Choco

Choco
Ulang Tahun



Malam harinya Widia dan Intan pergi ke ulang tahun Dimas. Semua perhatian tertuju pada Widia yang terlihat sangat cantik dengan dress selutut berwarna biru dongkernya, dan rambutnya yang terurai semakin menambah pesonanya.


"Ini beneran Widia kan?. Kok bisa cantik gini sih..." ucap Dimas dalam hati, yang juga ikut terpesona dengan kecantikan Widia.


Widia menghampiri Dimas dan memberikan ucapan selamat ulang tahun. "Selamat ulang tahun ya kak Dimas, ini ada hadiah buat kak Dimas." Widia memberikan kado pada Dimas.


"Makasi ya Widia. kamu nggak perlu repot-repot bawa kado, kamu bisa dateng aja aku udah seneng."


"Nggak apa-apa kak, sama-sama."


"Selamat ulang tahun ya kak Dimas, ini Intan punya kado buat kak Dimas," ucap Intan pada Dimas dan memberikannya kado.


"Makasi banyak ya Intan."


"Sama-sama kak Dimas."


"Kak Dimas ganteng banget... Apa mungkin ya aku bisa sama kak Dimas..." pikir Intan.


Pesta ulang tahun Dimas berlangsung dengan sangat meriah. Terdapat konser musik oleh penyanyi terkenal, hidangan yang mewah, pelayanan tamu yang sangat baik, dan masih banyak lagi. Selain itu tamu yang diundang merupakan orang kelas atas, termasuk Clara dan teman-temannya yang merupakan anak dari teman bisnis papanya Dimas atau Tuan Arthama. Tapi sayang Tuan Arthama tidak bisa hadir di pesta tersebut karena sedang ada urusan bisnis yang sangat penting di luar negeri.


Dimas melihat Widia yang sedang makan dari jauh. "Cara makannya Widia rapi banget, kayak bukan dari keluarga biasa," pikir Dimas.


Bryan yang melihat Widia dan Intan menghampiri mereka. " Ternyata Widia sama Intan disini juga."


"Bang Iyan..."


"Iya kak Bryan."


"Tamunya rame banget, makanya gue nggak lihat kalian," ucap Bryan.


"Iya Bang, meriah banget ya."


Datang Amel mengampiri Bryan. "Kak Bryan..."


"Amel..." ucap Bryan yang melihat Amel menghampirinya.


"Ni cewek ngapain kesini sih," ucap Widia dalam hati.


"Kesana yuk kak, nonton konser."


"Ngga deh Mel, gue disini aja."


"Iya Bang, disini aja sama Widia," ucap Widia.


"Ya udah deh kak." Amel kemudian pergi meninggalkan mereka. Amel sebenarnya sangat ingin bersama Bryan. Sudah menjadi rahasia umum di antara teman-temannya jika Amel dari dulu memang menyukai Bryan, tetapi Bryan selalu menghindari Amel. Walaupun begitu, Amel tidak pernah memaksa Bryan, karena ia merasa masih punya harga diri.


"Bang, Widia saranin mendingan jangan deket-deket sama Amel. Widia ngga setuju Bang Iyan sama dia."


"Nggak lah, siapa juga yang mau deket-deket sama dia."


"Syukur deh kalo gitu."


"Tapi... kalo sama yang itu kamu setuju?." Bryan melirik Bunga yang berada lumayan jauh dari mereka.



"Maksud Abang kak Bunga?"


"Iyaa..." jawab Bryan malu-malu.


"Setuju lah Bang, kak Bunga itu cantik, pinter, ramah lagi. Tapi bukannya kak Bunga itu pacarnya Bang Iyan?."


Bryan mengerutkan alisnya. "Siapa yang bilang?."


"Wah, berarti Widia dibohongin sama Dika."


"Ooh jadi Dika. Tapi abang emang dari dulu suka sama Bunga."


"Tenang aja Bang, nanti pasti Widia bantu.''


"Bener Widia mau bantu abang?."


"Ya beneh lah Bang."


