
Satu jam kemudian Widia menemui Dika dan Restu yang terlihat masih sibuk membersihkan bebek.
"Hehe.. udah dapat berapa?" tanya Widia.
"Noh, lo lihat baru dapat 2," ucap Restu sembari melirik 2 ekor daging bebek yang berada di sampingnya.
"Dimas sama Adit mana?" tanya Dika.
"Masih main game," jawab Widia.
"Bantuin kita kek Nyet," pinta Dika.
"Wkwkwk... Kasihan juga lihat kalian. Sini, gue bantuin." Widia pun ikut membantu Dika dan Restu membersihkan bebek.
"Oi..." ucap Bryan yang baru datang.
Terlihat juga Willy yang datang bersamaan dengan Bryan. Bukannya membantu membersihkan bebek, Bryan dan Willy malah langsung duduk.
"Bukannya bantuin, kalian malah enak-enakan duduk," ucap Restu.
"Ogah, gue baru selesai mandi masak disuruh bersihin bebek," balas Willy.
"Enak di kalian, jelek di gue," ucap Restu.
Bryan melirik beberapa botol soda yang ada di atas meja. "Ngomong-ngomong ni soda seger banget kayaknya." Bryan membuka soda tersebut kemudian meminumnya.
"Iya nih." Willy pun juga ikut meminum soda tersebut.
"Eh, ngapain diminum? Itu kan buat nanti," ucap Dika.
"Udahh.. nanti gue ganti, gue beliin 10 krat wkwkwkwk..." ucap Bryan.
"Eleh, 10 krat konon," ucap Restu.
"Nggak bisa, lo tetep nggak boleh minum, itu buat nanti," ucap Dika.
"Ngomong lagi nggak gue restuin lo jadi adek ipar wkwkwk..." balas Bryan.
Dika menatap malas kepada Bryan. "Mentang-mentang lo abangnya Widia..."
"Ya emang kan gue abangnya," balas Bryan.
"Wkwkwk... Bang Iyan, Bang Iyan," ucap Widia sembari tertawa dan menggelengkan kepalanya.
"Gagat total rencana kita Dik," ucap Restu.
"Niat mau seru-seruan, malah repot gue," ucap Dika lesu.
"Wkwkwk.. malah pada manyun," ucap Widia karena melihat wajah lesu Dika dan Restu.
"Gimana nggak betek, masak cuma kita bertiga aja yang kerja," ucap Restu.
Beberapa saat kemudian yang lainnya satu persatu mulai berdatangan. Namun sama halnya seperti Bryan dan Willy, tidak ada satu pun dari mereka yang mau membantu membersihkan bebek.
...🦆 30 menit kemudian 🦆...
Brya menghampiri Dika, Widia, dan Restu yang masih sibuk membersihkan bebek. "Udah berapa?"
"Cuma 3," jawab Restu.
"Wkwkwk.. kasihan juga kalian. Udah, segitu aja bebeknya, udah mau malam," ucap Bryan.
"Iya ah, udan mau malam. Segini aja udah cukup," ucap Dika.
"Sini lo bantuin kita, dari tadi santai-santai terus," ucap Restu kepada Bryan.
"Iya, iyaa... Mana alat pemanggangnya?" Bryan.
"Bentar, gua ambil dulu," ucap Restu.
Restu dan Dika pun pergi mengambil alat pemanggang yang masih berada di dalam mobil Restu.
...🦆🦆🦆...
Tak berselang lama, Dika dan Restu datang membawa 3 alat pemanggang berserta arang dan kipas.
"Oi.. kalian semua kesini," ucap Dika kepada teman-temannya.
Semua kemudian menghampiri Dika dan Restu. Mereka semua pun memulai kegiatan memanggang bebek. Karena ada 3 alat pemanggang, mereka semua pun terbagi menjadi 3 kelompok.
Dika bersama Widia, Restu, Intan, dan Monica. Berikutnya Bryan, Bunga, Adit, dan Bintang. Dan yang terakhir Dimas, Aulia, Willy, Clara, dan Rani.
"Gimana nih caranya?" tanya Adit.
"Iya, gue juga nggak pernah manggang bebek, palingan gue beli," ucap Dimas.
"Udah.. kalian nyalain api, terus panggang bebeknya, jangan lupa olesin bumbu, itu kan udah ada bumbu jadi, udah itu lo kipas-kipas terus sampai matang," jelas Restu.
"Ngomong sih gampang. Tapi gue nggak tau berapa takaran bumbunya, besar apinya, udah matang apa belom?" ucap
Willy.
"Gua juga nggak tau sebenarnya, lo coba-coba aja wkwkk..." ucap Restu.
"Lah..." balas Willy.
"Wkwkwk... pake feeling aja," ucap Dika.
...🦆 15 menit kemudian 🦆...
"Pegel banget tangan gue, kipas-kipas kayak gini, lama-lama bisa copot tangan gue," gumam Adit.
"Kayaknya bebeknya kurang bumbu deh," ucap Dimas.
