Choco

Choco
Kangen



Seperti biasa di pagi hari perawat membawakan Dika obat dan makanan.


"Selamat pagi..." ucap perawat.


"Pagi..."


"Ini obatnya, diminum setelah makan," ucap perawat.


"Suster, apakah saya boleh memakai kursi roda? Saya mau jalan-jalan di sekitar rumah sakit." ucap Dika.


"Tentu saja boleh, sebentar saya ambilkan kursi roda."


"Terima kasih sus," ucap Dika.


"Iya, saya permisi dulu, mari..."Suster pun pergi meninggalkan ruangan.


Beberapa saat kemudian Pak Arthama pun datang.


"Kamu sudah sarapan?" tanya Pak Arthama pada Dika.


"Udah pa, Dika juga udah minum obat," jawab Dika.


"Baguslah kalau begitu," ucap Pak Arthama.


"Gimana keadaan Dimas?" tanya Dika.


Pak Arthama memalingkan wajahnya dari Dika. "Dia masih di ruang ICU..."


"Lagi-lagi Om Arthama bohong sama Dika," batin Bryan.


"Dika pengen lihat Dimas," ucap Dika.


"Kondisi kamu masih belum pulih sepenuhnya. Nanti kalau kondisi kamu sudah pulih, kamu boleh lihat Dimas," ucap Pak Arthama.


Pandangan Pak Arthama teralihkan pada Bryan yang juga menatapnya. Mereka berdua saling bertatapan. Pak Arthama dapat mengerti maksud dari pandangan Bryan yang mengartikan bahwa Bryan meminta Pak Arthama seharusnya berkata jujur pada Dika. Pak Arthama pun menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.


Tak berselang lama perawat datang dengan membawakan kursi roda. Dika kemudian dipindahkan duduk di kursi roda.


"Lo mau jalan-jalan kemana? Biar gue anterin," ucap Widia.


"Gue mau ketemu sama Dimas, anterin gue ke ruang ICU," ucap Dika.


Widia pun hanya bisa diam, ia tidak tau harus bagaimana merespon ucapan Dika.


"Kondisi kamu belum pulih Dika," ucap Pak Arthama.


"Tapi Dika mau ketemu Dimas sekarang."


"Dengerin papa, kamu fokus dulu sama kesehatan kamu dulu. Nanti kita jenguk Dimas."


"Dika nggak apa-apa pa, buktinya sekarang Dika baik-baik aja. Dika mau ketemu sama Dimas sekarang."


"Tapi Dimas juga belum bisa dijenguk."


"Kalau gitu Dika bisa kan lihat Dimas dari luar jendela kan?"


"Tetap nggak bisa," ucap Pak Arthama.


"Kenapa?..."


Sejenak keadaan menjadi hening, semua hanya terdiam. Pak Arthama pun sudah bingung mencari alasan apa lagi.


"Dika, sebenarnya Dimas..." ucap Bryan terpotong.


"Dimas sebenar dirawat di rumah sakit lain," lanjut Pak Arthama.


Bryan menghela nafasnya. "Sampai kapan om mau bohong sama Dika?..." batin Bryan.


Dika pun merasa terkejut mendengar ucapan Pak Arthama. "Apa?! Kenapa papa selama ini nggak kasi tau Dika?"


"Papa yakin kalau papa beritahu kamu, kamu akan memaksa untuk menjenguk Dimas. Papa tidak mau kamu memaksakan diri, kondisi kamu belum pulih."


"Dika kecewa sama papa..."


"Maafkan papa, papa cuma mau yang terbaik buat kamu..."


"Tapi tetap saja seharusnya papa kasi tau Dika yang sebenarnya."


"Dika.. udah, om cuma mau yang terbaik buat lo..." ucap Widia.


"Iya kak, apapun yang papa lakukan, itu pasti demi kebaikan Kak Dika. Papa juga sangat sedih karena semua ini kak..." ucap Amel.


Emosi Dika akhirnya bisa mereda, ia pun merasa bersalah karena sudah marah kepada Pak Arthama. "Maafin Dika pa..."


"Nggak, kamu nggak perlu minta maaf," balas Pak Arthama.


"Terus Dimas dirawat di rumah sakit mana?" tanya Dika.


"Dimas dirawat di rumah sakit C."


"Sejak kapan?"


"Kurang lebih sekitar 1 setengah bulan yang lalu. Saat itu kamu masih koma."


"Selama ini Dimas terus berada di ruang ICU?"


"Iya..." ucap Pak Arthama dengan lemas.


"Kenapa papa nggak jagain Dimas aja? Papa seharusnya sekarang di sana temani Dimas..." ucap Dika.


