Choco

Choco
Bertengkar



Karena Bryan sudah tidak sibuk, hari ini Widia berangkat sekolah dengan Bryan. Sesampai di sekolah mereka pun menuju kelas masing-masing.


"Widia..." ucap Dika yang berdiri di depan kelas menunggu Widia.


"Ngapain lo kesini?!" ucap Widia dengan ekspresi marah.


"Gue mau minta maaf sama lo Wid."


"Ya udah..." Widia langsung meninggalkan Dika masuk ke kelas.


Dikapun menyusul Widia masuk ke kelas. "Widia gue tau gue salah, gue udah salah bicara, maksud gue bukan kayak gitu Wid, gue minta maaf. Tapi gue masih bingung, sebelum itu lo udah marah sama gue, salah gue apa?."


Widia hanya diam tanpa menatap Dika.


"Kenapa lo diemin gue Wid?" tanya Dika.


"Karena lo udah bikin gue kecewa!."


"Ya udah gue minta maaf kalo gitu, tapi tolong jelasin ke gue salah gue apa?."


"Gue nggak mau lihat lo lagi, mending lo keluar sekarang!."


"Tapi Wid..."


"Keluar!" ucap Widia dengan nada tinggi.


Hal tersebut membuat seisi kelas, termasuk Clara dan teman-temannya memperhatikan Widia dan Dika.


"Bakalan seru nih..." bisik Rani pada Clara.


"Ya ampun... pangeran bervespa putih gue di bentak..." gumam Monica.


"Manarik... cinta segitiga antara saudara kembar," batin Clara.


"Perlu gue ulangin lagi?. Keluar!" ucap Widia dengan nada tinggi.


Dika hanya menatap tidak percaya pada Widia yang baru saja membentaknya.


"Lo nggak denger apa yang Widia bilang?. KE-LU-AR!" ucap Adit yang baru datang.


Dika menghela nafas panjang. "Gue minta maaf Wid," ucap Dika pada Widia. Dika kemudian berjalan meninggalkan kelas.


"Udah Wid, orang kayak dia emang pantes digituin, jangan sedih lagi ya," ucap Adit.


"Makasi ya Dit."


"Iya Wid."


"Sebenarnya rasanya sakit banget bentak Dika, rasanya pengen nangis... Tapi kenapa ya tumben Intan nggak nenangin atau hibur gue?. Apa dia marah ya sama gue?" ucap Widia dalam hati.


********* jam istirahat.


Dika dan Restu yang bercucuran keringat sedang duduk di bawah pohon di pinggir lapangan sambil meminum sebotol air mineral.


"Kalian ngapain kesini?!" ucap Dika dengan ekspresi tidak senang pada Clara dan teman-temannya yang menghapiri Dika dan duduk di sampingnya.


"Santai aja kali kak... Kak Dika kelihatan capek banget, sampai keringatan gitu," ucap Monica.


"Jelaslah capek, gue dihukum lari keliling lapangan siang bolong kek gini. Kalo kalian mau ngejek gue, ejek aja. Biar lengkap kesialan gue hari ini."


"Lo kenapa dari tadi emosian terus sih Dik?" tanya Restu.


"Iya nih Kak Dika. Kita mana mungkin ejek Kak Dika," ucap Clara.


"Apalagi hina Kak Dika, kayak... si Widia," ucap Rani.


"Mending kalian diem deh, nggak ucah ikut campur urusan gue!" ucap Dika.


"Kak Dika tau nggak kalau Widia itu pacaran sama Kak Dimas," ucap Clara.


"Udah tau gue..." Dika langsung berdiri dan hendak pergi meninggalkan Clara dan teman-temannya, begitu juga dengan Restu yang juga ikut berdiri.


"Tunggu dulu kak, ada sesuatu yang mau aku kasi tau," ucap Clara.


"Mending lo pergi aja kalo cuma mau bikin mood gue jelek."


"Kak Dika tau nggak Widia dapet uang dari mana buat bayar uang semester?... Ya darimana lagi kalo bukan dari Kak Dimas. Kak Dimas itu kan orang kaya, makanya dia mau pacaran sama Kak Dimas. Kalo nggak, manamungkin dia bisa sekolah sampai hari ini."


