
Hari ini Widia kembali berangkat sekolah naik angkot. Sebenarnya Bryan sangat ingin mengajaknya berangkat bersama, tetapi akhir-akhir ini dia sedang sibuk dengan urusan OSIS, jadi dia selalu berangkat lebih awal.
Baru turun dari angkot Widia melihat Adit sudah menunggunya di depan sekolah. Adit mengajak Widia berjalan sedikit menjauh dari sekolah, ke tempat yang lebih sepi.
"Tolong diterima ya Wid." Adit memberikan amplop yang di dalamnya berisi uang.
"Ini apa?."
"Ini buat bayar uang semester lo, gue nggak mau lo pindah dari sekolah ini."
"Makasi ya Dit, tapi maaf, gue nggak bisa terima uang ini."
"Gue mohon lo harus terima, gue nggak perduli alasannya apa, pokoknya gue nggak mau lo pindah dari sekolah ini."
"Ta-" Belum selesai berbicara, Adit memotong perkataan Widia.
"Gue nggak bisa jauh dari lo, karena gue suka sama lo!," ucap Adit dengan cepat sambil memejamkan matanya.
Widia hanya diam menatap Adit tanpa berkata apa-apa.
"Iya Wid, sebenarnya dari dulu gue udah suka sama lo..."
"Maaf Dit... gue udah punya pacar, Dimas..." ucap Widia dengan halus.
Adit menundukkan kepalanya sambil menghembuskan nafasnya panjang, terlihat ekspresi kecewa di wajahnya.
"Menurut gue, lo itu sahabat terbaik gue, gue nggak mau ngerusak persahabatan kita. Lo masih mau kan jadi sahabat gue?."
"Iya Wid, gue mau jadi sahabat lo. Gue ngerti kok, perasaan itu nggak bisa dipaksain. Tapi... boleh nggak gue peluk lo sekali aja?."
Widia hanya tersenyum pada Adit, menandakan ia berkata "iya". Aditpun memeluk Widia.
Tiba-tiba Dika datang dan memukuli Adit abis-abisan. Beberapa kali Adit membalas pukulan Dika sehingga terjadi pertengkaran, tetapi tetap saja Adit yang kalah.
"Dika STOP!." Widia menarik Dika yang masih memukuli Adit.
Namun Dika menepis tangan Widia, dan ia malah marah-marah pada Adit. "Apa maksud lo deketin Widia hah?!"
"Cih!... Emang lo siapanya Widia, berhak larang-larang gue?!"
Dika mengambil amplop yang berisi uang itu di tanah dan melemparnya ke Adit. "Nih uang lo!. Gue juga bisa kasi dia uang lebih banyak dari lo!."
Plakk...
Widia langsung menampar Dika.
"Maksud lo apa Dika?. Ternyata lo cuma nilai gue dengan uang... Gue kecewa sama lo Dika!." Widia langsung mengajak Adit pergi dari sana.
Dika mengejar Widia dan memegang tangannya. "Widia, Widia... Tunggu dulu, maksud gue bukan kayak gitu. Gue minta maaf Wid."
"Lepasin tangan gue!." Widia menepis tangan Dika dan langsung mengajak Adit pergi.
"Dikaa... lo barusan bilang apa sih?!... Argh..." gumam Dika sambil mengacak rambutnya.
Sementara itu Widia mengajak Adit ke UKS untuk mengobati lukanya.
*********
Sesampai di kelas Intan menanyai Adit karena wajahnya lebam-lebam. "Wajah kamu kenapa Dit?."
"Abis digebukin sama orang gila," jawab Adit.
"Orang gila siapa?."
"Itu, si Dika," jawab Widia.
"Hah, kok bisa sih?."
"Dia cuma salah paham sama gue dan Adit," ucap Widia.
"Gak heran lagi sih, Kak Dika emang sering bikin masalah."
"Bukan gitu Tan..."
"Loh, kok kamu malah bela dia sih Wid?."
"Hmm maksud gue bukan gitu Tan... Ah lupain aja deh, gue nggak mau bahas dia."
"Kok gue malah bela Dika sih... Tapi emang bener sih, selama ini dia cuma berantem sama anak-anak nakal. Tuh kan... lo mikirin dia lagi. Widia, Widia..." ucap Widia dalam hati.
"Widia... bagaimanapun gue mau lo tetep terima bantuan gue, gue nggak mau lo pindah dari sekolah ini. Sebagai sahabat, gue berhak kan nolong lo."
"Sebelumnya makasi banget ya Dit. Gue bukannya nggak mau nerima bantuan lo, tapi sebenarnya gue udah bayar uang semester, jadi gue akan tetep sekolah di sini."
