Choco

Choco
Pertandingan



Setiap hari Restu berlatih dengan sangat giat, hingga tak terasa tibalah di hari perlombaan.


Sekarang Restu sudah berada di lapangan untuk melaksanakan pertandingan lomba. Di bangku penonton terlihat Intan, Widia, Dika, dan Aldi yang sedang menonton pertandingan sembari menyemangati Restu.


Dengan mudah Restu berhasil mengalahkan lawannya. Singkat cerita Restu berhasil mencapai final. Namun tak seperti pertandingan sebelumnya yang dengan mudah bisa ia menangkan, pertandingan kali ini berlangsung dengan sangat sengit. Babak pertama dimenangkan oleh Restu sementara babak kedua dimenangkan oleh lawannya.


Kini pertandingan babak ketiga sedang berlangsung. Restu sudah mendapatkan 19 skor sementara lawannya mendapat 20 skor.


"Semangat Res! Lo pasti bisaa!" teriak Dika.


"Ayo kak Restuu..." teriak Intan.


Intan, Widia, Dika, dan Aldi pun terus menyemangati Restu.


Keringat pun sudah membasahi baju Restu, ia menusap keringat di wajahnya menggunakan tangan.


"Gue pasti bisa! Gue harus dapetin mendali itu, gue akan tunjukkin sama papa dan mama," ucap Restu dalam hati.


Restu pun melakukan servisnya. Serangan dan balasan pun ia lakukan.


Pok...


Lawan dari Restu berhasil mendapatkan skor lagi.


"Ah!" Secara spontan Restu memegang kepalanya.


"Sial*n!" ucap Dika.


"Aduh!" ucap Aldi.


"Yah..." ucap Widia dan Intan.


"Yes!" ucap pemain lawan sembari mengepalkan tangannya.


Sekarang skor pun menjadi 21-19. Pertandingan akhirnya dimenangkan oleh lawan.


Di akhir pertandingan, Restu dan lawannya saling bersalaman.


Lawan dari Restu pun melakukan selebrasi bersama pendukungnya.


Intan, Widia, Dika dan Aldi segera menghampiri Restu. Dika memeluk Restu kemudian menepuk pundaknya.


"Lo hebat, lo udah berusaha. Jangan nyerah, kejar terus cita-cita lo," ucap Dika.


"Lawan lo tadi cuma beruntung aja. Gue yakin, tahun depan lo akan menang," ucap Aldi.


Restu menganggukkan kepalanya. "Iya.."


"Iya kalo gue masih dikasi main bulutangkis, tapi gue nggak yakin," ucap Restu dalam hati.


Terlihat mata Restu berkaca-kaca, sebelum air matanya keluar, Restu langsung mengusap matanya menggunakan lengan baju.


Intan pun langsung memeluk Restu sembari mengusap pundaknya. "Udah.. Intan yakin, suatu saat nanti Kak Restu pasti bisa menang."


"Intan yang biasanya pemalu aja sampai meluk Kak Restu. Dari raut wajahnya, gue bisa lihat kalau dia juga ikut sedih, dia benar-benar sayang sama Kak Restu." batin Widia.


"Iya kak, tahun depan Kak Restu pasti bisa menang," ucap Widia.


Restu hanya diam sembari memeluk Intan, ia menunduk dan memejamkan matanya. Restu tidak tau bagaimana cara merespon ucapan teman-temannya, ia sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi karena ia yakin ini merupakan pertandingan terakhir yang ia ikuti, sebab orang tuanya tidak akan mengizinkannya bermain bulutangkis lagi. Tentu saja teman-temannya tidak ada yang mengetahui hal tersebut kecuali Dika, bahkan Intan yang merupakan pacarnya pun juga tidak mengetahui hal tersebut.


Ketika Restu membuka matanya dan mengarahkan pandangannya ke arah depan, alangkah terkejut Restu melihat papa dan mamanya juga berada di sana. Restu pun melepaskan pelukannya dari Intan. Restu hanya terpaku melihat kehadiran papa dan mamanya yang tak pernah ia sangka akan berada di sana.


"Papa? mama? Kenapa mereka bisa ada di sini?..." batin Restu.


Ternyata Pak Riko dan Bu Ayu memang berada disana sejak awal pertandingan, mereka pun menyaksikan sendiri betapa kerasnya perjuangan Restu.


Restu pun berjalan mengampiri kedua orang tuanya.


"Mereka siapa?" tanya Widia kepada Intan.


"Itu papa sama mamanya Kak Restu," jawab Intan.


Karena Restu tidak sanggup menatap orang tuanya, ia pun menundukkan kepalanya. "Restu kalah..."


"Setelah ini papa dan mama pasti marahin gue," batin Restu.


Namun di luar dugaan, Pak Riko malah tiba-tiba memeluk Restu. Sementara Bu Ayu mengusap kepala Restu.


"Nggak, kamu menang, menurut papa kamu menang," ucap Pak Riko.


"Mama sama papa sudah lihat perjuangan kamu. Kami bangga sama kamu nak," ucap Bu Ayu yang diakhiri dengan senyuman.


