Choco

Choco
Operasi



Sekitar pukul 5 pagi Dika akhirnya sampai di rumah yang ditempati oleh Dimas dan Pak Arthama untuk tinggal di luar kota.


Dika pun turun dari mobilnya dan kemudian ia membuka pintu gerbang sendirian karena terlihat tidak ada satpam yang berjaga dan selain itu Dika juga tidak mau mengganggu orang-orang karena keadaan masih sangat pagi.


"Den Dika..." ucap satpam (Pak Edi) sembari berjalan menghampiri Dika. "Kenapa nggak bunyiin klakson aja? Saya kan bisa langsung bukain gerbangnya."


"Nggak apa-apa pak. Saya takut ganggu bapak, saya kira bapak masih tidur."


"Nggak kok, tadi saya duduk-duduk santai sambil ngopi. Ngomong-ngomong kenapa Den Dika nggak langsung ke rumah sakit aja?"


"Rumah sakit? Kenapa ke rumah sakit?"


"Den Dimas tadi dilarikan ke rumah sakit karena sakit kepalanya kambuh lagi."


"Apa?! Kapan pak?"


"Kurang lebih sekitar 2 jam yang lalu. Saya kira Den Dika sudah tau."


"Nggak pak. Papa nggak ada bilang apapun sama saya."


"Mungkin gara-gara bapak terlalu buru-buru makanya beliau lupa kasi tau Den Dika."


"Saya ke rumah sakit sekarang. Pak Edi tutup gerbangnya ya."


"Baik den."


Dengan segera Dika langsung bergegas ke rumah sakit. Dika terus berusaha menghubungi Pak Arthama namun Pak Arthama samasekali tidak mengangkat telepon dari Dika.


Sesampainya di rumah sakit, Dika melihat Pak Arthama tengah duduk di depan ruang UGD. Pak Arthama bersender di tembok, wajahnya terlihat pucat, dan matanya pun terlihat bengkak seperti habis menangis.


"Dika?..." ucap Pak Arthama melihat kehadiran Dika.


"Gimana keadaan Dimas?!" ucap Dika dengan panik.


"Mata papa, mata papa merah. Papa habis nangis," batin Dika.


"Tadi tiba-tiba dia sakit kepala dan dia langsung pingsan. Sekarang Dimas masih di ruang UGD. Dia akan segera menjalani operasi," ucap Pak Arthama.


"Operasi?! Kenapa papa nggak kasi tau Dika kalau Dimas akan dioperasi."


"Seharusnya jadwal operasinya masih 1 minggu lagi. Tapi karena penyakitnya tiba-tiba kambuh dan menjadi semakin parah dengan sangat cepat, dokter harus segera mengambil tindakan dan Dimas harus segera menjalani operasi."


"Tapi Dimas akan baik-baik aja kan pa?"


"Tadi Dimas sempat sadar, ia membuka matanya sebentar tapi dia kembali tidak sadarkan diri."


Pak Arthama mengalihkan pandangannya dari Dika, ia menundukkan kepalanya. "Dokter bilang, Dimas.. operasi yang Dimas jalani sangat beresiko, hanya ada kemungkinan kecil untuk dia bisa selamat. Tapi cuma itu satu-satunya jalan untuk menyelamatkan dia." Mata Pak Arthama langsung berkaca-kaca, ia pun segera menghapus air matanya.


Seketika dada Dika terasa sesak setelah mendengar ucapan dari Pak Arthama. Dika tidak tau harus berkata apa lagi, ia menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya. Dika pun tidak bisa membendung air matanya yang mengalir begitu saja, dengan segera ia mengusap mata dan wajahnya menggunakan lengan bajunya.


"Kenapa papa nggak kasi tau Dika kalau Dimas dilarikan ke rumah sakit? Dan papa juga nggak angkat telepon."


"Tadi papa sangat panik, papa buru-buru. Papa lupa bawa handphone, handphone papa ketinggalan di rumah... Kamu telepon Pak Edi, minta tolong buat bawain handphone papa ke sini."


"Iya pa," balas Dika.


Dika pun segera menelepon Pak Edi dan menyuruh Pak Edi membawakan handphone Pak Arthama.


"Pak Edi akan segera ke sini pa," ucap Dika.