"Ya udah kalo gitu, gue juga seneng dengernya," ucap Adit.
"Waah... kita tetep bisa bareng-bareng Wid." Intan kemudian memeluk Widia.
Widiapun membalas pelukan Intan. "Iya Tan, gue juga seneng banget Tan."
"Tapi kamu dapet uang dari mana Wid?."
"Sebenarnya yang bayarin uang semester gue itu, kakek."
"Kamu kok nggak pernah cerita soal kakek kamu sih Wid?."
"Iya, gue nggak pernah denger soal kakek lo," ucap Adit.
"Kakek gue itu kakeknya Bang Iyan juga."
"Maksud kamu, kamu sama Kak Bryan itu saudara gitu?."
"Iya Tan, Kak Bryan itu saudara gue."
"Tapi kok bisa sih Wid?" tanya Adit.
"Pokoknya ceritanya panjang, dulu gue sama abang gue pisah karena suatu kejadian..." Widiapun menceritakan kejadian yang sebenarnya pada Adit dan Intan.
"Ooh jadi gitu," ucap Intan.
"Ngomong-ngomong lo pacaran sama Dimas sejak kapan sih?" tanya Adit.
"Hah, kamu pacaran sama Kak Dimas? sejak kapan Wid?" tanya Intan yang kaget.
"Baru kemarin," jawab Widia.
"Ooh," ucap Adit.
"Kenapa orang yang gue suka malah suka sama sahabat gue sendiri sih..." ucap Intan dalam hati.
Gurupun datang dan pelajaranpun dimulai. Sepanjang jam pelajaran Intan terlihat murung dan tidak mau berbicara dengan Widia. Sampai jam istirahat pun Intan tidak mau makan di kantin bersama Widia, walaupun Widia memaksa Intan, dia lebih memilih tetap diam di kelas, dan akhirnya Widia makan di kantin sendiri.
Ketika sedang makan di kantin Bryan menghampiri Widia dengan ekspresi yang muram.
"Kenapa lesu gitu bang? belom makan?" tanya Widia.
"Bukan gitu, gue lagi galau nih," Bryan duduk sambil menelungkupkan wajahnya di atas lipatan tangannya.
"Ciah abang gue bisa galau juga. Emang siapa sih cewek yang bisa nolak abang gue yang ganteng ini?, biar Widia yang nyamperin bang."
"Eleh..."
Tiba-tiba Bunga lewat di samping meja Bryan dan Widia.
"Bunga..." sapa Bryan.
Namun Bunga tetap berjalan tanpa mempedulikan Bryan.
"Tuh, lo lihat sendiri kan," ucap Bryan.
"Ooh, jadi gara-gara kak Bunga..."
"Abang bingung, tiba-tiba beberapa hari ini Bunga jauhin abang tanpa sebab."
"Yaah terserah lah, sekarang abang lagi nggak pengen ngapa-ngapain."
"Kebiasaan lo bang, dari kecil kalo ngambek langsung nggak ada semangat, nggak pengen ngapa-ngapain. Abang, abang..."
"Terus gue harus gimana sekarang?."
"Ya kita kejar Kak Bunga, kita tanya ke dia."
"Pecuma, dia nggak akan mau dengerin penjelasan abang. Boro-boro dengerin, deket aja nggak mau sama abang."
"Biar Widia yang tanya bang, kalo Bang Iyan cuma perlu nguping aja dari jauh, gimana?. Mumpung gue lagi baik hati nih."
"Tapi..."
"Alah nggak pake tapi-tapian..." Widia langsung menarik tangan Bryan dan mengajaknya mencari Bunga.
Akhirnya Widia dan Bryan menemukan Bunga sedang membaca buku di perpustakaan. Widiapun menghampiri Bunga sementara Bryan diam di balik rak buku.
"Kak... aku boleh duduk nggak?" ucap Widia
"Iya, duduk aja."
Widiapun duduk disamping Bunga, sementara Bunga malah bangun dan ingin pergi.
"Kak Bunga jangan pergi, ada yang mau aku bicarain sama kakak."
Bungapun kembali duduk. "Kamu kok bisa tau nama aku?."
"Kak Bunga kan OSIS, cantik lagi, siapa coba yang nggak kenal sama kakak. Aku Widia kak."
"Emang kamu mau bicara soal apa?. Kamu pacarnya Bryan kan?."
"Hah?... Bukan kak, aku bukan pacarnya..."
"Gak mungkin kamu bukan pacarnya, waktu itu aku lihat kamu peluk Bryan, tadi juga kalian makan di kantin bareng-bareng kan," ucap Bunga dengan ekspresi kecewa.
