
Siang itu Widia langsung menemui Dika di kostnya untuk menunjukkan foto dan rekaman suara yang ia dapat saat sedang di mall bersama Intan. Namun ketika Widia sampai di kostnya Dika, Dika tidak ada disana. Widia kemudian menelepon Dika, tapi tidak diangkat. Akhirnya Widia menelepon Restu.
Widia : "Halo kak."
Restu : "Ada apa Wid?."
Widia : "Kak Restu tau nggak Dika ada dimana?. Widia cari ke kostnya nggak ada, telepon Widia juga nggak diangkat."
Restu : "Biasanya kalo jam segini Dika lagi ngurus bebek."
Widia : "Dimana kak?."
Restu : "Kandang bebeknya di jalan anggrek, deket sawah."
Widia : "Oke, makasi ya kak."
Restu : "Iya, sama-sama."
Widia kemudian langsung mencari Dika kesana.
**********
Sesampai di kandang bebek, Widia melihat Dika sedang sibuk memberi makan bebek.
Gek gek gek... 🦆🦆🦆🦆🦆
Suara bebek yang jumlahnya cukup banyak, kurang lebih 100 ekor.
"Dika..." ucap Widia.
Dika yang melihat kedatangan Widia langsung menghentikan aktivitasnya memberi makan bebek. "Onyet?... Dari mana lo tau gue disini?."
"Kak Restu yang kasi tau... Lo kenapa nggak sekolah tadi?... Gaya banget lo, kasi makan bebek aja pake kacamata. Wkwkwkk..." Widiapun tertawa karena Dika memakai kacamata hitam sambil memberi makan bebek.
Dika menatap malas pada Widia. "Pake ketawa lagi... Gue lagi punya sharingan, makanya gue pake kacamata."
"Huft... wkwkwk... Sharingan apaan?. Ada-ada aja lo, emang lo klan uchiha apa?. Wkwkwk..."
"Yah, nggak percaya lo Nyet..." ucap Dika.
"Mana? coba gue lihat." Widia langsung melepaskan kacamata Dika.
"Benerkan, gue punya sharingan." Terlihat mata kiri Dika berwarna merah karena sakit mata.
"Ini mah bukan sharingan, ini lo lagi sakit mata merah namanya. Tapi lumayan parah, pates lo nggak sekolah tadi. Udah lo obatin?."
(Sekedar info : Sharingan adalah salah satu jurus di anime Naruto yang dimiliki oleh klan uchiha yang merubah mata menjadi warna merah °°° Kayaknya sih udah hampir semua tau😁)
"Udah kok, beberapa hari aja bakalan hilang."
"Kenapa nggak istirahat aja sih?."
"Kalo gue istirahat siapa yang ngurus bebek-bebek gue... Sini kacamata gue." Dika mengambil kacamatanya dari Widia dan kembali memakainya.
"Gantengkan gue?..." ucap Dika dengan senyuman pedenya.
"Idih, pede banget..."
"Tapi lo ngapain nyari gue kesini Nyet?" tanya Dika.
"Oh ya, sampe lupa gue. Gue kesini mau kasi ini ke lo. Ternyata bener yang lo bilang." Widia menunjukkan foto dan rekaman suara tersebut.
"Iya Nyet, ini laki-laki yang sama, gue juga pernah lihat dia sama Yuni. Keterlaluan si Yuni, dasar muka dua!" ucap Dika yang terlihat kesal.
"Dengan ini lo bisa buktiin ke papa lo kalo mama tiri lo itu bukan orang baik."
"Makasi ya Nyet. Setelah papa pulang dari luar negeri gue akan langsung temuin papa dan kasi tau soal ini."
"Iya sama-sama... Sekarang gue bantu lo urus bebek ya?." Widia mengambil makanan bebek dan langsung memberi bebek-bebek tersebut makan.
"Eh, nggak usah Nyet. Udah taruh aja, nanti gue ngerepotin lo lagi."
"Santai aja kali..." ucap Widia sambil terus memberi makan bebek.
"Ya udah, sekali lagi makasi ya."
"Yaelah, kayak sama siapa aja bilang makasi terus. Tapi bebek-bebek lo banyak juga ya."
"Lo lihatkan sawah yang luas disana." Jari Dika menunjuk ke lahan sawah yang cukup luas.
"Lihat, emang kenapa?."
