Choco

Choco
Tangisan



Akhirnya setelah 4 jam lamanya operasi Dimas pun sudah selesai. Kini Dimas dipindahkan ke ruang ICU karena kondisinya yang kritis. Saat ini Dimas pun juga harus dibantu dengan alat penunjang kehidupan.


Kini Pak Arthama menemani Dimas di ruang ICU, sementara itu Dika hanya bisa melihat dari luar ruangan karena hanya ada 1 orang yang boleh menemani Dimas di dalam ruang ICU.


Sekitar pukul 12 siang Widia, Bryan, dan Kakek Dharma sampai di rumah sakit. Dika pun menceritakan semuanya kepada mereka.


30 menit kemudian Pak Arthama keluar dari ruang ICU dan kini Dika lah yang menemani Dimas.


Tiit.. tiit.. tit...


Keadaan di ruang ICU sangat hening, hanya suara dari alat-alat medis yang memecah kesunyian di sana. Dika memperhatikan Dimas yang tengah terbaring tak sadarkan diri. Ada banyak selang yang terhubung pada tubuh Dimas. Sampai saat ini Dimas masih bernafas dan jantungnya masih berdetak hanya karena ditunjang oleh alat bantu kehidupan.


"Cepetan sadar Dim... Ya Tuhan.. hamba mohon, tolong selamatkan Dimas," ucap Dika dalam hati.


Walaupun Dika sudah berusaha untuk tegar, tetapi ia tetap tidak bisa membendung air matanya yang terus menerus keluar tanpa bisa ia kendalikan. Matanya pun sampai menjadi bengkak akibat menangis.


"Gue tau, kalau sekarang lo lihat gue nangis, lo pasti ngejek gue kan? Waktu kecil gue cengeng banget, lo selalu ngejek gue, lo selalu ketawain gue setiap gue nangis dan gue malah tambah nangis gara-gara lo... Tuna, tukang nangis, itu kata-kata yang sering lo bilang pas gue lagi nangis. Lo suka kan ngejek gue? Sekarang kenapa lo nggak bangun? Gue seharian nangis gara-gara lo. Gue mau denger lo ngejek gue lagi Dim, gue mau lihat lo ketawa lagi..." ucap Dika dalam hati.


"Semuanya nyuruh gue berhenti nangis, mereka nyuruh gue buat kuat. Tapi Dim, ada air mata setiap kali gue berkedip, air mata gue terus aja keluar..." ucap Dika sembari menyeka air matanya.


Sedikitpun Dika tidak mengalihkan pandangannya dari Dimas. Dika terus menatap wajah Dimas, ia terus menantikan Dimas membuka matanya.


"Sampai kapan lo akan tidur terus?..." ucap Dika.


"Ya Tuhan.. saya mohon, bantu Dimas melewati semua ini, kuatkan dia. Berikan keajaiban agar dia bisa sembuh. Saya rela melakukan apapun agar Dimas bisa selamat, termasuk menukarnya dengan nyawa saya..." batin Dika.


"Lo nggak capek apa buat gue nangis terus? Gue seharian nangis gara-gara lo. Lo bilang, lo nggak nggak mau buat gue sedih. Kalo gitu, sekarang cepetan bangun..." ucap Dika.


Sudah 8 jam Dika menemani Dimas. Dan kini waktu pun sudah menunjukkan pukul 20.00 malam. Pak Arthama pun mengajak Dika keluar dari ruang ICU.


"Dika.. kamu keluar dulu. Kamu kan belum makan, lebih baik kamu makan dulu. Wajah kamu juga kelihatan pucat, sebaiknya kamu istirahat saja," ucap Pak Arthama.


"Nggak pa..."


"Ayo keluar, kamu harus makan..."


"Dika pengen di sini aja pa."


"Ya sudah, kalau kamu tidak mau keluar untuk makan, setidaknya kamu harus keluar untuk menemui kakek, Bryan, dan Widia. Mereka akan pulang."


"I-iya pa..."


Dika pun akhirnya mau menuruti perintah Pak Arthama, ia pun keluar dari ruang ICU. Dika dan Pak Arthama menemui Widia, Bryan, dan Kakek Dharma yang masih berada di ruang tunggu.


"Dika.. kamu terlihat pucat sekali. Apa kamu sakit?" ucap Kakek Dharma.


"Nggak kek, Dika cuma kecapekan aja."


"Kamu harus tabah... Tuhan pasti memberikan yang terbaik buat kakak kamu."


"Iya kek..." balas Dika.


"Lo kan belum makan, makan dulu ya. Ini gue beliin makan." Bryan memberikan sekotak nasi yang ia belikan untuk Dika.


"Makasi ya..."


"Iya," balas Bryan.


