Choco

Choco
Rumah Sakit



Sesampainya di rumah sakit, Dika langsung dibawa ke ruang UGD. Setelah Dika dimasukkan ke ruang UGD, Dimas menunggu di depan ruang UGD.


Dimas menyenderkan tubuhnya di tembok kemudian perlahan ia duduk. "Dika.. maafin gue Dika.. maaf.. semua ini salah gue..." ucap Dimas ditengah-tengah tangisnya.


Pak Arthama mengahampiri Dimas, kemudian ia mengusap pundak Dimas untuk menenangkannya. "Kamu jangan nangis, kamu harus yakin, Dika pasti selamat. Papa tau adik kamu itu orangnya kuat..."


"Aa.. aa.. ini semua salah Dimas pa. Dika kayak gini karena nyelametin Dimas. Aa.. aa.. Dimas nggak akan bisa maafin diri Dimas sendiri kalau sampai Dika kenapa-kenapa.. aa.. aa..." Dengan nafasnya yang terengah-engah, Dimas menangis tersedu-sedu sembari menutupi wajahnya.


Pak Arthama yang sedari tadi berusaha untuk tegar kini sudah tidak bisa membendung air matanya. Pak Arthama pun ikut menangis sembari memeluk pundak Dimas dari samping.


"Maafin papa Dika, ini semua salah papa. Andai saja papa dulu tidak menikahi Yuni, andai saja papa dulu percaya sama kamu, pasti semua ini tidak akan pernah terjadi," batin Pak Arthama.


Beberapa saat kemudian keluarlah seorang Dokter dari ruang UGD. Pak Arthama dan Dimas pun segera berdiri dan menghampiri dokter tersebut.


"Bagaimana keadaan anak saya Dok?" tanya Pak Arthama panik.


"Adik saya baik-baik saja kan dok?" tanya Dimas panik.


"Saat ini keadaan pasien sedang dalam masa kritis. Beruntung pasien segera dibawa ke rumah sakit, jika telat sedikit saja mungkin sudah tidak ada harapan lagi. Sekarang kami harus segera mengambil tindakan operasi."


"Baik dok, saya mohon lalukan apapun, lakukan yang terbaik untuk anak saya," ucap Pak Arthama.


"Tapi selain itu pasien juga kekurangan banyak darah. Di rumah sakit kami hanya ada sedikit persediaan darah, sementara pasien masih memerlukan lebih banyak darah lagi," jelas Dokter.


"Ambil darah saya saja dok, saya kembarannya, darah saya pasti cocok dengannya," ucap Dimas.


"Baik kalau begitu, mari ikut saya," ucap dokter.


"Pa, Dimas pergi dulu," ucap Dimas kepada Pak Arthama.


"Iya..." balas Pak Arthama.


Dimas pun pergi mengikuti dokter tersebut.


Tak berselang lama, beberapa perawat membawa Dika keluar dari ruang UGD untuk dibawa ke ruang operasi.


Pak Arthama memperhatikan Dika yang sedang terbaring lemas dan wajah Dika pun sudah sangat pucat. "Ya ampun Dika, kamu sampai seperti ini. Maafin papa Dika..." batin Pak Arthama. Pak Arthama pun pergi mengikuti para perawat yang membawa Dika.


Beberapa saat kemudian Dimas datang menemui Pak Arthama yang sedang menunggu di depan ruang operasi. Terlihat Pak Arthama sedang duduk terbungkuk sambil menutupi wajahnya. Dimas pun duduk di samping Pak Arthama. Dimas hanya mengusap pundak Pak Arthama tanpa berkata apapun.


...****************...


Waktu sudah menunjukkan pukul 01.00 pagi, namun Widia masih tetap terjaga. Entah kenapa seharian Widia terus merasa gelisah dan sampai sekarang ia belum bisa memejamkan matanya.


Widia menutupi wajahnya menggunakan bantal agar lebih mudah untuk tertidur. Walaupun mata Widia sudah tertutup, namun pikirannya tetap terjaga dan ia masih tidak bisa tidur.


"Duhh.. gue kenapa sih?!" Widia yang merasa kesal meleparkan bantalnya ke bawah.


Widia memutuskan pergi ke dapur untuk membuat susu, ia berharap dengan meminum susu, dirinya dapat lebih mudah tertidur.


Setelah selesai meminum susu, Widia kembali tidur ke kamarnya. Namun tetap saja Widia terus merasa gelisah dan dirinya masih tidak bisa tertidur.


Widia memaksakan matanya untuk tertutup namun pikirannya tetap terjaga dan ia masih tidak bisa tertidur. Entah kenapa seharian perasaannya merasa terus-menerus gelisah, keringat dingin pun kini mulai membasahi badannya.


"Kenapa seharian perasaan gue gelisah kayak gini ya?" batin Widia.


Widia melirik ke arah meja di samping tempat tidurnya. Widia mengambil foto Dika yang berada di meja samping tempat tidurnya tersebut. Widia memperhatikan foto Dika sambil tersenyum. Foto tersebut merupakan foto Dika yang diambil diam-diam oleh Widia ketika Dika sedang duduk sambil tertidur di pinggir lapangan basket.



......................


...Kilas Balik...


......................


Suatu hari Widia, Dika, dan Bryan sedang bermain basket bersama. Ketika sudah merasa lelah, Widia memilih untuk duduk beristirahat di pinggir lapangan, sementara itu Dika dan Bryan masih asik bermain basket. Widia yang kehausan memutuskan untuk pergi membeli minuman karena minuman yang dibawanya sudah habis.


