
Akhirnya mereka sampai di rumah Bryan. Mereka langsung masuk dan memui kakek yang sedang berada di halaman belakang. Kakek Dharma duduk sambil mengusap seekor anjing biasa berwarna hitam. Dulu anjing itu masih sangat kecil saat ditemukan oleh Candra dan Bryan di taman. Anjing itu diberi nama Mou, yang merupakan anjing kesayangan Candra.
"Candra... dimana kamu nak?... Maafin kakek..." ucap kakek Dharma dalam hati.
"Kakek..." ucap Widia yang baru datang.
"Eh, ada temennya Bryan."
Widia mendekati kakek Dharma dan duduk di samping kakek Dharma. "Kakek nggak apa-apa kan?. Bang Iyan bilang kakek lagi sakit."
Kakek Dharma hanya menatap Widia yang terlihat kepanikan. "Dia temennya Bryan waktu itu... Kenapa aku merasa seperti sangat dekat dengannya?. Dia sangat mirip dengan cucuku, Candra..." ucap kakek Dharma dalam hati.
"Dia Candra kek..." ucap Bryan.
Kakek Dharma hanya bengong menatap Widia.
"Maafin Candra kek, Candra kesini cuma mau jenguk kakek. Setelah ini Candra akan pergi kek, Candra janji nggak akan nyusahin kakek lagi..." ucap Candra sambil menundukkan kepalanya.
"Candra... kakek sayang kamu nak..." Kakek Dharma langsung memeluk Widia sambil mengangis.
Widia juga memeluk kakeknya sambil mengangis. "Candra juga sayang kakek..."
"Ternyata dia memang benar cucuku, dari awal aku sudah merasa sangat dekat dengannya..." ucap kakek Dharma dalam hati.
Kakek Dharma menatap Widia sambil memegang kedua pudak Widia. "Kamu selama ini kemana aja?. Kakek udah cari kamu kemana-mana. Kakek mohon kamu jangan pergi lagi.... Sekarang coba kamu ceritain apa yang sebenarnya terjadi."
Widiapun menceritakan semua yang terjadi pada dirinya 11 yang lalu.
»»»»» Kilas Balik «««««
Suatu hari kakek Dharma mengajak Bryan yang masih berusia 7 tahun dan Candra yang masih berusia 5 tahun memancing ke sungai. Awalnya Kakek Dharma tidak mau mengajak Candra, namun Bryan memaksa kakeknya agar mengajak Candra.
Karena Bryan dan Candra merasa bosan hanya duduk lama menunggu kakeknya memancing, mereka kemudian memutuskan berjalan-jalan di pinggir sungai bersama Bi Sri, pengasuh mereka.
"Dek, lihat deh, bunga itu bagus banget." Bryan menunjuk ke arah tumbuhan bunga mirip bunga matahari berukuran kecil, yang ada di pinggir sungai.
"Waah, iya bang, bagus banget."
"Bryan sama Candra ikut bibik yuk," ucap Bi Sri.
"Kemana bik?" tanya Bryan.
"Kita kembali ke kakek. Bibik juga mau cari toilet, bibik takut ninggalin kalian disini."
"Bibi ke toilet aja, kita berani kok berdua disini. Ya kan dek?."
"Iya bik, kita nggak akan kemana-mana kok," ucap Candra.
"Ya udah kalo gitu, kalian diam disini sebentar ya." Bi Sri kemudian pergi meninggalkan mereka.
"Bang Iyan mau kemana?" tanya Candra melihat Bryan berjalan mendekati sungai.
"Abang mau metik bunga itu."
"Hati-hati ya bang."
"Iya..."
Bryan kemudian mendekati sungai dan memetik beberapa bunga. Namun ketika ingin kembali, Bryan malah terpeleset dan jatuh ke sungai.
"Bang Iyan..." teriak Candra melihat Bryan hayut di sungai. Candrapun berlari mengejar Bryan dari darat.
Beruntung Bryan berhasil berpegangan di sebuah batu besar di tengah sungai.
"Candra... abang takut..." teriak Bryan sambil menangis.
"Abang tenang dulu, Candra akan selametin abang..." Candra kemudian mengambil sebuah kayu dan menjulurkan kayu tersebut pada Bryan. Bryan mencoba meraih kayu tersebut, namun ia tidak bisa menggapainya. Candrapun semakin mendekat, tetapi ia malah ikut jatuh ke sungai dan hanyut.
"Candra..." teriak Bryan yang masih berpegangan pada sebuah batu.
