
"Terima kasih ya nak," ucap seorang ibu-ibu pada Dika. Ibu-ibu itu kemudian memberikan uang 10.000 pada Dika. "Ini uangnya nak."
"Terima kasih ya buk," ucap Dika.
"Iya sama-sama nak." Ibu itu kemudian pergi meninggalkan Dika.
"Gue akan lakuin apapun untuk bantu Widia, termasuk jadi tukang ojek," gumam Dika.
Teng...teng...teng...
Suara nyaring motor vespa klasik berwarna putih yang dikendarai Dika kembali berkeliling mencari penumpang.
**********
"Maafin papa Dimas, papa nggak bisa ngasi kamu uang sebanyak itu. Jumlah yang kamu minta sama dengan untuk bayar SPP satu semester, memangnya ada keperluan apa kamu minta uang sebanyak itu?" ucap Pak Arthama yang sedang fokus pada laptopnya.
"Dimas pengen bantu temen Dimas pa. Kasihan dia, dia harus bayar uang semester. Kalo nggak, dia akan di keluarin dari sekolah."
Pak Arthama menatap Dimas. "Tapi papa tetep nggak bisa kasi kamu uang sebanyak itu Dimas."
"Sebagai gantinya papa bisa potong uang jajan Dimas, papa juga boleh sita dulu fasilitas yang papa kasi ke Dimas. Dimas janji akan kembaliin uang itu pa."
"Keputusan papa udah bulat Dimas, papa nggak bisa kasi uang itu ke kamu!."
"Tapi pa..."
"Sejak kapan kamu jadi nggak nurut gini sama papa?!."
"Kenapa ya, papa nggak mau kasi gue uang?. Biasanya gue minta berapapun langsung dikasi. Baru kali ini papa nolak gue," pikir Dimas.
"Iya pa, Dimas minta maaf." Dimas kemudian pergi meninggalkan ruang kerja papanya.
"Ternyata benar yang dibilang Amel. Dimas akan minta uang buat temen ceweknya," gumam Pak Arthama.
*********
Bu Asih yang baru pulang kerja, langsung masuk ke kamar Widia. Bu asih melihat Anaknya duduk bengong di meja belajar. "Kamu kenapa bengong sayang?."
"Maafin Widia ya buk..." ucap Widia sambil menundukkan kepalanya.
"Kamu kok minta maaf?. Emangnya ada apa sayang?." Ibu Asih mengelus rambut anaknya.
"Beasiswa Widia dicabut buk..." Air mata langsung mengalir di pipi Widia.
"Kamu jangan nangis, sekarang coba kamu ceritain apa yang terjadi." Ibu Asih kemudian menghapus air mata Widia.
"Tadi Widia berantem sama temen Widia buk. Dia selalu cari gara-gara sama Widia buk. Widia didorong sama dia, dan Widia nggak sengaja pecahin jendela. Widia juga dorong dia sampai jatuh. Tapi Widia beneran nggak serius dorong dia, Widia cuma dorong dia pelan. Ternyata dia baru operasi ginjal 5 bulan yang lalu, dan dia kesakitan. Maafin Widia buk..."
Ibu Asih memeluk Widia sembari mengelus rambutnya. "Kamu jangan nangis lagi sayang... Ibu percaya sama kamu nak... Nanti ibuk sama bapak akan usahain biar dapet uang untuk bayar uang semester kamu."
"Maafin Widia buk... Widia udah ngecewain ibu..."
"Nggak sayang, kamu nggak ngecewain ibu. Ibu yang seharusnya minta maaf, ibu selama ini nggak bisa bahagiain kamu. Kamu pasti diganggu gara-gara kita nggak punya apa-apa kan."
"Ibu jangan bilang kayak gitu. Ini semua salah Widia buk, Widia minta maaf..."
"Ibu sayang kamu nak, udah jangan nangis lagi ya..."
"Widia juga sayang sama ibuk..."
*********
Keesokan paginya Widia menemui Bryan dan memberikannya sarapan.
"Yah, untung jadi dibawain. Kalo nggak, kelaperan abang Wid," ucap Bryan.
"Iya lah, jadi, kemarin kan Widia udah WA Bang Iyan."