Ekspresi sedih Restu pun kini berubah menjadi senyuman. "Jadi papa sama mama?..."


"Iya, kami mengizinkan kamu bermain bulutangkis," ucap Pak Riko yang diakhiri dengan senyuman.


"Papa sama mama serius kan?" ucap Restu.


"Iya," balas Pak Riko dan Bu Ayu.


"Tapi Restu minta maaf, Restu nggak bisa dapat juara satu."


"Walaupun kamu saat ini gagal, ataupun nanti kamu berkali-kali gagal melakukan suatu hal, tetap lakukan itu jika kamu benar-benar yakin. Jangan menyerah, kejar cita-cita kamu," ucap Pak Riko.


Restu menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. "Iya, makasi pa, ma..."


"Tapi seharusnya papa sama mama yang minta maaf. Selama ini papa sama mama terlalu memaksakan kamu," ucap Pak Riko.


"Mama sama papa salah, kami tidak pernah menanyakan apa yang kamu inginkan," ucap Bu Ayu.


"Nggak, papa sama mama nggak salah. Restu ngerti, papa sama mama melakukan semua itu untuk kebaikan Restu."


"Terima kasih pengertiannya sayang..." ucap Bu Ayu.


"Papa tau kamu anak baik," ucap Pak Riko.


"Tapi Restu mau minta satu hal lagi," ucap Restu.


"Apa itu?" tanya Bu Ayu.


"Papa sama mama jangan larang Restu berteman sama Dika. Dika itu sahabat Restu, dia orang baik," ucap Restu.


Pak Riko dan Bu Ayu tersenyum kepada Restu. Setelah mereka melihat sediri Dika memeluk Restu, mereka pun sudah mengerti betapa eratnya persahabatan diantara anaknya dan Dika.


"Iya, mama tidak akan larang kamu berteman dengan Dika lagi," ucap Bu Ayu.


"Kamu benar, Dika itu anak baik," ucap Pak Riko.


Restu pun tersenyum senang mendengar ucapan Pak Riko dan Bu Ayu. "Makasi pa, ma, makasi banyak..."


"Iya," balas Pak Riko dan Bu Ayu.


Pak Riko, Bu Ayu, dan Restu pun menghampiri Intan dan teman-teman Restu yang lainnya.


"Om.. tante..." ucap Intan, Dika, Widia, dan Aldi. Mereka pun menganggukkan kepalanya tanda memberikan salam.


Pak Riko dan Bu Ayu pun menganggukkan kepalanya dan tersenyum kepada mereka.


"Om sama tante orang tuanya Restu ya?" tanya Dika.


"Iya..." ucap Pak Riko dan Bu Ayu sembari tersenyum.


"Perkenalkan, saya Dika, teman sebangkunya Restu," ucap Dika.


"Ooh.. jadi kamu Dika sahabatnya Restu. Akhirnya kita bertemu juga," ucap Pak Riko.


"Restu cerita banyak tentang kamu. Ternyata kamu aslinya ganteng ya, udah itu sopan lagi..." ucap Bu Ayu.


"Ah, tente bisa aja..." ucap Dika sembari tersenyum.


"Terima kasih ya, kalian semua sudah mendukung Restu," ucap Pak Riko.


"Iya sama-sama om..." ucap Intan, Dika, Widia, dan Aldi.


"Tadi om sama tante pasti lihat gue pas meluk Kak Restu. Ya ampun.. malu bangett..." batin Intan. Intan pun merasa malu karena memikirkan hal tersebut, sampai-sampai wajahnya memerah.


Bu Ayu menatap Intan sembari tersenyum. "Kamu tidak perlu malu-malu seperti itu. Kalau cuma pelukan saja tidak apa-apa. Tante mengerti, tante juga pernah muda," ucap Bu Ayu kepada Intan.


Bu Ayu dan Pak Riko memang mengetahui hubungan diantara Restu dan Intan karena Restu pernah beberapa kali mengajak Intan ke rumahnya. Dan Bu Ayu dan Pak Riko sudah merestui hubungan mereka karena Intan merupakan anak yang baik dan ramah, terlebih lagi Intan juga merupakan anak yang pandai.


Intan hanya bisa tersenyum malu. "Tante bisa aja..."


Restu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ah, mama, apa-apaan sih..."


Semua pun tertawa melihat hal tersebut.


"Sudahlah ma, jangan goda mereka," ucap Pak Riko kepada Bu Ayu.


Ketika penerimaan mendali, terlihat wajah Restu sangat senang walaupun ia mendapatkan juara 2. Restu merasa sangat bahagia karena orang tuanya kini sudah merestui cita-citanya, terlebih lagi juga ada teman-temannya yang selalu mendukungnya. Mereka pun berfoto bersama dan merayakan kemenangan Restu.


......................


...BERSAMBUNG...


......................


...°...


...°...


...°...


Sambil menunggu cerita ini update, yuk mampir ke cerita author yang lainnya judulnya "Berbeda"


Jangan lupa like, komentar, vote, dan ratenya ya, agar author jadi lebih semangat 🤗...


1 like dan komentar singkat dari para pembaca sangat berharga bagi Author 😊...


Terima kasih 🙏💕...