Waktu sudah menunjukkan pukul 23.30, pesta ulang tahun Dimas sudah selesai dan banyak tamu yang sudah pulang termasuk Intan yang sudah pulang dengan Clara, hanya tersisa teman-teman dekat dari Dimas. Datang seorang tamu perempuan dan langsung menghampiri Dimas, perempuan itu tak lain adalah Aulia.



"Selamat ulang tahun ya Dimas. Maaf ya gue telat, dateng dari bandara gue langsung kesini." Aulia memeluk Dimas.


"Makasi ya Aulia." Dimas membalas pelukan Aulia.


Widia yang melihat kejadian itu langsung pergi.


"Widia..." ucap Dimas dalam hati.


"Lo tunggu disini dulu ya," ucap Dimas pada Aulia. Dimaspun kemudian pergi menyusul Widia.


"Lo mau kemana Dimas?" ucap Aulia pada Dimas yang meninggalkannya pergi begitu saja. Namun Dimas tidak menghiraukan Aulia dan tetap pergi menyusul Widia.


Sampai di depan gerbang Widia melihat Dika. "Dika... Lo ngapain disini?."


"Gue cuma khawatir aja sama lo. Muka lo kenapa pucet banget, gue anter pulang ya?."


"Iya Dika," jawab Widia lesu.


"Widia..." ucap Dimas yang baru datang.


"Widia pulang ya kak."


"Aku anter ya?."


"Nggak usah kak, Widia sama Dika aja."


"Sama aku aja ya, kamu kan dateng ke acara aku, jadi tanggung jawab aku nganter kamu pulang."


"Ngga usah kak, makasi. Di dalam kan masih banyak tamu kak."


"Tapi Wid..."


"Udah Dim, jangan paksa dia," ucap Dika pada Dimas.


"Yuk naik Wid."


"Selamat ulang tahun ya Dim," ucap Dika pada Dimas. Dika kemudian mengajak Widia pergi.


"Dika berhenti..." ucap Widia saat melewati taman.


Dika meminggirkan motornya. "Ada apa Nyet?."


"Lihat bintang yuk Dik."


"Tapi ini udah malem, nanti ibuk sama bapak lo khawatir."


"Tenang aja gue udah bilang kok, lagian besok kan Minggu."


"Ya udah kalo gitu."


Mereka kemudiam tidur di atas rumput dan melihat bintang sambil mendengarkan lagu Yellow - Coldplay. Mereka melihat bintang jatuh dan mereka memejamkan mata membuat permohonan.


"Ya Tuhan, semoga semua baik-baik saja, berikanlah yang terbaik," ucap Widia dalam hati.


"Lo punya cita-cita ngga Nyet?."


"Semua orang pasti punya cita-cita Dik. Tapi cita-cita gue sederhana, gue cuma pengen punya banyak teman, hidup di desa sama keluarga kecil gue, jadi petani, sambil nunggu hasil panen gue jadi tukang jahit, dan begitulah kehidupan berlangsung..." Widia menghembuskan nafasnya panjang. "Andai aja hidup bisa sesederhana itu, tapi sayangnya ngga bisa."


"Iya Wid, hidup ini bukan tentang diri kita sendiri. Orang lain juga berhak atas hidup kita, orang yang mencintai kita. Jadi kita wajib membahagiakan mereka."


"Gue setuju sama lo Dika. Tapi lo punya keinginan nggak?."


"Gue cuma pengen ngebahagian papa sama Dimas, gue akan buktiin kalo Yuni itu punya niat jahat."


"Gue akan selalu doain dan bantu lo Dika."


"Makasi ya Nyet, kalo keinginan lo apa?."


"Keinginan gue banyak Dika. Gue pengen keliling Indonesia bahkan dunia. Gue ingin tau gimana di luar sana, gue ingin tau banyak hal... Gue ingin pergi ke daerah terpencil, pergi ke sekolah-sekolah, bantu orang-orang disana... Gue ingin punya perpustakaan, disana orang-orang bisa baca buku gratis, bisa belajar gratis... Kalo di ceritain bisa sampe pagi Dik."


