
Setelah pulang sekolah Dimas menyempatkan diri untuk makan siang di rumah.
"Dimas..." ucap Pak Arthama yang baru datang. Pak Arthama pun menghampiri Dimas dan duduk di sampingnya.
"Papa udah makan?" tanya Dimas.
"Sudah, tadi papa makan di rumah sakit," jawab Pak Arthama.
"Baru aja Dimas mau ke rumah sakit setelah selesai makan. Ngomong-ngomong papa ngapain pulang?"
"Papa mau cari kamu."
"Cari Dimas?" ucap Dimas bingung.
"Iya, karena sakit kepala yang kamu alami kemarin, kamu harus menjalani beberapa pemeriksaan lagi," jawab Pak Arthama.
"Dimas kan cuma kecapekan aja. Kenapa harus diperiksa lagi?"
"Ini memang sudah merupakan saran dari dokter, dan ini juga untuk memastikan keadaan kamu," balas Pak Arthama.
Dimas menghela nafas kemudian menganggukkan kepalanya. "Iya pa."
Dimas pun mulai merasa sedikit curiga dengan semua ini. Terlebih lagi ia memang merasa ada sesuatu yang aneh terhadap dirinya dan mengenai sakit kepala tidak biasa yang dialaminya beberapa hari terakhir.
Selesai makan, Dimas pun ke rumah sakit bersama Pak Arthama. Sesampainya di rumah sakit, Pak Arthama kemudian mengajak Dimas menjalani serangkaian pemeriksaan seperti yang sudah disarankan oleh dokter.
Dimas pun menjadi semakin curiga karena dirinya menjalani banyak pemeriksaan.
Setelah Dimas selesai melakukan serangkaian pemeriksaan, ia dan Pak Arthama lalu menuju ruang rawat Dika.
Sampai saat ini Dimas memang sama sekali belum mengetahui tentang penyakit yang dideritanya karena Pak Arthama berpesan pada dokter untuk sementara waktu tidak memberitahu Dimas.
"Hmm.. pa," ucap Dimas.
"Iya?" balas Pak Arthama.
"Apa ada sesuatu yang papa sembunyikan?" tanya Dimas.
"Maksud kamu?" tanya Pak Arthama.
"Apa Dimas sudah mulai curiga dengan kondisinya?" batin Pak Arthama.
"Tentang kesehatan Dimas. Kondisi Dimas baik-baik aja kan?" ucap Dimas.
Pak Arthama menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. "Iya..."
"Maafin papa Dimas, papa belum sanggup mengatakan yang sebenarnya," batin Pak Arthama.
Sesampainya di ruang rawat Dika, terlihat sudah ada Widia dan beberapa kerabat serta teman-teman Dika yang menjenguknya.
Seperti biasa, hari ini banyak orang yang menjenguk Dika secara bergantian. Dan keadaan Dika pun sekarang sudah kian membaik.
...****************...
Keesokan paginya Pak Arthama menemui dokter untuk mengambil hasil tes Dimas seorang diri dan tanpa sepengetahuan Dimas.
"Selamat pagi Dok," sapa Pak Arthama. Pak Arthama kemudian duduk satu meja bersama dokter.
"Selamat pagi pak. Kenapa bapak sendiri? Anak bapak dimana?" ucap dokter.
"Anak saya masih di sekolah dok," jawab Pak Arthama.
"Bagaimana hasilnya dok?" tanya Pak Arthama.
Dokter pun memberlihatkan hasil tes yang dijalani Dimas kemarin. "Dari hasil tes ini, menunjukkan bahwa pasien menderita kanker otak, dan sekarang sudah memasuki stadium tiga," jelas dokter.
Pak Arthama yang mendengar penjelasan dari dokter benar-benar merasa sangat terpukul. Pak Arthama hanya bisa diam dan mengatur nafas untuk menenangkan dirinya.
"Ternyata Dimas benar-benar menderita penyakit itu," batin Pak Arthama.
"Pasien harus segera melakukan pengobatan agar penyakitnya tidak bertambah parah," ucap Dokter.
"Kapan pengobatannya akan dijalankan dokter?" tanya Pak Arthama.
"Lebih cepat lebih baik. Bapak boleh mengurus dokumen-dokumennya mulai sekarang agar pengobatannya dapat cepat dilaksanakan," ucap Dokter.
"Tapi anak saya masih bisa sembuh kan dokter?"
"Jika sudah kehendak dari Tuhan, apa pun bisa terjadi pak," jawab dokter.
"Dari ucapan dokter, berarti hanya ada kemungkinan kecil bagi anak saya untuk sembuh," ucap Pak Arthama.