"Bryan..." ucap Bi Sri yang baru datang. Bi Sri langsung menuju ke tengah sungai dan menyelamatkan Bryan.
Setelah sampai di pinggir sungai Bi Asih bertanya pada Bryan. "Kamu nenapa bisa ada di sana nak?. Candra dimana?."
"Candra hanyut bi..." ucap Bryan yang masih menangis.
Bi Sri langsung menggendong Bryan dan mengajaknya mencari Candra.
"Candra... Candra... Candra..." teriak Bi Sri.
Sudah sangat jauh Bi Sri mencari Candra, namun ia masih tidak bisa menemukannya. Akhirnya Bi Asih memberitau kakek Dharma. Merekapun menelepon tim penyelamat dan polisi untuk mencari Candra. Pencarian sudah dilakukan selama satu bulan namun Candra masih tidak bisa ditemukan.
Sebenarnya waktu itu Candra berhasil selamat karena berpegangan pada sebuah ranting. Ia kemudian tidak ingin kembali, karena ia takut dimarahi oleh kakeknya. Tidak seperti Bryan yang selalu disayang dan dimanja oleh kakeknya, dari dulu Candra selalu dibenci oleh kakeknya. Selain itu ia tidak perlu khawatir dengan kakaknya, karena ia mendengar teriakan Bi Sri ketika ia hanyut, tentu saja Bryan pasti sudah diselamatkan oleh Bi Sri.
Akhirnya Candra memutuskan untuk pergi. Ia sampai di jalan raya dan diam-diam ia naik ke sebuah mobil bak terbuka yang berisi buah-buahan. Mobil itu menuju kota X yang lumayan jauh dari kota Y. Orang yang menaiki mobil itu adalah Pak Wahyu dan Bu Asih. Setelah sampai di tempat tujuan, mereka terkejut melihat seorang anak kecil sedang tidur di belakang mobil mereka. Mereka kemudian membangunkan Candra dan membawanya masuk ke rumah.
"Kamu kenapa bisa ada di mobil paman?" tanya pak Wahyu.
"Kamu dari mana nak?" tanya Bu Asih.
"Kamu jangan takut sama kami... Paman sama Bibi ini orang baik nak," ucap Pak Wahyu.
"Orang tua kamu dimana nak?" tanya Bu Asih.
Candra hanya menggelengkan kepalanya.
"Mungkin dia udah nggak punya orang tua pak, kasihan dia," ucap Bu Asih.
"Iya buk, bapak juga kasihan sama dia. Gimana kalo kita aja yang rawat anak ini bu?."
"Iya pak."
Akhirnya Pak Wahyu dan Bu Asih mengangkat Candra sebagai anak dan memberinya nama Widia Wahyuni. Betapa bahagianya mereka memiliki Candra, karena selama 9 tahun menikah mereka belum mempunyai anak. Pak Wahyu dan Bu Asih sangat menyayangi Candra seperti anak kandungnya sendiri.
Sementara Kakek Dharma selalu bersedih karena kehilangan Candra. Ia menyesali semua perbuatannya yang selalu memarahi dan membenci Candra.
Bryan menceritakan semua pada kakeknya, ternyata anak yang selama ini ia benci adalah orang yang selalu membuatkan dan menaruh segelas kopi di meja samping kasurnya yang selalu ia minum setelah bangun tidur, orang yang selalu memijitnya ketika tidur, orang yang selalu memberinya gelang lucu sebagai hadiah ulang tahunnya, orang yang sangat menyayanginya. Selama ini kakek Dharma memang tidak mengetahui hal tersebut karena Candra tidak membiarkan Bryan memberitau kakeknya dan Candra selalu menyuruh Bryan yang mengaku melakukan semua itu, karena Candra takut dimarahi oleh kakeknya. Jangankan membantu kakek Dharma, mendekati kakek Dharma saja sudah membuat kakek Dharma marah-marah pada Candra.
Setelah beberapa lama Candra akhirnya mengaku pada Pak Wahyu dan Bu Asih, bahwa ia masih memiliki kakek dan kakak di kota X. Karena Candra sangat merindukan keluarganya akhirnya Pak Wahyu dan Bu Asih mengajak Candra ke kota X untuk sekedar melihat keadaan keluarganya, karena Candra memang tidak ingin kembali ke keluarganya sebab ia tidak ingin menyusahkan kakeknya, seperti yang selalu kakek Dharma bilang padanya, dan ia hanya ingin mengetahui keadaan mereka. Namun mereka tidak menemukan keluarga Candra, di rumah Candra yang lama sudah rata dengan tanah. Selama beberapa hari mereka mencari kakek Dharma dan Bryan, tetapi tetap saja mereka tidak menemukannya. Akhirnya merekapun kembali ke kota Y.
