Choco

Choco
Dijemput Dika



Terima kasih sudah mampir 😊...


Selamat membaca 💕...





Malam harinya Dimas pulang seusai mengobati memar di wajahnya karena dipukul oleh Bryan. Dengan terburu-buru Dimas langsung menaiki tangga.


"Dimas?..." ucap Pak Arthama yang berada dibawah tangga.


"Iya pa..." ucap Dimas tanpa menghadap Pak Arthama.


"Kamu dari tadi kemana aja? Tv nggak kamu matiin, main pergi-pergi aja."


"Dimas ada urusan sama temen pa..."


"Kamu kalo bicara sama orangtua yang sopan, jangan membelakangi papa!."


"I-iya pa," ucap Dimas gugup. Dimas kemudian membalikan badannya menghadap Pak Arthama.


Pak Arthama pun menaiki tangga dan menghapiri Dimas. "Kamu kenapa pakai masker?."


"I-itu..." ucap Dimas yang kebingungan.


Pak Arthama langsung membuka masker yang dikenakan Dimas, dan terlihat pipi Dimas lebam seperti bekas pukulan. "Pipi kamu kenapa?."


"Tadi Dimas dirampok pa. Tapi papa tenang aja, rampoknya udah ketangkep..."


"Tapi kamu nggak apa-apa kan?"


"Nggak kok pa, Dimas nggak apa-apa... Dimas capek, Dimas ke kamar dulu ya..." Dimas kemudian langsung bergegas menuju kamarnya.


"Syukurlah Dimas nggak apa-apa," gumam Pak Arthama.


Beberapa saat kemudian datanglah Dika yang baru pulang dari rumah Widia.


"Dika..." ucap Pak Arthama.


"Ada apa pa?" tanya Dika.


"Tadi kakak kamu dirampok, kamu coba temuin dia. Mungkin kalo sama kamu dia mau cerita..."


"Dimas sekarang dimana pa?."


"Dia dikamarnya."


"Iya pa, Dika kesana sekarang." Dika pun langsung menuju kamar Dimas.


Sementara itu Dimas diam di sudut ranjangnya sambil memegang kepalanya.


"Kenapa semua jadi kayak gini?... Gue pikir cepat atau lambat lo akan suka sama gue. Tapi kenapa semua terbongkar secepat ini?..." batin Dimas.


"ARGHH!..." ucap Dimas sambil mengacak-acak rambutnya.


Tok... tok... tok...


Dika mengetuk pintu kamar Dimas.


"Siapa?..." tanya Dimas.


"Ini gue, Dika..." jawab Dika.


"..." Dimas hanya diam dan tidak merespon ucapan Dika.


Karena Dimas tidak berkata apa-apa dan pintu kamarnya tidak terkunci, Dika pun langsung masuk.


"Kata papa lo dirampok?..." tanya Dika.


"..." Sekali lagi Dimas hanya diam tidak merespon pertanyaan Dika, bahkan ia juga tidak menatap Dika.


"Lo bohong kan?! Gue tau lo dipukulin sama Bryan. Tega banget lo ngaku-ngaku jadi gue sama Widia," ucap Dika kecewa.


Bukannya merasa bersalah dan minta maaf pada Dika, Dimas malah marah-marah dan menyalahkan Dika atas semuanya.


"Puas lo sekarang?!... Dari kecil lo selalu rebut kebahagiaan gue! Dari dulu mama sama papa selalu lebih perhatian sama lo!. Kenapa sih lo harus ikut lahir sama gue?!" bentak Dimas.


"Dimas..." ucap Dika dengan tatapan sedih pada Dimas. Dika merasa tidak percaya dengan kata-kata yang baru saja keluar dari mulut Dimas.


"Sekarang lo keluar dari kamar gue!" ucap Dimas sambil menyeret Dika keluar kamar.


Dimas memberikan tatapan penuh amarah pada Dika. "Gue benci sama lo!."


BRAKK...


Dimas langsung menutup pintu kamarnya dengan keras.


"Ya ampun, Dimas..." gumam Dika. Dika kemudian menarik nafas dalam dan menghembuskannya pelan.


* * * * *


Seperti biasa, pagi harinya sebelum berangkat sekolah Widia sarapan bersama keluarganya. Tetapi Bryan tidak ikut karena sudah berangkat lebih awal ke luar kota untuk mengikuti lomba olimpiade matematika.


"Hari ini kamu mau berangkat sekolah sama Pak Agus atau sama Dimas?" tanya Bu Asih. Pak Agus adalah supir keluarga Cahyana.


"Widia... Widia hari ini nggak berangkat sama Pak Agus atau Kak Dimas buk..." jawab Widia sambil menundukkan kepalanya dan melanjutkan sarapannya.


"Terus kamu mau berangkat sama siapa?..."


