Choco

Choco
Berbaikan



"Widia..." ucap Dika yang sudah berada di depan rumah.


"Lo ngapain disini pagi-pagi?."


"Gue cuma mau minta maaf Wid, gue tau gue salah."


"Dika?..." ucap Bryan yang baru keluar rumah.


"Udah lah bang, kita berangkat sekolah aja. Widia duluan ya bang." Widia langsung menuju mobil.


"Widia..." ucap Dika.


"Lo yang sabar, biarin dia nenangin diri dulu... Gue duluan ya Dik."


"Iya..."


Bryan langsung menuju mobil dan berangkat sekolah.


*** di mobil


"Udah lah dek... Nggak baik marahan lama-lama," ucap Bryan.


Widia hanya menunduk tanpa berkata apa-apa.


"Bener juga kata Bang Iyan," pikir Widia.


*** di kelas


"Pagi Tan..." ucap Widia pada Intan.


"Iya..." balas Intan dengan jutek.


"Lo kenapa akhir-akhir ini diemin gue terus sih Tan?."


"Nggak apa-apa..."


"Intan kenapa sih jutek gitu sama gue?" batin Widia.


"Widia, lo dicari tuh di depan," ucap salah satu siswi pada Widia.


"Sama siapa?."


"Gue juga nggak tau. Tapi dia cewek, kayaknya kakak kelas."


"Ya udah, makasi ya."


"Iya."


Widia langsung menemui orang itu, ternyata dia adalah Amel.


"Ya ampun, si drama queen. Pasti mau cari gara-gara ni orang," pikir Widia.


"Ada apa lo cari gue?" tanya Widia.


"Kenapa lo tadi berangkat sama Kak Bryan?!."


"Terserah gue dong mau berangkat sama siapa, bukan urusan lo!."


"Berani-beraninya lo deketin Bryan!. Maksud lo apa sih?!. Lo udah pacaran sama kakak gue tapi malah deketin Bryan. Kalo gue kasi tau Kak Dimas kelas hidup lo!."


"Kasi tau aja, siapa takut!."


"Nantangin gue lo ya?!. Heran gue, kenapa sih Kak Bryan bisa mau sama cewek modelan kayak lo. Jangan-jangan lo pake pelet?!."


"Ciah... ada-ada aja lo. Hari gini masih percaya gitu-gituan. Bryan itu kakak gue!."


"A-apa?..." ucap Amel tidak percaya.


Widia langsung pergi meninggalkan Amel ke kelas.


"Wid, gue duluan ya," ucap Adit pada Widia.


"Semangat ya seleksi OSISnya Dit."


"Pastilah Wid."


"Lo juga semangat ya Tan," ucap Widia pada Intan.


"Iya," ucap Intan dengan jutek.


"Salah gue apa sih Tan?. Sampai lo jutek gitu sama gue... Beberapa hari ini Intan sama Adit ikut seleksi OSIS, sepi deh. Tapi untung aja si Clara sama temen-temennya juga ikut, jadi lebih tenang," gumam Widia dalam hati.


Jam istirahat Widia makan sendiri di kantin. "Bosen banget gue, Bang Iyan, Kak Dimas, sama Kak Willy ngurus seleksi OSIS. Intan sama Adit juga ikut seleksi OSIS. Coba aja ada Dika. Ya ampun... di pikiran gue kenapa cuma ada dia sihh..." ucap Widia dalam hati.


"Hai Widia..." ucap seorang siswi perempuan pada Widia.


"Ha-hai... kok bisa tau nama gue?" ucap Widia yang kebingungan.


"Tau lah, kamu kan adiknya Bryan. Aku Rista, kelas 12 IPA 1."


"Berarti kakak temennya Bang Iyan."


"Iya, Bryan sehari-harinya gimana sih?. Apa sih hal yang dia suka?."


"Ada apa nanya gitu kak?."


Tiba-tiba ada lagi seorang siswi menghampiri Widia. "Kamu adiknya Bryan kan?."


"Iya, kakak temennya kakak aku ya?."


"Jangan panggil kakak. Kenalin aku Dewi, aku kelas 10 juga."


"Aku kira temennya Bang Iyan."


"Kakak kamu pake apa sih?. Kok bisa ganteng gitu?."


"Ni cewek-cewek kepo banget sama Bang Iyan, jangan-jangan mereka fansnya Bang Iyan," pikir Widia.


"Eh, itu adiknya Bryan," ucap seorang siswi pada temannya.


"Oh iya..."


