
"Ini kunci kamarnya..." Ibu pemilik kos memberikan kunci kamar kepada Dika.
"Ini uangnya buk..." Dika memberikan sejumlah uang kepada ibu pemilik kos.
"Terima kasih... Bulan depan jangan telat bayar ya.."
"Iya bu..."
Ibu pemilik kos pun pergi. Dika kemudian langsung masuk ke dalam kamar dan merebahkan badannya di kasur.
"Akhirnya dapat tempat tidur yang nyaman, nggak kayak kemarin tidur di emperan toko..." gumam Dika.
Dika kemudian membereskan barang-barangnya. Ia mencharge handphonenya yang dari kemarin tidak berisi daya. Alangkah kagetnya Dika ketika memeriksa handphonenya dan melihat banyak panggilan masuk dari Widia. Dika merasa sangsi untuk menelepon balik Widia karena waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam. Beberapa saat kemudian terdapat panggilan masuk dari Widia, Dika pun segera mengangkat panggilan tersebut.
***** via telepon
"Dika! Akhirnya lo angkat telepon gue. Lo kemana aja? Kenapa telepon gue nggak lo angkat-angkat? Kenapa tadi lo nggak sekolah?" tanya Widia panik.
"Maafin gue, hp gue dari kemarin mati. Tadi pagi gue nggak sekolah karena bangun kesiangan."
"Lo kalo ada masalah cerita sama gue, jangan bikin gue khawatir. Gue sampai nggak bisa tidur. Setidaknya lo kabarin gue."
"Maaf udah bikin lo khawatir. Hmm... Gue nggak kabarin lo karena hp gue rusak, ini baru aja dibenerin. Lo tenang aja, gue nggak apa-apa kok, gue nggak ada masalah."
"Jangan bohong! Sekarang lo dimana?"
"Ya... Gue biasa, di rumah."
"Lo menutupi kebohongan lo dengan kebohongan lainnya. Lo jujur aja, gue sama Bang Iyan tadi ke rumah lo, Kak Dimas udah kasi tau tentang semuanya."
"Maafin gue... gue cuma nggak mau bikin lo khawatir. Gue mohon lo jangan percaya sama ucapan Dimas. Gue nggak pernah nyuri, gue berani sumpah. Semua itu cuma salah paham."
Dika pun menceritakan kejadian yang dialaminya sewaktu di kedai kopi.
"Gue selalu percaya sama lo, gue yakin lo nggak akan ngelakuin hal itu. Sekarang lo dimana?"
"Gue ngekos di jalan kenanga."
"Besok lo sekolah kan?"
"Iya, besok gue jemput lo ya, kita sekolah bareng-bareng. Sekarang lo tidur, udah malem."
"Tapi gue mau lo janji sama gue. Kalo lo ada masalah, lo harus cerita sama gue, lo nggak boleh tutupin apapun dari gue."
"Iya, gue janji. Tidur gih, besok kesiangan lagi sekolahnya kalo nggak tidur. Selamat malam..."
"Selamat malam..."
"Tutup na teleponnya."
"Lo yang tutup..."
"Mu na tidur..."
"Iya, tapi lo yang tutup teleponnya."
"Adeh... iyaa... sayang..." ucap Dika sambil tersenyum.
Widia pun tersenyum karena mendengar perkataan Dika. "Eh, tumben..."
"Udah ah, gue tutup ya O-Nyet..."
"Wah! Awa-..." Belum selesai Widia berbicara, Dika sudah memutuskan panggilan telepon tersebut.
Tut... tut... tut...
"Saat ini cuma Widia yang bisa bikin gue senyum," batin Dika.
"Sempat-sempatnya Dika bercanda, padahal dia lagi ada masalah. Gue tau lo kuat Dika..." batin Widia.
* * * * * * * * *
Keesokan paginya Dika menjemput Widia dan menunggunya di depan rumah.
"Gue kira lo nggak akan jemput gue," ucap Widia yang baru keluar dari rumah.
"Jemput lah, gue kan udah janji sama lo Nyet."
"Hoahmm..." Widia menguap karena masih mengatuk.
"Tuh kan, ngantuk... Lo sih, tidur kemaleman. Nih, gue punya cokelat buat lo." Dika mengambil cokelat dari dalam kantongnya dan memberikan cokelat tersebut kepada Widia.
Widia langsung membuka cokelat tersebut dan memakannya sepotong. "Heumm... Nggak tau kenapa kalo gue makan cokelat rasanya bahagia gitu..."
