Choco

Choco
Curiga



Jam istirahat Widia, Intan, dan Adit sedang makan di kantin.


"Katanya mau ada pemilihan calon pengurus OSIS baru, kalian ada niat ikutan nggak?" tanya Adit pada Widia dan Intan.


"Aku sih rencananya mau daftar Dit, kalo kamu gimana?" ucap Intan sambil membereskan piringnya karena sudah selesai makan.


"Gue sih rencananya mau daftar juga, kalo lo gimana Wid?" ucap Adit yang juga sudah selesai makan.


"Gue kayaknya nggak ikut deh Dit," jawab Widia yang masih makan nasi gorengnya yang tersisa masih sedikit.


"Kenapa?" tanya Adit.


"Jadi OSIS itu keren loh Wid," ucap Intan sambil membenarkan posisi kacamatanya.


"Iya, bisa nambah pengalaman juga."


"Iya juga sih, tapi sehari-hari aja gue udah sibuk bikin tugas, beres-beres rumah, belom lagi bantu ibuk di pasar."


"Lo rajin juga ya, ngomong-ngomong ibu lo jualan apa Wid?."


"Jualan buah Dit."


"Hai Nyet..." kata Dika yang baru datang dan langsung duduk disamping Widia.


"Ni cowok siapa sih?. Kelihatan akrab banget sama Widia," ucap Adit dalam hati.


"Lo mau kacang?. gue beli 2 nih." Dika menaruh sebungkus kacang polong di samping Widia.


"Ngga Dik..." ucap Widia sambil tetap makan nasi gorengnya. Namun kacang yang diberikan oleh Dika terlihat sangat enak, Widia kemudian mengambil kacang itu dan menaburkannya di nasi goreng.


"Yah, lain di kata, lain perbuatan lo Nyet," ucap Dika sambil memandang malas Widia.


"Gak ikhlas nih?."


"Bukan gitu Nyet... itu emang buat lo kok, makan aja."


"Makasi aja kalo gitu, abis sih kelihatannya enak."


"Iya lah enak... Tapi lo kemana aja sih kemarin?. Telepon gue kenapa gak lo angkat-angkat?."


"Gue sibuk Dik, emang lo ada apa nelpon?."


"Biasalah Nyet gue gak bisa tidur kalo ngga denger suara lo," ucap Dika sambil tersenyum.


"Jadi dia udah biasa nelpon Widia, siapa sih ni cowok, sok akrab banget sama Widia," ucap Adit dalam hati yang terlihat cemburu melihat kedekatan Widia dan Dika.


"Mending lo gak usah sering-sering telpon gue Dik," ucap Widia sambil membereskan piringnya.


Dika mengerutkan alisnya. "Tapi kenapa Nyet?."


Kring...kring...kring...


Suara bell masuk kelas.


"Gue masuk kelas dulu Dik." Widia berdiri dan hendak pergi ke kelas, begitu juga dengan Adit dan Intan. Namun Dika menghalangi Widia.


"Lo belum jawab pertanyaan gue Wid."


"Mungkin kita jangan terlalu deket Dik," jawab Widia tanpa menatap Dika.


"Kenapa Wid?..." tanya Dika yang kebingungan.


"Lo gak denger tadi Widia bilang apa?. Dia nggak mau deket-deket sama lo!" ucap Adit dengan setengah marah.


"Emang lo siapa ikut campur urusan gue?!."


"Widia itu temen gue, jadi gue gak mau ada yang ganggu dia!. Mending sekarang lo minggir!." Adit mendorong Dika.


Dika yang merasa kesal langsung memukul Adit hingga terjatuh. "Jaga ya sikap lo!."


"Dika!." Widia membantu Adit berdiri.


"Widia gue..."


Widia memotong perkataan Dika. "Lo apa-apaan sih?!. Lo yang harus jaga sikap!. Jangan main pukul-pukul orang aja." Widia langsung mengajak Adit dan Intan pergi meninggalkan Dika.


"Maafin gue Dika, gue cuma ngga mau PHPin lo. Gue juga udah janji sama Choco," ucap Widia dalam hati.


"Arghh..." Dika menendang kursi untuk melampiaskan amarahnya.


Tentu saja semua perhatian di kantin tertuju pada Dika yang sedang marah.


"Dikaa... sampe aja kursi itu rusak, utang kamu nambah. Besok-besok gak ibu kasi ngebon kamu," ucap bu kantin dengan santai sambil memandang malas Dika.


"Eh bu kantin..." Dika langsung membereskan kursi yang ditendangnya tadi. "Ngga rusak kok kursinya... ni buktinya masih bagus buk."


"Awas aja kamu..." Bu kantin meninggal Dika.


"Widia... lo kenapa sih?..." gumam Dika yang masih bingung karena Widia tiba-tiba menjauhinya.


*********


Seperti biasa sepulang sekolah Widia langsung pergi ke depan sekolah untuk menunggu angkot. Widia melihat Dika menunggu dirinya di depan sekolah, tetapi Widia malah kabur dan Dikapun mengejar Widia.


"Nyet pulang bareng yuk."


