
Sore harinya Dika duduk di halaman depan rumahnya. Dika duduk di pinggir kolam ikan sambil memberi makan ikan-ikan tersebut.
Tiba-tiba Dika mendengar keramaian di depan rumahnya. Pak Eka (Satpam) pun segera mengecek ke depan rumah. Beberapa saat kemudian Pak Eka pun menghampiri Dika.
"Siapa pak?" tanya Dika.
"Murid-murid SMA den, rame banget. Katanya mereka temennya Den Dika."
Dika pun merasa terkejut mendengar hal tersebut. "Hah? temen-temen saya? Mereka nggak ada bilang apapun sama saya."
"Jadi gimana den? Di kasi masuk apa tidak?"
"Ajak masuk aja Pak."
"Baik Den."
Pak Eka lalu pergi ke depan untuk membukakan pintu. Teman-teman Dika pun beramai-ramai menghampiri Dika. Dika tersenyum melihat kedatangan teman-temannya, ia merasa senang karena semua teman sekelasnya mengunjunginya.
"Kalian kenapa nggak bilang-bilang ke sini?" tanya Dika.
"Kita sengaja mau kasi kejutan buat lo."
"Iya Dik, temen-temen udah lama nggak lihat lo," ucap Restu.
"Nggak ada lo kelas jadi sepi."
"Kalian bisa aja," ucap Dika.
"Kita mau foto dulu sama lo Dik. Tanpa lo foto kelas kita nggak lengkap."
Dika pun menjadi sedikit terharu karena hal tersebut. "Kalian ternyata masih inget sama gue..."
"Iya dong, nggak mungkin kita lupa sama lo."
"Kita mau foto-foto yang banyak, kita sampai bawa fotografer."
"Yok yok foto..."
Mereka pun beberapa kali mengambil foto bersama.
"Lo nggak ajak kita masuk apa? Masak lo biarin kita di luar. Yuk masuk, masuk..." ucap Restu.
Restu kemudian mendorong kursi roda Dika ke dalam rumah dan mengajak teman-temannya masuk ke dalam rumah.
"Gue nggak nyangka kalau rumah lo sebesar ini Dik."
"Ngomong-ngomong di rumah ada siapa aja?"
"Cuma ada gue dan pembantu aja. Papa gue lagi kerja," ucap Dika.
"Wah, kita bisa bebas dong wkwkwk..."
"Anggap aja rumah sendiri," ucap Dika.
"Ini bibi kemana lagi?" gumam Dika.
"Tenang aja Dik, biar gue yang kebelakang. Kalian mau minum apa?" ucap Restu.
"Terserah lo aja. Apapun boleh."
Restu pun kebelakang untuk mengambil makanan dan minuman. Sementara itu yang lainnya berbincang-bincang. Tak berselang lama Restu dan beberapa pembantu datang membawakan makanan dan minuman.
Untuk mengisi waktu mereka kemudian memutuskan untuk membuat ayam panggang di belakang rumah. Mereka juga memutar musik dan bernyanyi untuk menghidupkan suasana. Mereka sangat menikmati kebersamaan diantara mereka. Tak lupa mereka pun mengabadikan momen-momen kebersamaan tersebut, karena ini merupakan kali terakhirnya mereka dapat berkumpul.
Namun tiba-tiba semua terdiam dan seketika keadaan menjadi hening karena kedatangan Pak Arthama.
Mereka semua memperhatikan Pak Arthama begitu juga dengan Pak Arthama yang juga memperhatikan mereka. Pak Arthama merasa kaget sebab tiba-tiba di rumahnya sudah ada banyak orang. Dika pun juga tidak mengatakan apapun kepadanya.
"Pasti mereka semua teman-temannya Dika," pikir Pak Arthama.
Pak Arthama pun tertawa kecil. "Kenapa semuanya bengong?"
"Mereka semua temen-temen Dika pa," ucap Dika.
"Sore om..." sapa teman-teman Dika. Mereka pun tersenyum kepada Pak Arthama.
"Sore... Kalian semua jangan sungkan-sungkan, anggap saja seperti rumah sendiri. Om tinggal ke dalam dulu," ucap Pak Arthama.
"Iya om..."
Pak Arthama kemudian masuk ke dalam rumah.
"Itu tadi bokap lo Dik?" tanya salah satu dari teman perempuan Dika.
"Iyalah," balas Dika.
"Bokap lo ganteng banget, gue baru pertama kali lihat bokap lo."
"Tapi sayangnya bokap lo lahirnya kecepetan."
"Mungkin ini yang dinamakan duren, duda keren..."
"Jelas lah, siapa dulu anaknya, gue!" ucap Dika dengan bangganya.
"Idih... Bokap lo itu jauh lebih ganteng dari lo."
"Tapi setidaknya gue kan mewarisi kegantengan bokap gue. Udah, ngaku deh lo, gue emang ganteng. Iya kan Res?" ucap Dika dengan senyuman percaya dirinya.
"Ih! Ngapain nanya ke gue? Lo juga nggak usah senyum kayak gitu. Pede banget jadi orang," ucap Restu.
Dika malah tetap tersenyum sembari menatap Restu.
"Jangan sok kegantengan!"
Secara spontan Restu mendaratkan pukulan di kepala Dika.
"Duh!" ucap Dika.
"Wkwkwk... Makanya jangan kepedean."
