Choco

Choco
Jalan-jalan



Bryan pun mengajak Widia pergi ke pasar malam tersebut. Baru saja sampai di depan pasar, Widia langsung minta untuk dibelikan terang bulan. Bryan pun langsung mengabulkan permintaan Widia. Mereka juga membeli beberapa makanan lainnya. Mereka kemudian memilih untuk duduk di sana dan memakan makanan yang tadi mereka beli.


"Hmm... Enak bangett..." gumam Widia.


Bryan pun tertawa kecil karena melihat Widia yang makan terburu-buru. "Makannya pelan-pelan. Kayang belum makan 1 minggu aja."


"Tapi ini bener-bener enak bang."


"Kamu kalau urusan makan memang nomor 1."


"Itu mah nggak usah ditanya lagi."


Mereka berdua pun melanjutkan makan sampai akhirnya makanan yang mereka beli tadi habis. Mereka kemudian duduk sejenak untuk beristirahat.


"Hmm... Widia," ucap Bryan.


"Ada apa Bang?"


"Kakak minta maaf karena kakak sudah terlalu berlebihan sama kamu."


"Nggak apa-apa, Widia ngerti kok, Bang Iyan khawatir sama Widia karena Bang Iyan sayang sama Widia. Widia juga mau minta maaf karena tadi Widia marah sama Bang Iyan."


"Kamu tidak perlu minta maaf."


"Aaa... Bang Iyan emang kakak yang terbaik." Widia kemudian memeluk Bryan dari samping.


Bryan pun juga memeluk Widia. "Walaupun kita bukan saudara kandung, tapi kakak sangat menyayangi kamu," batin Bryan.


"Bang, kita jalan-jalan lagi yuk, keliling," ucap Widia.


"Iya..."


Mereka kemudian berkeliling pasar. Widia mengajak Bryan untuk bermain beberapa permainan, salah satunya melempar bola. Bryan pun mau memainkan permainan tersebut demi Widia.


"Yeayy!..." ucap Widia sambil tertawa dan melompat-lompat kegirangan.


Tak disangka bola yang dilemparkan Bryan tepat mengenai sasaran. Bryan pun akhirnya memenangkan hadiah sebuah boneka yang berukuran sedang. Boneka tersebut langsung Bryan berikan kepada Widia.


Senyuman terus terukir di bibir Widia. Bryan yang melihat hal tersebut pun juga ikut merasa bahagia.


Bryan memperhatikan Widia yang terlihat sangat senang dengan boneka tersebut. "Kamu tetap adik kecil kakak..." batin Bryan.


"Bang, kita jalan-jalan di jembatan dekat sini yuk. Di sana indah banget, banyak ada lampu kelap-kelip," ucap Widia.


"Sekarang sudah jam setengah 10 malam. Apa kamu nggak capek?"


"Nggak, Widia masih mau jalan-jalan."


"Baiklah kalau begitu kita ke sana sekarang."


Lagi-lagi Bryan tidak dapat menolak permintaan dari adik yang begitu ia sayangi tersebut. Ia pun mengajak Widia pergi ke jembatan yang Widia minta. Pemandangan di sana memang sangat menakjubkan. Lampu-lampu indah terpasang di sepanjang pagar jembatan tersebut.


"Oh ya, ngomong-ngomong Bang Iyan udah ketemu sama Kak Bunga?" ucap Widia.


"Udah, sepulang dari kantor kakak langsung ketemu sama dia."


"Widia kirain belum. Tapi kenapa ketemuannya sebentar banget? Seharusnya kan Bang Iyan ajak Kak Bunga jalan-jalan."


"Rencananya lusa baru kakak ajak dia jalan-jalan. Tapi kali ini kakak mau menghabiskan waktu liburan kakak lebih lama sama kamu. Tahun baru kali ini kakak mau rayain sama kamu aja."


Widia pun merasa sangat senang karena Bryan akan menghabiskan lebih banyak waktu bersamanya. "Wah, serius kak?"


"Serius lah."


DUARRTTT....


Terdengar suara ledakan kembang api. Beberapa saat kemudian ledakan kembang api lainnya pun menyusul menghiasi langit malam.


"Lihat kak! Bagus banget," ucap Widia.


"Dari sekarang udah banyak yang nyalain kembang api."


"Iya, tahun baru kan tinggal beberapa hari lagi."


"Kamu mau nyalain kembang api?" tanya Bryan.


"Nggak kak, nanti aja pas malam tahun baru. Sekarang Widia mau merhatiin aja. Yuk kak, lanjut jalan lagi."


"Iya..."


Mereka pun kembali berjalan menyusuri jembatan tersebut.


"Yah..." ucap Widia sambil melihat ke arah bawah.


"Ada apa?"


"Sandal Widia putus..."


"Buang aja sandalnya, nanti kakak beliin yang baru.


"Jangan dibuang, ini masih bisa diperbaiki..." Widia pun mengambil sandalnya.


"Kalau gitu biar kakak aja yang bawa."


"Ini..." Widia pun memberikan sandal tersebut kepada Bryan.


"Sekarang kita pulang aja yuk," ucap Widia.


Widia hendak berjalan kembali menuju mobil namun Bryan mencegahnya.


"Tunggu dulu, mobil kita lumayan jauh. Kamu nggak boleh jalan tanpa pakai alas kaki. Nanti kalau kena paku atau beling kan bahaya." Bryan kemudian langsung jongkok.


"Yuk naik..." ucap Bryan.


"Bang Iyan mau gendong Widia?"