"Iya, gue tambahin ya," ucap Willy. Willy pun mengoleskan bumbu lagi pada bebeknya.
"Ya ampun, males banget, bau asap, mendingan gue duduk aja," batin Clara. Clara pun memilih untuk duduk, beberapa saat kemudian Rani, Aulia, dan Intan juga ikut duduk bersama Clara.
"Kayaknya bebek panggang buatan mereka bakalan gagal," ucap Clara.
"Selain itu 3 bebek juga nggak akan cukup buat kita semua," ucap Rani.
"Gimana kalo kita pesen makanan lewat online aja," ucap Aulia.
"Iya kak, Intan setuju," ucap Intan.
"Oke, gue tanya yang lain dulu," ucap Aulia.
Aulia pun bertanya kepada yang lainnya, karena mereka semua setuju, Aulia kemudian langsung memesan makanan lewat online.
...🦆🦆🦆...
"Nyet, gue udah capek, giliran lo sekarang." Dika menyerahkan kipas kepada Widia, dan kini Widia lah yang mengipasi bebek tersebut.
"Kak Dika, pipi Kak Dika hitam, isi abu arang," ucap Monica.
"Mana?" Dika mengusap pipi kanannya.
"Bukan, pipi yang kiri," ucap Monica.
Dika pun mengusap pipi kirinya.
"Bukan, sedikit ke atas," ucap Monica.
"Mana sih?" Dika mengusap pipi kirinya lebih ke atas.
"Masih kak." Clara menunjuk pipi Dika, sebenarnya ia ingin menyentuh pipi Dika hanya saja ia merasa ragu-ragu.
Dika mendekatkan pipinya yang mengisyaratkan kepada Monica untuk membersihkan pipinya. Atas izin dari Dika, Monica pun membersihkan pipi Dika.
"Ngimpi apa Monica semalam, sampai bisa sentuh pipinya Kak Dika wkwkwk..." ucap Monica yang diakhiri dengan tawa kecil.
"Monica, Monica..." ucap Dika yang diakhiri dengan tawa kecil.
Widia memperhatikan Monica dan Dika dengan ekspresi cemburu. Karena saking fokusnya memperhatikan Monica dan Dika, ia malah berhenti mengipasi bebek tersebut, alhasil arang pun menjadi hampir padam.
"Gue capek-capek ngipasin bebek, tapi mereka malah enak-enakan mesra-mesraan. Awas aja lo Dika," batin Widia.
"Ciee.. yang cemburuu..." goda Dika.
"Nggak, siapa yang cemburu?" tungkas Widia.
"Ternyata Widia bisa cemburu juga wkwkwk..." ucap Restu.
Widia langsung melirik Restu dengan tatapan seram.
"Wah, wah, ngambek ni bocah. Kalo cewek udah ngambek biasanya serem, mendingan gue pergi aja," batin Restu.
"Gu-gue mau ngambil bumbu lagi, ini kayaknya bumbunya udah mau habis." Restu pun pergi mengambil bumbu walau pun sebenarnya bumbu terlihat masih lebih dari cukup, karena memang itu hanya alasan Restu untuk menghindari tatapan seram Widia.
"Eh, ini apinya udah mulai mati. Kipasin lagi Nyet, biar nggak mati," ucap Dika.
Widia menaruh kipas yang dipegangnya. "Ogah," ucap Widia singkat.
"Mon, lihat tuh Widia cemburu," ucap Dika sambil tertawa.
"Monica nggak mau ikut-ikutan deh, Monica pergi aja. Kak Dika bujuk sendiri Widia wkwkwk..." Monica pun pergi meninggalkan Dika dan Widia berdua.
"Gue nggak cemburu." Widia kembali mengipasi bebek tersebut, namun ia mengipasi bebek tersebut secara perlahan seperti tidak bersemangat. Ekspresi cemburu pun juga masih terlihat di wajahnya.
"Wkwkwk jangan gitu dong, iya, gue minta maaf. Jangan cemburu lagi ya," bujuk Dika.
"Udah gue bilang, gue nggak cemburu. Ngapain juga cemburu sama lo," ucap Widia jutek.
"Iya deh, iya, tapi lo jangan lesu kayak gitu, kipasin bebeknya cepetan dikit, itu apinya udah mulai padam," ucap Dika.
"Enak banget si Dika nyuruh-nyuruh gue," batin Widia.
Brush.. brush.. brush...
Widia pun mengipasi bebek tersebut dengan sangat cepat.
"Eh, Nyet, jangan kecepetan juga, itu apinya jadi besar, nanti bebeknya malah jadi gosong," ucap Dika.
Widia tidak menghiraukan ucapan Dika dan tetap mengipasi bebek tersebut dengan cepat. Benar saja yang seperti diucapkan oleh Dika, api menjadi sangat besar sehingga melahap seluruh bagian bebek tersebut.
Dengan sigap Dika mengambil capit dan mengamankan bebek tersebut. "Cepetan ambil air Nyet, apinya besar banget!"
