
Widia yang sedang dicari-cari, sebenarnya sedang duduk di sendirian di pinggir pantai.
"Kenapa sih Kak Dimas tega bohongin gue?..." guman Widia. Air mata pun keluar dari mata Widia. Tak terasa Widia terus menagis sehingga matanya menjadi memerah.
Dika yang juga sedang mencari Widia, akhirnya menemukan Widia tengah duduk di pinggir pantai. Dika pun langsung menghubungi Bryan.
Dika : "Gue udah nemuin Widia."
Bryan : "Dimana dia sekarang?."
Dika : "Lo tenang aja dia sekarang..."
Tiba-tiba panggilan telepon terputus karena ponsel Dika mati akibat kehabisan baterai.
"Yah, mati... yang penting Bryan udah tau Widia baik-baik aja," gumam Dika.
Dika pun berjalan menghampiri Widia.
"Widia..." ucap Dika yang berada di belakang Widia.
Karena mendengar suara Dika memanggilnya dari belakang, Widia kemudian segera menghapus air matanya, namun semua itu sia-sia, karena mata Widia sudah bengkak akibat terlalu lama menangis.
Dika pun langsung duduk di samping Widia.
"Dari mana lo tau kalo gue disini?" ucap Widia tanpa menatap Dika.
"Dulu lo kan pernah bilang, kalo lo itu suka banget ke pantai. Jadi gue yakin lo pasti kesini..."
"Lo jahat Dika!... Lo jahat!..." ucap Widia sambil mengusap air matanya yang kembali keluar.
Dika langsung memeluk Widia dan mengusap kepala Widia dengan lembut untuk menenangkannya. Widia pun merasa luluh dengan perlakuan Dika.
"Bryan udah cerita semua ke gue. Gue udah tau kalo Dimas ngaku-ngaku jadi gue. Sekarang gue ada disini, lo jangan sedih lagi, gue nggak bisa lihat lo sedih..." ucap Dika lembut.
"Lo jahat Dika!. Kenapa lo nggak bilang kalo lo sebenarnya Choco?. Kenapa Dimas pake kalung lo?."
"Gue bener-bener minta maaf sama lo. Gue nggak tau kejadiannya akan kayak gini, gue juga nggak tau kalo lo ngira Dimas itu gue. Masalah kalung, setelah gue pergi dari rumah, kalung itu udah gue jual. Dimas sama gue itu kembar, jadi Dimas juga punya kalung kayak gue," jelas Dika.
"Kenapa lo nggak jujur aja dari awal?..."
"Gue nggak mau kalo lo suka sama gue cuma karena gue itu Choco. Gue mau lo tulus suka sama gue."
"Lo bodoh Dika!... Gue pacaran sama Kak Dimas cuma karena dia itu Choco, gue kira dengan berjalannya waktu gue bisa suka sama dia. Tapi nggak Dik, gue nggak pernah bisa suka sama Kak Dimas. Karena di hati gue cuma ada lo Dika... Selama ini lo selalu bilang kalo lo ngerasa gue suka sama lo. Ya, gue emang suka sama lo..." jelas Widia.
"Lo bilang apa?... gue nggak denger..." ucap Dika sambil tersenyum.
Widia menatap malas pada Dika. "Apa perlu gue teriak?..."
"Ye, emang berani?..." tantang Dika.
Widia kemudian langsung berdiri dan berteriak ke arah laut. "Gue suka sama lo Dikaaa..."
Walau keadaan pantai sudah sepi karena sudah menjelang malam, dan orang yang berada di sana pun masih bisa dihitung dengan jari, tetap saja teriakan Widia mengundang perhatian orang-orang di sekitarnya.
Seorang laki-laki yang sedang lewat bersama pacarnya memberikan siulan pada Widia. "Mantap neng..."
"Kamu ngapain malah muji-muji cewek lain?..." ucap pacar laki-laki itu dengan cemburu.
"Yah, cuma bilang kayak gitu doang cemburu..."
Namun pacarnya sudah terlanjur kesal dan langsung pergi.
"Neng, kalo jadi pacar jangan cemburuan kayak dia ya, ngeselin..." pesan laki-laki tersebut pada Widia. Laki-laki tersebut kemudian pergi menyusul pacarnya.
Widia hanya bisa menggelengkan kepalanya dan tersenyum lucu melihat hal tersebut.
Dika pun ikut berdiri. "Jadi, gue sekarang jadi pacar lo?."
"Lo jadi temen gue aja yaa..." ucap Widia sok serius.
Dika pun tidak berkata apa-apa dan hanya menatap malas pada Widia.
"Temen hidup maksudnyaa..." ucap Widia sambil tersenyum.
Perkataan Widia pun membuat Dika tersenyum senang, Dika kemudian langsung memeluk Widia. "Gue bahagia banget hari ini..."
"Gue sayang sama lo..." ucap Widia.
