
Hari ini keluarga Arthama memulai hidup baru tanpa Bu Yuni dan Amel. Baru pertamakalinya Pak Arthama, Dimas, dan Dika makan bersama.
***** di meja makan
"Kamu hari ini ke sekolah sama Dimas aja," ucap Pak Arthama pada Dika.
"Nggak usah pa, Dika naik motor aja kayak biasa," jawab Dika.
"Ngomong-ngomong motor itu punya siapa?" tanya Pak Arthama.
"Punya Dika lah pa, walaupun Dika belinya udah bekas, Dika udah nyaman pake motor itu."
"Kamu selama ini dapet uang dari mana? Kamu nggak nyuri kan?..." tanya Pak Arthama dengan nada bercanda.
Dika menatap malas pada papanya. "Pa-pa..."
"Iya, iya, papa cuma bercanda... Tapi papa serius nanya, selama ini kamu dapat uang dari mana?"
"Dika pelihara bebek sama jaga warnet pa."
"Maafin papa ya, gara-gara papa kamu jadi menderita," ucap Pak Arthama menyesal.
"Udah lah pa, jangan bahas itu lagi. Dika juga nggak terlalu hidup susah diluar sana, Dika nggak pernah kelaparan, buktinya Dika biasa-biasa aja kan sampai sekarang."
"Papa bangga sama kamu Dika..."
"Gue nggak mimpi kan..." batin Dika mendengar kata-kata Pak Arthama.
"Ini pertama kalinya gue denger papa muji Dika," batin Dimas.
"Makasi pa..." ucap Dika.
"Pa, Dimas berangkat sekolah ya. Dimas ada piket sekarang," ucap Dimas.
"Sekolah kalian kan sama, nggak ada salahnya kamu berangkat sama adik kamu... Kamu ajak Dika ya Dimas," ucap Pak Arthama.
"Iya pa, Dimas berangkat ya..."
"Iya, hati-hati..." ucap Pak Arthama.
"Gue tunggu di mobil Dik." Dimaspun langsung berdiri dan meninggalkan meja makan.
"Iya Bang..." Dika pun langsung menyelesaikan sarapannya.
"Dika berangkat ya pa."
"Iya, hati-hati..." balas Pak Arthama.
***** di mobil
"Baru pertamakali gue naik mobil lo Dim. Mobil lo selalu ganti-ganti, tapi yang ini emang bener-bener keren..." ucap Dika.
Namun Dimas tidak menghiraukan Dika dan tetap fokus menyetir.
"Kapan lo dapet ni mobil Dim? Pasti mahal ya?" tanya Dika.
"Pas ulang tahun gue..." jawab Dimas datar.
"Wah, enak banget lo dapet hadiah mobil..."
"Bisa diem nggak si lo?!..." ucap Dimas kesal. Dimas pun langsung meminggirkan mobilnya dan berhenti.
"Lah, kok berhenti sih Dim?"
"Keluar!" perintah Dimas tanpa menatap Dika dan masih fokus ke depan.
"Kan belum sampai sekolah, kok lo malah nyuruh gue keluar sih Dim?"
"Berisik!..."
"Lo kenapa sih? Oke! kalo gue ada salah ngomong, gue minta maaf."
"Keluar!" ucap Dimas dengan nada tinggi.
"Dimas kenapa sih? Mending gue keluar aja..." batin Dika
"I-iya..." Dika pun langsung turun dari mobil Dimas.
"Dimas kenapa sih? Jangan-jangan dia tersinggung sama ucapan gue, tapi masak cuma ngomong kayak gitu aja marah sih..." gumam Dika. Dika kemudian langsung menelepon Restu untuk menjemputnya.
* * * * * * * * * *
Sesampai di sekolah, Dika melihat Widia dan menghampirinya.
"Kenapa lo kelihatan bahagia banget Dik?" tanya Widia melihat Dika datang dengan wajah sumringah.
Dika memegang tangan Widia dan menatap Widia dengan wajah bahagia. "Gue berhasil Nyet, gue berhasil..."
"Maksud lo? Berhasil apaan?" tanya Widia yang kebingungan.
"Gue berhasil ungkap kejahatan Yuni sama Amel... Papa sama Dimas udah tau semuanya... Makasi ya Nyet..."
Widia pun ikut senang mendengar berita tersebut. "Waah, selamat ya Dik, gue juga ikutan seneng..."
Dimas yang kebetulan lewat langsung menghampiri Widia dan Dika. "Ekh, hem..."
Seketika Widia langsung melepaskan tangan Dika.
"Dimas..." ucap Widia dan Dika.
"Ada apa sih? Bahagia banget, pake pegangan tangan..." ucap Dimas.
"Gu-gue cuma mau bilang makasi sama Widia... Gue nggak ada maksud apa-apa," ucap Dika.
"Kak Dimas jangan salah paham ya..." ucap Widia.
"Aku selalu percaya sama kamu Widia..." jawab Dimas.
"Makasi kak..."
"Aku anterin ke kelas ya, sekalian aku mau ke kantor guru."
"Iya kak..."
"Gue duluan Dik," ucap Dimas pada Dika.
***** di kelas 10 IPA 1
Sambil menunggu jam pelajaran dan karena Intan dan Adit belum datang, Widia di kelas hanya duduk di bangkunya sambil menelungkupkan wajah di atas lipatan tangannya.
"Mood gue jelek banget... Masak sih gara-gara gue pacaran sama Kak Dimas, gue nggak bisa deket-deket sama Dika lagi," batin Widia.
Beberapa saat kemudian datang Intan dan Adit secara bersamaan, mereka pun langsung duduk di bangku masing-masing.
