Choco

Choco
Hadiah



Terima kasih sudah mampir 🤗...


Selamat membaca 💕...


••••••••••••••••••••


Karena hari ini merupakan hari Minggu, jadi Pak Arthama tidak pergi ke kantor, begitu juga dengan Dimas yang tidak pergi ke sekolah. Seperti biasa Pak Arthama memanfaatkan waktu senggang ini untuk menjaga kesehatan dengan melakukan yoga. Tak lupa Pak Arthama juga mengajak anak-anaknya untuk melakukan yoga, namun Dika belum bangun karena setelah begadang menonton sepak bola kemarin, ia melanjutkan bermain video game sampai subuh. Akhirnya hanya Pak Arthama dan Dimas yang melakukan yoga di halaman depan rumah.


Setelah beberapa lama, Dika keluar dari dalam rumah dan hendak pergi.


"Kamu mau kemana Dika?. Sini gabung sama kita," ucap Pak Arthama.


"Dika nggak bisa ikut pa, Dika mau keluar dulu," jawab Dika.


"Kamu jangan main terus, sini yoga sam kita, jaga kesehatan kamu." Pak Arthama kemudian menghampiri Dika.


"Siapa yang main pa?. Orang Dika mau kasi makan bebek-bebek Dika..."


"Kamu hebat banget Dika, bisa bikin usaha sendiri, papa bangga sama kamu," ucap Pak Arthama sembari mengusap kepala Dika.


"Dika lagi, Dika lagi..." batin Dimas.


"Iya dong pa, Dika kan anak papa... Dika tinggal dulu ya pa, Dika udah kesiangan ni," ucap Dika.


"Iya, hati-hati..."


"Iya pa..."


* * * * * * * * *


Karena Aulia datang menemui Dika, Dika pun menghentikan aktivitasnya memberi makan bebek.


"Ada apa lo kesini? Darimana lo tau gue disini?" tanya Dika.


"Restu yang kasi tau gue. Gue lagi nggak ada kerjaan aja, makanya gue kesini. Gue boleh bantuin lo kan?" ucap Aulia.


"Nggak usah, gue nggak mau ngerepotin lo. Mending lo duduk aja disana lihatin gue. Lagian, emangnya lo bisa kasi makan bebek?."


"Yah, lo ngeremehin gue banget, apa sih susahnya cuma kasi makan doang." Aulia kemudian langsung mengambil makanan bebek dan membantu Dika memberi makan bebek.


"Ya ampun... bau bangett... Kalo bukan buat dapetin hatinya Dika, ogah banget gue kasi makan bebek kayak gini..." batin Aulia.


Disisi lain, Dimas yang sudah selesai melakukan yoga mengajak Widia jalan-jalan ke mall.


"Kamu yakin cuma beli cemilan, baju kaos sama buku aja?" tanya Dimas.


"Iya kak, cuma itu aja... Ngomong-ngomong Kak Dimas belanjanya banyak banget, kayak persediaan 1 tahun wkwkwkwk..." ucap Widia sambil tertawa karena heran melihat Dimas membeli banyak barang-barang, seperti pakaian, makanan, dan lain-lain.


"Aku emang biasa beli barang-barang kayak gini. Kamu kalo mau belanja lagi tinggal ambil aja, biar aku yang bayarin, atau kalo mau ke salon juga aku anterin."


"Nggak usah kak, Widia nggak mau ke salon atau belanja lagi. Widia sekarang cuma perlu itu aja. Kak Dimas juga nggak usah bayarin belanjaan Widia, Widia udah bawa uang kok."


"Ini yang gue suka sama lo Wid, lo itu orangnya sederhana, nggak kayak kebanyakan cewek-cewek di luar sana," batin Dimas.


"Ooh... ya udah kalo gitu, sekarang kamu mau kemana?" tanya Dimas.


"Terserah Kak Dimas aja, Widia ikut Kak Dimas aja..."


"Hmm... kemana men enaknya?..."


"Gimana kalo ke taman aja?."


"Boleh..." jawab Dimas.


Mereka berdua pun pergi ke taman. Di taman mereka duduk santai sambil memakan cemilan yang mereka bawa.


"Setiap kesini Widia jadi inget masa kecil kita, dulu kita sering main di taman ini," ucap Widia sembari memperhatikan sekeliling taman.


"Hmm... iya, kita selalu main pas sore," ucap Dimas.


"Ngapain sih gue mau aja diajak ke taman... Mudah-mudahan Widia nggak nanya macem-macem, kalo gue salah jawab dia bisa curiga," batin Dimas.


"Dulu kita sering main banyak permainan, Kak Dimas masih inget nggak? dulu kita paling sering main apaan?" tanya Widia.


"Dulu kita... paling sering main bola," jawab Dimas.


