
Dika dan Bryan melihat Widia dan Intan yang sedang makan di kantin, kemudian Dika dan Bryan menghampiri mereka.
"Nyet..." sapa Dika.
Widia menoleh kearah Dika dan Bryan yang berjalan menghampirinya. "Eh kak Bryan..."
"Yah Nyet, gue yang manggil lo, kok malah Bryan yang disapa sih?" ucap Dika sambil memandang malas Widia. Namun Widia tetap tidak menghiraukan Dika.
"Kita boleh ikut duduk disini gak?" tanya Bryan.
"Boleh kak, boleh. Duduk aja kak."
"Ini kesempatan aku cari tau soal Bryan," pikir Widia.
Merekapun makan bersama dan berbincang-bincang.
"Selamat ya kak Bryan atas kemenangannya, Kak Bryan hebat banget bisa dapet juara 1 lomba cerdas cermat."
"Makasi ya Widia."
"Iya, sama-sama kak... Widia boro-boro ikut lomba, materi pelajaran sehari-hari aja masih banyak yang Widia ngga ngerti."
"Gimana kalo nanti kamu ikut belajar bareng di rumah aku."
"Yang bener kak?. Temen Widia juga boleh ikut kan kak?."
"Boleh lah, malah seru lagi rame-rame. Oh ya, temen kamu siapa namanya?."
"Aku Intan kak."
"Intan ya, nanti kamu ikut ya belajar bareng."
"Wah, makasi banyak kak, Intan seneng banget."
"Nanti gue juga ikut ya?" celetuk Dika.
Semua pandangan mengarah ke Dika.
"Kenapa pada lihatin gue?."
"Lo kan jurusan IPS, pelajarannya beda sama kita."
"Iya Dik, mending lo bikin PR aja, daripada dihukum terus," ucap Widia.
"Bener tuh Widia," ucap Bryan.
"Ya udah dehh... gue gak jadi ikut."
"Hmm... Rumah kak Bryan dimana?" tanya Widia.
"Rumah aku di Jalan Kenanga No.22, gampang kok nyarinya."
"Widia pake pura-pura gak tau rumah Bryan lagi, curiga gue. Jangan-jangan dia beneran suka sama Bryan," pikir Dika.
"Kak Bryan udah lama tinggal disana?."
"Ngga juga sih, baru 3 tahunan. Emang kenapa?."
"Ngga apa-apa kak, cuma aku pernah lewat kesana, aku lihat rumahnya kayak rumah baru... Terus dulu kakak tinggal dimana?."
"Dulu aku tinggal di Jalan Mawar deket taman, sekarang bangunannya udah rata sama tanah."
"Itu kan dulu rumah kakek, sekarang aku yakin Kak Bryan adalah kakak. Bang Iyan, ini aku Candra, adek abang," kata Widia dalam hati yang bengong menatap Bryan dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Kamu kenapa Widia." Bryan melambaikan tangan di wajah Widia.
"Nggak kenapa-kenapa kak, cuma kelilipan aja." Widia mengusap matanya. "Terus kenapa rumah kakak yang dulu bisa rata sama tanah?" lanjut Widia.
"Rumah aku yang dulu dirobohin karena kebakaran 6 tahun yang lalu?."
"Hah?!. Kebakaran?. Terus kakek gak apa-apa kan?" tanya Widia yang terlihat kaget dan panik.
Semua menatap Widia dengan heran.
"Kayaknya ada yang aneh sama si Onyet, dari kemarin dia kepo banget sama Bryan," pikir Dika.
"Hmm... Maksud aku... Kan orang tua itu rentan, makanya aku nanya kakeknya kak Bryan, iya gitu kak..." jawab Widia yang terlihat bingung.
"Katanya Widia bener juga sih Kak Bryan," ucap Intan pada Bryan.
"Iya juga sih... Beruntung beliau selamat dan sehat sampai sekarang. Cuma pas kejadian itu kakek harus dirawat di luar negeri selama 3 tahun, jadi aku waktu itu sekolah disana."
Mendengar penjelasan dari Bryan membuat Widia merasa lega. "Syukurlah kak, kakek ngga apa-apa."
"Terimakasih ya Tuhan, Kakek dan Kak Bryan masih sehat sampai sekarang. Ternyata kak Bryan selama ini berada di luar negeri, pantes aja dulu aku cari kemana-mana ngga ketemu," pikir Widia.
"Iya, makasi ya Widia."
"Sama-sama kak."
"Terus orang tua kakak gimana?" tanya Intan.
Semua pandangan mengarah ke Intan.
"Emang kenapa?. Aku salah bicara ya?."
"Ngga kok, kamu ngga salah. Sebenarnya orangtua ku udah meninggal sejak aku masih umur 2 tahun, sekarang aku cuma punya kakek," jawab Bryan sambil menundukkan kepalanya.
"Maaf ya kak, Intan bener-bener ngga tau, maaf ya kak," ucap Intan yang merasa bersalah.
"Ngga apa-apa Tan, kamu gak perlu merasa bersalah kek gitu, kamu ngga salah."
Bryan hanya bengong menatap Widia dan tidak menjawab pertanyaan Widia.
"Bang Iyan?... Setau gue cuma Candra yang panggil Bryan kayak gitu, kok gue jadi curiga ya sama Widia. Tapi gak mungkin juga dia Candra. Candra kan udah lama meninggal, mungkin ini cuma perasaan gue aja," pikir Dika.
