Choco

Choco
Memaafkan



Setelah mendengar kabar baik dari Dimas, Pak Arthama cepat-cepat menyelesaikan urusannya di kantor polisi, setelah itu ia langsung bergegas pergi menuju rumah sakit untuk menemui Dika.


Karena saking tidak sabarnya ingin bertemu dengan Dika, Pak Arthama mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sesampainya di rumah sakit pun Pak Arthama berlari menuju ruang rawat Dika.


"Dika..." ucap Pak Arthama yang masih berada di pintu. Senyuman lebar pun terukir di wajah Pak Arthama, alangkah senangnya Pak Arthama ketika melihat Dika yang sudah membuka matanya dan kini Dika tengah menatap dirinya.


Pak Arthama menghampiri Dika dan duduk disampingnya. "Akhirnya kamu sadar juga nak..." ucap Pak Arthama dengan senyuman haru. Mata Pak Arthama sampai berkaca-kaca karena merasa sangat terharu. Pak Arthama segera mengusap matanya sebelum air matanya menetes


Dika hanya menatap Pak Arthama dengan tatapan sayu sambil tersenyum.


"Akhirnya gue bisa ketemu sama papa dan setelah sekian lama, papa bicara juga sama gue..." batin Dika.


Dimas yang sudah sadar kini sudah tidak merasa iri lagi dengan kedekatan diantara Pak Arthama dan Dika. Sekarang Dimas malah merasa senang karena dirinya bisa bersama-sama lagi dengan Dika dan papanya.


"Sekarang papa sama Dika udah baikan. Gue bahagia banget bisa kumpul sama-sama lagi... Tapi setelah semua yang gue lakuin sama Dika, gue masih ngerasa bersalah sama dia..." batin Dimas.


Pak Arthama memegang tangan Dika. "Kamu benar-benar sudah buat papa khawatir Dika, cepat sembuh Dika... Papa minta maaf, papa sudah banyak salah sama kamu. Papa tidak mau bertengkar lagi sama kamu. Kita tinggal sama-sama lagi ya?..."


"Iya pa... Papa udah nggak marah lagi sama Dika?" ucap Dika.


Pak Arthama menghela nafas panjang. "Papa sudah tidak marah lagi sama kamu... Tapi yang kamu lakukan itu memang salah, mencuri bukan perbuatan yang baik, papa harap kamu tidak melakukan hal seperti itu lagi..." ucap Pak Arthama dengan lembut.


Dika mengalihkan pandangannya kemudian tersenyum kecewa. "Sebenarnya Dika nggak pernah mencuri pa. Itu semua perbuatan Dimas... Tapi Dika nggak perduli, sekarang yang terpenting bagi Dika adalah kita bisa sama-sama lagi. Dengan Dimas dan papa udah mau nerima Dika aja, itu udah lebih dari cukup bagi Dika..."


Dika memandang Pak Arthama. "Iya pa, Dika minta ma..." ucapan Dika terpotong.


"Nggak!" cela Dimas.


Sontak saja Dika dan Pak Arthama langsung memandang Dimas secara bersamaan.


Jantung Dimas berdegub dengan kencang. Dimas pun menghela nafas panjang untuk menenangkan dirinya. "Dika sama sekali nggak salah pa, semua itu perbuatan Dimas."


"Apa?!.. maksud kamu apa?" ucap Pak Arthama bingung.


"Sebenarnya..." Dimas pun jujur dan menceritakan semua yang terjadi kepada Pak Arthama.


Pak Arthama memandang Dimas dengan tatapan kecewa. "Papa benar-benar kecewa sama kamu Dimas!" Pak Arthama mengalihkan pandangannya ke arah lain untuk menahan amarahnya. Sebenarnya Pak Arthama sangat ingin meluapkan perasaan kecewa dan amarahnya kepada Dimas, hanya saja ia tidak mau bertengkar di depan Dika karena Dika baru saja pulih.


"Udahlah pa... Lagipula Dimas tidak benar-benar mencuri, mereka hanya salah paham sama Dimas," ucap Dika untuk menenangkan Pak Arthama.


