
Setelah selesai makan di kantin rumah sakit, Pak Arthama segera kembali ke ruang rawat Dika. Di perjalanan menuju ruang rawat Dika, Pak Arthama berpapasan dengan Dimas yang juga akan ke ruang rawat Dika.
Dimas menghentikan langkahnya dan menatap Pak Arthama. Sementara Pak Arthama tetap melanjutkan langkahnya dan berlalu meninggalkan Dimas, Pak Arthama juga berpura-pura seolah tidak melihat Dimas.
"Papa..." ucap Dimas.
Pak Arthama menghentikan langkahnya dan Dimas segera menghampiri Pak Arthama. Sejenak mereka berdua saling bertatapan. Pak Arthama pun memerhatikan raut wajah Dimas yang menunjukkan penyesalan dan rasa bersalah.
"Dimas mint..." ucapan Dimas terpotong.
"Sudah... Papa sudah memaafkan kamu. Kita tidak dapat mengubah masa lalu, itu di luar kendali kita, jadi lupakan. Semuanya sudah berlalu, dan sekarang kita buat lembaran baru." ucap Pak Arthama yang diakhiri dengan senyuman.
"Makasi pa..." ucap Dimas yang juga diakhiri dengan senyuman.
"Papa juga minta maaf sama kamu, karena papa belum bisa menjadi seorang ayah yang baik," ucap Pak Arthama.
"Nggak pa, papa nggak perlu minta maaf," ucap Dimas dan dibalas dengan senyuman oleh Pak Arthama.
Mereka berdua pun berjalan bersama-sama menuju ruang rawat Dika. Namun baru beberapa langkah tiba-tiba Dimas berhenti. Dimas terlihat sedang memegang kepalanya dan seperti sedang menahan rasa sakit. Dimas pun kemudian terjatuh pingsan.
Pak Arthama menghentikan langkahnya karena ia menyadari jika Dimas sudah tidak berada di sampingnya. Alangkah terkejutnya Pak Arthama ketika berbalik ke arah belakang dan ia melihat Dimas sudah tergeletak tidak sadarkan diri di lantai.
Pak Arthama pun segera membawa Dimas ke ruang UGD dengan dibantu oleh beberapa orang yang juga kebetulan sedang berada disana.
Setelah dokter selesai memeriksa Dimas, Dokter pun menjelaskan keadaan Dimas kepada Pak Arthama.
"Bagaimana keadaan anak saya dokter?" tanya Pak Arthama.
"Untuk hasil pemeriksaan sementara, anak bapak diperkirakan menderita kanker otak," jelas dokter.
Pak Arthama merasakan jantungnya seakan-akan berhenti seketika setelah mendengar ucapan dari dokter. "Kanker otak dok?!"
"Iya pak, untuk lebih memastikan, kami akan segera melakukan beberapa pemeriksaan lebih lanjut," ucap dokter.
Pak Arthama yang masih merasa kaget hanya diam sambil mengatur nafasnya.
...****************...
Kini Pak Arthama tengah menemani Dimas yang masih tidak sadarkan diri.
"Lebih baik aku disini saja dulu menemani Dimas. Lagipula sudah ada Widia yang menemani Dika," batin Pak Arthama.
"Dimas..." ucap Pak Arthama sembari mengusap kepala Dimas.
Beberapa saat kemudian Dimas secara perlahan membuka matanya, Pak Arthama yang menyaksikan hal tersebut pun tersenyum senang.
"Papa..." ucap Dimas.
"Iya Dimas..." balas Pak Arthama.
"Dimas dimana pa?" tanya Dimas.
"Kamu tadi pingsan, ini di ruang UGD nak... Bagaimana keadaan kamu sekarang? Kepala kamu masih sakit?" ucap Pak Arthama.
"Masih sakit pa, tapi nggak terlalu, udah mendingan daripada tadi. Emang kata dokter, Dimas kenapa pa?" ucap Dimas.
"Kamu cuma kecapekan aja nak..." ucap Pak Arthama.
"Ooh... Syukurlah," ucap Dimas.
"Maafin papa Dimas, papa nggak tega mengatakan yang sebenarnya pada kamu. Papa nggak sanggup, papa belum siap, beri papa waktu..." batin Pak Arthama.
"Dimas, apa kamu sering sakit kepala?" tanya Pak Arthama.
"Iya pa, udah sekitar satu bulan terakhir, tapi mulai satu minggu ini Dimas sering sakit kepala," jawab Dimas.
"Kenapa kamu nggak bilang sama papa?"