"Mudah-mudahan gue nggak salah jawab. Seinget gue dulu Dika selalu keluar bawa bola tiap sore," batin Dimas.


"Hmm... iya kak..." ucap Widia.


"Untung deh gue nggak salah jawab," ucap Dimas dalam hati.


"Bukannya dulu Choco selalu main bola sama Bang Iyan, dan gue cuma jadi suporter. Kalo gue sama Choco dulu paling sering main kejar-kejaran sama si Moza. Mungkin aja karena udah lama Kak Dimas jadi lupa," batin Widia.


"Lihat deh kak, kasihan banget anak anjing itu..." ucap Widia sambil menunjuk seekor anak anjing yang terjepit disebuah pagar.


"Iya, kasihan banget..." ucap Dimas.


"I-iya..." ucap Dimas ragu.


Widia dan Dimas kemudian menghampiri anak anjing tersebut.


"Huu... kasihan banget kamuu..." ucap Widia sambil melepaskan anak anjing yang terjepit di pagar tersebut.


"Kak Dimas tolong peganggin dulu ya anak anjingnya, Widia mau buka roti buat anak anjingnya," Widia menyodorkan anak anjing itu pada Dimas.


"Ka-kamu aja yang penggang, biar aku yang bukain rotinya..."


"Ya udah kalo gitu..."


"Uuh... kamu lucu bangett..." ucap Widia sambil memeluk anak anjing tersebut.


"ish... kamu ngapain sih peluk anak anjing kayak gitu, kotor tau," ucap Dimas jijik.


"Sejak kapan Kak Dimas nggak suka binatang?. Bukannya waktu kecil Kak Dimas suka banget main sama anjing?."


"Bukan gitu, maksud aku... waktu kecil kan aku nggak ngerti apa-apa, belum mikirin kotor apa nggak, makanya dulu aku suka sama anjing..."


"Ooh..."


"Mudah-mudahan Widia nggak curiga..." batin Dimas.


"Kak Dimas selama ini beda banget sama Kak Dimas yang gue kenal dulu," batin Widia.


* * * * * * * * * *


Ketika sudah sampai rumah Dika heran melihat sebuah mobil asing terparkir di halaman depan rumahnya. Dikapun langsung masuk ke dalam rumah dan menanyai papanya.


"Mobil di depan punya siapa pa?. Ada orang dateng ya?" tanya Dika.


"Nggak kok, nggak ada siapapun yang dateng. Mobil itu papa beliin buat kamu."


"Hah, buat Dika pa?. Seriusan pa?" ucap Dika kaget.


"Iya, masak papa bohong. Itu hadiah buat kamu karena kemarin kamu dapet juara basket," jelas Pak Arthama.


"Waah, makasi banyak pa. Dika nggak nyangka bisa dapet hadiah mobil..." ucap Dika senang, terlihat pula senyuman lebar di wajahnya.


"Senang rasanya lihat Dika bahagia... Aku jadi merasa bersalah karena selama ini tidak pernah memberi apa-apa pada Dika," batin Pak Arthama.


"Yuk kita lihat-lihat mobilnya, sekalian kamu cobain."


Pak Arthama pun mengajak Dika melihat-lihat mobil barunya.


"Waah keren banget pa... Pasti mahal ya pa?" ucap Dika sembari mengelilingi dan memperhatikan mobil itu dari luar.


"Nggak mahal kok... Besok kamu nggak usah pake motor lagi ke sekolah, kamu bisa naik mobil ini..."


"Iya pa, motor Dika juga sering mogok di jalan, sekarang nggak perlu susah-susah lagi deh..."


"Ini mobil siapa pa?" tanya Dimas yang baru datang sambil memperhatikan mobil tersebut.


"Karena kemarin Dika dapet juara, jadi papa beliin Dika mobil baru," jawab Pak Arthama.


"Dimas kan juga dapet juara, kenapa cuma Dika yang dibeliin mobil?" ucap Dimas kecewa.


"Kamu kan udah punya 3 mobil, sementara dika cuma punya motor vespa bekas, itupun sering mogok-mogokan. Tapi papa juga udah beliin kamu laptop keluaran terbaru," jawab Pak Arthama.


"Iya, makasi pa..."


"Sama-sama Dimas..."


"Gue emang punya 3 mobil, tapi mobil Dika keluaran terbaru dan lebih mahal dari mobil gue. Papa nggak adil..." batin Dimas sambil melirik ke arah mobil tersebut.


"Yuk cobain mobilnya Dika." Pak Arthama melemparkan kunci mobil pada Dika.


Dika dan Pak Arthama pun pergi menaiki mobil tersebut.


°


°


°


Yuk mampir ke cerita author yang lainnya judulnya "Berbeda"



Jangan lupa like, komentar, vote, dan ratenya ya, agar author jadi lebih semangat 🤗...


Terima kasih 🙏💕...