
Libur semester telah usai, hari-hari pun kembali berjalan seperti biasa. Semua kembali melakukan kesibukannya masing-masing.
Di pagi hari Dika bersiap-siap untuk pergi ke sekolah, ia terlihat bersemangat karena ini adalah hari pertamanya kembali bersekolah setelah selama satu bulan menjalani libur semester.
♪Duu du du duu♪...
Dika memutar lagu kesukaannya dan bernyanyi sembari mempersiapkan diri untuk bersekolah.
"Akhirnya pake baju sekolah lagi, kalau dilihat-lihat ganteng juga hehe..." gumam Dika sembari memperhatikan dirinya yang sudah memakai seragam sekolah di cermin.
Dika pun kemudian menyisir rambut cokelatnyanya yang sedikit bergelombang agar terlihat lebih rapi. "Seet.. seet.. seet.. nah kalo kayak gini kan rapi, ganteng... Iya dong, harus ganteng, kan mau ketemu sama Onyet."
Dika menghela nafas. "Huu.. Nyet, Nyet..." ucap Dika sembari tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kurang pake sepatu aja, udah itu makan, tinggal berangkat deh." Dika pun kemudian langsung beranjak mengambil sepatunya.
"Ya ampun ada-ada aja!" ucap Dika sedikit kesal karena melihat sepatunya yang masih kotor. Kemarin ia sudah mempersiapkan semua perlengkapan sekolahnya yang akan digunakan untuk hari ini, tetapi ia melupakan satu hal, yaitu sepatunya.
"Pantesan aja kayak ada yang kurang," gumam Dika. Dika langsung mengambil semir sepatu, namun semir sepatunya pun juga habis. "Sialan!"
Dika kemudian merebahkan dirinya di sofa. "Ya ampunn.. ada-ada aja. Padahal kemarin rasanya udah siapin semuanya. Buku, seragam, motor juga udah dicuci... Ya! motor!"
Tak kehabisan akal, Dika kemudian pergi menuju garasi dan mengambil semir ban. "Wkwkwk... nggak ada semir sepatu, semir ban pun jadi."
Dika pun menyemir sepatunya menggunakan semir ban tersebut. "Akhirnya.. hehe.. bolehlah..."
"Dika? kamu ngapain?" ucap Pak Arthama yang hendak pergi ke kantor. Pak Arthama pun menghampiri Dika. Pak Arthama tertawa kecil karena melihat Dika yang menyemir sepatunya menggunakan semir ban.
"Nyemir sepatu lah pa," jawab Dika sambil tetap sibuk menyemir sepatunya.
"Ada-ada aja, nyemir sepatu kok pakai semir ban." Ucap Pak Arthama heran, ia kemudian duduk di samping Dika.
"Ya, mau gimana lagi, semir sepatu Dika habis."
Pak Arthama tertawa kecil karena melihat sepatu Dika yang begitu mengkilap. "Tapi kan sepatu kamu jadi mengkilap seperti itu, jadi kelihatan berminyak."
"Iya juga sih, mungkin karena pake semirnya kebanyakan. Kalo kayak gini debunya jadi nempel, malahan jadi tambah kotor." Dika yang merasa kesal kemudian menaruh semir ban tersebut dengan melemparnya.
"Ada aja yang kurang, padahal kemarin rasanya udah siapin semuanya. Daripada nggak pake sepatu, mau nggak mau harus pake sepatu yang ini. Nanti pulang sekolah harus langsung beli semir," gumam Dika sembari memakai sepatunya.
"Kamu nggak perlu beli semir, kamu beli sepatu yang baru aja. Lagi pula sepatu ini sudah lama, warnanya juga sudah mulai pudar," ucap Pak Arthama.
"Yee.. biarpun warnanya udah mulai pudar, tapi kan yang pake ganteng," ucap Dika sembari tertawa kecil.
Pak Arthama mendoyor kepala Dika. "Kamu ini..."