"Gue juga sayang sama lo... Sekarang kita pulang dulu, dari tadi Bryan nyariin lo kemana-mana."
"Kasihan Bang Iyan..." ucap Widia menyesal.
Dika kemudian mengajak Widia menuju mobilnya.
"Lah, ini mobil siapa?" tanya Widia.
"Mobil gue lah."
"Motor lo kemana?."
"Nggak kemana-mana, papa kasi gue mobil karena gue menang basket."
"Ooo..."
Dika dan Widia pun masuk ke mobil dan bergegas pulang.
Di perlahan pulang Widia terdiam melamun seperti memikirkan sesuatu.
"Kok bengong sih?. Lagi mikirin apaan?" tanya Dika.
"Kak Aulia..."
"Kak Aulia sendiri yang bilang ke gue. Gue udah janji sama Kak Aulia buat jauhin lo..."
"Lo tenang aja, gue udah anggap Aulia kayak saudara gue sendiri. Dia itu orang baik, dia pasti ngerti kok..."
"Mudah-mudahan deh Dik..."
"Lo sadar nggak? sebenarnya kita udah pacaran dari kecil," ucap Dika.
"Itu mah lo aja yang bohongin gue, lo bilang pacaran itu artinya kita akan sama-sama terus. Karena gue nggak ngerti apa-apa, ya, gue mau aja waktu itu."
Dika hanya tertawa karena teringat akan kelakuannya waktu kecil.
"Tapi nama anjing tetangga lo masih Choco nggak?" tanya Widia.
"Ya ampun, ternyata lo masih inget..." ucap Dika sambil tertawa.
"Inget lah..."
Sesampai di rumah Widia, terlihat Bryan sedang duduk di depan rumah menunggu Widia.
Bryan langsung menghampiri Widia dan memeluknya. "Kamu kemana aja?. Kenapa kamu nggak angkat telepon abang?. Abang takut banget, abang nggak mau kehilangan kamu lagi."
"Widia cuma jalan-jalan ke pantai aja, tadi hp Widia mati. Maaf ya Bang, udah bikin abang panik. Apa orang rumah nyariin Widia juga?."
"Abang nggak kasi tau mereka, abang takut buat kakek panik, abang khawatir nanti sakit jantung kakek kumat..."
"Untung kakek dan orang rumah nggak tau, jadi mereka nggak perlu khawatir..."
"Kamu kenapa nggak bilang kalo Dimas udah bohongin kamu?... Abang bisa kasi dia pelajaran."
"Widia nggak mau nyusahin abang, Widia nggak mau Bang Iyan sedih. Yang penting kan sekarang Widia udah baik-baik aja..."
"Kamu jangan bikin abang khawatir lagi ya..." ucap Bryan sembari mengelus kepala Widia.
"Iya bang..."
"Makasi ya Dika, udah jaga adek gue," ucap Bryan pada Dika.
"Pastilah, ini udah kewajiban gue. Widia sekarang kan pacar gue," ucap Dika sambil tersenyum bangga.
"Eh, lo kalian berdua pacaran?" ucap Bryan kaget.
"Iya dong... Widia loh yang nembak gue..." ucap Dika sombong.
"Gaya bener lo!..." ucap Bryan sambil mendorong Dika.
"Yee... biarin, dari pada lo, jomlo abadi..."
"Sekali lagi, lo ngejek abang gue, gue sumpel mulut lo," ancam Widia.
"Hah!... dengerin tuh adek gue!..." ucap Bryan.
"Yuk Wid, kita masuk..." Bryan pun mengajak Widia masuk kedalam rumah, begitu juga dengan Dika yang ikut berjalan di belakang mereka.
"Lo ngapain ikut masuk?!" ucap Bryan pada Dika.
"Gue mau mampir lah."
"Nggak pake mampir segala, udah malem, pulang sana!" ucap Bryan sambil mendorong Dika keluar rumah.
"Tap-tapi... Nyet, gue diusir nih?..." ucap Dika.
"Udah... dia nggak akan bela lo..." ucap Bryan. Bryan kemudian menutup pintu rumahnya.
Widia hanya tertawa lucu melihat Bryan mengusir Dika keluar.
Diluar rumah Dika berjalan menuju mobilnya sambil senyum-senyum sendiri.
"Widia... Widia..." gumam Dika.
••••••••••••••••••••
Hehe... sekarang Widia sama Dika udah jadian😍...
Buat yang benci sama Dimas, mari sekarang kita bully Dimas bersama-sama, huahahhahahahaa...
😈😈😈😈😈
Enaknya Dimas diapain yaa🤔...
Buat kalian hatersnya Dimas, bisa komentar nanti kalian maunya Dimas dapet azab apa🙄😋...
••••••••••••••••••••
°
°
°
Yuk mampir ke cerita author yang lainnya judulnya "Berbeda"
Jangan lupa like, komentar, vote, dan ratenya ya, agar author jadi lebih semangat 🤗...
Terima kasih 🙏💕...