"Jadi itu alasan Widia jauhin gue," batin Dika.


Tanpa berkata apa-apa Dika langsung pergi untuk menemui Widia.


"Dika..." teriak Restu pada Dika yang pergi begitu saja.


"Eh, lo mau kemana cupu?!." Clara memegang tangan Restu yang hendak pergi menyusul Dika.


"Lo apa-apaan sih!." Restu menarik tangannya. "Lo pasti bohong kan sama Dika, lo cuma mau pengaruhin dia biar benci sama Widia!" lanjut Restu.


"Siapa juga yang bohong. Si Widia kan emang miskin, darimana lagi coba, kalo bukan dari Kak Dimas."


"Gue nggak percaya sama lo!. Dasar licik!." Restu langsung pergi menyusul Dika.


"Kayaknya lo berhasil Ra," ucap Rani pada Clara.


"Udah pasti," ucap Clara.


Restu mencari Dika kemana-mana namun dia tidak menemukan Dika.


"Dika lagi emosi, pasti nggak bisa berpikir dengan jernih. Dikaa... lo kemana sih?..." batin Restu.


Sementara Dika sudah menemui Widia sedang duduk bengong di taman belakang sekolah. Widia langsung beranjak pergi karena melihat Dika menghampirinya.


Dikapun menghentikan Widia. "Kenapa sih lo terus menghindar dari gue?!."


Namun Widia tidak menghiraukan Dika dan kembali beranjak pergi.


Dika kembali menghentikan Widia. "Gue tau gue gak kayak Dimas. Gue nggak punya apa-apa, sementara Dimas punya segalanya. Itu kan sebenarnya alasan lo jauhin gue," ucap Dika dengan sinis.


"Maksud lo apa?!."


"Gue tau Dimas yang bantuin lo bayar uang semester."


"Jadi gitu cara lo nilai gue!... Asal lo tau, yang bayarin uang semester gue bukan Dimas, tapi kakak gue Bryan!. Gue kecewa sama lo Dika!."


"A-apa?..." ucap Dika yang kaget.


"Widia, lo salah paham, gue nggak mainin perasaan lo. Gue mohon dengerin penjelasan gue dulu," ucap Dika dengan perasaan bersalah.


"Nggak ada yang perlu dijelasin Dik. Gue nggak akan percaya sama lo!."


"Tapi gu-" Belum selesai Dika berbicara Widia memotong perkataan Dika.


"Lo juga nggak percaya kan sama gue. Jelas-jelas tadi lo nuduh gue."


"Gue tau gue salah, gue minta maaf. Gue nggak bisa berpikir dengan jernih, gue salah karena udah nuduh lo, gue minta maaf Wid."


Widia menggelengkan kepalanya kecewa pada Dika.


Dika memegang tangan yang hendak pergi. "Gue minta maaf Widia. Gue akan lakuin apapun buat dapetin maaf dari lo."


Bug...


Adit yang kebetulan lewat langsung memukul wajah Dika.


"Mending lo nggak usah ganggu Widia lagi!." Adit mendorong Dika hingga terjatuh dan kembali memukul Dika terus-menerus tanpa ada perlawanan dari Dika.


"Adit udah, udah Dit..." Widia mengehentikan Adit dan langsung mengajaknya pergi.


"Ya ampun... Kok bisa kayak gini sih?... Gak seharusnya gue langsung percaya sama perkataan Clara... Bryan kenapa nggak kasi tau gue kalo Widia udah jujur kalo dia Candra?... Tapi dari mana Widia tau soal taruhan itu?. Lo udah salah paham Wid..." batin Dika.


"Gue cari lo kemana-mana, ternyata lo disini Dik. Wajah lo kenapa memar kayak gitu?. Lo nggak ngelakuin hal yang aneh-aneh kan?. Jangan bilang lo percaya sama ucapan Clara dan langsung nemuin Widia," ucap Restu yang baru datang.


"Iya Res, ternyata gue salah paham sama Widia. Gue tadi dipukulin sama temennya."


"Dikaa... Lo kebiasaan nggak pernah berpikir panjang. Gue tau lo stres, tapi... Ya ampun... Lo ceroboh banget sih!."