"Oh ya, gue juga bikinin bekal buat lo. Nasi goreng ini gue yang masak sendiri loh..." Dika mengambil sekotak nasi goreng dari dalam tasnya dan memberikan nasi goreng tersebut kepada Widia.
"Ini... Lo yang masak sendiri?"
Widia membuka kotak bekal tersebut dan memperhatikan nasi goreng buatan Dika. "Hmm... Tampilannya sih bagus kayak waktu itu..."
"Tapi kali ini rasanya enak, nggak kayak waktu itu, gue jamin. Gue udah belajar buat nasi goreng. Cobain aja."
"Gue cobain ni?"
"Iya... Percaya deh sama gue, itu emang enak."
Widia mencicipi sesuap nasi goreng buatan Dika. Dengan hati-hati Widia mengunyah nasi goreng buatan Dika. "Eh, iya, beneran enak. Seriusan, gue nggak bohong..."
"Nah, gue bilang juga apa."
Widia kembali mencicipi sesuap nasi goreng buatan Dika. "Hmm... Enak banget..."
"Udahan makannya, yok berangkat. Nanti terlambat lagi."
"Iya..." Widia memasukan nasi goreng tersebut ke dalam tasnya, ia kemudian naik ke motor Dika.
"Hehe... Kita naik motor ini lagi. Nggak apa-apa kan?" ucap Dika sambil membonceng Widia.
"Emang kenapa? Nggak apa-apa kali. Gue lebih suka naik motor."
"Maksudnya suka karena bisa deketan sama gue gitu? Wkwkwk..."
Widia menepuk pundak Dika. "Ih, ge'er banget..."
"Terus apalagi kalau bukan deketan sama gue?"
"..."
"Tuh kan, nggak bisa jawab. Jujur deh lo..."
"Iya, puas lo? Biar gue bisa boncengan sama lo, biar gue bisa peluk lo kayak gini." Widia yang biasanya hanya memegang pinggang Dika tiba-tiba langsung memeluk Dika.
"Eh!..."
Deg... Deg... Deg...
Jantung Dika berdegup dengan kencang karena tiba-tiba saja Widia memeluknya.
Karena Widia mengira Dika merasa risih, ia pun melepaskan pelukannya. "Maaf..."
"Yah, kok dilepas?" Dika kembali mengambil tangan Widia dan membuat Widia kembali memeluknya. "Gue malah seneng lagi..."
"Hmm... Akhir-akhir ini gue gendutan nggak?"
"Tumben banget lo nanya gitu Nyet? Biasanya lo nggak terlalu perduli sama penampilan lo. Lo kan hobinya makan. Kaget gue lo tiba-tiba lo nanya kayak gitu."
"Gue cuma takut kalo gue gendut, nanti lo ngak suka sama gue..."
"Lah, nggak mungkin lah. Gue nggak perduli mau lo gendut, mau lo kerempeng. Kalaupun lo gendutan, emangnya kenapa? Gue heran sama cewek-cewek, kenapa sih mereka takut gendut? Gue malah suka kali, apalagi pipinya chubby, gemes banget gue... Gue sayang sama lo..."
"Gue nggak bisa dandan, gue tomboy, ceroboh, gue ngerasa nggak percaya diri. Kenapa lo bisa sayang sama gue? Padahal lo bisa dapetin yang lebih baik dari gue..."
"Menurut gue lo yang terbaik buat gue. Lo harus percaya, gue nggak akan ninggalin lo, karena jujur, gue nggak ingin orang lain lagi. Malahan gue yang heran sama lo. Kenapa lo bisa mau sama gue? Bahkan gue aja nggak cinta sama diri gue sendiri."
"Ussttt... Lo nggak boleh bilang kayak gitu... I am not the best but I promise I will love you with all my heart... No more ex, no more next, be my last..."
Mendengar perkataan Widia membuat sudut bibir Dika naik dan memperlihatkan senyuman lebar. "Sejak kapan sih lo jadi romantis kayak gini? Uuh... Gue kan jadi meyeyeh..."
"Iih... Dikaa... Nggak usah alay kayak gitu juga kali!"
"Wwkwkwk... Tapi lo tetep sayang kan sama gue?"
"Ngomong lagi gue tabok lo."
"Yah, hilang lagi romantisnya..."
BERSAMBUNG•••••••
••••••••••••••••••••
°
°
°
Sambil menunggu cerita ini update, yuk mampir ke cerita author yang lainnya judulnya "Berbeda"
Jangan lupa like, komentar, vote, dan ratenya ya, agar author jadi lebih semangat 🤗...
1 like dan komentar singkat dari para pembaca sangat berharga bagi Author 😊...
Terima kasih 🙏💕...