
"Duuh... Akhirnya selesai juga," gumam Widia sembari merenggangkan badannya.
Setelah selesai membersihkan kamarnya, Widia pun melepaskan penatnya dengan merebahkan diri di kasur.
Widia memeriksa handphonenya, terlihat waktu sudah menunjukkan pukul 08.20 pagi. Ia kemudian WhatsApp dan memeriksa kapan terakhir kali Dika dilihat.
"Terakhir kali dilihat 9 jam yang lalu. Kayaknya Dika sibuk banget... Biasanya setiap hari Minggu gue ngabisin waktu gue sama Dika. Gue jalan-jalan, main basket dan main game sama dia," gumam Widia.
Widia lalu melihat-lihat foto di galeri handphonenya. Widia pun tersenyum memandangi foto Dika.
"Ini foto pas pernikahan tantenya Kak Aulia. Senyumannya Dika... Dia selalu aja bertingkah konyol, tapi dia juga selalu buat orang-orang ketawa."
"Karnaval tahun lalu... Nggak terasa waktu berjalan begitu cepat. Udah beberapa bulan gue nggak lihat lo, gue kangen banget sama lo Dika..." gumam Widia.
Beberapa bulan ini Widia memang tidak bertemu dengan Dika karena Dika dan ayahnya kini sedang berada di luar negeri. Setelah menyelesaikan pendidikan SMA nya melalui jalur kejar paket, Dika langsung melanjutkan kuliahnya di Inggris. Dika memilih melanjutkan pendidikan di Inggris dikarenakan Pak Arthama sedang menjalankan bisnisnya di sana dan Dika pun memilih untuk ikut dengan Pak Arthama.
Sama halnya dengan Dika, teman-temannya yang lain kini juga sedang sibuk mengejar cita-cita mereka masing-masing. Begitu juga dengan Bryan yang saat ini tengah tinggal di luar kota karena ia sedang berkuliah di sana.
Widia kembali membuka WhatsApp dan memeriksa kapan terakhir kali Dika dilihat.
"9 setengah jam yang lalu... Padahal gue pengen banget ngobrol sama Dika," batin Widia.
Widia lalu melihat-lihat status teman-temannya. Beberapa saat kemudian Widia kembali memeriksa kapan terakhir kali Dika dilihat.
"Yaah..." gumam Widia karena melihat Dika belum juga online. Widia pun membaca-baca ulang percakapannya dengan Dika.
"Eh!" ucap Widia kaget.
Tanpa disadari tiba-tiba ada sebuah pesan masuk dari Dika. Karena Widia sedang membuka obrolannya dengan Dika, pesan tersebut pun langsung terbaca.
"Yah, langsung centang biru," ucap Dika sambil tersenyum.
"Ih! Langsung ke-read! Aaaaa kan jadi ketahuan gue buka-buka chatnya. Malu-maluin aja aaa..." gumam Widia.
......................
...Via WhatsApp...
......................
Dika : Stop checking my last seen. Text me when you miss me.
Dika : Yah, langsung centang biru 😜🤣🤣🤣
Widia : 👊😑
Dika : Cieee yg kangen 🤭🤣
Dika : Pasti terus ngecek WA gue yaaa? 🤣
Widia : Dih, pede banget
Dika : Udah, ngaku dehh Nyett
Widia : Ongky 😑
......................
Dika kemudian langsung menelepon Widia dan Widia pun segera mengangkat panggilan telepon tersebut.
......................
...Via Telepon...
......................
"Kangen yaa?" goda Dika.
"Apaan sih."
"Udah, ngaku aja."
"Iyalah, gue kangen..."
"Sama, gue juga kangen sama lo. Maaf ya, seharian gue nggak ngabarin lo. Tadi gue bantuin papa, setelah itu gue langsung buat tugas. Capek banget, gue sampai ketiduran."
"Iya, nggak apa-apa. Video call yah."
"Jangan, telepon aja."
"Kenapa?"
"Baterai gue hampir habis."
"Yaah.. ya udah deh..." ucap Widia sedikit kecewa.
"Maaf ya gue bohong. Gue cuma nggak mau lo tau kalau gue begadang. Gue nggak mau lo tutup teleponnya," batin Dika.
"Oh ya, waktu di sana sama di sini kan beda 6 jam. Berarti sekarang di sana sekitar jam 2 pagi dong?" ucap Widia.
"Yah, dia malah inget," batin Dika.
"Hmm.. iya, sekarang jam 02.30 pagi," ucap Dika.
"Lo nggak tidur?" tanya Widia.
"Gue kebangun. Gue nggak bisa tidur."
"Lah, kenapa?"
"Gue kepikiran sama lo terus."
"Hmm... Masak sih?" goda Widia.
"Ih, gue serius, gue nggak bohong. Nggak ada satu malam pun yang berlalu tanpa gue mikirin lo. Ketika gue berniat untuk tidur dan membaringkan kepala gue di atas bantal, lo datang tepat di tengah pikiran gue. Gimana coba gue bisa tidur? Setiap malam lo selalu patroli di pikiran gue... Gue kangen banget sama lo. Dari kemarin gue pengen banget denger suara lo," ucap Dika dengan lembut.
