Choco

Choco
Makam



Sepulang sekolah Widia mencari Dika ke kelasnya.


"Kak Restu..." ucap Widia melihat Restu keluar dari dalam kelas.


Restu menghampiri Widia. "Ada apa?"


"Dika dimana kak?"


"Gue nggak tau, Dika nggak sekolah. Dari tadi gue telepon tapi nggak aktif."


"Sama kak, Widia juga telepon dika berkali-kali, tapi teleponnya nggak aktif. Widia khawatir sama dia."


"Satu-satunya cara ya cari ke rumahnya atau tanya sama Dimas. Tapi gue nggak biasa sama Dimas, gue nggak bicara sama Dimas, dia kayak nggak suka gitu sama gue."


"Sama kak, Widia juga nggak bicara sama Kak Dimas."


"Nggak biasanya Dika kayak gini. Biasanya kalo dia nggak sekolah, dia selalu ngabarin gue. Misalnya nanti kalau Dika ngabarin gue, pasti gue kasi tau lo."


"Oke kak, jangan lupa ya."


"Iya..."


* * * * * * * * * *


Sepulang sekolah Widia mengerjakan tugas di kamarnya. Namun baru menulis beberapa kata, ia malah diam dan hanya memandangi bukunya.


"Gue jadi nggak konsentrasi kalo kayak gini. Gue harus cari Dika," gumam Widia.


Widia mengambil motornya dan pergi mencari Dika. Pertama-tama ia pergi ke rumah Dika. Widia bertanya kepada salah satu pembantu karena tidak ada Pak Arthama ataupun Dimas.


"Permisi... Selamat siang Bi Sari..." ucap Widia.


"Selamat siang Non Widia... Ada keperluan apa?..." sahut salah satu pembantu.


"Di rumah ada siapa aja bik? Dikanya ada?"


"Di rumah tidak ada siapa-siapa. Kalau Den Dika kemarin malam keluar rumah, sampai sekarang belum pulang."


"Dika kemana bik? Kenapa dia pergi?"


"Kemarin Den Dika pergi setelah bertengkar dengan Tuan Arthama dan Den Dimas. Tapi saya kurang tau kalau pergi kemana."


"Nanti kalau Dika sudah pulang, kabarin saya ya bik."


"Baik, nanti bibi kabarkan."


"Terima kasih bik... Saya pamit dulu."


"Iya, sama-sama non..."


Widia kembali mencari Dika. Widia mencari ke kosan lama Dika, taman, lapangan basket, pantai, warnet, dan yang terakhir adalah kandang bebek Dika. Widia mendapati kandang bebek Dika berantakan dan tidak terurus, bebek-bebeknya pun belum diberi makan.


"Ya ampun... ini sampah dimana-mana. Tempat makan bebek juga kering, pasti belum dikasi makan. Dika sebenarnya kemana sih?" gumam Widia.


Widia kemudian membersihkan kandang serta memberi bebek-bebek makan. Widia memilih tetap diam disana untuk menunggu Dika. Namun waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore Dika tidak juga kunjung datang. Akhirnya Widia menyerah dan memilih untuk pulang.


* * * * * * * * * *


Sesampainya di rumah Widia langsung mencari Bryan di kamarnya. Di kamar Bryan sedang fokus mengerjakan tugas di laptopnya.


"Akhirnya Widia datang. Kira-kira gue mau disuruh ngapain sama ni bocah?..." batin Bryan melihat kedatangan Widia.


"Kemana aja dari tadi? Kenapa nggak lama-lama aja keluarnya?" tanya Bryan.


"Eleh... biasanya keluar sebentar aja ditelepon, ini malah disuruh lama-lama... Bang Iyan tau nggak Dika dimana?"


"Nggak, dari tadi abang nggak lihat Dika. Lagian abang juga sibuk."


"Bantuin cari Dika yokk..." Widia menarik tangan Bryan.


"Emang dia kemana? Nggak usah dicari juga kali, dia udah gede, nggak bakalan hilang."


"Seharian Dika nggak bisa dihubungi. Kata pembantunya Dika kemarin malam pergi setelah berantem. Ayolah bang... bantuin cari..."


"Palingan cuma ngambek bentar tu bocah, nanti aja pulang. Lagian abang masih sibuk."


"Bang Iyan kan udah janji mau nurutin permintaan Widia. Abang jangan ingkar janji!"


"Iya, iyaa... abang matiin laptop dulu..."


* * * * * * * * * *


Bryan dan Widia pun pergi ke rumah Dika. Disana mereka bertemu dengan Dimas yang hendak keluar rumah.


"Widia? Bryan? Ada apa dateng kesini?" tanya Dimas melihat kedatangan Bryan dan Widia.


"Dika dimana?" tanya Bryan dengan ekspresi datar.


