
Hari Minggu di pagi hari, Widia pergi ke suatu taman dengan mengenakan celana olahraga dan baju kaos oblong berwarna hitam kesukaannya.
Widia melihat sekeliling taman lalu duduk. "Di tempat ini banyak kenangan masa kecil gue. Sekarang udah banyak berubah, banyak yang direnovasi," pikir Widia.
"Widia..." Ada suara laki-laki memanggil Widia.
Widia menoleh ke arah suara tersebut.
Ternyata orang itu adalah Dika. Dika menghampiri Widia dan duduk di sampingnya. "Kita ketemu lagi nih Wid. Ini tandanya kita jo-doh," kata Dika.
"Apaan sih lo?. Lo ngikutin gue ya?..." Widia bergeser duduk menjauhi Dika.
"Ngga... Gue gak ikutin lo kok. Ya... Mungkin aja kita emang jodoh," jawab Dika sambil tersenyum dan bergeser duduk sedikit mendekat ke Widia.
"Terus lo ngapain ke sini?" tanya Widia.
Dika memandang ke arah langit. "Gue emang sering ke sini kalo hari libur, kalo disini gue jadi keinget masa kecil aja. Kadang gue juga lihat temen gue di sini. Tapi sekarang gak ada, mungkin dia sibuk. Kalo lo ngapain disini?. Lo orang baru ya?. Sebelumnya gue gak pernah lihat lo di sini."
"Iya, gue pindah ke kota ini baru beberapa bulan yang lalu, setelah gue lulus SMP. Gue ke taman cuma pengen jalan-jalan aja sih," jawab Widia sambil mengeluarkan coklat dari kantongnya.
"Lo suka coklat ya?" tanya Dika.
"Dari kecil gue emang suka coklat, sama es krim gue juga suka. Kenapa? lo mau?." Tangan Widia menjulurkan coklat ke Dika.
Namun Dika hanya menatap Widia dan tersenyum. "Lo tau gak Widia, lo itu ngingetin gue sama seseorang. Dia juga suka banget makan coklat sama es krim."
Widia memutar malas bola matanya. "Nggak tau tuh. Gak perduli gue." Widia menarik kembali tangannya dan memakan coklat itu.
Dika menatap malas Widia. "Lo tu ya... Orang lagi cerita juga."
"Udah makan lo Dik?" tanya Widia sambil mengunyah coklatnya.
Bola mata Dika mengarah ke sudut kanan atas sedang berpikir. "Ntar kalo gue bilang udah, dia malah ngejek gue lagi kayak kemarin. Mending gue bilang belum aja deh, siapa tau dikasi makan gratis."
"Belum nih Wid," jawab Dika.
"Yang benerr?..." tanya Widia menyipitkan matanya.
"Iya nih... Paginya belum makan gue."
"Serius?" tanya Widia lagi.
"Iyaa... Kenapa?. Lo mau ngajak gue makan ya?. Mumpung tadi pagi gue belum makan," sahut Dika.
"Ooo... pantes masih ta* di WC hahaha..." Widia tertawa terbahak-bahak sampai matanya mengeluarkan air.
"Lo tu ya... Emang gue makan t*i apa," jawab Dika sambil mendoyor kepala Widia.
"Iya... iyaa... Maaf, kenapa ya gue ngerasa akrab sama lo. Padahal kita kan baru kenal."
"Itu tandanya lo mulai suka sama gue," sahut Dika.
"Apaan sih, jangan halu lo."
"Tapi gue yakin, suatu saat nanti lo akan suka sama gue, dan kita akan sama-sama." Dika menatap dalam mata Widia.
"Tambah gak jelas lo!" Widia memukul pelan lengan Dika.
"Widia! Wid! wid!..." Dika menepuk bahu Widia sambil melihat ke arah langit.
"Apaan sih?" Widia juga ikut melihat ke arah langit.
Dika menunjuk ke arah layangan. "Ituu... Lanyangan putuss..."
"Eh, iya Dik. Kejar! Kejar! Kejar!..." Widia langsung berlari mengerjar layangan putus itu dan diikuti oleh Dika.
