Choco

Choco
Diculik



Sore harinya seperti biasa Dika melakukan kesibukannya mengurus bebek-bebeknya. Ketika sedang asik membereskan kandang bebeknya tiba-tiba telepon Dika berdering. Dika merasa kaget ketika memeriksa handphonenya yang ternyata panggilan telepon tersebut berasal dari Dimas.


"Hah?! Dimas?! Ada apa dia nelepon gue?" gumam Dika.


Dika yang merasa penasaran pun segera mengangkat panggilan telepon dari Dimas.


***** via telepon


"Ada apa Dim?" tanya Dika.


"Apa kabar Dika sayang?" ucap seorang perempuan dengan lembut.


Dika merasa kaget karena yang menjawabnya adalah suara seorang perempuan. "Eh! ini siapa?"


"Ini mama, udah lama mama nggak bicara sama anak kesayangan mama..."


"Yuni! Jangan berani-berani lo sebut gue anak lo!" bentak Dika.


"Jangan emosi begitu, mama jadi takut," ucap Bu Yuni dengan nada mengejek.


"Mau lo apa sebenarnya!" ucap Dika kesal.


"Mama cuma mau ketemu sama kamu, sekalian disini udah ada Dimas. Jarang-jarang loh kita kumpul-kumpul. Kamu mau bicara sama kakak kamu Dimas?" ucap Bu Yuni.


"Dika tolong gue," ucapan Dimas ketakutan.


Dika yang mendengar hal tersebut pun merasa panik. "Dimas! lo kenapa?!"


"Gu..." ucapan Dimas terpotong.


"Kalo kamu mau Dimas selamat, cepat temui saya. Saya akan kirim lokasinya sekarang," ucap Bu Yuni.


"Awas! Jangan macem-mace..." ucapan Dika terpotong.


"Kalau kamu mau Dimas selamat, saya tunggu 5 menit."


Belum sempat Dika berbicara, Bu Yuni sudah memutuskan panggilan telepon tersebut.


"SIAL*N!" gumam Dika. Tanpa pikir panjang Dika segera menuju lokasi yang Dikirimkan oleh Bu Yuni.


...****************...


Di sisi lain Dimas sedang duduk terikat serta disandra oleh Bu Yuni dan suruhannya di sebuah ruangan.


"Mau lo apa sebenarnya?!" bentak Dimas sambil memberontak.


"Mau saya apa? Saya mau balas dendam sama kalian!"


"Balas dendam?! Lo yang salah! Udah untung papa cuma ceraiin lo dan nggak masukin lo ke penjara. Dan sekarang lo mau balas dendam?!"


Bu Yuni tersenyum menyeringai. "Untung kamu bilang?! Keluarga kalian udah bikin hidup saya hancur!"


"Ngaco lo! Dasar Gila!"


"Asal kamu tau, Paman kamu Dion sial*n itu, setelah semua yang saya lakukan untuk dia, dia sekarang malah mencampakkan saya dan anak saya Amel. Saya sudah sabar menunggunya keluar dari penjara, saya sudah mau membantunya balas dendam dengan papa kamu, saya sudah korbankan semuanya, tapi apa yang dia lakukan?! Dia malah menikah lagi dan mencampakkan saya!"


"Salah lo sendiri! Itu karma buat lo!"


"Karma kamu bilang?! Kamu pikir kamu orang yang baik, bisa bicara tentang karma? Saya tau kamu juga licik seperti saya. Dan saya akan membantu kamu menerima karma kamu sekarang!" Bu Yuni menodongkan pistol pada kepala Dimas.


"Ja-jangan main-main! Lo ha-harus inget, gu-gue dulu selalu bela lo saat lo dimusuhin sama Dika. Lo nggak bisa lakuin ini!" ucap Dimas terbata-bata karena ketakutan.


Bu Yuni tertawa jahat. "Saya inget kok kalau kamu selalu bela saya dari Dika. Tapi saya juga tau kamu bela saya cuma karena kamu benci sama Dika. Huhu... saya senang lihat ekspresi kamu yang ketakutan itu. Tenang saja, saya nggak akan habisin kamu begitu aja, saya lebih suka lihat kamu menderita dulu."


"Dasar gila! Lepasin gue!" ucap Dimas.


Bu Yuni tidak menghiraukan perkataan Dimas, ia mengambil pisau kemudian menyentuh pipi Dimas menggunakan pisau tersebut. "Gimana kalau saya rusak wajah kamu dulu? Saya benci lihat wajah kamu, wajah yang bahagia diatas penderitaan saya dan anak saya."


"Jangan lewat batas!" ucap Dimas.


"Berhenti! Yuni!" teriak Dika yang baru datang dengan diantar serta dipegang oleh 2 orang laki-laki suruhan Bu Yuni.


Bu Yuni pun tersenyum melihat kedatangan Dika. "Akhirnya kamu datang juga."