"Lo nggak tau sekarang Dimas berada di mana. Kalau lo tau, gue yakin lo nggak akan mau minta papa lo buat pergi temani Dimas," ucap Restu dalam hati.


"Di sana sudah ada beberapa perawat dan dokter yang selalu siaga menjaga Dimas. Lagipula Dimas tidak bisa untuk ditemui... Nanti setelah kondisi kamu lebih baik, kita sama-sama kunjungi Dimas." ucap Pak Arthama.


"Iya pa... Dika khawatir banget sama Dimas. Dika nggak bisa membayangkan jika terjadi sesuatu sama dia..."


"Rasanya pasti sangat, sangat hancur, rasanya sakit sekali. Seperti separuh dari jiwa kita direnggut," ucap Pak Arthama.


Amel mengusap pundak Pak Arthama.


"Papa yang kuat..."


"Dimas pasti baik-baik aja pa," ucap Dika.


"Iya..." balas Pak Arthama.


Sudah terlalu banyak kebohongan yang diucapkan oleh Pak Arthama kepada Dika, ia pun sudah tidak kuat menatap wajah Dika. Pak Arthama kemudian memutuskan untuk pergi dan menenangkan dirinya.


"Papa mau pergi dulu, papa mau sarapan."


"Iya," balas Dika.


Pak Arthama kemudian beranjak pergi. Bryan pun juga ikut keluar dan menyusul Pak Arthama.


"Om..." ucap Bryan.


Pak Arthama pun menghentikan langkahnya.


"Seharusnya om jujur sama Dika. Nggak baik kalau kita berbohong seperti ini terus sama Dika. Semua ini sudah nggak bisa ditutup-tutupi lagi," ucap Bryan.


"Dika pasti sangat sedih jika mengetahui hal yang sebenarnya."


"Tapi Dika akan lebih sedih jika om tidak mengatakan yang sebenarnya. Om harus kasi tau dia sekarang. Jika om menutupi kematian Dimas lebih lama lagi, nanti jika dia tau hal yang sebenarnya, dia akan merasa sangat hancur, dia akan sangat kecewa sama om."


"Om pasti akan memberitahu dia jika waktunya sudah tepat. Kondisi dia saat ini masih belum stabil, om takut jika kondisinya semakin memburuk jika mengetahui hal yang sebenarnya. Om sangat mengenal Dika. Dia sangat, sangat menyayangi Dimas melebihi dirinya sendiri. Om tidak bisa membayangkan betapa hancurnya dia jika mengetahui Dimas sudah meninggal."


Bryan pun terdiam setelah mendengar ucapan Pak Arthama.


"Om pasti akan secepatnya memberitahu hal yang sebenarnya pada Dika. Tapi om minta untuk sementara ini kamu harus merahasiakannya dulu sama Dika."


"Baik om..." balas Bryan.


...****************...


Beberapa hari kemudian akhirnya Dika diperbolehkan untuk pulang. Kondisi Dika sudah membaik walaupun ia masih harus menggunakan kursi roda.


Pak Arthama dan Amel membereskan semua barang-barang yang akan mereka bawa pulang.


"Sekarang kita langsung jenguk Dimas ya pa," ucap Dika.


Pak Arthama hanya diam, ia tetap menyibukkan diri dengan membereskan barang-barang.


"Bagaimana cara papa mengatakan yang sebenarnya sama kamu?... Lebih baik aku beritahu Dika di rumah saja. Jika aku beritahu dia disini, nanti dia bisa mengamuk di sini," pikir Pak Arthama.


"Pa..." ucap Dika lagi.


"Hmm iya?" Pak Arthama bertanya seolah-olah tadi ia tidak mendengar ucapan Dika.


"Kita langsung jenguk Dimas."


"Kita terlalu banyak membawa barang-barang, kita harus ke rumah dulu. Kita bereskan barang-barang kita di rumah kita yang di sini dan kita kembali pulang ke kota X. Setelah itu baru kita mengunjungi Dimas."


Dika hanya terdiam dengan wajahnya yang menunjukkan ekspresi murung.


"Papa janji..." ucap Pak Arthama.


"Iya pa..." balas Dika.


"Gue kangen banget sama lo Dim. Gue nggak sabar pengen lihat wajah lo..." batin Dika.


...°...


...°...


...----------------...


...BERSAMBUNG...


...----------------...


...°...


...°...


...°...


...Sambil menunggu cerita ini update, yuk mampir ke cerita author yang lainnya yang berjudul "Berbeda"...


...Jangan lupa dijadiin fav yaaa🤭......


...Jangan lupa like, komentar, vote, dan ratenya ya agar author jadi lebih semangat 🤗......


...Terima kasih 🙏💕......