Choco

Choco
Berkunjung di Malam Hari



Terima kasih udah mampir ya kakak-kakak cantik dan ganteng 😘...


Jangan lupa like dan komentarnya sebagai bentuk apresiasi kalian terhadap novel ini 😊.


Happy reading 💕...


•••••••••


"Bapak..." Widia menghampiri bapaknya.


"Eh Widia, kamu ngapain ke sini?" tanya bapaknya Widia atau Pak Wahyu melihat Widia datang menemuinya yang sedang bekerja sebagai satpam di sebuah restoran.


"Ini pak, Widia bawain makan siang buat bapak." Widia memberikan rantang ke bapaknya.


"Waah... dari baunya aja udah enak."


"Ini Widia yang masak loh... Tapi masih dibantuin ibuk, ehe..."


"Udah bisa masak kamu sekarang, makasi ya sayang..." Pak Wahyu mengelus rambut anaknya.


Terlihat senyuman lebar di wajah Widia mendengar pujian dari bapaknya. "Sama-sama pak. Tapi Widia sekarang pulang dulu ya pak, soalnya Widia mau bantu-bantu ibu."


"Iya, bapak juga sekarang mau istirahat dan makan masakan kamu. Heum... baunya enak banget."


"Eh Widia..." Dimas menghapiri Widia dan Pak Wahyu.


"Kak Dimas."


"Tuan Dimas."


Widia mengerutkan alisnya. "Bapak kenapa panggil dia tuan Dimas?. Kak Dimas ini kakak kelas aku pak."


"Tuan Dimas ini anak pemilik restoran ini nak," jawab Pak Wahyu.


Terlihat ekspresi kaget di wajah Widia mendengar hal yang sebenarnya. "Hah? yang bener kak Dimas?. Maaf ya kak, Widia ngga tau."


"Iya ngga apa-apa Widia, santai aja. Pak Wahyu juga jangan panggil saya tuan, saya lebih suka dipanggil Dimas aja pak."


"Iya tu-... hmm... nak Dimas."


"Jadi pak Wahyu ini bapak kamu ya?."


"Iya kak, ini bapak Widia."


"Kamu ngapain kesini?" tanya Dimas ke Widia.


"Widia cuma mau bawain bapak makan siang kak."


"Kalau gitu kita makan bareng-bareng aja di dalam."


"Makasi kak, tapi lain kali aja Widia udah makan kok tadi," tolak Widia dengan halus.


"Iya nak Dimas, ini juga paman udah dibawain makanan sama Widia. Kalian lajut aja ngobrol-ngobrolnya, bapak mau makan dulu di belakang."


"iya paman."


"iya pak."


Pak Wahyu kemudian pergi ke belakang untuk makan.


"Kalo gitu Widia juga pulang dulu ya kak Dimas."


"Kamu mau aku anterin?."


"Ngga usah kak, makasi. Widia udah ditunggu sama tukang ojek di depan. Lagian kak Dimas kan juga mau makan."


"Nggak apa-apa, aku bisa kok anter kamu, tadi aku udah makan."


"Aih... kak Dimas gimana sih, tadi bilang mau makan, sekarang bilang udah makan. Ada-ada aja kak Dimas." Widia menggelengkan kepalanya dan tertawa.


Dimas ikut tertawa sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Hmm... Udah lupain aja... gimana kalo sekarang aku anter kamu pulang?."


"Ngga usah kak, itu tukang ojeknya udah lama nunggu."


"Ya udah kalo gitu, kamu hati-hati ya."


"Iya kak, Widia pulang dulu." Widia kemudian pergi meninggalkan Dimas.


Dimas menatap Widia yang berjalan meninggalkannya. "Gue tadi kenapa sih bisa salting di depan Widia, bikin malu aja. Apa jangan-jangan gue suka ya sama dia. Tapi kayaknya ngga mungkin gue suka sama dia," pikir Dimas.


*********


Di malam hari Widia duduk di meja belajar sedang mengerjakan PR di kamarnya. Ayahnya Widia atau Pak Wahyu yang baru pulang berkerja sebagai satpam di sebuah restoran, langsung masuk ke kamar Widia dan membawakannya gorengan.


"Eh... bapak udah pulang." Widia memeluk bapaknya.