"Waktu kecil gue sering main layang-layang disana. Dulu disini Pak Bayu yang pelihara bebek, gue sering bantu-bantu dia. Awalnya gue cuma iseng aja beli 1 bebek dia, buat peliharaan, gue titip disini. Lama-kelamaan nambah sedikit demi sedikit. Sekarang Pak Bayu udah pindah ke luar kota, dia punya restoran disana. Dan dia kasi gue nyewa tempatnya disini buat gue peliharaan bebek sampai sekarang. Gue pelihara bebek udah 4 tahun, makanya bisa sebanyak ini," jelas Dika.
"Iya lah, nggak mungkinkan, tinggal bimsalabim langsung banyak."
"Wkwkwk... Emang sulap apa, bimsalabim."
"Yah, ketawa lagi, ketawa terus lo Nyet. Tapi bagus deh, kalo lo ketawa."
"Setiap gue sama Dika, gue selalu ngerasa happy. Bahkan gue bisa ketawa cuma karena hal kecil dari dia," batin Widia.
Widiapun lanjut membantu Dika memberi makan bebek, mengangon bebek kesungai, sampai menghantarkan bebek ke pelanggan.
*** sore hari, sepulang dari menghantar bebek ke pelanggan.
"Makan yuk Nyet, lo kan dari tadi belum makan."
"Nggak usah Dika, gue lagi nggak pengen makan diluar."
"Gimana kalo kita masak aja?."
"Wah, boleh tuh."
Widia dan Dikapun membeli bahan-bahan untuk memasak di warung.
"Kita mau masak apa Dik?" tanya Widia.
"Nggak tau juga Nyet. Gue nggak pernah masak, paling gue cuma masak mie instan atau beli makanan diluar."
"Yah, gue kira lo bisa masak, tadi ngajakin masak."
"Gimana kalo nasi goreng aja biar gampang?. Lo tau bahan-bahannya kan?."
"Iya gue tau, nasi goreng aja kalo gitu."
Merekapun membeli bahan-bahan untuk nasi goreng. Karena tidak ada kembalian mereka membeli sebuah roti. Di perjalanan pulang mereka melihat seekor anak anjing berwarna putih yang sangat kurus.
"Ya ampun, kasihan banget kamu. Ini aku punya roti, kebetulan banget tadi aku beli roti." Widia mengusap kepala anjing itu dan memberikan roti yang tadi dibelinya karena tidak ada uang kembalian.
"Kamu makan yang banyak ya." Dika mengusap kepala anak anjing itu.
Widia dan Dika kemudian pergi meninggalkan anak anjing itu. Ketika ingin naik ke motor, Widia dan Dika kembali mendengar suara anak anjing tersebut.
Guk guk guk...
Benar saja, anak anjing itu mengikuti Widia dan Dika.
"Ya ampun, kamu ngikutin kita. Kamu lucu banget sih..." Widia menggendong anak anjing tersebut.
"Kalo lo suka, kenapa nggak lo pelihara aja?" tanya Dika.
"Gue juga pengen pelihara Dik, tapi di rumah udah ada banyak anjing. Lo tau kan Bang Iyan dari kecil suka pelihara binatang, anjing aja ada 9, belum lagi kucing, ikan, sama burung. Udah kayak kebun binatang rumah gue, masak nambah satu lagi."
"Wkwkwk... Iya juga ya. Gimana kalo gue aja yang pelihara. Lo kan juga jadi bisa sering main sama dia."
"Bener lo mau pelihara?."
"Bener lah, gue juga suka pelihara anjing. Udah lama gue nggak pelihata anjing, anjing gue udah mati 2 tahun yang lalu. Ngomong-ngomong lo punya nama nggak buat dia?."
"Hmm... Apa ya enaknya?... Gimana kalo Moza?."
"Moza..." ucap Dika termenung.
"Kenapa? jelek ya?."
"Nggak kok, namanya bagus. Mulai sekarang kita panggil dia Moza."
"Moza, Moza, Moza..." ucap Widia sambil mengusap kepala anak anjing itu.
"Ternyata Widia masih inget sama nama anak anjing gue dulu... Seandainya lo tau kalo gue sebenernya Choco. Sekarang lo udah jadi pacarnya Dimas, gue nggak mau lo suka sama gue cuma karena gue Choco," batin Dika.
BERSAMBUNG•••••••
°
°
°
Jangan lupa like, komentar, dan ratenya ya, agar author lebih semangat 🤗...
Terima kasih 🙏💕...