Choco

Choco
Lelah



Sesampainya di rumah, Dika langsung mandi. Karena Dika tidak membawa pakaian pengganti, ia pun pergi ke kamar Dimas untuk meminjam salah satu pakaian Dimas.


Ketika Dika sedang mengambil baju, tidak sengaja ia menemukan sebuah amplop yang terselip diantara baju milik Dimas. Di amplop tersebut berisi tulisan tangan Dimas yang bertuliskan Dika. Dika kemudian membuka amplop tersebut. Di dalam amplop tersebut berisi surat yang ditulis sendiri oleh Dimas. Dika pun membaca isi surat tersebut.


"Gue nggak tau sampai kapan gue bisa bertahan, tapi yang jelas gue rasa waktu gue udah nggak lama lagi. Mungkin saat lo nemuin surat ini, gue udah pergi jauh. Saat gue..."


Dika langsung memasukkan surat tersebut ke dalam amplop dan ia kembali menaruhnya di tempat semula. Sebenarnya Dika belum selesai membaca isi surat tersebut, tapi tampaknya ia tidak ingin melanjutkan membaca surat itu lagi.


Dika kemudian menatap dirinya di cermin dengan tatapan kosong dan tanpa ekspresi, entah apa yang ia pikirkan saat ini. Dika lalu mematikan lampu dan ia langsung tidur di kamar Dimas.


"Gue udah capek, gue mau tidur..." batin Dika.


Keesokan harinya Dika bangun sekitar pukul 9 pagi. Ia langsung membersihkan kamar Dimas dan ia kemudian langsung mandi. Setelah itu ia duduk di teras belakang rumah. Dirinya hanya duduk di kursi sembari melamun. Tatapannya kosong dan tidak ada ekspresi apapun yang terlihat di wajahnya.


"Gue nggak akan nangis lagi..." batin Dika.


Tak terasa sudah 3 jam Dika duduk di sana, waktu pun kini sudah berganti menjadi pukul 13.00. Dika sedikit pun tidak beranjak dari tempat duduknya, bahkan ia tidak menghiraukan panas dari sinar matahari yang mengenai kulitnya.


Satpam di rumah tersebut (Pak Edi) mengahampiri Dika. "Saya lihat Den Dika sudah lama diam di sini. Tidak baik jika berjemur siang-siang seperti ini. Lebih baik diam di dalam saja Den."


"Sebentar lagi saya masuk."


"Ngomong-ngomong bagaimana keadaan Den Dimas?"


"Dia masih di ruang ICU," ucap Dika dengan ekspresi datar.


"Kasihan Den Dimas, semoga Den Dimas bisa cepat sehat..."


"Amin..."


"Den Dika seharian belum makan, lebih baik Den Dika makan dulu."


"Saya tidak lapar."


"Kasihan Den Dika. Lebih baik biarkan dia sendirian dulu," pikir Pak Edi.


"Kalau begitu saya permisi dulu. Kalau ada perlu apapun Den Dika bisa panggil saya." Pak Edi pun pergi meninggalkan Dika.


Tak berselang lama pembantu di rumah tersebut juga menemui Dika.


"Den Dika mau bibi buatkan makanan apa? Dari pagi Den Dika belum makan."


"Saya nggak pengen makan bik," ucap Dika.


"Tap-..."


"Nanti saya akan makan. Bibi bisa tinggalin saya sendirian."


"Baik, saya permisi dulu."


...****************...


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 17.00. Sampai saat ini Dika masih duduk di teras belakang rumah. Beberapa kali Pak Arthama menelepon Dika namun Dika sama sekali tidak mengangkat panggilan telepon tersebut. Dika pun kini mematikan handphonenya karena Pak Arthama terus menerus meneleponnya.


"Dika..." Terdengar seseorang memanggil Dika. Dika pun memalingkan wajahnya dan ia melihat Restu dan Willy sudah berada di sampingnya. Restu dan Willy pun duduk di samping Dika.


"Sejak kapan kalian di sini?" tanya Dika.


"Baru aja, kita baru datang dari rumah sakit," ucap Willy.


"Kalian mau gue buatin minum apa?" tanya Dika.


"Nggak usah, gue yakin lo sendiri belum minum apapun," ucap Restu.


Dika hanya diam tanpa merespon ucapan Restu.


"Kenapa lo nggak ke rumah sakit?" tanya Willy.


Lagi-lagi Dika hanya diam tanpa berkata sepatah kata pun.


"Dimana Dika yang gue kenal? Dia nggak selemah ini," ucap Restu.


"Gue mau sendirian dulu." Dika kemudian bangun dan beranjak pergi. Restu pun mengikuti Dika yang pergi menuju kamarnya. Dika dan Restu pun duduk di atas sofa.


"Tinggalin gue sendirian," ucap Dika datar.


"Siapa lo sebenarnya?..."


Dika pun menundukkan kepalanya. "Gue nggak tau..."


"Dika, papa lo udah cerita semuanya sama gue. Lo harus bisa nerima semua ini."


"Salah satu hal yang nggak pernah gue pelajari diantaranya adalah mengucapkan selamat tinggal. Gue nggak bisa..."


"Tapi lo harus bisa. Kasihan Dimas, lo harus ikhlasin dia."


Brakkk...


Dika menghempaskan vas bunga yang berada di atas meja. Nafas Dika memburu naik turun tak beraturan. Mata Dika terlihat berkaca-kaca, wajahnya pun sampai memerah karena ia berusaha menahan tangisannya.