"Ngga usah Dik, gue naik angkot aja," ucap Widia yang masih berjalan.


"Widia... lo kenapa sih mengghindar dari gue?. Apa gara-gara gue pukul temen cowok lo tadi?. Gue tau gue salah, gue akan minta maaf sama dia, tapi lo jangan mengghindar dari gue."


"Bukan Dik, mending kita jangan terlalu deket!" jawab Widia yang masih tetap berjalan.


Dika berdiri didepan Widia dan menghalanginya. "Kenapa?... Gue suka sama lo, kenapa gue gak boleh deket sama lo?."


Deg... Jatung Widia berdegub dengan kencang karena mendengar ucapan Dika.


"Mungkin lo salah paham sama perasaan lo!."


"Gue jujur sama perasaan gue Wid, kenapa sih lo gak pernah percaya sama gue?. Gue akan lakuin apapun biar lo percaya sama gue."


"Lo jauhin gue!" ucap Widia sambil menundukkan kepalanya.


Dika menggelengkan kepalanya tidak percaya. "Gue gak mau Wid, gue suka sama lo dan gue tau lo juga suka sama gue."


"Gue cuma anggap lo sahabat Dika..."


"Lo bohong!" ucap Dika tidak percaya.


"Gue udah punya pacar!."


"Gue tetep gak percaya Wid, emang pacar lo siapa?."


Widia memalingkan wajahnya dan tidak menjawab pertanyaan Dika.


"Lo gak bisa jawab kan... karena lo bohong."


"Gue gak bohong!" tungkas Widia.


"Kalo lo gak bohong kenapa lo gak berani lihat gue?. Kenapa lo gak jawab pertanyaan gue tadi?. Gak bisa kan lo."


"Pacar gue Choco." Widia langsung pergi meninggalkan Dika.


Mendengar perkataan Widia membuat Dika terkejut. "Choco?... jangan-jangan dia Candra," pikir Dika. Dika kemudian mengejar Widia.


Dika memegang tangan Widia dan menghentikannya. "Maksud lo apa tadi bilang Choco?."


"Lo apa-apaan sih Dika!."


"Oke gue minta maaf, maafin gue. Gue nggak akan tanya apa-apa lagi ke lo, tapi gue mohon jangan jauhin gue."


"Lepasin tangan gue Dika!."


"Lepasin tangan Widia Dik!" kata Dimas yang baru turun dari mobilnya.


Dika kemudian melepaskan tangan Widia. "Maafin gue Widia."


"Widia, kamu pulang bareng sama aku aja ya?" tanya Dimas.


"Lo pulang sama gue aja Wid," ajak Dika.


"Gue pulang sama kak Dimas aja Dik..." jawab Widia.


"Tapi Nyet..."


"Yuk Widia..." Dimas kemudian mengajak Widia pergi.


"Apa mungkin Widia itu Candra?'' pikir Dika.


Widiapun pulang diantar oleh Dimas.


"Maafin Dika ya Widia."


"Ngga usah minta maaf kak. Dika nggak salah, tadi cuma salah paham kak."


"Kamu ngga usah bohong, aku lihat sendiri tadi Dika ganggu kamu."


"Tapi bener kak, Dika nggak salah."


"Ngga kak, Widia ngga ikut. Widia sibuk."


"Ya udah kalo gitu, ngga apa-apa. Aku juga akan sibuk banget akhir-akhir ini."


"Semangat ya kak Dimas."


"Iya, makasi ya Widia."


"Sama-sama kak."


"Aku boleh minta nomor HP kamu ngga?. Siapa tau ada perlu, aku bisa hubungi kamu."


"Boleh kak." Widia menulis nomor HPnya dan memberikannya kepada Dimas.


"Maka si ya Wid."


"Iya kak..."


Widia menatap Dimas yang sedang menyetir. "Apa Choco masih inget ya sama gue?... Tapi ngga seharusnya juga gue jauhin Dika kayak tadi, dia kan sahabat gue," pikir Widia.


*********


"Dika?..." ucap Dimas yang kebingungan melihat kedatangan Dika ke rumah dan masih memakai seragam sekolah.


"Lo ngapain deketin Widia Bang?" tanya Dika dengan ekspresi serius.


"Kenapa emangnya?. Ada masalah?" ucap Dimas sinis.


"Mending lo gak usah kasi Widia harapan palsu Dim!" Dika kemudian pergi menuju kamar Dimas.


"Lo mau kemana?..." Dimas menyusul Dika.


Dika tidak menghiraukan Dimas dan tetap berjalan menuju kamar Dimas. Sampai di kamar Dimas, Dika seperti mencari-cari sesuatu.


"Gue peringatin lo jangan sentuh barang-barang gue!" ucap Dimas kesal.


Dika mengambil foto perempuan di dalam laci. "Gue tau lo dari dulu suka sama Aulia, dan sampai sekarang lo masih suka sama dia!."


Dimas merampas foto itu dari tangan Dika. "Udah gue bilang jangan sentuh barang-barang gue!."


"Mending lo gak usah deketin Widia!. Gue tau lo cuma jadiin dia pelarian," ucap Dika kesal.


