
Pak Arthama dan Amel memutuskan untuk menemui Dika di kamarnya. Di dalam kamar terlihat Dika sedang duduk di sudut ruangan sembari menangis. Keadaan kamar pun terlihat sangat berantakan.
Pak Arthama dan Amel kemudian duduk di samping Dika. Dika tetap menangis, ia sama sekali tidak menghiraukan kedatangan Pak Arthama dan Amel.
"Dika..." ucap Pak Arthama.
Pak Arthama memegang pundak Dika. Akan tetapi dengan segera Dika menepis tangan Pak Arthama.
"Maafkan papa Dika..."
"Kenapa papa bohong?! Kenapa papa nggak kasi tau Dika?! Bahkan Dika nggak sempat menghadiri pemakaman Dimas."
"Dimas meninggal dan dimakamkan sewaktu kamu masih koma."
"Tapi tetap aja seharusnya papa kasi tau Dika dari dulu. Kenapa papa baru bilang sekarang kalau Dimas sudah meninggal?!"
"Kamu baru saja sembuh, papa takut kalau kondisi kamu akan memburuk. Papa minta maaf, papa tau papa salah. Tapi papa berusaha melakukan yang terbaik buat kamu."
"Udah! Cukup! Dika nggak mau dengar penjelasan dari papa. Dika kecewa sama papa! Papa keluar sekarang!"
Mata Pak Arthama pun berkaca-kaca. "Dika, papa..."
"KELUAR!" bentak Dika.
"Kak Dika! Kak Dika jangan bentak papa! Amel tau kak Dika sedih, tapi papa juga sedih, kita semua sedih kak, kita semua merasa kehilangan Kak Dimas. Papa melakukan semua ini demi kebaikan kakak," ucap Amel.
"Kalian berdua sama aja! Sekarang kalian keluar!"
"Kak Dika harus ngertiin papa, kasihan papa kak!"
"Udah Amel, kita keluar sekarang." Pak Arthama menarik tangan Amel dan mengajaknya keluar.
"Maafkan papa..." ucap Pak Arthama sebelum pergi meninggalkan Dika.
Langkah Amel terhenti di samping meja, ia kemudian menaruh surat yang ditulis oleh Dimas di atas meja.
"Kak Dika harus baca surat ini..." Amel kemudian langsung keluar dari kamar.
...****************...
Beberapa saat kemudian Widia datang bersama Bryan. Mereka menghampiri Pak Arthama yang sedang duduk di tangga.
"Selamat siang om..." ucap Widia dan Bryan. Mereka berdua pun menyalami tanggan Pak Arthama.
"Siang..." balas Pak Arthama.
"Kenapa wajah om kelihatan pucat banget?" batin Bryan.
"Dika dimana om?" tanya Widia kepada Pak Arthama.
"Dia di kamarnya. Tapi lebih baik kalian jangan temui dia sekarang," ucap Pak Arthama.
"Kenapa om?" tanya Widia.
"Om sudah memberitahu Dika mengenai kepergian Dimas. Emosinya masih sangat buruk saat ini."
"Dia pasti sangat sedih. Widia akan temui dia sekarang." Widia langsung bergegas menuju kamar Dika.
"Widia..." ucap Pak Arthama namun Widia sedikit pun tidak menghiraukan Pak Arthama, ia tetap berjalan menuju kamar Dika. Bryan pun pergi menyusul Widia.
Sesampainya di kamar, terlihat Dika masih menangis. Bahkan ia sampai tidak menyadari kedatangan Widia dan Bryan. Widia kemudian duduk di samping Dika.
"Dika..." ucap Widia.
Dika kemudian mengalihkan pandangannya pada Widia, ia pun langsung mengusap air matanya.
"Tinggalin gue sendirian..." ucap Dika.
"Gue mau nemenin lo di sini," ucap Widia.
"Gue mau sendirian dulu."
"...." Widia tidak berkata sepatah kata pun, ia masih tetap duduk di samping Dika.
"Keluar..."
"Nggak Dika."
Bryan menatap Dika dengan kesal. "Coba aja kalau lo nggak lagi sakit dan nggak dalam masa berduka, gue pasti udah marahin lo karena berani bentak adik gue," batin Bryan.
"Dika..." ucap Widia.
Widia hendak memegang pundak Dika namun Dika langsung menepis tangan Widia, bahkan tanpa sengaja ia mendorong Widia hingga terjatuh. Mata Dika pun membesar karena sadar akan apa yang telah ia lakukan.
Bryan yang menyaksikan hal tersebut pun sudah tidak bisa menahan amarahnya. "Dika!" bentak Bryan.