"Gue tau gue salah... Tapi gue bingung, kenapa Widia bisa tau soal taruhan itu. Dia udah salah paham sama gue Res."


"Intan udah tau soal taruhan itu Dik, dia denger pembicaraan kita waktu di parkiran. Pasti Intan yang udah kasi tau Widia. Sebenarnya waktu itu gue mau kasi tau lo, tapi lo nggak mau denger dan langsung pergi kumpul basket."


"Pantesan..."


"Tenang ajak Dik, gue akan bantu lo cari jalan keluarnya. Tapi memar lo lumayan parah tuh, mending kita obatin dulu ke UKS."


"Nggak usah Res, gue nggak mau nambah masalah karena orang-orang tau gue berantem. Mending gue obatin di rumah aja, tolong bilang gue permisi karena sakit ya Res."


"Iya Dik."


"Ya udah, gue cabut dulu. Makasi ya."


"Sama-sama, santai aja Dik."


*****sementara Adit sedang menenangkan Widia.


"Lo jangan sedih lagi ya Wid," ucap Adit.


"Nggak kok Dit, gue nggak apa-apa."


"Mending lo nenangin diri dulu. Gimana kalo kita ke kantin beli minum?."


"Iya Dit."


"Kenapa sih bisa kayak gini?. Dika salah paham sama gue, sementara Intan marah tanpa sebab sama gue," pikir Widia.


****malam harinya Dika sedang bermain basket di lapangan dekat taman.


DUG DUG DUG...


Dika memantulkan bola basket dengan keras.


Bryan yang kebetulan lewat menghampiri Dika. "Dika... Gue kira siapa disini sendiri malem-malem."


"Lo ngapain kesini Yan?." Dika yang sudah bercucuran keringat tetap melanjutkan bermain basket dan berusaha memasukkan bola ke ring.


"Gue cuma kebetulan lewat aja. Lagian lo yang ngapain disini?. Tumben lo nggak jaga warnet. Lo lagi ada masalah?."


Dika menghentikan permainannya dan mendekati Bryan. "Lo kenapa nggak kasi tau gue kalo Widia udah jujur?."


"Gue kan akhir-akhir ini sibuk Dik, gue nggak sempet kasi tau lo. Emangnya ada apa sih?."


"Gue udah salah paham sama dia Yan, gue udah nuduh dia. Gue kira Dimas yang bantu dia."


Bryan langsung memukul perut Dika dengan keras. "Ini karena lo udah nuduh adek gue!. Bisa-bisanya lo nilai dia kayak gitu!."


"Gue tau gue salah Yan. Gue nggak bisa berpikir dengan jernih, pikiran gue lagi kacau waktu itu."


"Emangnya ada apa?."


"Widia diemin gue tanpa mau kasi penjelasan apapun ke gue. Ternyata dia udah tau soal taruhan gue sama Restu."


"Jadi lo jadiin adek gue bahan taruhan!." Bryan langsung mencengkram leher baju Dika.


"Tenang dulu Yan, tenang... Gue nggak ada maksud buat nyakitin Widia, gue tulus sama dia."


Bryan melepaskan leher baju Dika. "Gue pegang kata-kata lo Dik."


"Gue jujur Yan, gue bener-bener tulus sama Widia. Lo tau kan dari dulu gue nggak pernah pacaran. Nggak ada yang pas bagi gue selain Candra. Setelah gue ketemu Widia, gue bisa ngerasa suka sama cewek. Dan ternyata Widia itu Candra."


"Gue percaya sama lo Dik. Tapi kenapa Widia bisa sama Dimas?. Lo udah kasi tau yang sebenarnya sama dia?."


"Gue belum kasi tau ke dia. Gue mau dia tulus suka sama gue, bukan cuma gara-gara gue Choco."


"Gue akan selalu dukung lo Dika."


"Makasi ya Yan."


"Dika itu orang baik, gue lebih setuju Widia sama Dika daripada sama Dimas. Gue kenal Dimas udah lama, dia nggak sebaik yang orang-orang kira," batin Bryan.


°


°


°


Jangan lupa like, komentar, dan ratenya ya kakak 🤗...


Terima kasih 🙏💕...