"Iya... Kamu kenapa bisa datang ke sini sepagi ini?"


"Dika nggak bisa tidur, Dika terus kepikiran sama Dimas. Dan jam 3 pagi Dika langsung berangkat ke sini. Baru sampai di depan rumah, Pak Edi langsung kasi tau kalau Dimas masuk rumah sakit."


"Ternyata Dika memiliki ikatan batin yang begitu kuat dengan Dimas. Dia bisa merasakan kalau Dimas sedang tidak baik-baik saja," batin Pak Arthama.


...****************...


Pukul 6 pagi akhirnya dokter mengambil tindakan untuk mengoperasi Dimas. Sementara itu Pak Arthama dan Dika hanya bisa menunggu di ruang tunggu. Wajah mereka terlihat pucat. Dika melamun menatap ke arah lantai. Perasaannya begitu takut, beberapa kali ia mengusap air matanya yang terus menerus keluar tanpa bisa ia kendalikan. Berbeda halnya dengan Pak Arthama, ia terlihat lebih tegar walaupun ia juga merasakan hal yang sama dengan Dika.


"Udah.. Dimas pasti baik-baik saja," ucap Pak Arthama sembari mengusap kepala Dika.


2 jam pun sudah berlalu, kini operasi Dimas masih berlangsung. Pak Arthama dan Dika masih tetap berada di ruang tunggu. Sampai saat ini mereka belum makan ataupun tidur.


Kring.. kring.. kringg...


Handphone Dika berbunyi dan terdapat panggilan masuk dari Widia. Dika pun segera mengangkat panggilan telepon tersebut.


......................


......................


"Lagi ngapain?" ucap Widia.


"Gue di luar kota..."


"Lah, kapan ke sana? Kenapa nggak bilang-bilang? Gue padahal mau ke sana juga sama Bang Iyan sama kakek, rencananya mau barengan sama lo."


"Maaf ya, gue nggak kabarin lo. Soalnya gue berangkat ke sini jam 3 pagi, gue takut ganggu lo, gue juga buru-buru," ucap Dika dengan nada bicara yang pelan.


"Nada bicara Dika beda banget. Jangan-jangan ada sesuatu," batin Widia.


"Lo kenapa? Kok suaranya lesu gitu? Lo sakit?" tanya Widia.


"Nggak, gue nggak sakit. Gur cuma kecapekan aja. Lo tenang aja, gue nggak apa-apa."


"Ya udah, nanti siang gue sama kakek dan Bang Iyan akan ke sana jenguk Dimas."


"Tapi lo jangan ke rumah, langsung ke rumah sakit aja."


"Kak Dimas masuk rumah sakit?"


"Iya, tadi pagi dia sakit kepala dan papa langsung bawa dia ke rumah sakit. Sekarang dia lagi dioperasi. Doain ya, semoga operasinya lancar."


"Iya Dika, gue pasti doain. Lo harus yakin, Kak Dimas pasti sembuh, dia pasti sehat."


"Amin..."


"Gue tutup teleponnya ya. Lo juga jangan lupa makan. Lo pasti belum makan kan?"


"Iya, nanti gue akan makan. Lo juga jangan lupa makan."


"Iya, gue tutup aja."


"Iya."


......................


"Dari Widia?" tanya Pak Arthama.


"Iya pa, nanti siang dia sama kakek dan Bryan akan ke sini."


"Iya..."


"Hmm.. papa kan belum makan. Dika beliin makanan ya?"


"Nggak usah, biar papa aja yang beliin. Kamu diem di sini aja."


"Nanti kalau dokter ada perlu sama papa kan jadi susah. Biar Dika aja, papa mau makan apa?"


"Terserah kamu aja."


Ya udah, Dika tinggal dulu ya."


"Iya," balas Pak Arthama.


...----------------...


...BERSAMBUNG...


...----------------...


...°...


...°...


...°...


...Sambil menunggu cerita ini update, yuk mampir ke cerita author yang lainnya yang berjudul "Berbeda"...


...Jangan lupa dijadiin fav yaaa🤭......


...Jangan lupa like, komentar, vote, dan ratenya ya agar author jadi lebih semangat 🤗......


...Terima kasih 🙏💕......