
Ulangan Tengah Semester Ganjil berlangsung selama 1 minggu. UTS kali ini Dika berusaha menjalankannya dengan sebaik mungkin, seperti yang sudah ia janjikan pada Widia. Walaupun Dika tidak belajar, setidaknya ia datang untuk mengikuti UTS setiap hari. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, Dika selalu tidak datang beberapa kali ketika UTS dan ia selalu mengikuti ulangan susulan.
* * * * * * * * * * *
Seperti biasa Dika menghantar Widia pulang menggunakan motor vespanya.
"Gimana tadi ulangannya?" tanya Widia.
"Kayak biasa..."
"Kayak biasa gimana?"
"Susah... Gue minta maaf..."
"Minta maaf buat apa?"
"Gue udah kecewain lo... Gue minta maaf kalau nanti nilai gue jelek..."
"Setidaknya lo udah berusaha melakukan yang terbaik, itu udah cukup. Lo nggak boleh pesimis kayak gitu, kan nilainya belum keluar. Siapa tau nanti nilai lo tinggi."
"Hmm... nggak... semua ulangannya susah-susah, gue nggak ngerti, banyak yang nggak bisa gue jawab."
"Terus gimana lo jawabnya?" tanya Widia.
"Ya... gue jawab asal aja, gue cap cip cup aja..."
"Lo nggak belajar lagi ya?"
"I-iya... gue minta maaf..."
"Kan udah gue bilang, kalo masih ulangan jangan kerja dulu di warnet. Lo ngurus bebek-bebek aja udah kewalahan, pake kerja di warnet lagi. Mana sempat belajar kalau kayak gitu. Lo emang keras kepala."
"Gue terpaksa, gue harus ngumpulin uang buat bayar kost, kemarin uang gue udah kepake buat benerin motor. Gue minta maaf... Lo udah repot-repot pinjemin gue buku dan selalu ngingetin gue buat belajar, tapi guenya malah nggak belajar. Maaf udah ngecewain lo."
"Jujur, gue emang kecewa sama lo... Tapi gue maklumi, gue minta lain kali lo belajar ya."
"Lo jangan marah ya sama gue."
"Dika... Gue nggak pernah bisa marah sama lo. Gue akan selalu dukung lo..." ucap Widia dengan lembut.
"Makasi ya, buat pengertian lo... Gue cuma bisa nyusahin lo dan orang-orang di sekitar gue..."
"Ustt... Udah berkali-kali gue bilang, lo nggak boleh bicara kayak gitu. Gue nggak pernah merasa kalo lo nyusahin gue, lo selalu bikin bikin gue ketawa, gue selalu bahagia deket sama lo. Gue ngerasa beruntung ada lo di hidup gue."
"Gue yang lebih beruntung punya lo..."
"Mana ada, gue lah yang lebih beruntung ada lo."
"Guee..." balas Dika.
"Gue," sahut Widia.
"Gue"
"Gue!" ucap Widia dengan nada cukup tinggi."
"Ya udah, kita berdua."
"Nggak bisa, pokoknya gue."
"Eh, ngajak ribut lo ya... Kalo gitu tetep gue, nggak ada kita berdua," ucap Dika dengan ekspresi sedikit kesal.
"Dika kalo lagi ngambek bikin gue gemes," batin Widia.
"Gue, gue, wkwkwk... gue, gue, gue, gue, gue, wkwkkwk..." ucap Widia sambil tertawa.
"Malah ketawa lagi... Diem! Getok ya?!"
"Yah, ngambek... wkwkwk... Lo lucu kalo lagi ngambek... wkwkwk..."
"Ketawa terus lo Nyet..." ucap Dika sambil tersenyum.
"Gue seneng bisa bikin lo ketawa," batin Dika.
* * * * * * * * * * *
Tibalah hari pengumuman hasil Ulangan Tengah Semester Ganjil. Semua murid menerima rapot bayangkan. Widia, Intan, dan Adit melihat ranking sementara di papan pengumuman.
"Eh!" Mata Widia membesar ketika melihat namanya berada paling atas.
"Ternyata aku ranking empat," gumam Intan.
"Lumayanlah ranking dua..." gumam Adit.
Mereka bertiga pun saling memberi selamat satu sama lain.
Tak lupa Widia juga menyempatkan diri untuk melihat ranking Dika di papan pengumuman. Satu persatu nama dari atas dilihat oleh Widia, dan ternyata nama Dika berada nomor 5 dari bawah.