Dimas menatap Widia. "Dika diusir karena ketahuan mencuri."


"Jangan ngarang deh lo!" ucap Bryan.


"Terserah kalau kalian nggak percaya. Gue ngomong yang sebenarnya." Dimas langsung masuk ke dalam mobilnya dan pergi.


"Ada masalah apa lagi sih sama Dika?" batin Bryan.


"Dika kenapa sebenarnya?" batin Widia.


Bryan dan Widia pun kembali mencari Dika ke tempat yang biasa Dika kunjungi.


***** di mobil


"Kamu jangan dengerin kata Dimas. Abang kenal sama Dika, dia nggak mungkin ngelakuin hal itu. Walaupun dulu hidup Dika susah, dia nggak pernah nyuri, bahkan dia nggak mau minta-minta. Apalagi sekarang, hidup dia nggak kekurangan apapun. Buat apa coba Dika nyuri? Ucapan Dimas nggak masuk akal banget. Semua yang dibilang Dimas cuma omong kosong, dia udah berkali-kali nipu kita," ucap Bryan kesal.


"Iya... Widia juga yakin Dika nggak mungkin ngelakuin hal itu."


***** disisi lain


Seorang bapak-bapak menepuk pelan pundak Dika yang sedang tertidur di atas sebuah makam. "Nak... jangan tidur disini..."


Dikapun terbangun dari atas makam ibunya. Dika duduk sambil mengusap matanya.


"Ini sudah hampir malam, tidak baik jika tidur disini," ucap bapak tersebut.


"Bapak siapa?" tanya Dika.


"Saya penjaga makam disini... Tadi pagi saya lihat kamu disini, ketika saya kembali sore ini, ternyata kamu masih disini. Saya tau kamu pasti sedang ada masalah, tapi tidak baik juga jika terlalu lama berlarut-larut dalam masalah..."


"Sakit, kesedihan, dan kebencian bercampur di kepala saya sekarang. Saya tidak mengerti kenapa hidup menguji saya begitu keras akhir-akhir ini? Maksud saya, saya akan bertahan. Tapi sial*n! Berikan saya istirahat..." Terlihat mata Dika yang sudah berkaca-kaca. Sebelum air matanya keluar dengan segera Dika mengusap matanya menggunakan lengan bajunya.


"Kita lebih dewasa dengan cobaan, bukan dengan usia."


"Saya tau Tuhan tidak akan memberikan sesuatu yang tidak bisa saya tangani. Saya hanya berharap Dia tidak begitu percaya pada saya..."


"Ingatlah satu hal... Tuhan menyertai kita. Dia akan membuat segalanya menjadi benar, di tempat yang tepat, di waktu yang tepat..." ucap Bapak tersebut sembari mengusap pundak Dika.


Dika menggukkan kepalanya. Bapak tersebut menepuk pundak Dika kemudian beranjak pergi.


"Ya Tuhan, saya mungkin tidak mengerti mengapa semua ini terjadi dalam hidup saya saat ini, tapi saya hanya ingin mengatakan, saya percaya padaMu... Saya minta maaf atas diri saya yang lemah... Tidak seharusnya saya seperti ini... Kuatkanlah hamba..." batin Dika.


"Ma... maafin Dika..." ucap Dika sembari mengusap batu nisan ibunya.


Dika kemudian mendokan ibunya lalu pergi meninggalkan makam ibunya.


* * * * * * * * * *


Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, Widia dan Bryan masih mencari Dika.


**** di dalam mobil


Bryan memperhatikan wajah Widia yang pucat. "Kamu jangan khawatir... Abang yakin Dika nggak kemana-mana, dia pasti baik-baik aja."


"Widia takut dia ngelakuin hal yang aneh-aneh."


"Abang kenal Dika, sebelumnya dia pernah kena masalah lebih berat dari ini. Dia orangnya kuat, jadi dia nggak mungkin ngelakuin hal yang aneh-aneh."


"Iya..."


Tiba-tiba terdengar suara perut Widia yang kelaparan.


"Kamu belum makan?" tanya Bryan.


Widia hanya diam tidak merespon pertanyaan Bryan.


"Kamu harus makan, nanti abang janji akan bantuin kamu cari Dika. Makan ya... nanti kamu sakit."


"Iya..."


"Ya udah, sekarang kita cari tempat makan dulu. Besok kita cari Dika lagi ya..."


BERSAMBUNG•••••••


••••••••••••••••••••


°


°


°


Sambil menunggu cerita ini update, yuk mampir ke cerita author yang lainnya judulnya "Berbeda"


Jangan lupa like, komentar, vote, dan ratenya ya, agar author jadi lebih semangat 🤗...


1 like dan komentar singkat dari para pembaca sangat berharga bagi Author 😊...


Terima kasih 🙏💕...