"Loh, kok bisa sama Dika? Dimas kemana?Bukannya pacar kamu Dimas?" tanya Pak Wahyu.


"Bukan pak, pacar Widia Dika..." ucap Widia takut.


"Kenapa bisa?..." tanya Pak Wahyu.


"Sebenarnya ada salah paham pak... Kalo bapak nggak setuju, Widia nggak akan pacaran sama Dika..." ucap Widia lembut.


"Bapak nggak ngelarang kamu pacaran sama siapa aja, asalkan dia orang baik-baik," jelas Pak Wahyu.


"Kita sebagai orang tua tidak mau ikut campur masalah seperti itu. Kita serahkan semua ke kamu, asalkan kamu nggak melakukan hal yang macam-macam..." ucap Kakek Dharma.


"Siap, Widia akan selalu ingat pesan kakek, bapak sama ibuk..."


"Pagi Kakek, ibuk, paman..." ucap Dika yang baru datang.


"Dika..." ucap Kakek Dharma.


"Eh, nak Dika..." ucap Bu Asih.


"Biasanya Dika ke sekolah aja sering terlambat. Sekarang malah dateng pagi-pagi kesini, jangan-jangan mau minta makan ni orang," batin Widia.


"Nak Dika udah sarapan? Mari makan sama kita..." ucap Bu Asih.


"Saya udah sarapan kok buk, saya duduk disini aja..." Dika kemudian duduk di sofa tidak jauh dari meja makan.


"Widia udah selesai makan, Widia pamit ya kek, pak, buk..." Widia berpamitan dan menyalami Kakek, Bapak, dan Ibunya. Widia kemudian menghampiri Dika.


"Yok berangkat," ucap Widia pada Dika.


"Oke, gue pamitan Dulu," jawab Dika.


Dika kemudian berpamitan dan menyalami tangan Kakek Dharma, Pak Wahyu, serta Bu Asih.


"Kamu bener udah sarapan?" tanya Bu Asih.


"Iya bu, saya sudah sarapan..." jawab Dika.


Dika melirik hidangan yang ada di atas meja. "Tapi... kayaknya masakannya enak buk. Boleh minta untuk bekal nanti siang nggak buk? hehe..."


"Wkwkwkkw... Ya ampun Dika, lo malu-maluin banget," ucap Widia.


"Yee... lo nggak tau aja kalo dulu gue tiap hari main ke rumah Bryan..." ucap Dika.


"Boleh dong nak Dika, kamu tunggu dulu, biar ibuk siapin..." ucap Bu Asih.


"Nggak usah buk, biar saya aja..." Dika kemudian pergi ke dapur mengambil kotak makan.


"Kamu jangan heran sama Dika, dia itu udah kakek anggap seperti cucu sendiri..." ucap Kakek Dharma.


"Pantesan Dika pede banget minta makanan wkwkwk..."


Selesai menyiapkan bekal Dika dan Widia langsung berangkat sekolah.


***** di mobil


"Nggak abis pikir gue sama lo, pede banget lo minta makan. Wkwkkwwk... Ngomong-ngomong lo kok bisa akrab sama kakek sih?..." tanya Widia.


"Gue sering main sama Bryan. Gue, Dimas, sama Bryan kan temenan dari kecil.


"Tapi kalo cuma karena temenan sama abang gue, masak sih lo bisa seakrab itu sama kakek."


"Sebenarnya, setelah lo hilang, gue sering ke rumah Bryan. Gue selalu berharap bisa ketemu sama lo lagi, gue selalu nungguin lo... Tapi setelah gue diusir dari rumah dan Bryan juga pindah rumah, gue udah nggak pernah ke rumah Bryan lagi. Gue cuma tau rumah Bryan dari depan dan tadi pertama kalinya gue masuk kesana," jelas Dika.


"Masak sih lo nungguin gue?..." tanya Widia sambil tersenyum.


"Yah, lo, nggak percaya terus sama gue Nyet..."


"..." Widia hanya menatap malas pada Dika.


"Ngapain lo lihatin gue kayak gitu?"


Widia menarik nafas dalam dan menghembuskannya pelan. "Masihh... ajaa... lo manggil gue Onyet."


"Yee... biarin, suka-suka gue..."


"Serah lo deh... Tapi tadi bukan pertama kalinya lo masuk ke rumah."


"Lah, emang sebelumnya gue pernah masuk?."


"Adeh, nggak inget. Pas lo pura-pura jadi Kak Dimas tu apa?."


"Ih, iya, Wkwkwkkw..."





Yuk mampir ke cerita author yang lainnya judulnya "Berbeda"



Jangan lupa like, komentar, vote, dan ratenya ya, agar author jadi lebih semangat 🤗...


Terima kasih 🙏💕...