"Papa sama sekali tidak mempermasalahkan soal itu. Tapi dia sudah keterlaluan dengan sengaja membuat kamu sampai masuk penjara," ucap Pak Arthama.


"Dimas akui, Dimas emang salah. Tapi Dimas janji nggak akan ulangi kesalahan Dimas lagi," ucap Dimas.


"Tapi apa salah Dika sama kamu?! Sehingga kamu bisa sebenci itu dengan Dika?! Dia itu adik kandung kamu. Papa sedikit pun tidak pernah membeda-bedakan kamu dengan Dika." ucap Pak Arthama dengan kesal kepada Dimas.


"Pa, udahlah pa..." ucap Dika.


"Tapi Dimas sudah keterla..." ucapan Pak Arthama terpotong karena kedatangan Bryan dan Widia.


"Dika..." ucap Widia dan Bryan yang masih berada di pintu, terlihat mereka masih memakai seragam sekolah.


Widia dan Bryan pun memberikan salam kepada Pak Arthama terlebih dahulu.


"Kalian disini dulu, om mau keluar sebentar," ucap Pak Arthama kepada Bryan dan Widia.


"Baik om..." balas Bryan dan Widia.


Pak Arthama menatap kesal kepada Dimas sejenak kemudian ia langsung beranjak pergi.


Bryan dan Widia terlihat tidak menghiraukan keberadaan Dimas yang juga berada disana, bahkan mereka tidak menatap atau berkata sepatah kata pun kepada Dimas.


"Akhirnya lo sadar juga Dik..." Widia pun sampai menagis karena saking terharunya.


Namun Dika malah tersenyum bahagia ketika melihat Widia menangis. Dika merasa senang karena mengetahui Widia sangat mengkhawatirkan dirinya.


Widia menatap malas pada Dika yang tersenyum bahagia. "Malah ketawa lagi..."


"Gue seneng aja lo khawatir sama gue Nyet," ucap Dika.


Widia memegang tangan Dika. "Jelas lah gue khawatir." Tanpa sengaja Widia sedikit mengangkat tangan Dika.


"Awww..." ucap Dika.


"Eh, ada apa?!" ucap Widia kaget.


"Lo boleh pegang tangan gue, tapi jangan diangkat, tangan gue masih sakit."


Widia pun melepaskan tangan Dika. "Maaf, maaf, gue nggak sengaja."


"Kangen sih kangen, tapi jangan sampai segitunya," ucap Dika sembari tersenyum jahil.


"Ih, apaan sih?! Siapa yang kangen? Nggak usah ge'er," balas Widia.


"Udahh... ngaku ajaa..." goda Dika.


Widia pun tidak bisa menahan senyumannya karena mendengar ucapan Dika.


"Tuh kan, senyum-senyum," ucap Dika.


Dika dan Widia merespon ucapan Bryan hanya dengan tertawa kecil.


Dimas yang menyaksikan keakraban diantara Widia dan Dika pun merasa sakit hati karena sesungguhnya ia belum benar-benar bisa melupakan Widia.


"Oke, gue memang bisa hapus foto, chat, dan nomor telepon lo Widia. Tapi gimana cara gue menghapus wajah dan kenangan lo dari pikiran gue?" batin Dimas.


Dimas pun beranjak pergi karena merasa kehadiran tidak dipedulikan disana.


Ketika melihat Dimas tiba-tiba beranjak pergi, Dika pun menyadari bahwa Widia dan Bryan masih belum bisa memaafkan Dimas karena sejak tadi Widia dan Bryan terlihat tidak memperdulikan Dimas.


"Dimas..." ucap Dika.


Dimas menghentikan langkahnya kemudian berbalik menghadap Dika.


"Lo mau kemana?" tanya Dika.


"Gue mau beli minum dulu, nanti gue balik kesini lagi." ucap Dimas diakhiri dengan senyuman. Dimas pun memperlihatkan raut wajah biasa saja untuk menutupi kesedihannya. Dimas kemudian pergi meninggalkan ruang rawat Dika.