"Mau lo apa sebenarnya?!" tanya Dika.


"Saya mau balas dendam sama kalian! Kalian udah buat hidup saya hancur!" ucap Bu Yuni.


"Mari Dimas, kita lanjutkan." Bu Yuni tersenyum pada Dimas. Bu Yuni memain-mainkan pisau di wajah Dimas, namun pisau tersebut belum sampai melukai Dimas.


"Berhenti!" bentak Dimas.


"Mungkin rasanya kurang seru menyakiti kamu menggunakan pisau. Bagaimana dengan pistol ini?" Bu Yuni mengambil pistol dan mengarahkannya ke kaki Dimas. "Tapi saya tidak mau melihat kamu mati begitu saja, saya lebih suka melihat kamu menderita. Biar kamu merasakan rasa sakitnya secara perlahan."


"Yuni! Berhenti!" teriak Dika.


"Lepasin gue!" bentak Dimas.


"Jangan sakitin Dimas! Gue yang udah bongkar kebusukan lo. Kenapa lo nggak sakitin gue aja?!" ucap Dika.


Bu Yuni melihat ke arah Dimas dan Dika secara bergantian. "Uuh, sabar Dika, sabar, saya pasti akan beri kamu pelajaran, bahkan lebih buruk dari Dimas. Kamu tidak usah bela Dimas, saya bari tau kamu Dika, kakak yang selama ini kamu sayangi ini sebenarnya sangat benci dengan kamu."


Dika tidak merespon ucapan Bu Yuni karena memang Dika sudah tau semuanya sebelum Bu Yuni memberitahunya dan bahkan Dimas yang mengatakan sendiri bahwa dirinya sangat membenci Dika.


"Kenapa diam? Kamu kaget? Semua orang memang benci sama kamu!" ucap Bu Yuni.


Dika tersenyum menyeringai. "Gue nggak kaget, gue udah tau sebelum lo kasi tau gue."


"Ups... udah tau ya? Kamu terlalu baik Dika, dan ini juga alasan saya kenapa saya lebih memilih menculik Dimas. Saya tau kamu pasti mau datang untuk menyelamatkan Dimas, sementara jika saya menculik kamu, saya yakin Dimas tidak akan datang. Saya kenal betul dengan Dimas, dia orang yang licik, tidak ada bedanya dengan saya."


"Jangan pernah bandingkan Dimas sama manusia iblis kayak lo! Gue tau Dimas jauh lebih baik dari lo!"


Bu Yuni mengalihkan pandangannya pada Dimas. "Ck! Dimas, adik kamu terlalu banyak bicara."


Dor!...


Bu Yuni melepaskan tembakan yang mengenai kaki kiri Dika.


Dika pun terjatuh dan merasakan kesakitan yang teramat sangat. "Aarrghh..."


"Bagaimana Dika? Sakit? Saya akan melakukan hal yang sama pada Dimas, sebentar lagi dia akan merasakan rasa sakit yang kamu rasakan." Bu Yuni mengarahkan pistolnya ke kaki Dimas.


"Jangannn!..." teriak Dika dengan lantang.


"Berisik!" bentak Bu Yuni.


"Gu-gue mohon jangan sakitin Dimas, sakitin gue aja," pinta Dika.


"Cup cup cup... kasihan sampai memohon seperti itu, saya jadi terharu. Saya akan kabulkan keinginan kamu. Tapi, apa kamu yakin?"


"Iya, gue mohon, jangan sakiti Dimas," ucap Dika.


Dor!...


Bu Yuni kembali melepaskan tembakan dan mengenai kaki kanan Dika.


"Arghh!..." teriak Dika yang kesakitan.


"Dika..." batin Dimas.


"Kamu lihat sendiri kan Dimas tidak pernah perduli dengan kamu?!" tanya Yuni.


"Gue nggak perduli. Lo boleh sakiti gue, bahkan lo boleh bunuh gue, tapi jangan sakiti Dimas!" ucap Dika.


Prok.. prok.. prok...


Bu Yuni memberika tepuk tangan kepada Dika.


"Waw... ternyata kamu sangat menyayangi kakak kamu ini. Kalau kamu mau melindungi Dimas, kemari hampiri saya," ucap Bu Yuni.


Dika segera menghampiri Bu Yuni dengan menyeret kedua kakinya. Bu Yuni yang melihat hal tersebut pun tertawa dan merasa sangat puas. Bu Yuni kemudian memerintahkan suruhannya untuk mengikat Dika.


BERSAMBUNG•••••••


••••••••••••••••••••


°


°


°


Sambil menunggu cerita ini update, yuk mampir ke cerita author yang lainnya judulnya "Berbeda"


Jangan lupa like, komentar, vote, dan ratenya ya, agar author jadi lebih semangat 🤗...


1 like dan komentar singkat dari para pembaca sangat berharga bagi Author 😊...


Terima kasih 🙏💕...