
Akhirnya Pak Arthama, Dika, dan Amel sudah sampai di rumah. Terlihat para pembantu tengah sibuk membereskan barang-barang untuk dibawa kembali ke kota X. Pak Arthama dan Amel pun ikut membantu membereskan barang-barang. Sementara itu Dika memilih untuk berkeliling melihat-lihat rumah yang sudah berbulan-bulan tidak ia lihat.
"Udah lama banget gue nggak ke rumah ini. Tapi sekarang gue harus kembali pulang ke kota X," batin Dika.
Dika kemudian memilih untuk masuk ke kamar Dimas. Terlihat ada seorang pembantu yang tengah membereskan kamar tersebut.
Tiba-tiba ada sebuah amplop yang terjatuh tepat di depan Dika. Dika memperhatikan amplop tersebut. Ketika Dika melihat namanya tertulis di amplop tersebut, seketika ia teringat dengan amplop tersebut. Amplop tersebut berisi surat yang ditulis oleh Dimas untuk Dika. Dika pun sudah pernah membaca sedikit isi dari surat tersebut sewaktu ia ingin meminjam pakaian Dimas.
Pembantu itu pun hendak mengambil amplop tersebut namun Dika langsung meminta amplop tersebut. Dika kemudian langsung pergi, ia mengambil korek lalu ia menuju halaman belakang.
Dika memperhatikan amplop tersebut. "Buat apa sih lo tulis omong kosong kayak gini?... Lo pasti sembuh Dimas. Gue nggak perlu surat ini," batin Dika.
Dika pun menyalakan korek api dan ia hendak membakar amplop tersebut.
"Kak Dika..." ucap Amel sembari berjalan menghampiri Dika.
Dika pun mengurungkan niatnya untuk membakar amplop tersebut.
"Kak Dika lagi ngapain?" tanya Amel. Amel memperhatikan amplop yang dipegang oleh Dika.
"Gue mau bakar amplop ini."
"Kenapa dibakar? Emang apa isi di dalamnya?"
"Gue nemuin surat ini di lemari Dimas. Dia buat surat ini untuk gue. Gue baru baca sedikit dari isi surat ini, surat ini isinya pesan Dimas jika dia meninggal. Gue nggak perlu surat ini, Dimas pasti sembuh," ucap Dika.
Amel langsung mengambil surat tersebut dari tangan Dika. "Jangan dibakar kak..."
"Buat apa juga? Dimas akan sembuh, surat itu nggak ada gunanya."
Sesaat Amel terdiam, ia berusaha mencari alasan agar Dika tidak membakar surat tersebut.
"Tapi surat ini dibuat langsung sama Kak Dimas. Nggak baik kalau dibakar, bagaimanapun kita harus menghargainya. Biar Amel simpan ya kak?" ucap Amel.
"Hmm.. iya..." balas Dika.
Setelah selesai berkemas-kemas, Pak Arthama, Dika, dan Amel pun kembali ke kota X. Sesampainya di rumah mereka memilih untuk mengisi perut karena sejak tadi mereka belum makan.
"Pa, setelah makan kita langsung jenguk Dimas," ucap Dika.
"Iya, tapi papa mau mandi sebentar. Setelah itu kita langsung jenguk Dimas."
"Iya pa..." balas Dika.
"Tapi sebelum itu papa akan mengatakan hal yang sebenarnya sama kamu. Papa harap kamu bisa menerima semua ini," batin Pak Arthama.
Setelah selesai makan, Dika memilih untuk berkeliling rumah. Dika pun masuk ke kamar Dimas. Ia memperhatikan sekeliling kamar yang terlihat sangat rapi. Dika kemudian mengambil foto di atas meja. Dika memperhatikan foto tersebut, foto tersebut adalah foto dirinya dan Dimas sewaktu masih duduk di kelas 1 SMP. Karena Dimas dan Dika sewaktu kecil kurang akur mereka selalu menolak jika berfoto bersama dan foto tersebut merupakan foto mereka satu-satunya.
Dika memperhatikan foto tersebut sambil tersenyum karena ia teringat akan kejadian dibalik foto tersebut.
......................
...Kilas Balik...
......................
Saat itu Pak Arthama, Dimas, dan Dika tengah makan malam bersama.