"Iya..."


"Widia naik ya."


Bryan kemudian menggendong Widia.



"Kenapa kamu nggak buang aja sandalnya? Kakak lihat sandal kamu memang mudah rusak. Kalau diperbaiki pasti akan cepat rusak lagi."


"Sandalnya masih lumayan bagus, masih bisa diperbaiki. Sayang kalau di buang."


"Tapi seharusnya kamu beli sandal yang lebih awet dan kuat agar tidak mudah rusak."


"Widia nggak ada uang buat beli sandal mahal-mahal."


"Nggak ada uang?" tanya Bryan yang kebingungan.


"Iya."


"Kamu kan bisa minta sama bapak, ibu, atau kakek. Mereka pasti mau kasi kamu uang, apalagi kakek yang sayang banget sama kamu, apapun yang kamu minta pasti dibelikan."


"Widia mau mandiri bang. Kalau selain keperluan kuliah, Widia berusaha sebisa mungkin untuk nggak minta uang sama bapak, ibuk, ataupun kakek."


"Terus kamu dapat uang dari mana?"


"Widia nerusin usaha ternak bebeknya Dika bang."


"Sejak kapan kamu nggak minta uang?"


"Sejak Widia mulai kuliah. Widia mau kayak Bang Iyan, hidup mandiri. Bang Iyan selama ini kan kerja buat memenuhi kebutuhan Bang Iyan. Bahkan Bang Iyan sampai bisa bayar kuliah sendiri. Sedangkan Widia cuma bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari aja, kadang-kadang juga masih kurang."


"Kakak bangga banget sama kamu, kamu sudah bisa mandiri. Tapi kalau uang kamu masih kurang, kamu jangan sungkan-sungkan buat minta uang."


"Iya bang... Ngomong-ngomong Bang Iyan nggak capek gendong Widia?"


"Nggak, kamu ringan banget."


"Yah, padahal Widia udah makan banyak-banyak biar berat badan Widia nambah."


"Emang berat kamu berapa?"


"Empat puluh lima."


"Eh, ternyata berat badan kamu dari dulu nggak naik-naik wkwkwk... Makanya makan yang banyak."


"Widia udah makan banyak-banyak, tapi tetep aja segini.... Kalau Widia digendong kayak gini, Widia jadi ingat waktu kita kecil. Bang Iyan sering gendong Widia kayak gini," ucap Widia.


"Iya, saat itu adalah masa-masa yang paling menyenangkan. Nggak terasa, sekarang kita udah besar. Kamu sudah 19 tahun dan kakak 21 tahun..."


"Iya, sebentar lagi Bang Iyan akan lulus kuliah."


"Sebenarnya kakak sedikit sedih dan kecewa karena kita waktu kecil tidak dapat menghabiskan banyak waktu bersama karena kita berpisah. Sekarang kamu sudah besar dan sebentar lagi kita juga akan berpisah. Kita akan memiliki keluarga masing-masing. Kakak tidak mau seperti dulu lagi, kakak mau menghabiskan banyak waktu bersama kamu."


"Abang bilang apa sih? Widia kan nggak kemana-mana. Widia akan selamanya jadi adik Bang Iyan. Walaupun nanti kita sudah memiliki keluarga masing-masing, kita kan masih bisa menghabiskan waktu bersama."


"Tapi pasti akan sulit untuk mencari kesempatan kita bisa bersama-sama seperti saat ini. Kita akan sibuk dengan urusan masing-masing. Andai saja dulu kita tidak berpisah, kita pasti bisa menghabiskan masa kecil kita bersama-sama, kita akan tumbuh bersama-sama."


"Udahlah bang, buat apa berandai-andai? Kita tidak bisa mengubah masa lalu, itu di luar kendali kita. Lebih baik kita fokus dengan masa depan kita."


"Iya, kamu benar... Masa lalu kita memang menyakitkan, masa depan kita tidak pasti. Tapi satu-satunya yang pasti saat ini adalah kita saling membutuhkan."


"Sampai kapanpun Widia akan terus membutuhkan Bang Iyan."


"Kapanpun kakak akan selalu ada buat kamu..."


Widia merasa sangat terharu dengan ucapan Bryan. Matanya pun sampai berkaca-kaca. Widia kemudian segera menyeka air matanya.


Akhirnya mereka sampai di depan mobil. Bryan pun menyuruh Widia untuk turun.


"Nah, kita udah sampai. Ayo turun Widia..." ucap Bryan, namun Widia sedikit pun tidak merespon ucapan Bryan. Bryan kemudian melirik ke arah belakang dan ternyata Widia sudah tertidur.


"Yah, malahan tidur wkwkwk..."



Bryan pun membangunkan Widia dengan perlahan. "Widia bangun. Widia... Dek, bangun.. dek..."


"Heumm... Ya ampun, sampai ketiduran"


Widia akhirnya terbangun dan Bryan langsung menurunkannya.


"Wkkwkwk kamu sampai ketiduran. Ayo masuk. Tidurnya lanjutin di mobil aja..."


"Iya..."


...°...


...°...


...----------------...


...BERSAMBUNG...


...----------------...


...°...


...°...


...°...


...Sambil menunggu cerita ini update, yuk mampir ke cerita author yang lainnya yang berjudul "Berbeda"...


...Jangan lupa dijadiin fav yaaa🤭......


...Jangan lupa like, komentar, vote, dan ratenya ya agar author jadi lebih semangat 🤗......


...Terima kasih 🙏💕......