Setelah Candra lulus SMP ia memutuskan untuk pindah ke kota X dan bersekolah disana, yaitu di SMA Nusantara. Karena ia ingat waktu kecil setiap ia dan Bryan lewat di depan sekolah itu, Bryan selalu bilang ia ingin bersekolah di sana.
»»»»»»»»»»««««««««««
"Kamu kenapa nggak kembali aja?. Kamu nggak tau betapa sedihnya kakek kehilangan kamu nak..." ucap Kakek Dharma.
"Candra cuma nggak mau nyusahin kakek, Candra sayang sama kakek..."
"Kamu jangan bilang kayak gitu, kamu nggak nyusahin kakek. Kakek minta maaf sama kamu, Bryan udah cerita semuanya sama kakek. Maafin kakek nak..."
"Kakek nggak perlu minta maaf, kakek nggak salah."
"Kakek mau jujur sama kalian berdua, Bryan, Candra." Kakek Dharma menatap Bryan dan Candra secara bergantian.
"Ada apa kek?" tanya Byan.
"Jujur tentang apa kek?" tanya Widia.
"Candra... sebenarnya mama kamu bukan Santi nak," ucap kakek Dharma pada Widia.
"Maksud kakek apa?" ucap Widia yang kebingungan.
"Iya kek, maksud kakek apa?" tanya Bryan.
"Sebenarnya mama kamu Cintya nak..."
"Terus mama Candra dimana sekarang?. Papa Candra siapa kek?. Candra nggak ngerti."
"Papa kamu memang Papa Bayu nak. Dulu Papa kamu dan Santi menikah karena perjodohan, kakek memaksa mereka menikah demi bisnis keluarga kita. Sebenarnya Papa kalian tidak pernah mencintai Santi, dia hanya mencintai Cintya, mama kamu Candra. Setelah 4 tahun menikah dan memiliki Bryan yang waktu itu masih 2 tahun. Papa kalian pulang membawa Candra yang baru lahir. Ternyata papa kalian diam-diam menikah dengan Cintya. Itu membuat Santi sakit hati dan membawa Bryan pergi menaiki mobil, papa kalian kemudian mengejar Santi. Tapi mereka malah mengalami kecelakaan, dan hanya Bryan yang selamat saat itu."
"Sekarang mama Candra ada dimana kek?..."
"Mama kamu udah meninggal waktu melahirkan kamu nak. Kakek minta maaf, tidak seharusnya kakek memaksakan keinginan kakek hanya demi bisnis, kakek juga seharusnya nggak benci kamu karena hal seperti itu. Kakek minta maaf nak..."
"Kakek nggak perlu minta maaf, Candra udah maafin kakek. Kakek tau kan dimana makam mamanya Candra, Candra mau kesana kek."
"Iya nak, kakek tau..."
Merekapun mengunjungi makam Cintya atau mamanya Candra.
"Mama... ini Candra ma, Candra udah gede. Maafin Candra ya ma, Candra baru sekarang kesini," ucap Widia sambil mengusap batu nisan mamanya. Candra memeluk makam mamanya sambil menangis.
Bryan memeluk Widia untuk menenangkannya. Mereka kemudian mendoakan Cintya.
"Sekarang kamu tinggal sama kakek ya nak..." ucap kakek Dharma pada Widia.
"Tapi Candra nggak mau pisah sama orang tua Candra kek, Candra sayang banget sama mereka."
"Kamu nggak perlu pisah sama mereka, kakek akan ajak mereka tinggal sama kita, kita akan tinggal bareng-bareng nak. Kamu mau kan tinggal sama kakek nak?."
"Iya Candra, abang mohon..." ucap Bryan.
"Iya kek, Candra mau. Candra sayang banget sama kakek..." Widia kemudian memeluk kakeknya.
"Makasi nak..."
Merekapun mencari Pak Wahyu dan Bu Asih untuk diajak tinggal bersama. Awalnya Pak Wahyu dan Bu Asih menolak, namun Widia memaksa ibu dan bapaknya, tentu saja mereka tidak bisa menolak keinginan anak yang begitu mereka sayangi, dan akhirnya merekapun setuju. Widia juga meminta kakek dan kakaknya untuk memanggilnya dengan nama Widia, karena ia sudah nyaman dengan panggilan tersebut.
°
°
°
Jangan lupa like, komentar, dan ratenya ya kakak 🤗...
Terima kasih 🙏💕...