"Dimas, Dika... Lusa papa akan ke Jepang. Kalian diam di rumah sama bibi, jangan nakal," ucap Pak Arthama.
"Dimas mau ikut pa, boleh kan? Mumpung sekarang masih libur semester," ucap Dimas.
"Dika juga mau ikut pa," ucap Dika.
"Lo ikut-ikutan aja," ucap Dimas.
"Yee terserah gue dong," balas Dika.
"Nggak bisa, papa ke Jepang itu kerja, bukan mau liburan. Lagipula papa di sana cuma 3 hari aja."
"Yah papa. Masak nggak boleh sih?..." ucap Dimas kecewa.
"Boleh lah pa, sekali-sekali Dika mau ikut. Dika janji, Dika nggak akan ganggu papa."
"Kalian itu... Kalian tidak boleh ikut. Nanti kalau papa ada waktu, papa akan ajak kalian liburan."
"Tapi..." ucap Dimas.
"Sudah, tidak pakai tapi-tapian. Habiskan makanan kamu."
Keesokan harinya Dimas dan Dika masih terus meminta untuk ikut ke Jepang bersama papanya. Namun Pak Arthama tetap kekeh dengan pendiriannya tidak mau mengajak Dimas dan Dika.
Malam harinya Dika terbangun dan pergi ke toilet. Karena ia lapar, ia langsung menuju dapur untuk makan. Ketika melewati kamar Dimas, ia mendapati pintu dan jendela kamar Dimas masih terbuka.
"Dasar si Dimas, tidur tapi nggak tutup pintu sama jendela. Kalau kayak gini kan jadi masuk angin," batin Dika.
Dika kemudian masuk menutup jendela kamar. Ternyata televisi pun belum dimatikan oleh Dimas. Dika kemudian mematikan televisi dan lampu, setelah itu ia langsung keluar dari kamar Dimas. Walaupun Dika sering bertengkar dengan Dimas, akan tetapi diam-diam dia selalu perduli pada Dimas.
Dika pun kembali menuju dapur, ia mengambil roti dan membuat segelas susu. Pak Arthama yang kebetulan lewat pun melihat Dika. Pak Arthama kemudian menghampiri Dika.
"Kamu ngapain?" tanya Pak Arthama.
"Makan pa," jawab Dika.
"Kenapa jam segini belum tidur? Apa ada yang kamu pikirkan?"
"Hehe.. kebetulan banget. Bilang aja kepikiran mau ke Jepang, siapa tau di ajak wkwkwk..." batin Dika.
"Hmm.. Dika pengen banget ikut papa besok. Sampai kebawa mimpi, terus nggak bisa tidur..." ucap Dika dengan nada lesu.
Pak Arthama mengusap kepala Dika. "Ya sudah, sekarang kamu tidur. Jangan begadang, nanti sakit... Besok kamu boleh ikut ke Jepang."
"Hah?! Gue nggak salah denger kan? Padahal kemarin udah mati-matian bujuk papa tapi nggak dikasi. Tapi sekarang papa langsung setuju," batin Dika.
Senyuman senang pun terukir di wajah Dika. "Makasi ya pa. Ajak Dimas juga pa."
"Iya, sekarang kamu cepat habiskan makanan kamu, setelah itu langsung tidur. Besok sore kita langsung berangkat."
"Siapp pa."
Keesokan paginya Dika langsung membangunkan Dimas dan memberitahu Dimas jika mereka diizinkan untuk ikut je Jepang.
"Dimas bangun, Dimas, Mas Dim, Dimas..." ucap Dika sambil menggoyang-goyangkan bahu Dimas yang masih tertidur.
"Kita diajak ke Jepang sama papa."
Seketika Dimas langsung terbangun dari tidurnya. Wajahnya pun menunjukkan senyuman senang. "Hah?! Beneran?"
"Iya..."
Mereka berdua pun segera menyiapkan barang-barang mereka untuk pergi ke Jepang.
Sementara itu Pak Arthama sedang duduk di meja makan. Dia belum memulai sarapannya karena Dimas dan Dika belum juga turun untuk makan.
"Dimas... Dika... Dimas... Dika..." teriak Pak Arthama.