Dan akhirnya layangan itu tersangkut di atas pohon mangga yang tidak terlalu tinggi.
"Yah... nyangkut, gue panjat aja deh." Dika mendekati pohon mangga itu dan hendak memanjatnya.
Widia mendorong Dika yang hendak memanjat. "Minggir lo! biar gue aja."
Dika menarik Widia. "Udah... biar gue aja. Emang lo bisa manjat?."
"Gue udah biasa, lihat aja kalo gue bisa ambil, layangan itu jadi punya gue." Widia kemudian memanjat pohon mangga tersebut, dan dengan mudahnya ia mengambil layangan itu.
"Lo lihat kan, gue bisa dapetin layangan ini," kata Widia dengan bangga sambil memegang layangan tersebut.
"Hebat juga lo ya, dasar... Monyet..." ejek Dika.
"Enak aja bilang gue monyet." Widia kemudian pergi meninggalkan Dika.
Dika berjalan mengikuti Widia. "Onyet lo mau kemana?."
"Terserah gue dong mau kemana."
"Ih nyahut... berarti monyet dong?. Wkwkwkwk." Dika tertawa.
Widia mencubit lengan Dika. "Enak aja bilang gue monyet."
Dika yang dicubit oleh Widia hanya tertawa.
Baru beberapa langkah Dika dan Widia berjalan, mereka dihampiri oleh seorang anak laki-laki berusia sekitar 5-7 tahun.
"Kak itu layangan aku, aku boleh minta lagi gak?" kata anak itu.
"Oh ini layanan adek ya, ini kakak kembaliin." Widia pun memberikan layangan ke anak laki-laki tersebut.
"Makasi ya kakak Cantik."
"Iya sama-sama adek manis." Widia mencium pipi anak itu.
"Ya ampun... masih bocil udah pinter banget ngerayu," kata Dika ke anak itu sambil mencubit pipi anak itu.
Anak itu memukul perut Dika dan menjulurkan lidahnya mengejek Dika, kemudian ia berlari pergi dengan layangannya.
"Rasain tuh." Widia berjalan meninggalkan Dika.
Dika berjalan menyusul Widia. "Cie... yang lagi seneng habis dibilang kakak cantik."
"Iya dong, jangan-jangan lo iri yaa... Gak ada yang bilang ganteng," ejek Widia.
Mendengar kata cemburu dari Dika membuat Widia salah tingkah dan wajah menjadi merah. "Lama-lama lo nyebelin ya Dik!." Widia mendorong Dika sampai jatuh ke tanah.
"Lo kenapa sih malah dorong gue?" tanya Dika dengan posisi masih duduk di tanah.
"Biarin, makanya lo jangan nyebelin," balas Widia.
Tik, tik, tik, tik, tik...
Tiba-tiba turun hujan, mereka kemudian berlari menuju pohon dan diam di bawah pohon untuk berteduh. Namun hujan semakin deras.
"Lo ngapain?" tanya Widia yang melihat Dika melepas jaketnya.
"Biar ada monyet nanya," jawab Dika.
"Gue juga... Biar ada monyet nyahut," balas Widia.
"Lo tu ya nyet, ada aja jawabannya. Hujannya makin deras nih," balas Dika sambil memakaikan jaket ke Widia dan melindungi kepala Widia dengan tangannya.
GRUDUGG...
Terdengar suara petir yang begitu keras di tengah hujan lebat dan udara yang semakin dingin.
Widia terkejut mendengar suara petir dan ia tidak sengaja memeluk Dika. Beberapa saat mereka saling bertatapan. Dika memegang wajah Widia dengan kedua tangannya. Ia memejamkan mata lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Widia dan ingin menciumnya.
"Duhh... Gue harus gimana ni??" pikir Widia yang kebingungan.
Jantung Widia berdegup dengan sangat kencang. Wajah Dika begitu dekat dengannya, dia juga bisa merasakan nafas Dika. Hampir saja mereka berciuman namun Widia menundukkan kepalanya.