Bryan membuka kotak nasi yang diberikan Widia. "Waah kok bisa pas gini sih?. Semua ini kesukaan abang. Ada bakwan, ada kangkung, bawang gorengnya banyak lagi. Heum... baunya enak banget..."
"Itu Widia yang buat loh bang..."
"Ternyata adek abang pinter masak juga, makasi ya Widia."
"Sip lah bang..."
"Seneng rasanya bisa bawain Bang Iyan sarapan. Mungkin nanti kita nggak akan ketemu lagi..." ucap Widia dalam hati sambil memandang Bryan.
"Abang tinggal dulu ya, soalnya abang ada piket sekarang," ucap Bryan sambil mencubit pipi Widia.
"Iya bang."
Bryanpun meninggalkan Widia.
Beberapa saat kemudian datang Amel menghampiri Widia. "Lo ngapain pake bawain Bryan sarapan?!" tanya Amel.
Widia tersenyum menyeringai. "Cih.. suka-suka gue lah!. Emang lo siapanya Bryan?!."
Widia hanya menatap malas pada Amel. "Tenang Widia, tenang... jangan sampai lo kepancing. Gak ada gunanya ngeladenin orang kayak dia..." pikir Widia. Widia kemudian pergi meninggalkan Amel.
Amel memegang tangan Widia dan menghentikannya. "Gue peringatin lo jangan berani-berani deketin Bryan!."
"Lepasin tangan gue Mel!."
"Lepasin Widia Mel!" ucap Dika yang baru datang.
"Lo apa-apaan sih, ikut campur urusan gue aja!" ucap Amel.
"Lepasin nggak!."
"Ekspresi Dika serem banget kalo lagi marah. Mending gue pergi aja..." pikir Amel. Amel kemudian pergi meninggalkan Widia dan Dika.
"Lo nggak apa-apa kan?" tanya Dika.
"Gue nggak apa-apa kok, makasi ya."
"Iya sama-sama Nyet."
Dika mengambil uang 700.000 rupiah dari dompetnya dan memberikan uang itu pada Widia. "Widia, gue punya sedikit uang, tolong di terima ya."
"Makasi Dika, tapi maaf banget, gue nggak bisa terima uang ini."
"Kenapa?... gue cuma mau bantu lo, gue ikhlas Wid."
"Tapi gue nggak mau ngerepotin lo."
"Lo nggak ngerepotin gue sama sekali. Gue tau lo harus bayar uang semester, tolong diterima ya Wid."
"Gue udah ikhlas Dik, setelah gue keluar dari sekolah ini, gue akan kembali ke kota X. Lebih baik lo simpen aja uang itu," ucap Widia sambil tersenyum.
"Tapi Wid..."
"Gue ke kelas dulu ya..." Widia langsung pergi menuju kelas.
"Widia..." ucap Dika. Tetapi Widia tetap pergi meninggalkan Dika.
*********
Sepulang sekolah Widia diantar oleh Dimas.
"Makasi banyak ya kak," ucap Widia.
"Iya Wid."
Widia yang hendak keluar dari mobil dihentikan oleh Dimas.
"Widia, tunggu dulu..."
"Ada apa kak?."
"Tolong diterima ya Wid." Dimas memberikan uang kepada Widia.
"Kenapa kakak kasi uang ke Widia?."
"Intan udah cerita semuanya ke aku. Tolong diterima ya."
"Makasi ya kak, tapi Widia nggak bisa terima uang ini. Widia udah ikhlas kak. Setelah keluar dari sekolah, Widia akan kembali ke kota X."
Dimas menatap Widia dengan tatapan sedih. "Tapi kita nggak bisa ketemu lagi..."
"Kalo udah takdir, kita pasti ketemu lagi kak," ucap Widia sambil tersenyum.
"Tapi..."
"Widia masuk dulu ya kak."
"Hmm... iya..."
Widia kemudian keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumahnya.
"Kenapa ya gue sedih bakal nggak bisa ketemu sama Widia?. Bahkan gue rela jual koleksi jam tangan gue demi bantu dia. Ternyata gue beneran suka sama Widia," pikir Dimas.
°
°
°
Jangan lupa like, komentar, dan ratenya ya kakak 🤗...
Maaf jika ada banyak kesalahan dalam novel ini, saya baru pertamakali membuat novel. Jadi mohon pemaklumannya kakak 😊...
Terima kasih 🙏💕...