"Gak boleh ya kak?."
"Ngga kok, bukan kayak gitu... Kamu boleh kok panggil aku kayak gitu. Kamu cuma ngingetin aku sama adik aku yang udah lama meninggal, gak tau kenapa aku ngelihat kamu kayak ngelihat Candra. Aku sayang banget sama dia, cuma dia yang pernah panggil aku kayak gitu," jawab Bryan yang terlihat sedih karena teringan adiknya.
Mendengar perkataan Bryan membuat Widia meneteskan air mata. "Maaf ya kak."
"Kamu kenapa nangis?" tanya Bryan yang sedikit bingung karena melihat Widia menagis.
Widia menunduk dan mengusap air matanya. "Widia cuma ngerasain apa yang Kak Bryan rasain."
"Kamu jangan nangis, aku gak apa-apa... Boleh gak aku anggap kamu adik?" ucap Bryan sambil tersenyum.
Widia tersenyum dan menjawab pertanyaan Bryan. "Boleh kok kak, Widia malah seneng."
"Nah gitu dong Nyet, senyum, kan jadi cantik."
Bryan mendoyor kepala Dika. "Yaelah... Bisa aja lo Dika."
*********
Jam pulang sekolah Widia pulang bersama Dika, namun ban motor yang mereka kendarai kempes. Ada sebuah mobil mengampiri mereka, orang yang mengendarai mobil itu adalah Amel yang tak lain adalah saudari tiri Dika yang juga bersekolah di SMA Nusantara.
Amel membuka jendela mobilnya. "Heh! motor butut lo bannya kempes ya?!."
Dika hanya menatap Amel yang mengejeknya.
"Dia siapa Dik?" tanya Widia.
"Dia anaknya Yuni. Udah, gak usah diperduliin orang kayak dia. Lo sabar sebentar ya, gue telpon Restu dulu, suruh dia jemput kita."
"Dasar miskin!." Amel menutup jendela mobilnya kemudian meninggalkan Dika dan Widia. Namun Amel sengaja menyenggol motor Dika hingga terjatuh.
"Sialan lo!!!..." Dika yang merasa kesal mengambil batu dan melemparnya ke mobil Amel hingga jedela belakang mobil Amel pecah.
Amel langsung menghentikan mobilnya dan menghampiri Dika. "Gila lo!... Jendela mobil gue jadi pecah!. Emang lo bisa ganti hah!."
"Lo siapa suruh cari gara-gara sama gue!. Kalo lo bukan cewek, udah gue hajar lo!."
PLAK...
Amel langsung menampar wajah Dika.
"Dasar sampah!... Semua orang benci lo!. Bahkan papa juga benci sama lo!. Emang lo bisa apa?!" bentak Amel.
Mendengar perkataan Amel membuat Widia merasa kesal. "Berhenti!... Kali ini lo udah keterlaluan sama Dika!. Jaga ucapan lo!. Sekali lagi lo hina Dika, gue gak akan tinggal diam!."
"Emang lo siapa ikut campur urusan gue sama Dika?!."
"Udah Widia... Ngga usah urusin dia, gue nggak mau lo kena masalah," kata Dika sambil menenangkan Widia.
Melihat kejadian itu, Dimas yang kebetulan lewat menghampiri mereka.
"Ini ada apa ribut-ribut."
"Kak Dimas, kak Dika udah pecahin jendela mobil Amel. Amel tau kak Dika benci sama Amel, tapi kali ini kak Dika udah keterlaluan," ucap Amel dengan ekspresi sedih.
"Heran gue sama lo Dik, lo kapan berubahnya sih?!. Cari gara-gara terus kerjaan lo."
"Dasar ni cewek... Drama queen banget," pikir Widia.
"Tapi dia yang mulai duluan, dia yang hina gue, dia nyenggol motor gue. Lo harus percaya sama gue Dim!."
"Jangan percaya sama dia kak, dia bohong. Kak Dimas kan tau Amel, nggak mukin Amel cari gara-gara kak."
"Bener kata Amel Dik, Lo mending ngga usah ngelak. Cepet lo minta maaf sama Amel!."
"Jangan harap gue mau minta maaf ke orang kayak dia!. Kapan sih lo mau percaya sama gue Dim?."
"Iya kak Dimas, Dika jujur, Amel yang cari gara-gara duluan," ucap Widia membela Dika.
"Mereka bohong kak," tungkas Amel.
"Udah stop!... Gue gak tau siapa yang bener siapa yang salah. Sekarang Amel pulang, biar kakak yang ganti rugi jendela mobil kamu. Urusan ini selesai sampai disini!."
"Iya kak Dimas." Amelpun pergi meninggalkan mereka. Sebenarnya ia masih merasa kesal pada Dika dan Widia, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa di depan Dimas.
"Tapi Dim..."
"Gue gak mau denger apa-apa lagi Dik. Mending gue anter lo cari bengkel sama sekalian anter Widia pulang. Kamu mau kan Wid?."
"Iya Dim."
"Iya kak Dimas."
°
°
°
Maaf jika banyak kesalahan dalam novel ini. Saya baru pertamakali membuat novel, jadi mohon pemaklumannya ya kakak 🙏😊...
Jangan lupa like, komentar, dan ratenya sebagai bentuk apresiasi kalian terhadap novel ini 🤗...
Terima kasih 🙏💕...