Ucapan Dika pun membuat Widia tersenyum.
"Dika emang paling bisa," batin Widia.
"Kalau lo kangen kan tinggal telepon gue aja," ucap Widia.
"Gue takut ganggu lo. Waktu di sana kan beda sama waktu di sini. Selain itu seharian gue juga sibuk."
"Hmm... Mau gimana lagi. Lo harus semangat, kejar terus cita-cita lo."
"Pasti, gue akan selalu semangat."
"Tapi lo pasti setiap hari kecapekan. Lo yang biasanya suka tidur dan selalu tidur siang, sekarang malah jarang dapat waktu tidur."
"Dasar tukang tidur wkwkwk..."
"Eh, malah ngatain gue. Emang lo nggak suka tidur?"
"Suka lah. Sekarang aja gue lagi rebahan, lagi tidur."
"Sama dong sayang. Hmm... Tapi kalau tidur bareng kayaknya lebih enak wkwkwk..."
"Ih apaan sih. Dasar mesum!"
"Eh, kok mesum? Aku kan cuma bilang tidur bareng. Cuma tidur aja, nggak ngapa-ngapain. Nah loh... Emang kamu mikirin apaan? Pasti pikiran kamu udah traveling yah? Wkwkwk..."
"Ih! Nggak! Lo nya aja yang mancing-mancing. Pake Tumben-tumbenan bilang aku kamu lagi."
"Emang nggak boleh bilang aku kamu?"
"Boleh sih."
"Lah, terus?"
"Cuma sekarang nggak boleh. Gue lagi ngambek sama lo."
"Yah, kenapa ngambek?"
"Lo ngeselin."
"Wkwkwk... Iya iya Widia sayangg... Gue cuma bercanda aja."
"Mendingan lo sekarang tidur. Daripada ketawa-ketawa nggak jelas.
"Tapi gue masih pengen teleponan sama lo."
"Neleponnya nanti aja. Lebih baik lo sekarang tidur."
"Jangan tutup teleponnya. Sebentar aja ya, pliss... Vidio call yah."
......................
Dika kemudian langsung menelepon Widia melalui video call dan Widia pun segera mengangkat panggilan Video tersebut.
......................
...Via Panggilan Video...
......................
"Dika tambah ganteng aja," batin Widia.
"Haii... Wkwkkwk..." ucap Dika sambil tertawa.
Widia pun tersenyum karena melihat Dika yang tertawa. "Lo ketawa terus ya Dika."
"Gue ketawa karena lo... Tapi bagaimana mungkin seseorang bisa membuat orang lain tertawa bahagia tanpa melakukan apapun? Lo bisa buat gue tersenyum dan ketawa cuma karena lihat lo aja."
"Gue nggak tau harus bilang apa. Gue nggak tau bagaimana cara mengungkapkan perasaan gue. Gue merasa seperti membeku. Lo selalu berhasil buat jantung gue berdegup dengan kencang. Lo selalu buat gue bahagia Dika. Gue harap kita bisa bersama-sama terus."
"Gue berharap orang yang gue cintai saat ini adalah orang yang akan menjadi masa depan gue... Kita akan bersama-sama sampai tua, sampai maut memisahkan."
Lagi-lagi senyuman terukir di bibir Widia. "Amin..."
"Amin..."
"Tapi tadi lo bilang kalau baterai lo habis
Sekarang kok masih bisa nelepon?" ucap Widia.
"Hmm... Gue cuma nggak mau kalau lo tutup teleponnya. Tumben kita bisa teleponan kayak gini. Biasanya kita cuma chat-an aja, itu pun nggak lancar, beberapa jam baru sempat bales. Selain itu gue takut ganggu lo."
"Gue juga kangen sama lo. Gue selalu terbangun di tengah malam, gue selalu berharap mendapat notifikasi dari orang yang menjadi alasan di balik senyuman gue... Kapanpun lo kangen, lo langsung chat atau telepon gue."
"Iya, tapi lo harus jaga diri, jaga kesehatan. Jangan sering-sering kebangun tengah malam, tidur yang cukup."
"Tapi lo sekarang? Seharusnya semua nasihat itu buat lo. Lo harus tidur yang cukup. Selain itu lo jangan kecapekan, jangan maksain diri. Lebih baik sekarang lo tidur."
"Iya iya, gue tidur sekarang. Daa... I love you sayangkuu."
"I love you more sayang. Daa..."
Panggilan video tersebut masih berlangsung, mereka berdua saling menatap satu sama lain.
"Kenapa nggak di matiin?" tanya Widia.
"Gue nggak pengen matiin. Lo yang matiin."
"Ya udah, gue tutup teleponnya ya. Lo istirahat yang cukup."
"Iya, lo juga."
"Iya, daa sayang..."
"Daa sayang..."
......................
...°...
...°...
...----------------...
...BERSAMBUNG...
...----------------...
...°...
...°...
...°...
...Sambil menunggu cerita ini update, yuk mampir ke cerita author yang lainnya yang berjudul "Berbeda"...
...Jangan lupa dijadiin fav yaaa🤭......
...Jangan lupa like, komentar, vote, dan ratenya ya agar author jadi lebih semangat 🤗......
...Terima kasih 🙏💕......