
Karena lelah, Dika dan Bryan pun memilih mengehentikan pergulatan mereka.
"Gila! capek juga," ucap Dika dengan nafas ngos-ngosan.
"Lagian lo sih, pake tidur di kamar gue," ucap Bryan juga dengan nafas ngos-ngosan.
"Gue kan nggak tau... Au ah, gue mau cari Widia," Dika pun berdiri dan beranjak pergi meninggalkan kamar Bryan.
"Pergi aja sana!" teriak Bryan.
"Capek banget... Tidur 10 menit lagi nggak apa-apa kali." Bryan kembali merebahkan tubuhnya dan melanjutkan tidurnya.
* * * * * * * *
Dika pun menemui Widia yang sedang asik bermain video game di kamarnya.
"Ini kamar siapa Nyet?" tanya Dika sembari memperhatikan kamar yang berantakan tersebut.
"Kamar gue lah," jawab Widia sambil tetap fokus bermain video game.
"Ya ampunn!... Berantakan banget."
"Gue dari dulu emang kayak gini, kamar gue nggak pernah rapi. Beda kayak kamar lo rapi banget, gue aja heran lihatnya."
"Gue juga heran lihat kamar lo yang kayak kapal pecah ini. Rasanya kandang bebek gue aja lebih rapi daripada kamar lo. Perasaan pas di rumah lo yang dulu, kamar lo gue lihat rapi kok."
"Hmm... waktu itu sangat, sangat, sangat kebetulan gue baru selesai beres-beres. Lagian dulu lo cuma pernah ke kamar gue sekali aja, mana tau lo. Ibuk nggak pernah kasi Bi Sri bersihin kamar gue, katanya gue harus belajar mandiri. Tapi jangan banding-bandingin kamar gue sama kandang bebek lo, gue nggak suka."
"Lah, emang bener kandang bebek gue lebih rapi. Bener kata ibuk, lo harus mandiri. Bangun! bersihin kamar lo!"
"Ih! paan sih! Lagi asik main juga."
"Bersihin nggak! Kalo nggak, gue cabut kabelnya."
"Eh, jangan! Lagi seru. Lo mau ikut main?" Widia menjulurkan stick game pada Dika.
Dika hanya diam memandangi stick game tersebut. Dika sebenarnya sangat suka bermain game, tapi disisi lain dia sudah berniat untuk membuat Widia mau membersihkan kamarnya.
"Udah... ambil ajaa..." Widia menaruh stick game di tangan Dika.
Dika langsung menaruh stick game tersebut. "Nggak, nggak! Gue nggak akan terpengaruh. Pokoknya lo harus bersihin kamar lo sekarang!"
"Yah, gue kan jadi hampir kalah. Lo sih!" Widia pun kembali bermain video game.
"Lo **** banget sih! Gitu aja nggak bisa. Sini!" Dika merampas stick game Widia.
"Tuh kan, baru gue yang main, langsung menang," ucap Dika.
"Siniin sticknya!" ucap Widia.
"Nggak boleh! Gue masih mau main. Lagi seru! nanti kalo lo yang main jadi kalah."
"Katanya nggak akan terpengaruhh..."
Beberapa saat kemudian Dika kembali memenangkan game. Begitu juga dengan game-game selanjutnya yang selalu berhasil dimenangkan oleh Dika.
"Yes! menang lagi," gumam Dika.
"Udah, kembaliin sticknya! Gue mau main."
"Nggak bisa, gue belum kalah! Bentar lagi gue mau masuk babak final."
"Kembaliin!..." Widia berusaha mengambil stick game tersebut namun Dika tetap kekeh mempertahankan stick game tersebut.
"Ya udah, iya. Gue akan kasi lo stick game ini plus gue kasi lo main di final, tapi dengan satu syarat."
"Apa?"
"Lo harus bersehin kamar lo, dan harus selesai sebelum gue masuk babak final."
"Nggak ah, masak lo ngasi gue waktu singkat banget."
"Ya udah, terserah lo. Kalo lo mau menang, lo harus bersihin kamar lo sekarang. Waktu akan terus berjalan, gue udah mau masuk babak final."
"Iya deh, iyaa..." Widia pun bergegas membersihkan kamarnya.
"He heh..." gumam Dika.
Dika sudah memasuki babak final, namun Widia belum juga selesai membersihkan kamarnya.
"Nyet..." ucap Dika pada Widia yang sedang sibuk membereskan buku-bukunya.
Widia pun segera menghampiri Dika. "Yah, udah masuk final. Kalah dong gue." Widia merebahkan badannya diatas sofa karena kelelahan.
"Nih..." Dika menaruh stick game di tangan Widia.
"Ini maksudnya apa?"
"Sana main."