Dokter menganggukkan kepalanya. "Iya pak..."
Pak Arthama menghela nafas panjang, ia hanya bisa terdiam sembari memegang kepalanya.
"Apa anak bapak sudah mengetahui tentang kondisinya yang sebenarnya?" tanya dokter.
Pak Arthama menggelengkan kepalanya. "Belum dok."
"Lebih baik bapak segera memberitahu anak bapak mengenai kondisinya yang sebenarnya, agar dikemudian hari tidak menimbulkan penyesalan baginya. Karena ketidaktahuan anak bapak mengenai kondisinya, ia tidak akan memanfaatkan waktunya, ia tidak akan bisa menikmati waktu yang ia miliki," ucap dokter.
Pak Arthama pun tertegun mendengar penjelasan dari dokter.
Pak Arthama menganggukkan kepalanya. "Baik dok..."
...****************...
Disisi lain, Dimas sekarang tengah mengikuti kegiatan pembelajaran di sekolah.
Dimas terlihat memandang papan tulis dengan menyipitkan matanya karena ia tidak dapat melihat tulisan di papan dengan jelas. Dimas pun akhirnya melirik buku catatan Willy.
"Coba lihat buku catatan lo." Dimas mengambil buku catatan Willy.
"Lah, lo belum selesai nyatet?" tanya Willy.
"Belum, gue nggak jelas lihat tulisan di papan," jawab Dimas.
"Perasaan gue bisa kok lihat tulisan di papan dengan jelas. Jangan-jangan mata lo udah minus."
"Bisa jadi," balas Dimas.
"Lo cepetan gih periksa mata," ucap Willy.
"Iya ah, lo ganggu gue aja. Kapan gue selesai nyatetnya kalo lo ngajak ngue ngobrol terus?"
"Iya, iya..." balas Willy.
...****************...
Sepulang sekolah Dimas memutuskan untuk tidur karena ia merasakan nyeri di bagian kepalanya. Dimas pun akhirnya beristirahat dan mengurungkan niatnya untuk menjenguk Dika di rumah sakit.
Namun rasa sakit kepala yang dialami Dimas lama-kelamaan menjadi semakin keras, sampai-sampai Dimas menjambak dan memukul-mukul kepalanya karena tidak tahan akan rasa sakit yang dialaminya.
"Arrgghh..." teriak Dimas sembari memegang kepalanya.
"Dimas!..." ucap Pak Arthama yang sudah berada pintu kamar. Pak Arthama pun segera menghampiri Dimas.
"Kamu kenapa Dimas?" tanya Pak Arthama.
"Kepala Dimas sakit banget," ucap Dimas sambil tetap memegang kepalanya.
"Kita ke rumah sakit sekarang!" ucap Pak Arthama panik. Pak Arthama pun menarik tangan Dimas namun Dimas tidak mau beranjak dari tempat tidurnya.
"Nggak pa!" tolak Dimas.
"Papa mohon Dimas, papa sangat khawatir dengan keadaan kamu," ucap Pak Arthama.
"Dimas nggak akan mau ke rumah sakit sebelum papa kasi tau Dimas tentang kondisi Dimas yang sebenarnya."
Pak Arthama diam sejenak. "Ka-kamu.. kamu sakit kanker otak nak..." ucap Pak Arthama gemetar.
"Udah gue duga..." batin Dimas.
Pak Arthama kemudian mengajak Dimas pergi ke rumah sakit.
Setelah keadaan Dimas membaik, dokter pun mengajak Dimas dan Pak Arthama mengobrol. Dokter kemudian menjelaskan kepada Dimas mengenai penyakit yang diseritanya.
"Apa anak saya perlu dioperasi dok?" tanya Pak Arthama.
"Tidak pak, anak bapak bisa melakukan rawat jalan saja, ia hanya perlu melakukan kemoterapi secara berkala. Kemo pertamanya akam segera dilakukan setelah melakukan beberapa tes lagi," jelas dokter.
"Baik dokter," balas Pak Arthama.
"Kamu harus semangat, kamu pasti bisa menjalani semua ini," ucap dokter kepada Dimas.
Dimas hanya menganggukkan kepalanya kemudian tersenyum pasrah.
"Sekarang papa antar kamu pulang, kamu istirahat saja di rumah," ucap Pak Arthama kepada Dimas.
"Nggak pa, Dimas mau jenguk Dika dulu," ucap Dimas.
"Tap..." ucapan Pak Arthama terpotong.
"Dimas nggak apa-apa pa," ucap Dimas dan dibalas anggukan oleh Pak Arthama.
