Choco

Choco
Firasat



Untuk menenangkan dirinya, Widia pun membuka jendela kamarnya untuk merasakan udara segar.


"Gue sering banget berantem sama Dika cuma karena hal-hal kecil. Tapi lucu sih, bentar-bentar berantem, udah itu baikan, nantinya bercanda lagi... Selama ini Dika selalu berhasil buat gue ketawa," batin Widia yang sedari tadi memikirkan Dika.


"Selama gue pacaran sama dia, gue belum pernah ngungkapin rasa sayang gue sama dia," gumam Widia.


Widia memandangi langit malam yang penuh dengan bintang-bintang.


"Tolong katakan padanya, bahwa ketika matahari terbenam, aku memikirkan dia. Tolong katakan padanya, bahwa aku tidak akan pernah lupa ketika suara-suaranya memanggil namaku. Dan tolong, biarkan dia tau bahwa dia hidup di hatiku. Dan kemana pun aku pergi, aku selalu melihat wajahnya..." ucap Widia dalam hati sembari memandangi langit malam yang penuh dengan bintang-bintang.


Hembusan angin malam yang dingin pun menerpa dirinya seakan-akan membalas ucapannya. Seketika Widia menjadi merinding dan seperti merasakan kehadiran seseorang di sekitarnya.


Widia pun melihat sekeliling. Entah kenapa tiba-tiba saja Widia ingin menyebutkan nama Dika. "Dika..."


Brak...


Tiba-tiba foto Dika terjatuh, namun masih berada di atas meja.


Widia segera menutup jendela kamarnya, ia kemudian membenarkan posisi foto Dika.


"Mungkin anginnya terlalu kencang, sampai-sampai foto Dika jatuh, untung aja nggak rusak," gumam Widia.


Tok.. tok.. tok...


Seseorang mengetuk pintu kamar Widia.


"Widia..." terdengar suara Bryan memanggil Widia dari luar kamar.


"Bang Iyan? Ngapain jam segini Bang Iyan nyari gue?" gumam Widia sembari berjalan menuju pintu.


Widia pun membukakan Bryan pintu. "Ada apa Bang?" tanya Widia.


"Kamu belum tidur?" tanya Bryan karena Widia membuka pintu dengan cukup cepat.


"Belum, Widia nggak bisa tidur. Nggak tau kenapa perasaan Widia nggak tenang, Widia kepikiran sama Dika terus. Bang Iyan ada apa nyariin Widia?" ucap Widia.


"Ternyata Widia benar-benar cinta sama Dika. Sampai-sampai dia punya kontak batin sama Dika," batin Bryan.


"Hmm.. Dika.. Dika..." ucap Bryan ragu-ragu.


Seketika nafas Widia menjadi tidak teratur dan jantungnya pun berdegup dengan kencang. "Dika kenapa Bang?" tanya Widia takut. Widia pun menjadi sangat penasaran dengan apa yang akan diucapan oleh Bryan.


"Kamu harus kuat ya..." ucap Bryan sembari menatap sedih kepada Widia.


"Dika kenapa bang?! Jawab bang!" ucap Widia sembari menggoyangkan pundak Bryan.


"Di-Dika..." ucap Bryan terbata-bata.


"Dika masuk rumah sakit," lanjut Bryan.


"Apa?! Kenapa bisa?!" ucap Widia kaget. Jantung Widia rasanya seperti berhenti seketika saat mendengar ucapan Bryan.


"Tadi siang Dika diculik sama mama tirinya, dia ditembak di kaki dan pergelangan tangannya digores. Sekarang Dika sedang dalam masa kritis, dia sedang dioperasi. Dimas yang kasi tau abang lewat telepon," jelas Bryan.


Seketika Widia langsung menangis karena mendengar penjelasan Bryan. Widia menggelengkan kepalanya tidak percaya. "Nggak! Nggak mungkin! Abang tau kan Kak Dimas suka bohong?! Kali ini dia pasti bohong. Ini cuma rencana dia lagi kan bang?!" ucap Widia tidak percaya.


Bryan pun merasa kasihan dan tidak tega ketika melihat adiknya bersedih. Bryan memeluk dan mengusap rambut Widia untuk menenangkannya. Bryan kemudian mencoba menjelaskan kepada Widia secara pelan-pelan. "Nggak, kali ini Dimas nggak bohong. Om Arthama juga bicara sama abang lewat telepon."


"Kita harus ke rumah sakit sekarang bang!"


"Iya, iya, tapi kamu jangan panik. Kamu siap-siap dulu, abang mau kasi tau ibu sama bapak dulu. Setelah itu kita langsung ke rumah sakit."


