling tatap-tatapan kayak gitu sih? Mungkin aja karena mereka belum akrab," batin Widia.


"Kalian mau sampai kapan saling lihatin kayak gitu?" tanya Widia.


Secara spontan Aldi dan Dika pun mengalihkan pandangannya ke arah samping.


"Kebetulan Kak Aldi beberapa minggu ini akan menghabiskan waktu liburan disini. Gara-gara nggak ada kegiatan, jadi gue ajak Kak Aldi kesini buat bantu-bantu ngurus bebek."


"Mungkin ni orang cuma mukanya aja yang judes. Lagipula gue baru kenal sama dia, nggak baik juga berprasangka buruk," batin Dika.


"Oh, iya, itung-itung biar cepet selesai," ucap Dika yang diakhiri senyuman. Namum Aldi tetap saja menunjukkan ekspresi dinginnya.


"Lo perlu bantuan apa sekarang?" tanya Widia.


"Sekarang sih cuma potong kangkung buat makanan bebek. Tapi cuma ada 2 pisau... Gimana kalo gue sama lo yang motong kangkung. Kalo Aldi, hmm.. hmm..." Dika pun terlihat bingung karena sudah tidak ada pekerjaan yang perlu dilakukan. Dika kemudian memperhatikan sekeliling. "Gimana kalo Aldi milih bebek aja buat dibawa ke pasar besok?"


Widia pun menatap malas kepada Dika. "Yaelah Ongky, Ongky.. Kak Aldo mana ngerti lo suruh milih bebek. Yang ada lo yang milih bebek."


"Ya udah kalo gitu..." balas Dika.


"Udalah, dia cuma kakak sepupunya Widia," batin Dika.


Dika pun kemudian memilih bebek sementara Widia dan Aldi memotong kangkung.


Sembari memilih bebek, sesekali Dika memperhatikan Widia dan Aldi, dan terlihat kearaban diantara mereka berdua, bahkan Aldi yang tadinya terlihat dingin dapat tertawa dan bercanda bersama Widia.


"Tadi aja judes, nggak bisa senyum. Giliran sama Widia aja bisa ketawa. Gue kira mukanya kaku, ternyata bisa ketawa juga tu orang," gumam Dika. Dika yang merasa cemburu kemudian menghampiri Widia dan Aldi.


"Hek hmm... Seru banget kayaknya," cela Dika. Dika kemudian ikut duduk bersama mereka.


Canda tawa diantara Widia dan Aldi pun terhenti karena kehadiran Dika.


"Lo udah selesai milih bebek?" tanya Widia.


"Belum," jawab Dika.


"Terus ngapain kesini?" tanya Widia.


"Nanti aja gue milihnya, lagian bebeknya dibawa ke pasar besok," jawab Dika.


"Terserah lo deh," ucap Widia.


"Apa sih yang kalian ketawain dari tadi?" tanya Dika dengan ekspresi cemburu.


Widia mengambil kangkung yang dipotong oleh Aldi, kemudian ia menunjukkan kangkung tersebut kepada Dika. "Ini, masak Kak Aldi motong kangkung aja nggak bisa. Kecil-kecil banget, kayak ngiris bawang wkwkwk..." ucap Widia yang diakhiri dengan tawa.


"Eh, iya, kecil-kecil banget. Udah, lo diem aja, biar gue yang potong!" Dika kemudian berusaha mengambil pisau yang dipegang oleh Aldi, namun Aldi tetap mempertahankan pisau tersebut. Terjadilah aksi saling berebut pisau diantara mereka.


"Biar gue aja!" ucap Aldi.


"Lo udah nggak bisa pake sok-sokan lagi," ucap Dika.


"Udah!" ucap Widia. Dika pun melepaskan pisau tersebut.


Widia menaruh pisaunya di depan Dika. "Nih, buat lo aja. Cuma pisau aja direbutin." Widia kemudian berdiri.


"Mau kemana?" tanya Dika dan Aldi secara bersamaan. Sontak saja Dika dan Aldi sejenak saling bertatapan.


"Kompak banget kalian... Kalian disini aja lanjutin motong kangkung. Gue mau ke depan, metik cabai, lumayan buat bawa pulang." Widia kemudian pergi memetik cabai yang ada di sekitar kandang bebek Dika. Selain memelihara bebek, Dika memang menanam beberapa tumbuh-tumbuhan seperti cabai, terong, dan tomat, walaupun jumlahnya tidak banyak.


