Choco

Choco
Kecelakaan



Dika pun segera menuju rumah sakit. Senyuman terus terukir di wajahnya. Ia merasa sangat senang, kini perasaannya pun lebih tenang. Walaupun saat ini Dimas belum sadar, tapi setidaknya kondisi Dimas mengalami sedikit perkembangan.


Tiba-tiba Dika memperlambat laju mobilnya. Pandangan Dika tertuju pada seseorang yang sedang duduk di pinggir jalan. Pakaian orang tersebut terlihat sangat lusuh. Beberapa orang yang lewat di depannya memberi uang pada orang tersebut. Dika memperhatikan orang tersebut karena wajah orang tersebut sangat mirip dengan Amel (Saudara tiri Dika).


Dika pun turun dari mobilnya, ia menutup pintu mobilnya dan hendak menghampiri orang tersebut. Namun tiba-tiba langkah Dika terhenti karena bajunya yang tersangkut di pintu mobil.


"Ya ampun, ada-ada aja. Tumben-tumbenan pake nyangkut segala," gumam Dika.


Dika pun segera membuka pintu mobil lagi dan ia melepaskan bajunya. Dika kemudian langsung menghampiri orang tersebut. Benar saja, orang tersebut tak lain adalah Amel.


"Amel..." ucap Dika.


Seketika mata Amel membesar saat melihat Dika.


"Kak Dika!..." batin Amel.


Karena merasa malu, Amel pun langsung berlari meninggalkan Dika. Tak tinggal diam, Dika pun langsung mengejar Amel. Usaha Dika tak sia-sia, ia akhirnya berhasil menghentikan Amel.


"Lo kenapa bisa ada di sini? Lo kenapa bisa kayak gini?" tanya Dika.


"Lo seneng kan sekarang lihat gue kayak gini?! Puas lo!" bentak Amel.


Dika menggelengkan kepalanya. Matanya pun memperlihatkan kesedihan. Ia merasa turut perihatin dengan kondisi Amel saat ini. "Nggak, lo salah, gue samasekali nggak seneng lihat lo kayak gini."


"Keadaan gue seperti ini gara-gara lo sama keluarga lo! Kalian udah buat hidup gue hancur! Gara-gara kalian mama jadi masuk penjara dan papa jadi ninggalin gue."


"Tapi itu memang salah Bu Yuni dan Paman Dion..." Dika tetap berbicara dengan lembut pada Amel walaupun Amel sudah mencaci makinya. Dika dapat mengerti dengan apa yang dirasakan oleh Amel saat ini karena ia juga pernah mengalami fase terendah dalam hidupnya.


"Lo bilang salah mama gue?! Gue sama mama cuma bantu Papa Dion. Lo jahat Dika! Keluarga lo jahat! Kalian hidup enak sementara gue menderita di jalanan. Kalian nggak bertanggung jawab!"


"Bukannya papa gue selama ini selalu kirim uang sama lo? Dan gue rasa uang itu lebih dari cukup. Tapi kenapa lo bisa seperti ini?"


"Semua uang itu diambil sama Papa Dion. Dan sekarang dia udah pergi entah kemana. Papa udah nggak perduli lagi sama gue, dia udah ninggalin gue sama mama."


"Jadi Paman Dion yang mengambil semua uang itu. Gue minta maaf, gue, Dimas ataupun papa benar-benar nggak tau soal itu."


"Kalian semua sama aja! Gara-gara kalian hidup gue jadi hancur. Papa Dion udah ninggalin gue, mama masuk penjara, dan gue sekarang sendirian. Lo jahat Dika!" ucap Amel sembari memukul-mukul lengan Dika. Amel pun menangis karena mengingat keadaannya saat ini.


Dika pun memegang tangan Amel. Dika memegang tangan Amel bukan karena ia ingin mencegah Amel memukuli lengannya, melainkan karena ia melihat luka sayatan di tangan Amel. Luka Amel mengeluarkan darah karena ia memaksakan tangannya untuk memukul Dika.


"Tangan lo kenapa?" tanya Dika.


Amel tidak berkata sepatah kata pun, ia hanya menangis. Sebenarnya tangan Amel terluka karena disayat oleh preman akibat ia tidak mau menyerahkan uangnya.


Dika kemudian memeluk Amel yang tengah menangis. "Amel.. jangan nangis lagi, sekarang lo aman. Mulai sekarang lo ikut sama gue aja, kita tinggal bareng papa dan Dimas. Gue juga akan minta papa buat cabut tuntutannya sama Bu Yuni. Biar bagaimanapun kita adalah keluarga. Lo udah seperti adik gue sendiri... Maafin gue, gara-gara gue lo jadi menderita. Maafin gue Mel, maafin gue..." ucap Dika sembari mengusap kepala Amel.


"Kak Dika..." ucap Amel sembari menatap wajah Dika. Amel merasa tidak percaya dengan kata-kata yang baru saja ia dengar. Ia tidak menyangka jika Dika akan mengatakan hal tersebut dan berbicara dengan nada selembut itu padanya. Dika pun juga menatap Amel, terlihat ketulusan dari sorot mata Dika. Dika kemudian tersenyum pada Amel. Seketika air mata Amel langsung menetes karena melihat ketulusan dari Dika.


"Kak Dika nggak perlu minta maaf..."


"Kak Dika masih mau maafin gue setelah semua yang terjadi. Bahkan dia samasekali nggak marah setelah gue pukul dan bentak dia. Dia bisa sesabar ini menghadapi gue. Sementara gue yang memang benar-benar salah aja nggak mau mengakui kesalahan gue sendiri. Gue benar-benar nggak sanggup menghadapi Kak Dika, gue terlalu malu..." batin Amel.