"Ah papa, rambut Dika udah rapi malah dirusak," ucap Dika sambil membenarkan rambutnya.
"Katanya gantengg..."
"Emang," balas Dika.
"Iya, iya.. tapi kalau pakai sepatu baru kan tambah keren."
"Nggak usah lah pa, sepatu yang ini masih bagus, masih bisa dipakai. Lagian nanggung, Dika udah kelas 3, bentar lagi mau tamat."
"Ya sudah, gimana kalau sekarang kamu pakai sepatu kakak kamu aja?"
"Emang Dimas nggak sekolah?"
Seketika raut wajah Pak Arthama berubah menjadi sedih. "Nggak, dia sakit."
"Sakit lagi? Sakit apa?" tanya Dika.
Pak Arthama menghela nafasnya. "Dimas tidak enak badan."
"Kenapa Dimas akhir-akhir ini jadi mudah sakit," batin Dika.
"Ya sudah, kamu jangan lupa sarapan. Papa mau berangkat ke kantor dulu," ucap Pak Arthama.
"Tumben papa berangkat ke kantor sepagi ini?" tanya Dika.
"Papa mau cepat-cepat selesaikan pekerjaan papa, supaya nanti papa bisa pulang lebih awal," jawab Pak Arthama.
"Kenapa pulang lebih awal? Papa emangnya ada urusan apa?"
Pak Arthama diam sejenak. "Papa mau mengantar Dimas ke rumah sakit..."
"Ke rumah sakit? Sebenarnya Dimas sakit apa? Kenapa nggak sekarang aja ke rumah sakit?" tanya Dika.
"Jadwal praktek dokternya jam 11 pagi..."
"Tapi kalau cuma nggak enak badan kenapa harus ke rumah sakit? Kenapa nggak ke klinik aja? Nggak ada yang papa tutup-tutupi kan? Dimas baik-baik aja kan?"
"Kamu lihat aja keadaan kakak kamu, Dimas di kamarnya... Papa ke kantor dulu."
"Iya pa, hati-hati."
"Iya..." Pak Arthama kemudian berdiri dan beranjak pergi.
Dika pun juga langsung beranjak pergi menuju kamar Dimas.
Pak Arthama memperhatikan Dika yang berjalan masuk ke dalam rumah. "Tidak mungkin papa bilang ke kamu kalau papa sebenarnya ke rumah sakit untuk menghantar kakak kamu menjalani pengobatan kankernya. Maafkan papa Dika, papa menutupi semua ini dari kamu, karena ini merupakan keinginan kakak kamu. Tapi suatu saat nanti papa pasti akan memberitahu kamu yang sebenarnya, karena biar bagaimanapun kalian berdua bersaudara, kamu berhak tau," batin Pak Arthama. Pak Arthama kemudian masuk ke dalam mobilnya dan langsung berangkat ke kantor.
...****************...
"Clek..."
Dengan hati-hati Dika membuka pintu kamar Dimas, ia berusaha sebisa mungkin untuk tidak menggangu Dimas. Terlihat Dimas yang tengah tertidur pulas di kasurnya. Dika pun menghampiri Dimas, ia duduk di samping Dimas sembari memperhatikan wajah Dimas yang terlihat begitu pucat.
"Dimas, Dimas, mas Dim, Dimass..." ucap Dika dengan pelan. Namun Dimas sama sekali tidak merespon Dika, ia tetap tertidur dengan pulas.
"Kalo kayak gini gue nggak tega buat bagunin Dimas, kasihan dia. Udahlah, gue pake sepatu ini aja," ucap Dika dalam hati. Dika lalu berdiri dan hendak beranjak pergi.
"Dika..." ucap Dimas yang baru terbangun dari tidurnya.
Dika pun menghentikan langkahnya dan berbalik menghampiri Dimas.
"Lo ngapain ke kamar gue?" tanya Dimas.
"Awalnya gue mau pinjem sepatu lo. Tapi gue nggak tega bangunin lo. Sorry ya gue ganggu, lo tidur aja."