Kini hanya tinggal Dika dan Aldi yang memotong kangkung. Dika memperhatikan kangkung yang dipotong oleh Aldi, potongan kangkung tersebut terlihat pas, tidak terlalu kecil ataupun terlalu besar.


"Gue lihat lo bisa kok motong kangkung, ukuran potongannya pas. Jangan-jangan lo cuma caper sama Widia," ucap Dika.


Aldi menatap Dika dengan ekspresi dinginnya. "Udah dibantu, bukannya bilang makasi, malah nuduh orang."


"Tapi emang..." ucapan Dika terpotong.


"Gue heran, kenapa Widia bisa suka sama lo? Gampang banget cemburu, kayak anak kecil," ucap Aldi mengejek Dika.


"Gue.. gue minta maaf, mungkin gue cuma salah paham," ucap Dika.


Aldi tersenyum kagum. "Ternyata lo nggak sesombong yang gue kira."


"Gue salut, ternyata bisa minta maaf juga ni orang. Jarang ada orang kayak dia... Saingan yang berat..." batin Aldi.


Dika merasa senang melihat Aldi tersenyum, ia pun juga ikut tersenyum kepada Aldi. "Ternyata lo bisa senyum. Lo juga nggak sesombong yang gue kira."


Tiba-tiba handphone Dika berbunyi dan terlihat panggilan telepon dari Restu, Dika pun menganggkat penggilan telepon tersebut.


......................


...Via Telepon...


......................


"Ongky, lo lagi dimana?" ucap Restu.


"Kebiasaan lo Restu ibu, panggil gue Ongky. Gue lagi di kandang bebek. Tumben nelepon. Kemana aja lo? Sibuk terus," ucap Dika.


"Gue lagi latihan bulutangkis. Cepetan kesini, bantu gue," ucap Restu.


"Bukannya lo ikut club? Kenapa nggak latihan disana aja?" tanya Dika.


"Sekarang bukan jadwal gue latihan. Bentar lagi gue mau lomba, jadi gue harus latihan terus... Banyak tanya lo, cepetan kesini."


"Iya, iya, tapi gue lagi kasi bebek gue makan dulu. Setelah itu gue langsung kesana."


"Nah, gitu dong..."


"Ngomong-ngomong lo dimana?" tanya Dika.


"Gue di GOR, gue tunggu," jawab Restu.


"Okey," balas Dika. Dika pun menutup panggilan telepon tersebut.


......................


"Siapa?" tanya Aldi.


"Temen gue, gue disuruh bantuin dia," jawab Dika.


"Ya udah, gue bantu lo kasi makan bebek-bebeknya. Biar lo bisa cepetan bantu temen lo."


"Aldi orangnya baik juga," batin Dika.


"Iya, untung ada lo." balas Dika.


Dika dan Aldi kemudian memberi makan bebek, dan Widia yang sudah selesai memetik cabai juga ikut membantu memberi makan bebek.


Tak butuh waktu lama, mereka pun sudah selesai memberi makan bebek.


"Gue harus bantu Restu dulu, nanti kita ketemu lagi ya," ucap Dika kepada Widia.


"Lo mau bantu Kak Restu ngapain?" tanya Widia.


"Dia ngajak gue main bulutangkis. Dia suruh gue bantu dia latihan, bentar lagi dia mau lomba," jawab Dika.


"Wah, kalo gitu gue sama Kak Aldi ikut aja. Kak Aldi jago banget main bulutangkis. Gimana kak? Kakak mau ikut kan?"


"Iya, kakak akan ikut," jawab Aldi yang diakhiri dengan senyuman.


"Ya udah, kalo gitu kita ke GOR sekarang," ucap Dika. Dika pun berjalan menuju motornya.


"Yuk Widia..." ucap Aldi. Aldi pun naik ke motornya.


"Lo sama gue aja," ucap Dika.


Dika dan Aldi pun menatap Widia dan menunggu jawaban dari Widia.


Widia berjalan mendekati Aldi. "Widia sama Dika aja ya kak."


"Iya," jawab Aldi.


"Gue kira Widia akan sama gue," batin Aldi.


Widia pun mengambil helmnya di motor Aldi, kemudian ia menghampiri Dika lalu naik ke motor Dika.


......................


...BERSAMBUNG...


......................


...°...


...°...


...°...


Sambil menunggu cerita ini update, yuk mampir ke cerita author yang lainnya judulnya "Berbeda"


Jangan lupa like, komentar, vote, dan ratenya ya, agar author jadi lebih semangat 🤗...


1 like dan komentar singkat dari para pembaca sangat berharga bagi Author 😊...


Terima kasih 🙏💕...