"Tapi kan gue udah kalah."
"Dengan lo berusaha aja, itu udah cukup bagi gue. Lo main aja, biar gue yang lanjut beresin buku lo dan nyapu."
"Wah, bener?"
"Iyaa..."
"Makasiii..." Widia mencubit pipi Dika.
"Iya, iya, nggak usah pake cubit-cubit. Gue tau, gue emang yang terbaik," ucap Dika sambil tersenyum.
"Emang bener gue baik kan," ucap Dika sembari membereskan buku Widia.
"Iya, iyaa..."
Tidak sengaja Dika melihat buku gambar yang berisi kumpulan gambar-gambar yang dibuat oleh Widia. Gambar-gambar tersebut cukup banyak karena memang dari dulu Widia suka menggambar.
Seketika Dika merasa kaget ketika melihat salah satu gambar yang dibuat oleh Widia. "Wah, wah, apaan ni?! Mirip muka gue!" batin Dika. Dika pun tersenyum dan menahan tawa karena melihat gambar tersebut. Dika tidak menyangka Widia akan menggambar seperti itu tentang dirinya.
"Nyet... apaan ni?" tanya Dika.
"Apa? gue lagi asik main, bentar lagi gue menang, jangan ganggu gue!" ucap Widia yang sedang fokus bermain video game.
Dika menghampiri Widia dan menunjukkan gambar tersebut. "Ini apa? wkwkwk..."
Seketika mata Widia membersar karena kaget, ia tidak menyangka Dika bisa menemukan gambar tersebut. Widia yang merasa malu langsung merampas gambar tersebut dari Dika.
"Mamp*s! gue lupa sama gambar ini," ucap Widia dalam hati.
"Nggak nyangka gue, wkwkwkwk..."
"Iihh... Apaan sih!" Widia langsung memukul lengan Dika berkali-kali.
"Wkwkwk... wajahnya sampe merah gitu. Malu yaaa?... Wkwkwkk..."
"Dikaa!..." Widia langsung menelungkupkan wajahnya di atas lipatan tangan karena malu.
"Ngapain malu? gue suka. Gambar lo bagus, cuma bedanya lo lebih kelihatan feminim, gue lebih suka lo yang asli," ucap Dika.
"Gue godain Onyet ah, seneng banget rasanya jahilin dia. Itung-itung balas dendam, dia kan sering jahilin gue, wkwkwkwk..." batin Dika.
Dika mendekati Widia dan berbisik di telinganya. "Kalau lo suka, kita bisa lakuin sekarang..."
Dengan sepontan, Widia langsung memukul wajah Dika dengan keras. Pukulan tersebut sangat keras dan tepat mengenai hidung Dika hingga berdarah.
"Ouch... sakit banget! Gue cuma bercanda Nyet," ucap Dika sambil memegang hidungnya.
"Eh, sorry, sorry, gue nggak bermaksud. Lagian lo sih, ada-ada aja. Sini, biar gue lihat."
"Sakit..."
"Ya tuhan, parah banget. Kita harus segera ke rumah sakit."
"Nggak usah, diobati di rumah aja dulu."
"Nggak bisa! Kita harus ke rumah sakit!"
"Nggak usah, nanti aja sembuh."
"Jangan bikin gue khawatir Dika..." Widia menatap Dika sayu dan dengan mata yang berkaca-kaca.
Dika mengusap mata Widia dengan lembut. "Ya udah, kita ke rumah sakit. Jangan sedih..."
"Lo diem disini dulu, gue mau panggilin supir."
"Nggak usah, gue masih bisa nyetir."
"Bener bisa?"
"Iya, lo harus percaya sama gue."
"Iya, gue percaya..."
Widia dan Dika pun ke depan rumah dan menuju mobil.
Widia memperhatikan Dika yang sedang memakai jaket. "Ini bukanya jaket..."
"Iya, ini jaket Dimas. Tadi dia nggak sengaja nabrak gue. Minuman yang dia bawa tumpah ke baju gue, jadi dia kasi gue jaketnya."
"Kak Dimas berarti udah nggak marah lagi sama lo."
"Iya, tadi Dimas juga minta maaf dan ngajak gue ngobrol-ngobrol. Gue yakin, dia sebenarnya memang orang baik."
"Bagus deh... Kita malah ngobrol, yuk ke rumah sakit."
Widia dan Dika pun pergi ke rumah sakit.
•••••••••••••••
BERSAMBUNG
°
°
°
°
°
Sambil nunggu cerita ini update, yuk mampir ke cerita author yang lainnya judulnya "Berbeda"
Jangan lupa like, komentar, vote, dan ratenya ya, agar author jadi lebih semangat 🤗...
Terima kasih 🙏💕...