"Maksud gue keinginan buat diri lo sendiri Nyet."


"Itu semua keinginan gue Dik. Ngelihat orang tertawa karena gue, itu udah cukup bikin gue bahagia."


"Gue kagum sama lo Wid, jarang jaman sekarang ada orang kayak lo."


"Apanya yang dikagumin coba, gue belum ngapa-ngapain."


"Tapi lo punya keinginan mulia aja, itu udah cukup Wid."


"Oh ya, gue mau nanya sesuatu sama lo."


"Nanya apa Nyet?."


"Lo kenapa bohong kalo Bunga itu pacarnya Bryan?."


"Gue kira waktu itu lo suka sama Bryan, makanya gue bilang kayak gitu. Tapi Bryan emang beneran suka sama Bunga, gue takut lo nanti malah sakit hati."


"Eleh, bilang aja lo cemburu."


"Nah, itu lo tau."


"Apaan sih... Tapi lo kenal gak sama Aulia?."


"Jadi tadi Widia sedih gara-gara ini. Mending gue kasi tau aja sama dia, dari pada dia di PHPin terus sama Dimas," pikir Dika.


"Aulia sama Dimas itu dijodohin, papa sama orangtuanya Aulia sahabatan... Dimas suka sama Aulia, tapi Aulia ngga setuju. Dia milih pergi sekolah ke luar negerti. Gue denger-denger Aulia mau kembali lagi kesini, dia udah setuju."


"Ooh gitu..."


"Jadi Choco udah lupa sama janji kita..." ucap Widia dalam hati. Terlihat ekspresi sedih di wajah Widia.


Lagupun berganti ke lagu How Would You Feel - Ed Sheeran. Dika ikut menyanyikan lagu tersebut.


♪ ♪ ♪ ♪ ♪ ♪ ♪ ♪ ♪


How would you feel


(Bagaimana perasaanmu)


If I told you I loved you


(Jika ku katakan aku mencintaimu)


It's just something that I want to do


(Itulah sesuatu yang ingin ku lakukan)


I'll be taking my time


(Kan ku gunakan waktuku)


Spending my life


(Mengbiskan hidupku)


Falling deeper in love with you


(Tuk mencintaimu lebih dalam)


So tell me that you love me too


(Jadi katakan bahwa kau juga mencintaiku)


♪ ♪ ♪ ♪ ♪ ♪ ♪


Dika menatap Widia. "Yang cinta sama lo itu gue Nyet, bukan Dimas..."


Widia hanya bengong menatap Dika. "Andai aja dulu Choco itu lo Dika..." ucap Widia dalam hati.


Kukuruyukk... kukuruyukk...


Suara ayam jantan berkokok, menandakan hari sudah pagi. Waktu sudah menunjukkan pukul 01.00.


"Kita pulang yuk Nyet, udah pagi."


"Iya..."


Dika kemudian menghantar Widia pulang sampai di rumah.


"Dika..." bisik Widia yang melihat Dika hendak pergi.


"Ada apa?" bisik Dika.


"Tunggu dulu, lo diem disini..." Widia masuk ke dalam rumahnya.


Dikapun menuruti perkataan Widia dan ia tetap diam di depan rumah Widia. Beberapa saat kemudian Widia datang.


"Ini hadiah buat lo, selamat ulang tahun ya." Widia memberikan kado pada Dika.


"Wah makasi ya nyet, gue buka ya." Dika membuka kado tersebut. "Waah... kaos Coldplay. Gila keren banget... makasi ya Widia..." Dika sangat senang akan kado dari Widia, dia kemudian memeluk Widia.


"Iya sama-sama, sekarang lo pulang, sebelum bapak sama ibuk gue bangun."


"Iya... Makasi ya." Dika kemudian pergi.


"Dika, Dika..." ucap Widia dalam hati.


°


°


°


Maaf jika banyak kesalahan dalam novel ini. Saya baru pertamakali membuat novel, jadi mohon pemaklumannya kakak 😊...


Jangan lupa like, komentar, dan ratenya ya kakak 🤗...


Terima kasih 🙏💕...