"Mending lo jangan ikut campur urusan gue!." Dimas menarik Dika keluar kamar.


"Lo apa-apaan sih narik gue Dim!." Dika menepis tangan Dimas.


"Kak Dika?!..." ucap Amel yang baru datang.


"Ini urusan gue sama Dimas, lo gak usah ikut campur!" bentak Dika pada Amel.


"Kalo kak Dika pulang cuma mau bikin ribut, mending kakak pergi aja!."


Dika mengerutkan alisnya. "Apa lo bilang?!. Lo ngusir gue?!. Seharusnya lo sama Yuni yang pergi dari sini!."


"Berhenti Dika!. Amel ini adik kita, lo berhenti musuhin dia!."


Dika tersenyum menyerigai. "Cih... kita??... Adik lo aja kali, kalo gue mah nggak sudi anggep dia adik!."


"Dikaa!" bentak papanya atau Pak Arthama yang baru datang.


"Papa..." ucap Dika yang melihat papanya tiba-tiba ada disana.


"Kamu ini pulang cuma mau bikin gara-gara aja!. Mending kamu pergi Sekarang!" ucap Pak Arthama marah.


"Ngga usah diusir juga, Dika bakalan pergi pa. Tapi suatu saat nanti papa akan nyesel udah usir Dika!" ucap Dika yang kemudian pergi.


*********


"Kenapa ya, rasanya aneh banget kalo ngga ada Dika? jadi ngga pengen ngapa-ngapain... Dikaa..." ucap Widia dalam hati yang sedang melamun dan duduk berseder di keranjang buah.


"Sayang, minta tolong beliin ibu kantong plastik dong. Kantong plastik ibu udah hampir habis, nanti keburu ada yang belanja," ucap Bu Asih pada Widia. Namun Widia tetap bengong dan tidak merespon ibunya.


Ibu Asih memegang pundak Widia. "Sayang..."


"Eh, iya buk, ada apa?" ucap Widia yang terkejut.


"Ya ampun... dari tadi ibu bicara kamu ngga denger?"


"Ada apa buk?" jawab Widia lesu.


"Beliin ibuk kantong plastik sana... Tapi kamu kok kelihatannya lemah, lelah, letih, lesu, lemas gitu sih, kayak nggak ada semangat, kamu lapar ya?."


"Widia cuma ngantuk aja buk."


"Kalo gitu kamu istirahat di rumah aja."


"Ngga apa-apa kok buk, Widia udah nggak ngantuk lagi. Widia beliin ibu kantong plastik sekarang."


"Ya udah kalo gitu, ini uangnya." Bu Asih memberikan uang pada Widia.


"Iya buk." Widiapun pergi membeli kantong plastik.


Dika yang kebetulan juga ada di pasar menghampiri Widia. "Widia..."


Terlihat senyuman kecil di wajah Widia karena melihat kedatangan Dika. Sebenarnya senyuman di wajahnya bisa lebih lebar, tetapi ia menahannya. "Dika..."


"Gue mau minta maaf Wid, maafin gue soal yang tadi pagi ya."


"Lo gak perlu minta maaf, lo ngga salah. Seharusnya gue nggak kayak gitu, maafin gue ya."


"Iya ngga apa-apa Nyet... Tapi Choco itu siapa?."


Widia hanya diam dan tidak merespon pertanyaan Dika.


"Hmm... siapa?..." tanya Dika lagi.


"Gue cuma asal sebut aja, jangan bahas itu lagi ya."


"Jadi cuma asal sebut aja... Tapi kenapa Widia jauhin gue ya?. Kok bisa kebetulan banget namanya Choco," ucap Dika dalam hati.


"Iya Wid... Trus lo sekarang mau kemana?."


"Gue mau beli plastik, terus bantu ibuk jualan."


"Gue anter ya?."


"Cuma beli kantong plastik aja kok, gak usah dianter."


"Sekalian bantu jualan ya."


"Iya deh yuk..."


"Yuk..."


Dikapun mengantar Widia membeli kantong plastik dan membantu Ibu Asih berjualan.


*********


Malam harinya ketika Widia akan tidur ponselnya berbunyi menandakan ada WA masuk, ia pun memeriksa HPnya.


Dimas : "Widia save back, Dimas"


"Ooh kak Dimas, ada apa ya kak Dimas WA malem-malem gini?" gumam Widia.


Widia : "Sip kak, udah."


Dimas : "Kok blm tidur Wid?"


Widia : "Ini juga mau tidur kak"


Dimas : "Maaf ya ganggu malem-malem"


Widia : "Iya ngga apa-apa kak, santai aja."


Dimas : "Selamat malam ya Widia"


Widia : "Selamat malam juga kak Dimas"


Baru saja Widia ingin mematikan HPnya masuk panggilan vidio dari Dika.


"Dika... angkat ngga ya?. Mending jangan diangkat aja deh," ucap Widia dalam hati.


"Maafin gue Dik," gumam Widia yang kemudian mematikan daya ponselnya.


°


°


°


Jangan lupa like, komentar, dan ratenya ya kakak🤗...


Terima kasih 🙏💕...