Widia pun berlari mengambil air. Dengan jarak yang cukup jauh, Widia melemparkan air ke api tersebut. Akhirnya api berhasil padam namun abu beterbangan dan tepat mengenai wajah Dika sehingga wajahnya menjadi hitam.
Sontak saja semua tertawa karena melihat wajah Dika. "Buakakakakak..."
"Kenapa semua ketawa?" tanya Dika bingung.
"Muka lo cemong, kayak monkey buakakakakak..." ucap Widia sambil tertawa.
Dika pun mengusap pipinya dan melihat noda hitam di tangannya.
"Jangan ngejek gue lo Nyet, ini semua gara-gara lo." ucap Dika.
"Wkwkwk... lo jangan panggil gue Onyet, muka lo lebih mirip sama monyet. Wkwkwk... Cemong kayak Monkey. Sekarang gue panggil lo Ongky aja wkwkkwk..." ucap Widia.
"Onyet," balas Dika.
"Ongky wkwkwk..." balas Widia.
"Kalian berdua emang cocok, Ongky sama Onyet wkwkwk..." ucap Restu.
"Diem lo Restu ibu!" ucap Dika.
Dika kemudian kembali mengusap wajahnya, tapi bukannya menjadi lebih bersih, Dika malah meratakan noda hitam yang ada di wajahnya.
"Buakakakaka... Muka lo jelek banget buakakakakak..." Dimas tertawa terpingkal-pingkal karena melihat wajah Dika.
Dika menatap malas kepada Dimas. "Lo jangan ngejek gue Dim. Pake bilang muka gue jelek segala, muka kita sama."
"Eh!" Dimas pun berhenti tertawa karena teringat wajahnya yang sama dengan Dika.
Seketika semua pun tertawa karena hal tersebut. "Buakakakakak..."
"Bersihin gih wajah lo," ucap Bryan kepada Dika.
"Males gue, biarin aja," balas Dika.
Tanpa membersihkan wajah, Dika pun melanjutkan memanggang bebek, begitu juga dengan yang lainnya yang kembali memanggang bebek mereka masing-masing.
Walau pun Dimas terlihat biasa saja, sebenarnya ia merasa sedikit pusing karena penyakit yang dideritanya. Dimas juga terlihat beberapa kali memegang kepalanya karena merasa sakit di bagian kepalanya.
...🦆🦆🦆🦆🦆...
Sekitar 1 jam kemudian bebek panggang mereka pun akhirnya sudah matang.
Bebek panggang buatan Dimas dan Willy terlihat sedikit hangus namun baunya masih terasa lezat.
Bebek buatan Bryan dan Adit terlihat sempurna dan baunya pun tercium sangat gurih.
Sementara bebek buatan Dika, Restu, dan Widia berwarna hitam pekat karena tragedi api besar tadi, bau hangus pun juga tercium dari bebek mereka.
"Mending bebek kalian buang aja, udah gosong. Bebek gatot, alias gagal total wkwkwk..." ejek Adit.
"Enak aja, ini hasil karya kita masak dibuang," ucap Restu.
"Walau pun bebek kalian warnanya bagus, belum tentu juga rasanya enak," ucap Dika
"Yee.. emang enak. Nih lo cobain," Adit menyodorkan bebek panggang kepada Dika.
Dika pun mencicipi bebek buatan Adit dan Bryan.
"Gimana? enak kan?" tanya Adit.
Dika hanya diam karena bebek buatan Adit dan Bryan memang terasa benar-benar enak.
"Udahh.. nggak usah ditanya, bebek kita emang enak. Si Ongky cuma gengsi aja bilang enak wkwkk..." ucap Bryan.
"Enak aja bilang gue Ongky," ucap Dika.
"Yuk Wid, makan bebek buatan abang aja," ucap Bryan kepada Widia.
"Iya, Widia juga nggak mau makan bebek gosong. Biarin Ongky sama Kak Restu aja yang makan wkwkwk..." ucap Widia.
Mereka pun makan bebek tersebut dan beberapa hidangan lainnya yang sudah dibeli lewat online oleh Aulia tadi. Namun hanya Dika dan Restu yang memakan bebek gosong buatan mereka.
Setelah selesai makan mereka menghabiskan waktu dengan bernyanyi bersama dengan Dika dan Bryan yang memainkan gitar. Sampai sekarang Dika masih dengan wajahnya yang penuh dengan abu karena memang ia tidak membersihkan wajahnya, dan hal tersebut juga masih menjadi guyonan teman-temannya.
......................
...BERSAMBUNG...
......................
...°...
...°...
...°...
Sambil menunggu cerita ini update, yuk mampir ke cerita author yang lainnya judulnya "Berbeda"
Jangan lupa like, komentar, vote, dan ratenya ya, agar author jadi lebih semangat 🤗...
1 like dan komentar singkat dari para pembaca sangat berharga bagi Author 😊...
Terima kasih 🙏💕...