"Iya, Bapak mau mandi dulu. Kamu lanjutin aja belajarnya sana." Pak Wahyu mengusap rambut anaknya.


"Siap Komandan," sahut Widia.


"Oh ya... gorengannya jangan lupa di makan ya sayang." Pak Wahyu keluar kamar dan menutup pintu kamar Widia.


Widia melanjutkan belajar sambil memakan gorengan yang diberikan bapaknya. Setelah selesai belajar, ia merebahkan badannya di kasur dan hendak tidur, karena jam sudah menunjukkan pukul 11.50 malam.


Saat Widia sudah hampir tidur, ia mendengar seperti ada yang mengetuk jendela kamarnya. Widia yang mendengar jedelanya diketuk, bangun dan membuka jendela kamarnya.


"Ehh.. lo ngapain kesini malem-malem?." Widia kaget melihat Dika yang datang ke rumahnya malam-malam.


"Nyet... Gue gak bisa tidur nih..." Dika menaiki jendela dan masuk ke kamar.


"Apa hubungannya sama gue?. Pokoknya gue gak mau tau, lo sekarang harus keluar sebelum ibuk sama bapak gue tau," bisik Widia.


"Masak lo usir gue sih Nyet, Gue ke sini penuh perjuangan loh. Gue manjat tembok, udah ada anjing lagi tadi besar benget di depan, tapi untung aja diiket."


"Lagian lo sih, siapa suruh ke sini. Udah hampir jam 12 nih, sekarang pokoknya lo harus pulang!."


"Gue kepikiran lo terus Nyet... Gue kangen sama lo."


"Lo aneh-aneh aja ya, mending lo sekarang pulang aja!."


Dika berjalan berkeliling melihat-lihat kamar Widia. "Waah... Kamar lo keren juga ya. Kayak kamar cowok. Ada poster Coldplay lagi, idola gue nih Nyet."


"Aduhh... pulang sana... Pulang!!."


Widia mendorong Dika ke luar jendela.


Namun Dika tidak mau keluar dan kemudian ia merebahkan badannya di kasur. "Gue gak mau keluar Nyet... Ini semua salah lo!."


"Lah... kok salah gue?."


"Lo lupa kasi gue no HP lo, gue gak bisa tidur kalo gak denger suara lo. Gue kangen..." ucap Dika sambil tersenyum memandang Widia.


"Apaan sih lo alay banget. Dasar... bucin!. Bangun lo cepet!." Widia menarik tangan Dika agar bangun, namun ia tidak berhasil karena tenaganya tidak cukup.


"Ya... gak apa-apa, asal gue jadi bucinnya lo Nyet," ucap Dika lalu bangun dan duduk.


Widia mengambil kertas dan pena kemudian menulis nomor HPnya di kertas dan memberikannya ke Dika.


"Nih no HP gue. Lo sekarang pulang deh."


"Hehe... makasi ya. Oh ya, gue bawain coklat nih." Dika memaruh coklat di atas meja.


"Udah... cepet pulang!." Widia memukul lengan Dika dengan lumayan keras.


"Duh!... sakit tau... Lo cewek apa laki sih?. Main pukul-pukul aja.


Ibu Asih yang mendengar kebisingan mengetuk pintu kamar Widia dari luar.


"Nak... kenapa berisik?. Kamu bicara sama siapa?."


"Duhh... ibuk gue tu... lo keluar sana!" bisik Widia.


"Gak kok buk... Widia cuma nyanyi aja kok," sahut Widia ke Ibunya.


"Iya.. iya... Gue keluar. Eh ini ada gorengan gue minta tiga ya. Daa... sayang..." bisik Dika dan mengambil sisa gorengan itu kemudian pergi ke luar lewat jendela.


Ibu Asih membuka pintu. "Ohh.. ibu kirain apa. Tidur sana, udah malam."


"Iya bu, Sekarang Widia tidur."


Ibu Asih kemudian menutup pintu kamar anaknya.


"Dika..Dika..." jata Widia yang tersenyum dan mengambil coklat dari Dika di atas meja.


°


°


°


Jangan lupa like, komentar, dan ratenya ya kak😊...


Terima kasih 🙏🤗❤️