Karena Dimas dan Dika belum juga datang, Pak Arthama kemudian menyuruh pembantunya untuk memanggil Dimas dan Dika. Namun tetap saja Dimas dan Dika tidak kunjung datang. Akhirnya Pak Arthama sendiri lah yang langsung mencari mereka.
"Dimas... Dika..." teriak Pak Arthama sembari berjalan menuju kamar Dimas dan Dika.
Dimas pun keluar dari kamarnya dan menghampiri Pak Arthama.
"Ada apa pa?" tanya Dimas.
"Kamu kenapa nggak sarapan? Cepetan turun."
"Tapi Dimas masih siapin barang-barang Dimas buat ke Jepang."
"Ke Jepang kan nanti sore. Kamu masih punya banyak waktu buat mempersiapkan barang-barang kamu. Sekarang kamu turun, sarapan dulu."
"Iya pa, Dimas turun sekarang."
"Panggil Dika juga, papa tunggu di bawah."
"Iya pa," balas Dimas.
Pak Arthama pun kembali menuju meja makan. Baru saja Pak Arthama duduk di meja makan, ia malah mendengar teriakkan Dimas dan Dika. Pak Arthama pun kembali menemui mereka. Terlihat Dimas dan Dika tengah memperebutkan sebuah jaket. Dimas dan Dika sangat menyukai jaket tersebut, namun Pak Arthama hanya membeli 1 jaket karena jaket tersebut diproduksi secara terbatas.
"Gue juga mau pakai jaket ini!" ucap Dika.
"Papa kan beliin buat kita berdua, jadi gue yang pake!" ucap Dimas.
"Kalian malah rebutan jaket di sini! Cepet turun makan!"
Dimas dan Dika sedikit pun tidak menghiraukan perkataan Pak Arthama, mereka malah tetap sibuk memperebutkan jaket tersebut.
"Berhenti! Dimas! Dika!"
Breettt...
Akhirnya jaket tersebut robek karena ditarik oleh Dimas dan Dika.
"Dika!" ucap Dimas.
"Dimas!" ucap Dika.
"Nah kan! udah papa bilangin."
"Ini semua salah lo!" ucap Dimas.
"Ini semua gara-gara lo!" ucap Dika.
Terjadilah aksi adu jotos diantara Dimas dan Dika. Pak Arthama pun segera melerai perkelahian tersebut. Pak Arthama langsung memegang Dimas dan Dika.
"Sudah! Berhenti!" bentak Pak Arthama.
Dimas dan Dika pun menghentikan perkelahian tersebut.
"Udah papa ajak ke Jepang tapi kalian malah ribut masalah baju. Kalau begitu kalian pakai baju yang papa belikan sewaktu tahun baru kemarin aja."
"Hah?! Baju kembaran itu?" ucap Dimas.
"Ogah ah pa," ucap Dika.
"Kayak anak kecil aja pakai baju kembaran," ucap Dimas.
"Papa nggak mau tau. Sekarang pokoknya kalian turun untuk sarapan. Kalau kalian nggak mau pakai pakaian itu, nggak apa-apa, nggak masalah. Tapi papa juga nggak akan mau ajak kalian." Pak Arthama beranjak meninggalkan Dimas dan Dika.
"Tapi pa..." ucap Dika.
"Keputusan papa sudah tidak bisa dirubah," ucap Pak Arthama sambil tetap berjalan meninggalkan Dimas dan Dika.
Dimas dan Dika pun akhirnya mau memakai pakaian tersebut. Tak lupa Pak Arthama pun mengabadikan momen langka tersebut.
"Kalian berdua, kenapa jaraknya jauh begitu? Kayak orang musuhan aja. Deketan dikit, biar bagus di foto," ucap Pak Arthama.
Demi pergi ke Jepang, Dimas dan Dika hanya bisa pasrah menuruti perkataan Pak Arthama.
"Nah, ini baru namanya kembar..." ucap Pak Arthama.
......................
...°...
...°...
...----------------...
...BERSAMBUNG...
...----------------...
...°...
...°...
...°...
...Sambil menunggu cerita ini update, yuk mampir ke cerita author yang lainnya yang berjudul "Berbeda"...
...Jangan lupa dijadiin fav yaaa🤭......
...Jangan lupa like, komentar, vote, dan ratenya ya agar author jadi lebih semangat 🤗......
...Terima kasih 🙏💕......