"Yah bukan... Widia ini adeknya Bang Iyan, mana mungkin jadi pacarnya."
"Bener kamu adiknya Bryan?."
"Bener lah kak, cuma aku sama Bang Iyan udah lama pisah, jadi nggak ada yang tau kalau aku adiknya. Kalo Kak Bunga nggak percaya, bisa tanya aja langsung ke kakek."
"Hmm... iya, aku percaya kok," ucap Bunga dengan senyuman di wajahnya.
"Apa jangan-jangan... Kak Bunga cemburu yaa?..." ucap Widia sambil mengangkat alisnya dan tersenyum jahil.
Wajah Bungapun seketika memerah karena malu. "Nggak, siapa yang bilang."
"Bang Iyan juga suka loh sama kakak..." ucap Widia menggoda Bunga.
"Kamu ini..." ucap Bunga sambil tersenyum malu. Bunga yang tidak tahan langsung pergi sambil senyum-senyum sendiri.
"Kak Bunga..."
Namun Bunga tetap pergi tanpa menghiraukan Widia.
"Yah..." ucap Widia sambil tersenyum melihat Bunga pergi.
Widiapun menghampiri Bryan yang diam di balik rak buku.
"Yah ini lagi satu senyum-senyum sendiri," ucap Widia yang melihat Bryan senyum-senyum sendiri.
"Yee... biarin... tapi lo kenapa tadi bilang gue suka sama Bunga?!." ucap Bryan sambil menjewer telinga Widia.
"Duh, duh... bang... sakit... udah ditolongin juga, bukannya makasi malah dijewer.
"Iya, iya... makasi deh buat adek abang yang unyu, unyu, unyuu ini..." ucap Bryan sambil mencubit kedua pipi Widia.
"Sok imut lo bang... Lagian kan emang bener lo suka sama Kak Bunga. Kenapa sih tadi nggak langsung keluar aja, terus bilang, Bunga... gue suka sama lo... Kan kelar urusannya bang. Nggak laki banget lo bang..."
"Adeh, lo pikir segampang itu apa. Lagian tadi abang juga bingung harus ngapain."
"Widia nggak mau tau, pokoknya kalo abang udah jadian sama Kak Bunga, abang harus traktir Widia sepuasnya, Abang harus kasi Widia PJ (pajak jadian)."
"Siplah... Nanti jam pulang tunggu abang ya, kita pulang bareng-bareng."
"Nggak usah bang, Widia pulang sama Kak Dimas aja."
"Tumben sama Dimas."
"Ya dia kan pacar Widia bang..."
"Hah... sejak kapan?," tanya Bryan yang terlihat bingung.
"Sejak kemarin..."
Kring... kring...
Suara bel masuk kelas berbunyi.
"Widia masuk kelas dulu ya bang."
"I-iya..."
Widiapun meninggalkan Bryan ke kelas.
"Lah, kok bisa sama Dimas sih?. Bukannya Dika..." gumam Bryan yang kebingungan.
*********
Selama jam pelajaran sampai jam pulang Intan tetap tidak mau berbicara dengan Widia. Widia sebenarnya merasa bingung karena hal tersebut, namun ia lebih memilih berfikir positif, Widia berfikir mungkin saja Intan masih sedih karena masalah Restu kemarin.
Dimas menunggu Widia di depan kelasnya. Intan yang melihat hal tersebut langsung pergi tanpa berkata apa-apa pada Widia dan Dimas.
Widia dan Dimas kemudian pergi ke parkiran, merekapun berpapasan dengan Dika.
"Widia... Dimas..." ucap Dika.
"Dika..." ucap Dimas.
"Widia... Gue mau minta maaf soal yang kemarin... Ada yang mau gue bicarain sama lo." Dika menarik tangan Widia dan ingin mengajaknya pergi. Namun Widia menolaknya tanpa berkata apa-apa.
"Kalo mau bicara, bicara aja kali..." ucap Dimas.
"Ini urusan gue sama Widia Dim..."
"Urusan Widia, urusan gue juga Dik, jadi gue berhak ikut campur!."
"Emang lo siapanya Dim, mau ngelarang gue?."
"Gue ini pacarnya Widia!."
"Apa?..." ucap Dika tidak percaya.
Dimas dan Widia tidak memperdulikan Dika dan langsung pergi.
"Kenapa ya rasanya sakit banget..." ucap Widia dalam hati.
"Yang barusan gue denger... rasanya sakit banget... Ya Tuhan... kenapa?..." ucap Dika dalam hati.
°
°
°
Jangan lupa like komentar dan ratenya ya kakak 🤗...
Terima kasih 🙏💕...