Choco

Choco
Emosi



Pak Arthama pun segera menuju tempat Administrasi dam setelah itu Pak Arthama langsung ke ruang ICU.


"Om tadi ke mana?" tanya Bryan.


"Om masih di rumah sakit."


"Memangnya om di mana? Kenapa lama banget?"


"Om di ruang tunggu operasi..." Air mata Pak Arthama pun keluar, ia tak kuasa menahan tangisannya.


Bryan, Widia, Intan, Restu, dan Willy yang melihat hal tersebut pun merasa sangat kaget dan bingung karena Pak Arthama tiba-tiba menangis. Mereka pun menghampiri Pak Arthama.


"Ada apa om?" tanya Bryan.


"Kenapa om nangis?" tanya Widia.


Pak Arthama pun segera menghapus air matanya. "Dika kecelakaan dan sekarang dia di operasi..." ucap Pak Arthama.


"Apa?!" ucap Bryan kaget.


Semua yang mendengar kabar tersebut merasa sangat syok, terutama Widia. Seketika dadanya terasa sesak dan air mata pun langsung mengalir di pipinya.


"Dika..." ucap Widia.


Widia langsung berlari menuju ruang operasi begitu juga dengan Bryan, Restu, Willy, dan Intan yang juga ikut menyusul Widia. Sesampainya di sana, mereka hanya bisa berada di ruang tunggu.


Bryan pun memeluk Widia yang sedang menangis. "Sudah, sudah, jangan nangis. Dika pasti baik-baik saja."


"Tapi Widia takut..."


"Kamu jangan khawatir, Dika pasti kuat," ucap Bryan sembari mengusap kepala Widia. Bryan pun merasa sedih karena ia tidak tega melihat adiknya menagis seperti ini.


"Kak Dika pasti baik-baik aja Wid..." ucap Intan.


"Lo kenapa lagi sih Dika?..." batin Bryan.


"Lo harus baik-baik aja. Lo jangan buat gue khawatir Dika," batin Restu.


Tak berselang lama Amel pun datang. Semua menatap Amel dengan kaget, mereka merasa kaget melihat kedatangan Amel karena setelah sekian lama akhirnya mereka kembali melihat Amel.


Widia menatap Amel dengan penuh kemarahan, ia berpikir semua terjadi pasti akibat dari Amel. Widia pun berjalan menghampiri Amel. "Ini semua gara-gara lo kan?..."


Amel tidak berkata sepatah kata pun, ia hanya bisa menangis.


"Jawab!" bentak Widia.


Bryan pun menghampiri Widia dan Amel. "Udah Widia, ini di rumah sakit. Jangan teriak-teriak..."


Bryan menarik tangan Widia dan mengajak Widia kembali duduk, namun Widia tidak mau.


"Kenapa lo selalu jahat sama kita?! Hah?! Lo nggak kasihan apa sama kita?!" ucap Widia sembari mendorong Amel. Widia kembali hendak mendorong Amel tetapi beruntung Bryan langsung mencegah Widia.


"Maaf..." ucap Amel sembari menangis.


"Widia, jangan seperti ini. Kamu harus bisa berpikir dengan jernih... Tenangkan diri kamu..." ucap Bryan.


"Gue rasa ini bukan perbuatan Amel. Dia juga kelihatan sedih karena kejadian ini," batin Bryan.


Bryan berusaha mengajak Widia pergi namun Widia terus saja memberontak dan marah-marah. Widia yang tidak bisa mengendalikan dirinya pun tanpa segan-segan mendorong Bryan dengan kuat sampai Bryan hampir terjatuh.


Widia kemudian kembali hendak menghampiri Amel. Mata Widia penuh dengan amarah. Emosinya saat ini benar-benar meluap dan tidak bisa dikendalikan. Beruntung Intan dengan sigap menghentikan Widia.



"Tenang Widia, tenang..." ucap Intan.


Restu, Willy, dan para perawat pun ikut mengamankan kejadian tersebut. Widia pun kembali duduk sementara Amel diajak keluar oleh seorang perawat.


"Kalau benar Amel dalang dan semua ini, gue nggak akan pernah maafin dia," ucap Restu.


Seketika Bryan, Willy, dan Intan langsung menatap Restu.


"Mendingan lo diem," ucap Willy.


"Kak Restu jangan ngompor-ngomporin," bisik Intan.


"Sorry.. aku nggak bermaksud. Aku cuma emosi aja..." bisik Restu.