"Wi-widia," ucap Dika gemetar.
"Berani-beraninya lo!" Bryan langsung meremas leher baju Dika. Hampir saja tangan Bryan mendaratkan pukulan di wajah Dika, beruntung saja Widia dengan sigap memegang tangan Bryan.
"Udah kak, udah..." Widia kemudian menarik tangan Bryan dan mengajaknya keluar.
"Arrghhh!" Dika menghempaskan semua barang-barang yang ada di atas meja.
Dika melihat surat yang ditulis oleh Dimas juga ikut terjatuh. Ia lalu mengambil surat tersebut. Dika memperhatikan amplop tersebut, tetesan air mata Dika pun membasahi sudah tersebut. Ia kemudian membuka amplop tersebut dan membaca isi surat yang dibuat oleh Dimas.
......................
Gue nggak tau sampai kapan gue akan bertahan. Tapi yang jelas gue rasa waktu gue udah nggak lama lagi. Mungkin saat lo nemuin surat ini, gue udah pergi jauh...
Saat gue udah nggak ada, gue mohon lo ikhlasin gue. Lo harus kuat, jangan terlalu lama menangisi kepergian gue, jangan sedih terus. Gue nggak mau lo terpuruk dan berlarut-larut dalam kesedihan. Gue juga ikut sedih kalau lo sedih. Ini hanya perjalanan singkat, cepat atau lambat pasti akan ada perpisahan. Tersenyumlah dan berbahagialah. Hidup ini terlalu singkat untuk disia-siakan...
Jaga papa, papa cuma punya lo sekarang. Jangan buat papa sedih. Papa selalu berusaha melakukan yang terbaik buat kita, apapun yang papa lakukan, itu pasti untuk kebaikan kita. Nggak ada yang bisa menyayangi kita lebih sempurna dari papa...
Gue juga mau minta maaf sama lo, selama ini gue udah banyak salah sama lo. Tapi gue tau, tanpa gue minta maaf pun lo pasti udah maafin gue, gue tau lo orang baik Dika...
Gue nggak bisa bilang semuanya. Maksud gue, terlalu banyak yang bisa gue katakan dan ceritakan sama lo, gue nggak mungkin nulis semuanya. Tapi gue mau lo tau kalau gue sangat, sangat sayang sama lo Dika. Mungkin gue terlalu malu untuk mengatakan ini secara langsung, tapi setidaknya melalui surat ini lo bisa tau. Gue merasa beruntung bisa jadi saudara lo Dika. Gue sangat bersyukur punya lo dan papa. Gue sayang kalian. Terima kasih buat semuanya...
......................
Dika pun tak kuasa menahan tangisannya karena membaca surat tersebut. Beberapa bagian tulisan di surat tersebut pun memudar karena air mata Dika.
"Dimas..." ucap Dika di tengah-tengah tangisnya.
Tak berselang lama Widia kembali datang. Ia kemudian duduk di depan Dika. Widia memperhatikan Dika yang tengah menangis. Air matanya pun keluar, ia turut merasakan kesedihan yang Dika rasakan. Widia lalu memeluk Dika dan Dika pun juga memeluk Widia.
"Biarin gue meluk lo. Gue tau gue nggak bisa menyelesaikan masalah lo. Tapi setidaknya lo akan merasa lebih baik. Biarin gue meluk lo..." ucap Widia.
"Maafin gue... Maaf gue marah. Maaf gue sedih. Maaf gue nangis. Maaf gue nggak selalu tersenyum. Maaf gue berantakan. Gue minta maaf karena mengatakan hal-hal yang gue katakan. Maaf udah buat lo sedih. Maaf untuk semuanya..."
"Lo nggak perlu minta maaf Dika. Semua orang bisa nangis, seorang laki-laki juga bisa nangis. Dan nggak ada yang salah dengan itu. Menangis memang bukan merupakan solusi, tapi setidaknya lo bisa merasa lebih lega. Gue bisa ngerti Dika, memang sangat sulit untuk berpisah dengan orang yang sangat kita sayangi."
"Makasih udah ngertiin gue, makasi..."
"Iya Dika..."
...°...
...°...
...----------------...
...BERSAMBUNG...
...----------------...
...°...
...°...
...°...
...Sambil menunggu cerita ini update, yuk mampir ke cerita author yang lainnya yang berjudul "Berbeda"...
...Jangan lupa dijadiin fav yaaa🤭......
...Jangan lupa like, komentar, vote, dan ratenya ya agar author jadi lebih semangat 🤗......
...Terima kasih 🙏💕......