Widia yang mendengar ucapan siswi-siswi itu menoleh ke arah mereka berdua. "Ya Ampun... Itu pasti fansnya Bang Iyan lagi," batin Widia.


Kedua siswi tersebut berjalan menghampiri Widia.


"Aku duluan ya." Widia bergegas pergi meninggalkan kantin dan langsung menuju kelas.


"Widia..." teriak siswi-siswi tersebut, tetapi Widia tidak menghiraukan mereka.


Di perjalanan menuju kelas Widia kembali di hampiri oleh 3 orang siswi.


"Kamu adiknya Bryan kan?."


"Iya, maaf ya, aku lagi buru-buru." Widia langsung pergi meninggalkan mereka.


"Dari tadi gue diteror fans Bang Iyan terus. Gue harus cepet-cepet ke kelas," gumam Widia dalam hati.


Langkah Widia terhenti karena melihat Clara sedang menendang kacamata Intan yang jatuh. Widia kemudian mengambilkan kacamata Intan.


"Lo apa-apaan sih Clara!."


"Lo kenapa sih selalu ikut campur urusan gue!. Toh Intan udah benci sama lo kan!."


"Intan itu sahabat gue, jadi gue berhak ikut campur!."


"Udah Ra, mending nggak usah urusin mereka. Mending kita istirahat aja, jam istirahat kita sedikit," ucap Monica pada Clara. Clara dan teman-temannyapun pergi meninggalkan Widia dan Intan.


"Lo nggak apa-apa kan Tan?" tanya Widia pada Intan.


"Nggak kok Wid, makasi ya... Widia, aku mau minta maaf. Selama ini aku marah sama kamu karena kamu pacaran sama Kak Dimas, sebenarnya aku juga suka sama Kak Dimas. Nggak seharusnya aku marah, maafin aku Wid," ucap Intan. Mata Intan berkaca-kaca karena merasa bersalah.


"Nggak apa-apa Tan, gue ngerti kok. Gue nggak tau kalo lo suka sama Kak Dimas. Gue bisa kok putusin Kak Dimas sekarang juga."


"Jangan Wid, aku mohon jangan putusin Kak Dimas gara-gara aku. Aku yang seharusnya minta maaf."


"Gue udah maafin lo Tan, gue nggak pernah marah sama lo."


"Makasi ya Wid, kamu baik banget."


"Iya, sama-sama Tan."


"Akhirnya gue sama Intan baikan," ucap Widia dalam hati.


*********


Jam pulang sekolah Widia menunggu angkot di depan sekolah. Ia tidak pulang dengan Bryan atau Dimas karena mereka sedang sibuk mengurus seleksi OSIS.


"Dika?... Kak Restu?..." ucap Widia pada Dika dan Restu yang datang menghampirinya.


"Widia, gue mohon jangan pergi, dengerin penjelasan gue dulu," ucap Dika.


"Gue nggak bermaksud jadiin lo taruhan. Gue bener-bener tulus suka sama lo. Gak seharusnya gue mukul temen lo, gak seharusnya juga gue percaya sama ucapan Clara dan malah nuduh lo. Gue minta maaf Wid."


"Iya Wid, Dika emang beneran suka sama lo. Waktu itu gue nggak percaya kalo lo bisa suka juga sama Dika, makanya kita taruhan. Dan emang bener Clara yang pengaruhin Dika buat nuduh lo Wid."


"Jadi itu ulahnya Clara, keterlaluan banget Clara," ucap Widia dalam hati.


"Maafin gue ya Wid," ucap Dika.


"Iya Dik, gue maafin lo. Gue juga minta maaf karena udah nuduh lo Dik."


"Gue udah maafin lo Wid. Asal lo tau, gue nggak pernah marah sama lo."


"Makasi ya Dik."


"Iya Wid."


"Gue minta tolong ya Wid. Tolong jelasin ke Intan, gue nggak pernah ada niat permainin perasaan dia. Gue beneran suka sama dia," ucap Restu.


"Iya kak, Widia akan jelasin ke Intan."


"Makasi ya Wid."


"Sama-sama kak."


"Lo mau gue anter pulang?" tanya Dika.


"Nggak usah Dik, itu udah ada angkot."


"Ya udah kalo gitu, hati-hati ya."


"Iya..."


Widiapun pulang naik angkot.


"Bener kata Bang Iyan, kalo udah kayak gini rasanya lebih tenang," pikir Widia.


°


°


°


Jangan lupa like, komentar, dan ratenya ya kakak 🤗...


Terima kasih 🙏💕...