"Lo kenapa sih?" tanya Dika sambil memegang hidungnya yang sakit karena terkena jidat Widia.
"Gue... Gue gak pernah... Lo tu yang ngapain!" Jawab Widia yang masih menunduk.
"Maaf..." balas Dika.
"Dikaa... Lo kenapa sihh... Tapi sama Nyet, gue juga gak pernah" kata Dika dalam hati.
Beberapa saat keadaan menjadi hening. Namun suara ritikan air hujan semakin keras dan udara terasa semakin dingin.
"Hujannya semakin deras nih... Kita cari tempat lebih aman yuk," ajak Dika, namun Widia hanya diam tidak merespon ajakan Dika. Dika kemudian menarik tangan Widia dan mengajaknya berlari mencari tempat yang lebih aman. Akhirnya mereka berteduh di emperan warung.
"Nyet... Maaf ya, karena yang tadi," kata Dika di tengah suasana yang masih canggung.
"Lagian lo sih... Ada-ada aja... Awas lo kayak gitu lagi!!" sahut Widia tanpa menatap Dika.
"Iya Nyet... Gue janji gak akan ngulangin lagi, Sekali lagi maaf ya."
"Iya... Kali ini gue maafin."
"Makasi ya Nyet."
Beberapa saat kemudian hujanpun berhenti.
"Nyet... Hujannya udah reda nih. Gue anterin pulang ya."
"Boleh deh, tapi gak pake mampir ya!."
"Iya..iya... Yuk kita ke motor." Dika berjalan meninggalkan emperan warung itu.
Namun Widia masih tetap berdiri di sana "Tapi Dik..."
Dika menghentikan langkahnya. "Tapi apa?."
"Sandal gue putus nih..."
"Yaelahh... Gue kira apa. Gimana kalo pake sandal gue aja?."
"Gak usah, gue mau masuk ke warung bentar, mau beli sandal."
"Lo diem aja di sini, biar gue yang beliin." Dika masuk ke warung dan kembali membawa sepasang sandal.
"Lo mau gak pake sandal Cwallow?. Di warung cuma ada yang ini." Dika menunjukkan sandal yang dibawanya.
Widia langsung mengambil sandal itu dan memakainya. "Mau, kenapa ngga? Yang ini sama kali kayak sandal gue yang tadi. Sandalnya juga pas banget."
"Syukur deh, gue juga gak pernah beli sandal mahal-mahal, gue selalu beli merk yang ini."
"Kenapa?" tanya Widia yang kebingungan.
"Kalo pake sandal Cwallow nginjek t*i tetep slow, gak perlu galow."
Widia tertawa. "Ha..ha..ha... lo tu ya, ada-ada aja."
"Tapi bener kan kalo pake sandal mahal nginjek ta* jadi galau. Kalo pake yang ini selain murah juga tahan lama Nyet."
Widia hanya tertawa dan menggelengkan kepalanya.
Mereka kemudian pergi ke montor dan Dika menghantar Widia pulang tanpa mampir.
Ibu Asih yang melihat Widia basah kuyup menanyainya. "Nak.. kamu tadi kemana kok sampai kehujanan?."
"Widia habis jalan-jalan sebentar bu."
"Kamu pasti ke tamankan?. Kamu kangen masa kecil kamu ya?." Mata Bu Asih berkaca-kaca.
"Iya bu, tapi... ibuk kok nangis?. Maafin Widia bu." Mata Widia juga ikut berkaca-kaca menahan air mata.
"Ibu takut aja kamu ninggalin ibu sama bapak." Air mata Bu Asih mengalir di pipinya.
Widia mengusap pipi Bu Asih dan memeluk ibunya. "Ibu bilang apa sih?. Widia gak akan ninggalin ibuk sama bapak. Walau ibuk sama bapak bukan orangtua kandung Widia, Widia akan tetep sayang sama ibuk sama bapak."
Ibu Asih mengelus rambut anaknya. "Iya sayang, ibu juga sayang sama kamu."
°
°
°
Jangan lupa like, komentar, dan ratenya ya kak😊...
Terima kasih 🙏🤗❤️...