"Lo mau gue temenin makan di luar?" tanya Widia.


"Nggak usah. Udah malam juga, nanti lo kemalaman sampai di rumah. Besok kan lo harus sekolah."


"Kalau masalah itu nggak usah dipikirin. Gue temenin ya, biar lebih enak makannya."


"Nggak, nggak usah. Lo tenang aja, gue pasti makan kok."


"Lo nggak bohong kan?"


"Iya, gue janji."


"Artha, bapak mau pulang dulu. Besok-besok bapak ke sini lagi," ucap Kakek Dharma kepada Pak Arthama.


"Iya pak. Terima kasih banyak."


"Dika, kakek pulang dulu," ucap Kakek Dharma kepada Dika.


"Iya kek, hati-hati di jalan."


"Om, Bryan pulang ya," ucap Bryan.


"Widia pulang ya Om," ucap Widia.


"Iya, hati-hati di jalan," ucap Pak Arthama.


"Dika, gue balik dulu," ucap Bryan.


"Makasi Yan."


"Iya," balas Bryan.


"Gue pulang ya. Besok-besok gue ke sini lagi," ucap Widia sembari memegang pundak Dika.


Dika menatap wajah Widia. Dika sedikit pun tidak mengedipkan matanya, seakan-akan ia tidak akan bisa melihat Widia lagi.


"Kenapa Dika lihatin gue kayak gitu?" batin Widia.


"Iya, makasi ya. Hati-hati di jalan..." ucap Dika sembari mengusap kepala Widia.


"Iya..."


Kakek Dharma, Bryan, dan Widia pun kemudian beranjak meninggalkan rumah sakit.


"Pa, Dika pergi sebentar. Mau ketemu sama Widia," ucap Dika kepada Pak Arthama.


"Iya."


Dika pun berlari mengejar Widia. Beruntung Widia masih berada di parkiran rumah sakit.


"Widia..." teriak Dika sembari berlari menghampiri Widia.


Widia, Bryan, dan Kakek Dharma pun menghentikan langkahnya.


"Kakek sama Bang Iyan duluan aja ke mobil," ucap Widia.


"Iya..." balas Bryan dan Kakek Dharma. Mereka berdua pun pergi meninggalkan Widia.


"Ada apa?" tanya Widia kepada Dika.


"Gue..." Dika melepaskan gelangnya.


"Gue mau kasi ini sama lo." Dika kemudian memakaikan gelang tersebut kepada Widia.


"Ini kan gelang yang gue kasi sama lo. Kenapa lo balikin?"


"Gue mau lo jaga gelang ini... Gelang ini udah lama banget, kayaknya talinya udah mau putus. Gue takut nanti lepas. Kalau sempat, benerin ya."


"Iya, nanti gue benerin..."


"Jaga baik-baik."


"Iya... Gue pulang ya."


"Apa lagi?" tanya Widia.


Tiba-tiba Dika langsung memeluk Widia, ia memeluk Widia dengan sangat erat. Seakan-akan ini adalah kali terakhirnya ia bisa memeluk Widia.


"Dika peluk gue erat banget. Seperti dia nggak akan bisa peluk gue lagi," batin Widia.


"Lo kenapa?" tanya Widia.


"Gue capek... Biarin gue peluk lo, sebentar aja..."


Widia kemudian mengusap punggung Dika. "Lo harus kuat. Lo nggak sendirian, ada gue, kita bareng-bareng..."


"Maafin gue Wid. Gue selalu buat lo sedih..."


"Nggak Dika, lo nggak perlu minta maaf. Saat gue sama lo, gue ngerasa bahagia, gue ngerasa sangat tenang dan nyaman. Cuma lo yang bisa memberikan gue perasaan seperti itu..."


"Makasi ya, udah selalu ada buat gue. Makasi udah sabar dan mau bantu gue menghadapi semua ini..."


"Gue di sini karena gue sayang sama lo, gue mencintai semuanya dari diri lo. Gue nggak perduli apa yang sedang terjadi ataupun yang akan terjadi. Karena orang yang berdiri di hadapan gue adalah keajaiban. Lo adalah keajaiban, lo adalah berkah dari Tuhan buat gue..."


"Gue merasa sangat beruntung karena ada lo dalam hidup gue..."


"Gue lebih beruntung bisa ketemu sama orang kayak lo..."


Dika pun melepaskan pelukannya.


"Lo hati-hati di jalan. Nanti sampai di rumah langsung istirahat, jangan lupa makan."


"Iya, lo juga jangan lupa makan dan istirahat. Gue balik dulu."


"Iya..."


Widia pun pergi meninggalkan rumah sakit. Sementara itu Dika kembali ke ruang tunggu dan di sana terlihat masih ada Pak Arthama.