Pak Arthama pun menuruti permintaan Dimas, ia kemudian mengajak Dimas untuk menjenguk Dika.
"Pa, Dimas minta papa jangan kasi tau Dika soal penyakit Dimas," ucap Dimas.
"Tapi Dika juga berhak tau mengenai kondisi kamu," balas Pak Arthama.
"Dimas udah lihat sendiri pengorbanan Dika, bahkan dia rela mempertaruhkan nyawanya demi keselamatan Dimas. Dia benar-benar sayang sama Dimas, Dimas nggak mau lihat Dika sedih. Dimas mohon pa, kabulkan permintaan Dimas..." ucap Dimas.
"Iya... Tapi cepat atau lambat Dika juga tetap harus mengetahui kondisi kamu yang sebenarnya."
"Baik, nanti Dimas akan beritahu Dika, tapi beri Dimas waktu..." ucap Dimas.
Pak Arthama hanya merespon ucapan Dimas dengan menganggukkan kepalanya.
Seperti yang diminta oleh Dimas, Pak Arthama pun tidak memberitahu Dika mengenai kondisi kakaknya. Di hadapan Dika mereka terlihat bersikap biasa saja seolah-olah tidak ada sesuatu yang terjadi, bahkan Dimas terlihat mengobrol dan bercanda seperti biasa dengan Dika serta orang-orang yang menjenguk Dika.
"Hidup bukanlah playlist musik untuk mendengarkan lagu favorit kita. Ini adalah Radio yang harus kita sesuaikan untuk dinikmati, apa pun yang ada di dalamnya." batin Dimas.
...****************...
Setelah 1 minggu akhirnya Dika diperbolehkan untuk pulang, namun karena kondisinya belum benar-benar pulih ia masih harus menggunakan kursi roda. Sementara sekarang Dimas terlihat sudah menggunakan kacamata karena pengelihatannya hari demi hari semakin memburuk.
Pak Arthama, Dimas, dan Dika menyempatkan diri untuk berziarah ke makam Bu Ima. Mereka disana membersihkan makam Bu Ima, selain itu mereka juga mendoakan Bu Ima.
Mereka pun diam disana sejenak sembari mengingat kenangan mereka bersama Bu Ima.
...----------------...
Author mau menyisipkan sebuah lirik lagu yang buat author baper 🤧 ...
...Supermarket Flowers - Ed Sheeran...
...I took the supermarket flowers from the windowsill...
...Kuambil bunga-bunga supermarket dari ambang jendela...
...I threw the day-old tea from the cup...
...Kubuang teh hari ini dari cangkirnya...
...Packed up the photo album Matthew had made...
...Kukemasi album foto yang sudah dibuat Matthew...
...Memories of a life that's been loved...
...Kenangan tentang hidup yang dicintai...
...Took the "Get Well Soon" cards and stuffed animals...
...Kuambil kartu ucapan "cepat sembuh" dan kujejali boneka binatang...
...Poured the old ginger beer down the sink...
...Tuangkan bir jahe basi ke wastafel...
...Dad always told me, "Don't you cry when you're down."...
...Ayah selalu bilang, "Jangan menangis saat kau bersedih."...
...But, mum, there's a tear every time that I blink...
...Tapi, Ibu, ada air mata tiap kali ku berkedip...
...Oh, I'm in pieces. It's tearing me up but I know...
...Oh, aku berkeping-keping, ini menghancurkanku, tapi kutahu...
...A heart that's broke is a heart that's been loved...
...Hati yang hancur adalah hati yang telah dicintai...
...So, I'll sing Hallelujah,...
...Maka, kan kunyanyikan Halleluyah...
...You were an anggel in the shape of my mum...
...Kau adalah bidadari dalam bentuk ibuku...
...When I fell down you'd be there holding me up...
...Saat aku jatuh, kau selalu membangkitkanku...
...Spread your wings as you go...
...Bentangkan sayapmu saat kau pergi...
...And when God takes you back...
...Dan saat Tuhan memanggilmu kembali...
...He'll say, "Hallelujah, you're home."...
...Dia akan berkata, "Hallelujah, kau pulang."...
...----------------...
...°...
......................
...BERSAMBUNG...
......................
...°...
...°...
...°...
Sambil menunggu cerita ini update, yuk mampir ke cerita author yang lainnya judulnya "Berbeda"
Jangan lupa like, komentar, vote, dan ratenya ya, agar author jadi lebih semangat 🤗...
1 like dan komentar singkat dari para pembaca sangat berharga bagi Author 😊...
Terima kasih 🙏💕...