Choco

Choco
Mendapatkan Bukti



Pagi hari di sekolah, Aulia menemui Widia.


"Hai..." sapa Aulia.


"Hai juga kak..." balas Widia.


"Dia kan Aulia, cewek yang dijodohin sama Kak Dimas. Jangan-jangan dia mau ngelabrak gue lagi..." pikir Widia.


"Kenalin gue Aulia." Aulia menjulurkan tangan memperkenalkan diri.


Widiapun menyalami tangan Aulia. "Aku Widia kak. Kakak kan yang waktu itu di acara ulang tahunnya Kak Dimas, kakak sekolah disini juga?."


"Iya, gue murid baru, ini hari pertama gue sekolah disini... Lo pacarnya Dimas ya?."


"Iya kak, Aku pacarnya Kak Dimas... Aku udah tau, kalo kakak itu dijodohin sama Kak Dimas," ucap Widia.


Widia memperhatikan Aulia yang berdiri di depannya. "Kalo dilihat-lihat Aulia ini cantik banget. Wajahnya mulus nggak ada jerawat atau lecet sedikitpun, pinter make up, bodinya bagus, gayanya juga elegan banget. Ni orang nggak pernah insecure kayaknya. Nggak ada apa-apanya gue kalo dibandingin sama dia," pikir Widia.


"Lo tenang aja, gue nggak pernah suka kok sama Dimas. Lagian gue juga nggak setuju sama perjodohan kayak gitu, masak jaman sekarang masih ada kayak gituan," ucap Aulia.


"Tapi aku lihat kakak meluk Kak Dimas di acara ulang tahunnya."


"Sebenarnya gue dari dulu suka sama Dika, makanya gue nolak perjodohan itu dan milih sekolah ke luar negeri untuk menghindar. Tapi Dika nggak pernah suka sama gue, seberapa keras gue berusaha Dika nggak pernah mau nerima gue. Akhirnya gue nyerah dan nerima aja perjodohan itu, semua itu cuma karena wajah Dimas mirip sama Dika."


"Terus sekarang kakak mau gimana?."


"Gue akan kembali berjuang buat dapetin hatinya Dika..."


"Semoga berhasil ya kak..."


"Makasi dukungannya. Tapi tujuan gue ketemu sama lo sebenarnya untuk nyuruh lo jauhin Dika. Kata sepupu gue Monica, Dika itu suka sama lo. Jadi gue minta tolong jauhin Dika."


"Iya kak..." ucap Widia dengan senyuman dibuat-buat.


"Jadi dia suka sama Dika. Kok gue ngerasa cemburu ya... Ya ampun Widia... lo harus lupain Dika, lo udah punya Dimas..." pikir Widia.


******** jam istirahat di kantin.


"Bosen banget gue istirahat sendiri terus... Beberapa hari ini Intan sama Adit seleksi OSIS. Tapi dari tadi gue nggak lihat Dika. Kemana ya tu orang?," bantin Widia.


Datang Dimas menghampiri Widia dan duduk di sampingnya.


"Kak Dimas..." ucap Widia.


"Maaf ya Wid, akhir-akhir ini aku sibuk banget, jadi nggak bise ketemu kamu."


"Iya nggak apa-apa. Kak Dimas semangat ya," ucap Widia sambil tersenyum.


"Siap... Hari ini hari terakhir seleksi OSIS, gimana kalo nanti kita makan?."


"Maaf kak, tapi Widia udah janji sama Intan. Kalo seleksi OSIS udah selesai, Widia akan ngajak Intan jalan-jalan. Besok-besok aja ya kak."


"Iya, nggak apa-apa," ucap Dimas yang terlihat kecewa.


"Hmm... Kak Dimas udah tau kalo Kak Aulia sekolah disini juga?."


"Kamu tau Aulia?. Apa kamu juga tau kalo..."


"Iya kak, Widia udah tau tentang Kak Dimas sama Aulia."


Dimas memegang tangan Widia. "Kamu harus percaya sama aku Wid. Aku cuma suka sama kamu. Aku udah nggak ada hubungan apa-apa lagi sama Aulia."


"Widia percaya kok sama Kak Dimas."


"Makasi ya, kamu udah mau percaya sama aku."


"Iya kak..."