Tak terasa waktu pun sudah menunjukkan pukul 7 malam. Teman-teman Dika pun sudah pulang terkecuali Restu.
"Cepetan ganti baju sana," ucap Restu.
"Ngapain lo nyuruh gue ganti baju?"
"Sekarang kita ke rumah Willy. Kita buat acara kecil-kecilan."
"Acara buat ngerayain kelulusan?" tanya Dika.
"Ah, gue nggak ikut."
"Kenapa nggak ikut?"
"Gue kan belum lulus, ngapain juga ikut. Malu-maluin aja."
"Ngapain malu? Orang cuma ada temen-temen deket aja. Acara kecil-kecilan aja, kita cuma ngumpul-ngumpul aja."
"Tetep gue nggak akan ikut."
"Lah, kenapa?"
"Gue belum mandi, males gue."
"Adeh, alasan lo aja. Nggak usah mandi, ganti baju aja nggak apa-apa. Mandinya setelah pulang dari sana. Gue juga nggak mandi, gue cuma ganti baju aja. Lagian di sana cuma ada Willy, Bryan, Bunga, sama Aulia."
"Ih masak nggak mandi, lo jorok banget."
"Nggak usah ngatain gue. Gue tau lo juga jarang mandi."
"Nggak lah, gue rajin mandi. Nggak kayak lo."
"Iya terserah deh. Sekarang kalau lo mau mandi, mandi cepetan. Gue akan tunggu lo."
"Nggak ah Res."
"Ayolah Dika, kapan lagi kita bisa kumpul-kumpul? Setelah ini kita akan sibuk sama urusan kita masing-masing. Lagian lo kan jarang keluar akhir-akhir ini. Lo mau ke sana atau gue suruh temen-temen yang ke sini?"
"Iya deh, iya. Lo tunggu gue sebentar, gue ganti baju dulu."
"Lah, nggak jadi mandi?"
"Nggak, gue cuci muka aja."
"Yah wkwkwk... Tadi aja ngaku rajin mandi."
"Nggak usah ngatain gue, lo juga sama."
"Iya, iya... Gue juga mau cuci muka, minta sabun wajah lo ya."
"Iya, pakai aja."
Setelah selesai berganti pakaian mereka kemudian pergi ke rumah Willy. Sekitar pukul 11 malam mereka pun pulang. Restu kembali menghantar Dika pulang ke rumahnya.
"Makasi ya udah anterin gue. Lo hati-hati di jalan," ucap Dika.
"Gue nggak pulang. Gue Ngindep di rumah lo aja ya?"
Terlihat ekspresi senang di wajah Dika. "Serius lo mau ngindep?"
"Iya lah, masak gue bohong."
"Tapi lo udah bilang sama mama dan papa lo?"
"Udah kok."
"Ya udah, ayo masuk. Malam ini kita nggak usah tidur. Kita main game sepuasnya."
"Pokoknya gas kan..."
Restu pun mendorong kursi roda Dika menuju kamar. Restu langsung merebahkan dirinya di kasur.
"Hmm... Nyamannya, akhirnya dapet rebahan..." gumam Restu.
"Ngomong-ngomong tumben lo mau ngindep di rumah gue?"
"Setelah ini kita akan jarang ketemu. Kita akan sibuk dengan urusan masing-masing. Mungkin kita nggak akan ketemu dalam waktu yang lama dan ini terakhir kalinya kita ketemu."
"Kenapa? Besok lusa kan masih ada waktu, beberapa minggu ini kan masih liburan. Emang lo mau kemana?"
"Kakak gue sekarang udah lulus kuliah. Besok gue sama ortu gue akan ke luar kota buat menghadiri acara wisuda Kak Gandhi. Gue sama keluarga gue akan liburan di sana, di rumah kakek gue. Setelah itu gue akan sibuk kuliah dan juga sama klub bulutangkis gue."
"Padahal gue liburan kali ini mau sama lo. Tapi nggak apa-apa lah. Semoga cita-cita lo bisa cepat tercapai."
"Semoga cita-cita kita bisa terwujud. Amin..."
"Amin..."
"Dika, gue mau mandi dulu," ucap Restu.
"Lo ambil sabun di lemari. Gue juga mau mandi sekarang."
"Biar cepet, kita mandi bareng aja."
Dika pun kaget mendengar ucapan Restu. "Hah! Ogah!"
"Kenapa?"
"Jelas lah gue nggak mau. Masak mandi sama lo."
Restu menatap malas pada Dika. "Lo pakai kamar mandi di kamar lo, gue pakai kamar mandi di belakang."
"Ooo wkwkwk... Gue kira 1 kamar mandi. Makanya kalau bicara itu yang jelas."
"Nggak lah, dasar."
...°...
...°...
...----------------...
...BERSAMBUNG...
...----------------...
...°...
...Adududuu 😵... Maaf ya Author telat update. Nggak tau kenapa akhir-akhir ini Author lagi nggak mood 😭😭... Tapi Author pasti akan melanjutkan cerita ini💪... ...
...°...
...°...
...Sambil menunggu cerita ini update, yuk mampir ke cerita author yang lainnya yang berjudul "Berbeda"...
...Jangan lupa dijadiin fav yaaa🤭......
...Jangan lupa like, komentar, vote, dan ratenya ya agar author jadi lebih semangat 🤗......
...Terima kasih 🙏💕......