Widia pun mengambil jaket dan ponselnya. Sementara itu Bryan memberitau Pak Wahyu dan Bu Asih. Bryan tidak memberitau Kakek Dharma karena sekarang masih pukul 01.30 pagi, ia tidak mau meganggu tidur Kekek Dharma dan membuat Kakek Dharma menjadi panik, terlebih lagi Kakek Dharma memiliki riwayat penyakit jantung. Bryan, Widia, Pak Wahyu, serta Bu Asih pun segera menuju rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, mereka segera menuju ruang Operasi. Terlihat Pak Arthama dan Dimas sedang duduk menunggu di depan ruang ruang operasi.


"Bagaimana keadaan Dika om?" tanya Bryan.


"Dika nggak kenapa-kenapa kan om?" tanya Widia.


"Sekarang Dika sedang dioperasi," jawab Pak Arthama. Terlihat kondisi Pak Arthama terlihat lemas dan wajahnya pun sangat pucat, begitu juga dengan kondisi Dimas yang juga terlihat kurang baik.


"Tapi Dika nggak kenapa-kenapa kan om? Dika baik-baik saja kan om?" Tanya Widia panik.


Bu Asih pun tidak tega melihat mata Widia yang sudah bengkak karena menangis tersedu-sedu. Bu Asih menenagkan Widia dengan cara memeluk sembari mengusap pundaknya. "Sudah sayang, sudah..."


Pak Wahyu pun duduk disamping Pak Arthama dan Dimas sambil menguatkan mereka.


Tak berselang lama Pak Wardana, Bu Ami, serta Aulia pun juga datang ke rumah sakit.


"Bagaimana keadaan Dika?" tanya Pak Wardana.


"Dika masih dioperasi om," jawab Dimas.


"Kenapa Dika bisa sampai seperti ini?" tanya Aulia sambil menangis tersedu-sedu.


Pak Arthama maupun Dimas yang sedang bersedih hanya diam tidak merespon pertanyaan Aulia.


Aulia memandang Dimas kemudian mencacinya. "Ini pasti gara-gara lo kan?! Jawab! Gue yakin lo penyebab semua ini!" Aulia mendorong dan memukuli Dimas.


Dimas yang mendengar ucapan Aulia menjadi semakin merasa bersalah. Dimas pun hanya Diam menerima amarah Aulia tanpa memberikan perlawanan sedikit pun terhadapnya.


Pak Wadana dan Bu Ami pun segera memisahkan Aulia dari Dimas dan menenangkannya.


"Tenang sayang... Kamu tidak boleh seperti itu sama Dimas," ucap Bu Ami.


"Sayang, kita sedang di rumah sakit, tidak baik jika ribut disini. Tenang Aulia..." ucap Pak Wardana.


Bu Ami pun mengajak Aulia pergi untuk menenangkan diri, sementara Pak Wardana duduk bersama Pak Arthama dan Dimas untuk menenangkan mereka.


...****************...


Waktu sudah menunjukkan pukul 05.40 pagi. Semua pun berdiri ketika melihat beberapa dokter keluar dari ruang operasi. Mereka pun menghampiri dokter untuk meminta penjelasan.


"Bagaimana operasinya dok?" tanya Pak Arthama.


"Operasinya berjalan dengan lancar," jawab Dokter.


"Lalu bagaimana kondisi adik saya Dok?" tanya Dimas.


"Pasien mengalami koma, sekarang pasien masih dalam kondisi kritis, sepuluh jam terakhir sangat menentukan keselamatan pasien," jelas dokter.


"Saya mohon, lakukan yang terbaik untuk anak saya dok," ucap Pak Arthama.


"Kami pasti berusaha semaksimal mungkin. Sekarang pasien akan dipindahkan ke ruang ICU dulu," ucap Dokter.


"Baik dok," balas Pak Arthama.


Dokter pun pergi meninggalkan mereka. Tak berselang lama datang beberapa perawat yang kemudian membawa Dika ke ruang ICU.


Tagisan Widia semakin menjadi-jadi ketika melihat Dika keluar dengan banyak selang. Begitu juga dengan Aulia, Dimas, dan Pak Arthama yang juga tidak bisa menahan tangisnya ketika melihat keadaan Dika.


"Dikaa..." ucap Widia ditengah-tengah tangisnya. Widia pun menghampiri Dika dan berusaha mendekatinya, namun ia dilarang oleh para perawat yang membawa Dika.


Bryan dan Bu Asih pun memegang Widia sembari menenangkannya.


Semua orang pun menunggu Dika di denpan ruang ICU. Hanya ada Pak Arthama dan seorang dokter yang menemani Dika di dalam ruang ICU, karena memang hanya ada satu orang yang boleh menemani pasien.


BERSAMBUNG•••••••


••••••••••••••••••••


°


°


°


Yuk mampir ke cerita author yang lainnya judulnya "Berbeda"


Jangan lupa like, komentar, vote, dan ratenya ya, agar author jadi lebih semangat 🤗...


Terima kasih 🙏💕...