"Udah.. jangan nangis..." ucap Bryan sembari memeluk Widia.


"Ini pasti gara-gara Amel. Dia pasti mau balas dendam karena ibunya masuk penjara..." ucap Widia yang masih menangis.


"Widia.. kamu nggak bisa menuduh orang begitu saja... Iya, Amel dulu memang pernah membuat kesalahan, tapi bukan berarti ini semua karena Amel. Tenangkan diri kamu. Kamu harus berpikir dengan jernih," ucap Bryan.


"Dari ekspresi Amel, kelihatannya bukan dia penyebab dari semua ini. Dia juga kelihatan sedih," ucap Willy.


"Biar kamu tenang, bagaimana kalau kita bicara baik-baik sama Amel? Kita tanya sama Amel secara langsung." ucap Bryan.


"Iya, kita tanya Amel sekarang."


"Tapi kamu harus janji, kamu tidak akan emosi lagi. Kamu harus bisa mengendalikan diri kamu," ucap Bryan.


"Iya," balas Widia.


Bryan kemudian mencari Amel dan mengajaknya untuk menemui Widia dan yang lainnya. Amel pun menceritakan kejadian yang sebenarnya pada Widia dan yang lainnya. Setelah mengetahui fakta yang sebenarnya Widia pun merasa sangat bersalah pada Amel.


"Maafin Amel, ini semua memang gara-gara Amel. Tapi Amel juga nggak mau semua ini terjadi. Maafin Amel..." ucap Amel.


"Nggak Mel, lo nggak perlu minta maaf. Ini semua kecelakaan, lo nggak usah nyalahin diri lo sendiri. Seharusnya gue yang minta maaf. Gue emosi, gue nggak bisa berpikir dengan jernih, gue udah sembarangan nuduh lo..." ucap Widia.


"Nggak apa-apa Wid, gue bisa ngerti... Gue juga mau minta maaf sama kalian semua atas perbuatan gue selama ini, maafin gue..." ucap Amel.


"Udah, lupain aja. Semuanya udah berlalu," ucap Bryan.


"Sebagai teman sudah seharusnya kita saling memaafkan," ucap Intan.


"Yang terpenting lo mau mengakui kesalahan lo dan berubah jadi lebih baik. Itu aja udah cukup bagi kita," ucap Restu.


"Iya Mel," ucap Willy.


"Makasi ya semuanya..." ucap Amel.


"Iya..."


...****************...


Setelah selesai operasi Dika kemudian langsung dipindahkan ke ruang ICU karena keadaannya yang kritis.


Hari demi hari pun berlalu, banyak kerabat ataupun teman-teman dari Dimas dan Dika yang datang bergantian menjenguk ke rumah sakit. Sudah hampir 1 minggu namun Dimas dan Dika masih berada di ruang ICU, keadaan mereka berdua sama-sama kritis.


Saat ini Pak Arthama yang menemani Dimas sementara Widia yang menemani Dika. Bryan, Willy, Restu, Intan, dan Amel pun juga berada di ruang tunggu.


"Kalian memang saudara kembar yang benar-benar kompak. Sampai-sampai kalian koma secara bersamaan. Kapan kalian sadar? Apa kalian tidak kasihan sama papa?..." batin Pak Arthama.


"Dua hal yang nggak bisa gue kontrol adalah senyuman gue setiap gue bersama lo dan tangisan gue saat gue rindu sama lo... Kapan lo siuman Dika?..." Widia pun menyeka air matanya yang terus-menerus keluar.


"Lo harus sehat Dika, cepetan sadar Dika... Setiap hari lo bikin gue khawatir. Lo udah bikin gue sedih. Awas aja kalau lo sadar nanti, gue akan marahin lo habis-habisan. Gue kangen bercanda sama lo..." batin Restu


"Kapan lo siuman Dim? Gue sedih lihat lo kayak gini... Sampai saat ini Dimas sama Dika masih kritis. Tapi Dika.. dia mengalami ini untuk yang kedua kalinya. Apa mungkin dia bisa selamat untuk yang kedua kalinya?" batin Willy.


...°...


...°...


...----------------...


...BERSAMBUNG...


...----------------...


...°...


...°...


...°...


...Sambil menunggu cerita ini update, yuk mampir ke cerita author yang lainnya yang berjudul "Berbeda"...


...Jangan lupa dijadiin fav yaaa🤭......


...Jangan lupa like, komentar, vote, dan ratenya ya agar author jadi lebih semangat 🤗......


...Terima kasih 🙏💕......