"Ayo, ikut gue..." ucap Dika sembari menarik tangan Amel.


Amel tetap diam di tempat, ia menolak untuk ikut dengan Dika. "Nggak, maafin gue..."


Amel langsung berlari meninggalkan Dika dan Dika pun langsung mengejar Amel. Amel terus saja berlari walaupun sebenarnya ia sudah merasa lelah.


"Amel!..." teriak Dika.


Tin.. tin.. tinn...


Tiba-tiba Dika mendorong Amel hingga terjatuh.


Ketika Amel memalingkan wajahnya ia sudah melihat Dika tergeletak bersimbah darah di tengah jalan raya karena ditabrak oleh mobil. Kejadian tersebut terjadi begitu cepat. Mobil yang menabrak Dika pun sudah melaju dengan kencang meninggalkan tempat tersebut.


"KAK DIKAA!..." teriak Amel. Seketika air matanya pun keluar dan ia menangis histeris. "Aaa aa a... Haa.. aa..."


Amel menyaksikan sendiri Dika yang kini tengah tergeletak di jalan raya. Darah segar pun berada di mana-mana. Badan Dika kejang-kejang dan seluruh tubuhnya dipenuhi oleh darah. Tubuh Dika bengkok, rasanya tulang Dika sudah banyak yang patah. Jantung Amel berdegup dengan kencang, tangan dan kakinya gemetar, nafasnya pun naik turun tak beraturan.


Seketika lalu lintas menjadi sangat macet. Banyak orang yang mengerumuni Dika, salah satu dari mereka segera menelepon ambulan, namun tak satu pun dari mereka yang berani mengevakuasi Dika. Banyak diantara mereka yang menangis dan bahkan ada yang sampai pingsan.


Dengan kakinya yang bergemetar Amel berjalan menghampiri Dika. Ia kemudian bersimpuh di samping Dika. Tangannya yang bergemetar memegang kepala Dika yang masih kejang-kejang.


"Haaa.. Kak Dika.. Kak Dikaa.. haa.. aa... Kakak..."


Tangisan Amel semakin pecah, sedikitpun ia tidak membuka matanya karena ia tidak berani melihat wajah Dika. Wajah Dika hampir sudah tidak bisa dikenali karena nyaris seluruh wajahnya dipenuhi dengan darah. Mulut Dika terbuka karena tulang rahangnya sudah patah. Matanya pun hanya terbuka sedikit, antara sadar dan tidak sadar.


Lama kelamaan semakin banyak orang yang berdatangan, keadaan sangat berisik dam ramai. Amel memperhatikan sekelilingnya. Beberapa orang mencoba memfoto kejadian tersebut. Amel yang melihat hal tersebut pun memarahi orang-orang yang berusaha mengambil gambar Dika.


"Jangan foto kakak saya! Siapa yang suruh kalian foto?! Jangan berani-berani foto kakak saya! Berhenti! Berhenti!... Jangan foto kakak sayaa!... Haaa.. haa.. aa... Arrghhh..." teriak Amel. Teriakan Amel begitu kencang sampai-sampai urat di lehernya terlihat. Amel pun menangis sejadi-jadinya.


Beberapa orang pun berhenti mengambil gambar. Namun ada beberapa dari mereka yang benar-benar tidak punya hati, mereka masih saja mengambil gambar Dika.


Tiba-tiba Dika berhenti kejang-kejang, badannya terkulai lemas, matanya pun sudah tertutup sepenuhnya. Amel yang melihat hal tersebut langsung berteriak dan menangis dengan sangat histeris.


"Kak Dikaaa.. aa... Kak Dika.. Bangun kak.. haa.. aa..."


Dengan tangannya yang bergemetar Amel memeluk Dika agar orang-orang tidak dapat mengambil fotonya. Amel dapat merasakan tubuh Dika dengan beberapa tulangnya yang telah patah. Kini pakaian Amel dipenuhi oleh darah Dika. Amel pun tak kuasa menahan tangisannya. "Haa.. Kak Dikaa... Kak Dikaa... Kak Dikaa.. aa..." Bibirnya yang bergemetar hanya mengucapkan kata tersebut terus menerus.


Alam pun nampaknya juga ikut sedih akan kejadian tersebut. Langit yang mendung pun akhirnya menurunkan hujannya.


Beruntung jarak rumah sakit terdekat tidak jauh dari lokasi kejadian, sekitar 5 menit kemudian ambulan pun akhirnya datang dan Dika langsung dilarikan ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Dika langsung dibawa ke UGD. Sampai saat ini Amel masih menangis dengan histeris, tangan dan kakinya pun masih bergemetar.


"Kak Dika.. Kak Dikaa.. aa.. Kak Dikaa..." ucap Amel ditengah-tengah tangisnya.


Amel masih sangat syok akan kejadian tersebut, ia tiba-tiba pingsan. Orang-orang yang berada di sekitar sana pun segera membantu Amel.


...°...


...°...


...----------------...


...BERSAMBUNG...


...----------------...


...°...


...°...


...°...


...Sambil menunggu cerita ini update, yuk mampir ke cerita author yang lainnya yang berjudul "Berbeda"...


...Jangan lupa dijadiin fav yaaa🤭......


...Jangan lupa like, komentar, vote, dan ratenya ya agar author jadi lebih semangat 🤗......


...Terima kasih 🙏💕......