"Dika kira papa temenin Dimas," ucap Dika.


"Kamu sekarang harus makan..." ucap Pak Arthama pada Dika.


Pak Arthama pun memberikan kotak nasi kepada Dika, namun Dika hanya diam sembari menatap kotak nasi tersebut. Pak Arthama pun membuka kotak nasi tersebut. Tetapi lagi-lagi Dika hanya diam sembari menatap kotak nasi tersebut.


"Apa kamu mau makan di luar? Biar papa temani."


"Nggak pa, Dika makan di sini aja. Papa sendiri udah makan?"


"Papa udah makan dari tadi."


"Kalau gitu papa temenin Dimas aja."


"Nggak, papa akan temani kamu di sini sampai makanan kamu habis. Papa yakin kamu tidak akan makan makanannya apalagi menghabiskan makanannya jika papa tidak ada di sini."


"Tapi siapa yang temenin Dimas?"


"Tergantung sama kamu. Semakin cepat kamu habiskan makanannya, maka akan semakin cepat papa bisa ke ruang ICU untuk menemani Dimas."


"Dika akan makan sekarang..." Dika kemudian mulai memakan makanannya. Ia pun makan dengan terburu-buru dan dengan cepat Dika dapat menghabiskan makanannya.


"Udah habis, sekarang papa bisa tinggalin Dika," ucap Dika.


"Sebenarnya ada yang mau papa katakan sama kamu..."


"Apa?"


Pak Arthama menarik nafas panjang. "Tadi dokter memberikan penjelasan sama papa. Dokter bilang, Dimas sampai saat ini bisa bertahan hanya karena dengan ditunjang oleh alat bantu kehidupan..."


"Terus dokter bilang apa lagi?"


"Kemungkinan Dimas untuk selamat sangat, sangat kecil. Hampir tidak ada harapan untuk Dimas kembali sadar. Jadi, lebih baik ji-"


Dika memotong ucapan Pak Arthama. "Dimas akan baik-baik aja!"


"Dika..."


Seketika air mata Dika langsung keluar, ia langsung menutupi wajahnya menggunakan kedua tangannya... "Dimas pasti selamat pa..."


"Dika.. kamu sayang kan sama kakak kamu? Kasihan Dimas jika terus-terusan seperti ini, kita tidak bisa memaksakan dia. Sudah saatnya dia tidak merasakan sakit lagi. Kata dokter, lebih baik kita melepaskan alat bantu kehidupan Dimas..."


"Nggak pa, nggak... Jangan... Dika mohon sama papa..." Tangisan Dika pun semakin menjadi-jadi.


Pak Arthama kemudian memeluk Dika, ia pun kini juga sudah tidak bisa lagi membendung air matanya. "Tapi memang ini yang terbaik untuk Dimas. Jika kamu sayang sama Dimas, ikhlaskan dia..."


Dika sama sekali sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Hanya tangisan lah yang bisa mengekspresikan perasaannya saat ini.


"Sudah, sudah Dika... Jangan menangis terus. Wajah kamu sampai pucat seperti ini. Lebih baik kamu istirahat dulu. Apa perlu papa carikan kamu kamar?"


"Nggak usah pa. Dika capek, Dika mau pulang."


"Ya sudah, sekarang papa akan telepon Pak Edi buat jemput kamu."


"Jangan pa. Dika akan pulang sendiri. Dika bisa sendiri... Tapi Dika punya satu permintaan."


"Apa?"


"Sebelum Dika kembali, papa nggak boleh izinkan dokter untuk mencabut alat bantu kehidupan Dimas."


"Iya, papa janji."


Tiba-tiba Dika langsung memeluk Pak Arthama dengan sangat erat.


"Sebelumnya Dika tidak pernah memelukku dengan sangat erat seperti ini," batin Pak Arthama.


"Dika udah capek pa, Dika mau pulang."


"Kamu harus kuat..." ucap Pak Arthama sembari mengusap kepala Dika.


Dika pun melepaskan pelukannya. "Dika pulang pa..."


"Iya, hati-hati di jalan," ucap Pak Arthama dan dibalas anggukan oleh Dika.


"Saat ini hanya keajaiban dari Tuhan yang bisa menyelamatkan Dimas," batin Pak Arthama.


...----------------...


...BERSAMBUNG...


...----------------...


...°...


...°...


...°...


...Sambil menunggu cerita ini update, yuk mampir ke cerita author yang lainnya yang berjudul "Berbeda"...


...Jangan lupa dijadiin fav yaaa🤭......


...Jangan lupa like, komentar, vote, dan ratenya ya agar author jadi lebih semangat 🤗......


...Terima kasih 🙏💕......