"Nama Dika dibawah banget. Dia ranking tiga puluh enam dari empat puluh murid," batin Widia.
* * * * * * * * * * *
Widia, Intan, dan Adit makan di kantin sambil berbincang-bincang ringan.
"Oh ya, tadi pagi aku lihat kamu berangkat sekolah bareng Bintang. Kenapa bisa kamu bareng sama dia?" tanya Intan pada Adit.
"Lo lihat gue dimana?" tanya Adit.
"Di parkiran," balas Intan.
"Bentar, bentar, Bintang itu siapa?" tanya Widia.
"Bintang anak 10 IPS 2 ituu... cewek pendiam yang nemuin kartu pelajarnya Adit. Yang Adit tabrak waktu itu sampai jamnya basah," jelas Intan.
"Ooh... inget, inget, gue inget... Kok bisa sih lo berangkat bareng dia Dit?" ucap Widia.
"Bintang itu pacar gue," ucap Adit sambil tersenyum.
"Hah?!" ucap Widia dan Intan yang kaget.
"Kok bisa sih?" tanya Intan.
"Gercep banget, baru beberapa minggu yang lalu ketemu, tiba-tiba udah pacaran. Kenapa nggak kasi tau kita?" ucap Widia.
"Baru kemarin gue jadian, mana sempat kasi tau kalian," jawab Adit.
"Pantesan akhir-akhir ini udah nggak kelihatan badmood lagi. Gimana sih ceritanya kamu bisa jadian sama Bintang?" tanya Intan.
Adit pun menceritakan kenapa ia bisa sampai berpacaran dengan Bintang.
»»»»»»»» Kilas Balik ««««««««
Beberapa hari yang lalu Adit secara kebetulan melihat Bintang sedang asik melihat-lihat komik di toko buku.
Adit menghampiri Bintang dan menyapanya, "Hai... Bintang..."
Bintang melihat Adit sejenak kemudian kembali fokus pada bukunya. "Hmm... Hai...".
"Ternyata lo suka baca buku komik juga ya..."
"Iya..." jawab Bintang singkat.
"Dingin..." ucap Adit.
"Apa?" tanya Bintang.
"Bukan, bukan apa-apa."
Bintang kemudian pergi melihat buku di rak yang lainnya.
"Tu cewek dingin banget, dasar cewek misterius. Tumben ada cewek yang jutek sama gue," gumam Adit.
Ketika hendak membayar buku Adit kebingungan memeriksa semua kantongnya, dan ternyata ia lupa membawa dompet.
"Mamp*s! Dompet gue dimana?!" batin Adit
Bintang yang menuju kasir melihat Adit yang sedang kepanikan memeriksa kantongnya. Bintang kemudian kembali dan menaruh beberapa buku-bukunya
"Semuanya seratus empat belas ribu rupiah," ucap kasir sambil memberikan buku pada Adit.
Tiba-tiba Bintang datang dan menaruh bukunya di kasir. "Ini belanjaan saya, sekalian itung sama belanjaan dia ya mbak."
"Eh, nggak usah..." ucap Adit pada Bintang.
"Udah, lo diem aja."
"Semuanya tiga ratus ribu lima puluh delapan ribu rupiah," ucap kasir.
Bintang membayar belanjanya dan Adit, kemudian ia langsung pergi. Adit pun mengambil belanjaannya dan segera menyusul Bintang. Adit menghampiri Bintang yang sedang menunggu ojek.
"Makasi ya, udah bayarin belanjaan gue. Tapi gue janji, gue akan kembaliin uang lo," ucap Adit.
"Nggak usah, gue ikhlas," balas Bintang.
"Nggak, gue pasti kembaliin uang lo."
Bintang hanya diam tidak merespon ucapan Adit.
"Lo pulang sama siapa?" tanya Adit.
"Gue lagi nunggu ojek, gue mau pesen ojek online," ucap Bintang sambil sibuk membuka aplikasi ojek online di handphonenya.
Adit merampas handphone Bintang. "Nggak usah.. gimana kalo gue yang anterin lo pulang sebagai ucapan terima kasih gue?"
Bintang mengambil handphonenya dari tangan Adit. "Nggak sopan banget, main ambil-ambil aja."
"Ya udah, maaf... Tapi gue boleh anterin lo pulang kan?"
"Nggak usah, gue mau ke toko hewan dulu beliin anjing gue makanan."
"Kalo gitu gue anterin lo ke toko hewan setelah itu gue anterin lo pulang."