"Nggak seharusnya lo menutupi semua ini, nggak seharusnya lo menahan perasaan lo. Kadang-kadang lo perlu teriak, mengumpat, atau benar-benar menangis. Tapi lo harus selalu, selalu, selalu, perlu kembali dan bangkit. Jangan pendam kesedihan yang ada di dalam diri lo. Biarkan dia keluar... Lepasin semuanya. Lo akan merasa lebih baik..." Restu kemudian beranjak pergi meninggalkan Dika.


Clekk...


Restu menutup pintu kamar.


"Arrghhh... Haa aa.. a aa..." Terdengar suara tangisan Dika dari dalam kamar.


Karena mendengar teriakkan Dika yang begitu kencang, Willy pun datang dan hendak masuk ke dalam kamar, namun Restu menghentikannya.


"Biarin dia sendirian dulu," ucap Restu dan dibalas anggukan oleh Willy.


Restu dan Willy kemudian pergi meninggalkan rumah tersebut. Sementara itu Dika di dalam kamar sedang menangis, ia melepaskan semua kesedihan yang berusaha ia pendam.


Brakk.. brakk.. ****brakk****...


"Haa.. haa.. aa... Kenapa harus Dimas? Kenapa bukan gue aja?... Baru aja gue bisa bareng-bareng sama Dimas tapi sekarang malah seperti ini..."


Dika benar-benar meluapkan semua kesedihannya. Ia melampiaskannya pada barang-barang di kamar tersebut sampai-sampai kamar tersebut menjadi hancur berantakan. Dika merasa sangat terpukul, ia pun tidak bisa berpikir dengan jernih, ia bahkan menyalahkan Tuhan dan takdir atas semua yang telah terjadi.


"Kenapa Kau ingin mengambil Dimas?! Kenapa bukan saya saja?! Kau tidak adil... Jika Kau memang bisa mengabulkan semua permintaan, maka dengar kan saya baik-baik. Tunjukkan kuasa Mu, berikan Dimas keselamatan. Bahkan saya rela menggantikan posisi Dimas! Saya mohon, saya tidak pernah minta banyak dari Mu, kali ini saja, saya mohonn... Haa.. aa..."


Tangisan Dika semakin menjadi-jadi. Dika duduk di lantai kamarnya. Ia memegang kepalanya sambil menangis.


"Saya bisa menerima rasa sakit apa pun, tetapi saya tidak bisa kehilangan saudara saya Dimas... Saya sudah lelah, rasanya hidup saya seperti permainan sialan!... ARRGHHH!..."


Dika masih menangis bahkan hingga hari berganti malam. Akhirnya Dika pun tertidur karena kelelahan setelah menangis.


...****************...


Ketika Dika terbangun, hari sudah berganti menjadi pagi. Dika duduk di pinggir kasur, ia memperhatikan sekeliling kamarnya yang terlihat sangat hancur. Dika memegang kepalanya, ia pun menarik nafas panjang untuk menenangkan dirinya.


"Ya ampunn..." batin Dika.


Dika menutup wajahnya menggunakan kedua tangan. Perasaan bersalah dan menyesal pun terasa di benaknya.


"Maafkan saya Tuhan, hamba salah... Maafkan saya... Tidak seharusnya saya seperti ini. Maafkan saya... Saya telah melakukan kesalahan besar. Maafkan saya..."


Dika kemudian segera membereskan kamarnya, setelah itu ia mandi dan langsung makan.


Kringg.. kringg.. kringg...


Handphone Dika berbunyi dan terdapat panggilan masuk dari Pak Arthama. Kali ini Dika pun mengangkat panggilan telepon tersebut.


......................


...Via Telepon...


......................


"Ya pa, ada apa?" ucap Dika.


"Akhirnya kamu mau angkat telepon papa. Kamu sudah makan?"


"Udah, papa sendiri gimana?"


"Papa sudah makan. Kamu kenapa nggak ke rumah sakit?"


"..." Dika hanya diam.


"Papa punya kabar baik. Tuhan memberikan keajaiban pada Dimas. Kondisi Dimas sudah membaik."


Seketika senyuman langsung terukir di bibir Dika. "Papa serius kan?"


"Iya, walaupun dia masih harus dibantu dengan alat medis, tapi setidaknya kondisi dia ada peningkatan. Kamu segera ke sini, di sini juga ada Restu, Willy Bryan, Widia, dan Intan."


"Iya pa, Dika pergi sekarang."


"Hati-hati di jalan. Papa tutup teleponnya."


"Tunggu dulu pa," cegah Dika.


"Ada apa?"


"Dika.. Dika minta maaf..."


"Kamu ada-ada aja. Ngapain kamu tiba-tiba minta maaf? Minta maaf buat apa?" tanya Pak Arthama.


"Dika udah nyusahin papa dan buat papa khawatir."


"Kamu bilang apa sih? Kamu sama sekali nggak nyusahin papa. Sudah, kamu jangan ngelantur, lebih baik kamu cepat ke sini."


"Iya..."


...****************...


"Gelangnya udah gue perbaiki, Dika pasti seneng..." batin Widia sembari mengusap gelang di tangannya.


Namun tiba-tiba saja gelang tersebut malah putus.


"Yah, kenapa bisa putus?" gumam Widia.


Widia kemudian menyimpan gelang tersebut dalam tasnya. Perasaan Widia pun menjadi tidak enak, ia seperti merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi.


"Perasaan gue tiba-tiba jadi nggak enak. Semoga semua baik-baik aja," batin Widia.


...°...


...°...


...----------------...


...BERSAMBUNG...


...----------------...


...°...


...°...


...°...


...Sambil menunggu cerita ini update, yuk mampir ke cerita author yang lainnya yang berjudul "Berbeda"...


...Jangan lupa dijadiin fav yaaa🤭......


...Jangan lupa like, komentar, vote, dan ratenya ya agar author jadi lebih semangat 🤗......


...Terima kasih 🙏💕......