"Santai aja, kalau lo mau pinjem sepatu ambil aja. Lo nggak perlu minta izin, lo kalau mau pake barang-barang gue pake aja. Sepatu gue ada di samping lemari."
Namun Dika tetap duduk di samping Dimas sembari memperhatikan Dimas.
"Kenapa masih diem? Terlambat baru tau rasa lo," ucap Dimas.
Sejenak Dika tetap menatap Dimas. "Lo baik-baik aja kan? Apa perlu gue temenin lo di rumah?"
Dimas kemudian duduk. "Nggak usah, ngapain lo nemenin gue, orang gue baik-baik aja."
"Wajah lo.. wajah lo pucat banget."
"Gue cuma nggak enak badan dan pusing aja." Dimas kemudian berdiri dan mengambilkan sepatunya untuk Dika.
Dimas menaruh sepatu tersebut di depan Dika. "Nih, cepetan pake."
Bukannya memakai sepatu tersebut, Dika malah menatap Dimas yang kembali duduk di sampingnya.
"Sekarang lo jadi kurus. Akhir-akhir ini gue perhatiin lo sering sakit, gue sering lihat lo sakit kepala. Gimana kalau sekarang kita ke dokter aja?"
"Nggak usah, orang gue cuma sakit kepala biasa doang."
"Biasa? Lo bilang sakit kepala biasa? Hampir setiap hari gue lihat lo sakit kepala, dan gue rasa itu bukan sakit kepala biasa."
"Udah gue bilang gue baik-baik aja!" ucap Dimas dengan nada tinggi. Seketika keadaan menjadi hening sejenak.
"Gue, gu-gue minta maaf, gue kebawa emosi," ucap Dimas.
"Nggak apa-apa... Gue khawatir sama lo, gue temenin lo aja di rumah."
"Nggak usah, gue baik-baik aja. Lo nggak usah khawatir, lagi pula di rumah ada bibi. Lo sekarang sekolah aja."
"Lo nggak apa-apa gue tinggal?"
"Nggak apa-apa."
Dika kemudian menghela nafas panjang. "Ya udah kalo gitu." Dika pun memakai sepatu Dimas.
"Lo harus sekolah, belajar yang rajin. Biar bisa nerusin bisnis papa. Gue berharap banyak sama lo," ucap Dimas.
Dika memperhatikan Dimas dengan tatapan curiga. "Lo kenapa sih? Kenapa tiba-tiba lo ngomong kayak gitu? Gue nggak akan nerusin bisnis papa?!"
"Kenapa?"
"Bukan gue, tapi kita. Pake bilang berharap banyak sama gue. Emang lo mau kemana?"
"Ciah, ge'er banget lo. Gue juga nggak rela kali kalo cuma lo sendiri yang menguasai bisnis papa. Gue bilang kayak gitu kan karena lo males belajar, ranking aja selalu terakhir. Kalo gue mah nggak usah diragukan lagi wkwkwk..."
Dika menatap malas pada Dimas. "Elehh, belagu amat..."
"Wkwkwk..." balas Dimas dengan tertawa.
"Dari pada ngurusin lo, mendingan sekarang gue berangkat sekolah."
"Jangan lupa sarapan..."
"Iyaa..." Dika pun pergi meninggalkan kamar Dimas.
"Gue berharap banyak sama lo Dika. Maafin gue, gue rasa gue nggak akan bisa lama bareng-bareng sama lo," batin Dimas.
................
...BERSAMBUNG...
................
Huaaa😭...
Akhirnya setelah sekian lama cerita ini update lagi 😭😭🤧...
...°...
...°...
...°...
Sambil menunggu cerita ini update, yuk mampir ke cerita author yang lainnya judulnya "Berbeda"
Jangan lupa like, komentar, vote, dan ratenya ya, agar author jadi lebih semangat 🤗...
1 like dan komentar singkat dari para pembaca sangat berharga bagi Author 😊...
Terima kasih 🙏💕...