Dimas berjalan menyusuri lorong rumah sakit tanpa arah dan tujuan yang jelas.


"Sekarang gue berharap kita nggak pernah bertemu, karena lo terlalu sulit untuk dilupakan. Andai kita nggak pernah ketemu... Semoga lo bahagia sama Dika..." batin Dimas.


Disisi lain Dika sangat khawatir dengan Dimas karena ia menyadari bahwa Dimas sedang bersedih.


"Kalian nggak bicara sama Dimas?" tanya Dika kepada Bryan dan Widia.


Namun Bryan dan Widia hanya diam tidak merespon ucapan Dika.


"Kalian masih marah sama Dimas?" tanya Dika lagi.


Tetap saja Bryan dan Widia masih tidak berkata sepatah kata pun.


"Hmm... gimana keadaan lo?" ucap Bryan untuk mengalihkan pembicaraan.


"Lo jangan mengalihkan pembicaraan Yan," balas Dika.


"Iya, gue emang masih marah sama Dimas. Gue nggak bisa maafin dia karena dia udah bohongin adek gue," ucap Bryan.


"Gue juga masih kecewa sama kak Dimas. Terlebih lagi setelah dia nuduh lo sebagai pencuri," ucap Widia.


"Gue udah nggak permasalahin soal itu. Dengan Dimas udah sadar dan mau nerima gue aja, itu udah lebih dari cukup bagi gue. Dimas itu kakak gue, gue nggak mungkin dendam sama dia. Gue udah maafin dia, jadi gue mohon kalian juga maafin dia... Gue percaya, seseorang akan menemukan kedamaian dalam memaafkan dan melupakan..." ucap Dika.


Widia menganggukkan kepalanya. "Iya Dik, bener yang lo bilang..."


Widia pun akhirnya mau memaafkan Dimas, tetapi Bryan hanya diam tanpa berkata apa pun.


Widia dan Dika menatap Bryan yang bertanda bahwa mereka sedang menunggu jawaban dari Bryan.


Karena Bryan masih diam, Widia pun berusaha membujuknya, "Udahlah bang, semuanya udah lewat..."


"Oke, tapi gue maafin Dimas bukan karena dia pantas untuk dimaafkan, melainkan untuk ketenangan hidup gue," ucap Bryan sedikit kesal.


"Tapi Widia yakin suatu hari nanti Bang Iyan pasti bisa maafin Kak Dimas dengan ikhlas..." ucap Widia.


Tiba-tiba suasana terpecahkan dengan kehadiran Restu yang baru datang.


Restu langsung menghampiri Dika, tetapi bukannya bertanya mengenai keadaan Dika atau lain sebagainya, Restu malah langsung mendorong pipi Dika sehingga Dika menghadap kearah samping. "Eh, tanggung jawab lo udah bikin gue khawatir!" ucap Restu dengan nada bercanda.


Dika tetap menghadap kearah samping tanpa merespon ucapan Dika.


Widia pun merasa panik karena Dika hanya diam dengan menutup matanya. "Dika..." ucap Widia sembari menepuk pelan pipi Dika.


Namun Dika tetap diam tidak merespon ucapan Widia.


"Kak Restu apaain Dika?!" tanya Widia.


"Nggak, gue nggak apa-apain Dika. Perasaan, gue cuma dorong dikit doang... Dika! Bangun oi!" ucap Restu.


"Dika! Lo jangan bercanda! Dika!" ucap Widia panik.


Tidak hanya Widia, semua pun menjadi panik karena Dika hanya diam.


Namun Dika tiba-tiba saja tersenyum dan membuka matanya. Dika pun tertawa karena berhasil mengerjai mereka semua.


Semua menatap malas kepada Dika yang sedang tertawa.


"Dasar lo!" ucap Widia.


Restu mengusap wajah Dika. "Bisa-bisanya lo yaaa..."


"Udah sakit masih aja bercanda," ucap Bryan.


"Wkwkwk... maaf, maaf..." ucap Dika.


"Kalo nggak sakit, udah gue hajar lo," ucap Restu dengan nada bercanda.


BERSAMBUNG•••••••