"Ngak usah..."
Tiba-tiba hujan turun dan dengan cepat hujan menjadi semakin deras.
"Pulang sama gue aja..." Adit menarik tangan Bintang dan mengajak Bintang ke mobilnya. Bintang pun dengan terpaksa menerima ajakan Adit.
Adit mengantar Bintang ke toko hewan untuk membeli makanan anjing, setelah itu ia langsung menghantar Bintang pulang. Karena hujan sangat deras Adit memutuskan untuk berdiam diri di rumah Bintang.
"Di rumah lo ada siapa aja?" tanya Adit.
"Nggak ada siapa-siapa."
"Emang semuanya kemana?"
"Bibi sama paman gue lagi kerja, sepupu gue juga lagi kuliah."
"Emang orangtua lo kemana?"
"Orang tua gue... udah meninggal satu tahun yang lalu karena kecelakaan..." terlihat raut wajah Bintang menunjukkan ekspresi sedih.
"Gue minta maaf..." ucap Adit dengan perasaan bersalah.
"Nggak apa-apa... Gue buatin lo minum ya."
"Eh, nggak usah repot-repot."
"Santai aja, lo mau minum apa? teh, jus, kopi?"
"Ya udah kalo lo maksa, teh hagat aja wkwkk..." ucap Adit sambil tertawa.
"Adeh, tadi pake malu-malu segala..."
Bintang segera pergi ke dapur untuk membuatkan Adit minum. Beberapa saat kemudian Bintang datang membawa teh hagat dan beberapa cemilan.
"Waah... makasi udah dibuatin minuman..." ucap Adit.
"Anggap aja rumah sendiri."
"Lo suka baca komik ya?" tanya Adit.
"Iya, gue punya banyak koleksi buku komik..."
"Wah, gue juga suka. Gue boleh pinjem nggak?"
"Boleh, komik gue banyak banget di kamar, ada satu rak penuh. Lo tinggal pilih aja."
"Seriusan?"
"Iya, lo langsung aja pilih."
Bintang mengajak Adit ke kamarnya untuk memilih buku komik.
"Gila! banyak banget. Ini semua lo yang punya?" ucap Adit.
"Iya, lo tinggal pilih aja..."
Adit melihat salah satu buku komik yang menurutnya menarik. Baru membuka halaman pertama Bintang langsung merampas buku komik tersebut.
"Ya ampun! gue lupa sama komik ini!" batin Bintang.
Bukan tanpa alasan Bintang tidak memberikan Adit membaca komik tersebut, Bintang merasa malu karena ternyata buku komik itu adalah karya Bintang sendiri. Adit yang merasa penasaran berusaha mengambil buku itu dari tangan Bintang. Terjadilah aksi saling rebutan diantara mereka berdua.
"Kenapa lo ambil sih?" ucap Adit.
"Lo nggak boleh baca yang ini!"
"Tapi gue pengen baca yang itu, gue jadi penasaran."
"Lo baca yang lain aja!"
Tanpa sengaja mereka berdua terjatuh dengan posisi bertindihan.
Tanpa disadari mereka berdua terhanyut dan terbawa suasana. Mereka akhirnya berciuman dan mereka...
»»»»»»»»»»»»»»»»««««««««««««««««
Widia dan Intan memotong cerita Adit.
"Apa?!" ucap Intan kaget.
"Adit!" ucap Widia kaget.
"Hupf... Buakakakkak... Buakakakak..." Adit tertawa terbahak-bahak karena melihat ekspresi kaget di wajah Widia dan Intan.
Widia dan Intan merasa kebingungan karena Adit tertawa terbahak-bahak.
"Kok malah ketawa sih?" tanya Intan.
"Lo sama dia ngapain?" tanya Widia.
"Bercocok tanam," bisik Adit sambil tersenyum.
"Hah?! mantap-mantap?!" tanya Widia.
"Ini masalah serius Dit! kamu apain anak orang?!" ucap Intan.
"Buakakakakak... Dasar kalian berdua... Buakakakakak..." Adit malah tetap tertawa.
BERSAMBUNG•••••••
••••••••••••••••••••
°
°
°
Sambil menunggu cerita ini update, yuk mampir ke cerita author yang lainnya judulnya "Berbeda"
Jangan lupa like, komentar, vote, dan ratenya ya, agar author jadi lebih semangat 🤗...
1 like dan komentar singkat dari para pembaca sangat berharga bagi Author 😊...
Terima kasih 🙏💕...