"Woi... Pagi-pagi lesu banget," ucap Adit pada Widia.
"Pagi Widia..." ucap Intan.
"Eh, Intan, Adit... Kalian kemana aja? jam segini baru dateng," ucap Widia.
"Sebenarnya kita udah dari tadi datang," jawab Adit.
"Iya, tadi kita lihat pengumuman hasik seleksi OSIS," ucap Intan.
"Gimana hasilnya? Wajah kalian bahagia banget, kalian pasti keterima kan?"
"Nggak Wid, cuma Adit aja yang berhasil jadi anggota OSIS," jelas Intan.
"Yah... tpi nggak apa-apa Tan, gue yakin tahun depan lo pasti berhasil, cemungut Tan..." ucap Widia.
"Makasi ya, aku jadi semangat lagu, tahun depan aku coba lagi..."
"Gitu dong Tan, jangan nyerah... Selamat ya Dit, lo hebat banget..." ucap Widia.
"Nggak lah, biasa aja..."
***** jam istirahat
Setelah selesai makan, Dika pergi ke perpustakaan untuk meminjam buku. Ia melakukan hal tersebut karena ingin berubah dan mewujudkan keinginannya untuk membanggakan papanya.
Ketika sedang asik memilih buku, samar-samar Dika mendengar suara Dimas. Ternyata benar saja, dari sela-sela buku Dika melihat Dimas dan Willy sedag duduk di meja di balik rak buku. Karena Dika seperti mendengar mereka menyebutkan namanya, ia pun memfokuskan pendengarannya pada obrolan Dimas dan Willy.
"Seharusnya lo kan seneng Dim," ucap Willy.
"Gue yakin, bentar lagi dia akan diusir lagi sama papa."
"Kenapa lo yakin banget?" tanya Willy.
"Orang kayak dia cuma bisa bikin gara-gara doang," jawab Dimas.
"Dika itu kan adik lo, kenapa sih lo bisa sebenci itu sama dia. Siapa tau kan Dika itu bisa berubah."
"Kita lihat aja nanti..." ucap Dimas.
"Jadi bener, yang mereka bicarain itu, gue. Keterlaluan Dimas... Gue nggak mau bikin ribut disini. Kalo bukan di sekolah, udah gue samperin lo," batin Dika.
* * * * * * * * * *
Karena tadi pagi Dika berangkat bersama Dimas, sepulang sekolah Dika mencari Dimas di parkiran. Namun karena Dika melihat Dimas sudah mengajak Widia, Dika pun kembali mencari Restu untuk dimintai tumpangan.
*** di rumah
Di depan rumah, Dika menunggu Dimas yang belum datang. Beberapa saat kemudian datang Dimas, sejenak mereka saling bertatapan. Dimas kemudian langsung melangkahkan kakinya ke dalam rumah.
"Salah gue apa sih Dim?!" tanya Dika kesal.
Mendengar hal tersebut Dimas membalikan badannya dan hanya menatap Dika.
Dika pun menghampiri Dimas dan kembali bertanya. "Maksud lo apa?!."
Dimas balik bertanya pada Dika. "Maksud lo apa?!"
"Kenapa sih lo benci banget sama gue?!. Salah gue apa hah?!" Dika mendorong Dimas hingga terjatuh.
"Lo apa-apaan sih?!" Dimaspun langsung bangun dan memukul wajah Dika.
Dika langsung meremas leher baju Dimas dan mendorongnya ke tembok. "Gue udah denger lo tadi jelek-jelekin gue di perpus! Lo benci gue kan!. Maksud lo apa?!"
"Iya!... Gue emang benci sama lo!..." ucap Dimas dengan tegas dan dengan nada tinggi.
"A-apa..." ucap Dika yang merasa tidak percaya dengan kata-kata yang baru saja dia dengar. Dika pun melepaskan leher baju Dimas.
"Kenapa? masih kurang jelas?! Gue benci sama lo!"
"Salah gue apa sih Dim? Kalo lo benci sama gue karena gue suka sama Widia, gue bisa jauhin Widia, bahkan sebelum lo minta gue udah ikhlas lo sama Widia. Gue sama Widia cuma temen..."
"Lo pikir gue benci sama lo cuma gara-gara itu!. Gue dari kecil selalu benci sama lo! Gue benci mama sama papa selalu lebih perhatian sama lo. Kenapa sih lo harus ikut lahir sama gue?!"
"Dimas... lo barusan bilang apa?" Sekali lagi Dika sangat terkejut dan tidak menyangka Dimas yang selama ini ia tau selalu membelanya mengucapkan kata-kata tersebut.
"Lo pikir selama ini gue suka sama lo?! Nggak! gue benci lo! Asal lo tau, selama ini yang jelek-jelekin lo di depan mama sama papa itu gue! Gue yang bikin orang-orang benci sama lo!. Puas lo sekarang!"
Dika pun hanya menatap Dimas diam seribu bahasa. Dika masih merasa tidak percaya dengan kata-kata yang baru saja keluar dari mulut Dimas.
"Minggir lo!" Dimas mendorong Dika dan langsung menuju kamarnya.
"Dimas... lo salah paham. Dulu papa sama mama lebih merhatiin gue karena gue nggak pernah bisa ngelakuin apapun dengan benar, gue nggak bisa ngelakuin segala hal lebih baik dari lo..." batin Dika.
...----------------...
..."Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada disakiti oleh orang yang tidak pernah kamu sangka akan menyakitimu..."...
...----------------...
°
°
°
Jangan lupa like, komentar, dan ratenya ya, agar author lebih semangat🤗...
Terima kasih 🙏💕...