"Kalian berdua pacaran aja..." ucap Willy yang baru datang.


"Kak Willy..." ucap Widia.


"Willy..." ucap Dimas.


"Maaf ya Wid, gue pinjem Dimas dulu..." ucap Willy sambil menggoda Widia.


"Ambil aja kak..." ucap Widia bercanda.


"Ya ngurus seleksi OSIS lah... Udah cepetan bangun!..." Willy menarik tangan Dimas.


"Apaan sih lo narik-narik tangan gue. Baru juga gue istirahat."


"Udah kak, kesana aja. Kak Dimas kan OSIS, udah kewajiban kakak melaksanakan tugas OSIS," ucap Widia pada Dimas.


"Tu dengerin kata Widia," ucap Willy.


"Ya udah deh, gue kesana sekarang," ucap Dimas ke Willy.


"Kita duluan ya Wid," ucap Willy pada Widia.


"Aku tinggal dulu ya Wid," ucap Dimas pada Widia.


"Iya kak..."


Dimas dan Willypun pergi meninggalkan Widia.


"Sampai sekarang gue belum bener-bener bisa ngerasa akrab sama Kak Dimas..." batin Widia.


**********


Jam pulang sekolah Widia menunggu Intan sampai selesai seleksi OSIS. Widia mengajak Intan jalan-jalan seperti yang mereka rencanakan sebelumnya. Mereka jalan-jalan ke mall sembari membeli kacamata untuk Intan, karena kacamata Intan sudah tergores akibat ditendang oleh Clara. Setelah itu mereka langsung makan siang.


Pandangan Widia tertuju pada dua orang yang juga sedang makan tapi berada cukup jauh darinya. Mereka tak lain adalah Bu Yuni dan seorang laki-laki yang tidak pernah dilihat oleh Widia sebelumnya.


Widia memperhatikan mereka berdua yang terlihat mesra dan bahkan saling bersuapan. "Itu kan mama tirinya Dika. Tapi laki-laki itu bukan papanya Dika. Mereka kelihatan mesra banget. Jangan-jangan bener yang dibilang Dika," batin Widia.


Diam-diam Widia mengambil foto mereka berdua. Intan yang menyadari hal tersebut merasa bingung.


"Kamu ngapain sih Wid?. Kamu kenal sama mereka?" tanya Intan.


"Ustt... Jangan berisik... Perempuan itu ibu tirinya Dika sama Kak Dimas, tapi laki-laki itu bukan papanya," bisik Widia.


"Berarti selingkuh dong..." bisik Intan.


"Kelihatannya sih gitu Tan."


Bu Yuni dan laki-laki itu bangun dan beranjak pergi dari sana. Widia dan Intan kemudian mengikuti mereka berdua. Mereka berdua pergi melihat-lihat pakaian. Sementara Widia dan Intan bersembunyi sambil mengawasi mereka.


"Enak ya, si Arthama lagi di luar negeri. Kita jadi bisa jalan-jalan," ucap laki-laki itu pada Bu Yuni.


"Iya sayang, kita juga bisa pake uang dia sepuasnya. Kamu kalo mau beli apapun tinggal bilang, biar aku yang bayar," ucap Bu Yuni.


"Makasi ya sayang."


"Iya sama-sama... Ini bagus nggak?." Bu Yuni menunjukan sebuah baju rok berwana merah.


"Bagus, apalagi kalo kamu yang pake."


"Kamu bisa aja."


Bu Yuni dan laki-laki itu kemudian pergi dari tempat itu.


"Ternyata benar yang dibilang Dika, mamanya selingkuh. Alay banget lagi, kayang ABG. Kenapa nggak sekalian gue rekam aja tadi biar jadi bukti," ucap Widia.


"Tenang aja Wid... Aku udah rekam semuanya." Intan menunjukkan rekaman suara di ponselnya.


"Waah, hebat banget lo Tan. Bisa dapetin rekamannya."


"Iya dong, Intan..."


"Dengan foto dan rekaman suara ini Dika bisa buktiin ke papanya kalo Bu Yuni itu emang bener-bener bukan orang baik," batin Widia.


°


°


°


Jangan lupa like, komentar, dan ratenya ya, agar author lebih semangat 🤗...


Terima kasih 🙏💕...