"Nyet.. lo mau kemana?" teriak Dika karena melihat Widia beranjak pergi.


"Gue mau beli minum," jawab Widia.


Tiba-tiba Bryan menghentikan permainannya dan pergi menyusul Widia.


"Lo mau kemana?" tanya Dika kepada Bryan.


"Mau beli minum juga. Lo ikut?" ucap Bryan.


"Gue masih mau main, gue nitip air mineral aja," jawab Dika.


"Ya udah," balas Bryan.


Bryan dan Widia pun pergi membeli minuman sementara Dika tetap bermain basket.


Ketika Bryan dan Widia sudah kembali, mereka malah medapati Dika sedan duduk bersender di salah satu kursi di pinggir lapangan sambil tertidur.


"Yah, dasar tukang tidur," gumam Bryan. Bryan pun hendak membangunkan Dika, namun Widia melarang Bryan. Widia malah memanfaatkan kesempatan itu untuk mengambil foto aib Dika.


......................


...Kilas Balik Selesai...


......................



Widia memperhatikan sembari mengusap foto tersebut.


"Saat gue lihat lo, gue ngerasa kayak bunga-bunga bermekaran dihati gue.. Seakan-akan lo punya segalanya yang selama ini gue cari," gumam Widia sembari tersenyum.


"Coba aja tadi pagi gue nggak berantem sama Dika, biasanya hari Minggu gue main basket sama dia. Seharian ini gue kepikiran sama Dika terus. Apa dia nggak hubungi gue karena dia belum nemuin buku komik gue? Padahal tadi pagi gue cuma main-main ngancem dia," batin Widia.


......................


...Kilas Balik...


......................


Pagi harinya ketika ingin bermain video game, Widia mendapati stick gamenya sudah hilang. Widia pun langsung menghubungi Dika karena selama ini Dika memang sering menyembunyikan stick game ataupun CD gamenya.


***** via telepon


"Ada apa nelepon? Kangen ya?" tanya Dika.


"Kangen apaan?!" tungkas Widia.


"Jangan galak-galak napa jadi pacar," balas Dika.


"Kembaliin stick game gue, gue tau pasti kemarin lo yang ngambil pas belajar bareng di rumah gue," ucap Widia.


"Iyaa..." jawab Dika.


"Tuh kan, bener. Cepet kembaliin!"


"Nggak, nggak bisa, kerjaan lo main game terus. Besihin dulu kamar lo, baru gue kembaliin."


"Semua barang-barang gue lo ambil. Komik gue juga belum lo kembaliin, kembaliin dulu komik gue." ucap Widia.


"Oh ya, komik yang waktu itu gue pinjem ya? Hmm.. bentar, gue cari dulu," ucap Dika sembari mencari-cari buku komik tersebut.


"Gimana? Ketemu?" tanya Widia.


"Belum, perasaan kemarin ada di atas meja deh," jawab Dika.


"Itu komik kesukaan gue. Awas aja sampai hilang!" ancam Widia.


"Ah, masak sih? Setau gue biasanya lo suka komik bergenre action, bukan komik yang bergenre fantasi," ucap Dika.


"Masak kesukaan gue lo nggak tau sih? Dasar cuek!"


"Yee.. nggak mungkin gue cuek," tungkas Dika.


"Emang cuek," balas Widia.


Dika menghela nafas panjang, tiba-tiba Dika malah menyanyikan lagu Rizky Febian yang berjudul cuek. "Mungkin kau, tak pernah merasakan. Apa yang kulakukan di setiap pengorbananku. S'lalu jadi yang kau mau. Menjaga di setiap saat. Tapi kau tak melihatnya. Mana ada aku cuek. Apalagi gak mikirin kamu. Tiap pagi malam ku s'lalu. Memikirkan kamu. Bukalah pintu hatimu. Agar kau tahu isi hatiku. Semua perjuanganku. Tertuju padamu. Hu-uu-uu..."


Widia yang mendengar Dika bernyanyi hanya bisa tersenyum menahan tawanya.


"Heumm... Udah nggak marah lagi kan?" tanya Dika.


"Yee.. nggak, gue masih marah," tungkas Widia.


"Udahh.. ngaku deh, pasti lo lagi senyum-senyum kan?" tebak Dika.


"Iih.. jangan ge'er, siapa yang senyum-senyum?... Pokoknya lo nggak boleh hubungi gue sebelum komik gue kembali."


"Tap..." ucapan Dika terpotong karena Widia mengakhiri panggilan telepon tersebut.


Beberapa kali Dika mencoba menelepon Widia, tetapi Widia tidak menganggkat penggilan telepon dari Dika.


......................


...Kilas Balik Selesai...


......................


"Sebenarnya gue pengen banget telepon Dika. Tapi sekarang kayaknya dia udah tidur, gue takut ganggu dia, gue telepon besok aja deh," batin Widia.


.BERSAMBUNG•••••••


••••••••••••••••••••


°


°


°


Sambil menunggu cerita ini update, yuk mampir ke cerita author yang lainnya judulnya "Berbeda"


Jangan lupa like, komentar, vote, dan ratenya ya, agar author jadi lebih semangat 🤗...


1 like dan komentar singkat dari para pembaca sangat berharga bagi Author 😊...


Terima kasih 🙏💕...