"Dimas lupa, selain itu kita juga jarang ngobrol. Papa kan sering ke luar negeri mengurus bisnis papa."
"Maafin papa Dimas, papa jarang ada waktu buat kamu. Papa selalu sibuk dengan perkejaan papa," ucap Pak Arthama dengan penuh penyesalan.
"Papa nggak perlu minta maaf, Dimas nggak masalah. Lagian papa kerja kan juga buat Dimas," balas Dimas.
"Papa janji, mulai sekarang papa akan lebih meluangkan waktu papa buat kamu sama Dika," ucap Pak Arthama dan hanya dibalas senyuman oleh Dimas.
Dimas kemudian duduk dan ingin berdiri, namun Pak Arthama melarang Dimas untuk berdiri.
"Kamu mau kemana?" tanya Pak Arthama.
"Dimas mau ketemu sama Dika. Lagian Dimas juga nggak apa-apa."
"Hmm... Iya pa," balas Dimas.
"Ada apa sebenarnya? Seperti ada sesuatu yang papa sembunyikan," batin Dimas.
Pak Arthama pun pergi untuk menemui dokter. Beberapa saat kemudian Pak Arthama kembali, karena dokter mengijinkan Dimas untuk pergi, Pak Arthama pun mengajak Dimas menemui Dika.
Sesampainya di ruang rawat Dika, Pak Arthama dan Dimas ikut duduk disamping Dika bersama Widia.
Dika pun merasa senang karena melihat Pak Arthama datang bersama Dimas. "Akhirnya papa udah maafin Dimas," batin Dika.
Mereka pun berbincang-bincang santai.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 22.00, Dimas pun memutuskan untuk pulang karena keesokan harinya ia mendapat giliran piket OSIS. Sebelum pulang ia pun berpamitan.
"Dimas pulang ya pa," ucap Dimas sembari menyalami tangan Pak Arthama.
"Iya, hati-hati," balas Pak Arthama.
"Gue pulang Dik," ucap Dimas kepada Dika.
"Iya," balas Dika.
"Kamu menginap disini?" tanya Dimas kepada Widia.
"Iya kak," balas Widia.
"Ya udah, aku pulang dulu," ucap Dimas dan dibalas anggukan oleh Widia.
Dimas pun meninggalkan ruang rawat Dika.
"Beruntung banget Dika sama Widia, mereka saling mencintai dengan tulus. Hal seperti itu jarang terjadi. Gue salut sama mereka," batin Dimas.
"Dimas..." terdengar seperti suara Pak Arthama memanggil Dimas dari belakang.
Dimas pun menghentikan langkahnya dan menghadap ke arah belakang. "Papa?..."
"Papa anterin kamu pulang ya," ucap Pak Arthama.
"Nggak usah pa, Dimas bisa pulang sendiri," balas Dimas.
"Nggak, papa mau anterin kamu pulang, papa khawatir dengan keadaan kamu."
"Memangnya Dimas kenapa? Kenapa papa khawatir sama keadaan Dimas?" tanya Dimas.
"Aa.. papa cuma takut kamu sakit kepala seperti tadi. Papa takut kalau kamu sampai pingsan lagi," ucap Pak Arthama.
"Dimas baik-baik aja, papa nggak perlu khawatir. Lebih baik papa temani Dika aja."
"Papa benar-benar khawatir dengan keadaan kamu, papa takut kalau sampai kamu pingsan lagi. Kalau kamu tidak mau papa yang menghantar kamu pulang, bagaimana kalau papa telepon supir supaya jemput kamu," pinta Pak Arthama.
"Nggak usah pa, Dimas pulang sendiri aja," balas Dimas.
"Papa mohon sama kamu, papa tidak akan tenang jika kamu pulang sendiri."
"Hmm.. iya pa."
Dimas pun akhirnya mau menuruti permintaan papanya untuk pulang bersama supir.
Beberapa saat setelah Dimas pergi, Pak Arthama menelepon pembantunya, ia memerintahkan kepada para pembantu di rumahnya untuk mengawasi keadaan Dimas.
"Papa sangat khawatir sama kamu Dimas..." batin Pak Arthama.
BERSAMBUNG•••••••
°
°
°
Sambil menunggu cerita ini update, yuk mampir ke cerita author yang lainnya judulnya "Berbeda"
Jangan lupa like, komentar, vote, dan ratenya ya, agar author jadi lebih semangat 🤗...
1 like dan komentar singkat dari para pembaca sangat berharga bagi Author 😊...
Terima kasih 🙏❤️