Choco

Choco
Adit & Bintang



"Ini masalah serius Dit! kamu apain anak orang?!" ucap Intan.


"Buakakakakak... Dasar kalian berdua... Buakakakakak..." Adit malah tetap tertawa.


Widia mencubit lengan Adit. "Kita lagi serius Dit! Malah ketawa."


"Aw... sakitt..." ucap Adit sambil mengusap lengannya.


"Kamu udah kelewatan Dit!" ucap Intan.


Widia meremas kerah baju belakang Adit. "Jangan bercanda!"


"Santai, santai, ya ampun, jiwa lakinya mulai keluar. Tenang... malu dilihatin orang, gue akan jelasin... " Adit melepaskan tangan Widia dari kerah bajunya.


"Kalian serius banget, gue cuma iseng, gue cuma bercanda," ucap Adit.


"Lo nggak bohong kan?" tanya Widia.


"Iyaa... gue nggak apa-apain dia, ceritanya nggak kayak gitu, tadi gue cuma ngarang. Gue lucu aja lihat ekspresi kaget kalian,"


jawab Adit.


"Sumpah kamu nggak ngelakuin itu?" tanya Intan.


"Ya ampon, pake sumpah segala. Iyaa... gue nggak ngelakuin hal itu, gue berani sumpah. Manamungkin seorang Aditya Maharta pewaris satu-satunya dari Maharta Company dan anak tunggal dari Arya Maharta dan Rahayu Wedari melakukan hal tidak terpuji seperti itu, sangat mustahil..." ucap Adit.


Widia mendorong pipi Adit. "Eleh... Songong!"


"Wkwkwk... Gue nggak bermaksud sombong. Tapi emang bener kan gue anak mama sama papa gue," ucap Adit.


"Parah banget lo Dit, masak hal kayak gitu dibercandain," ucap Widia.


"Bikin kita kaget aja," ucap Intan.


"Iya, iya, maaf... Oh ya, dari kemarin gue pengen nanya ke lo Tan, tapi gue lupa terus. Beberapa hari yang lalu gue lihat lo di mall bareng Restu. Ngapain hayoo?... Kalian pacaran yaa?... Baru aja mau aja samperin, tiba-tiba kalian hilang. Dan gue juga beberapa kali lihat kalian berangkat sekolah bareng," ucap Adit.


"Intan emang pacaran sama Kak Restu, kurang lebih udah satu minggu," ucap Widia.


"Lah, lo tau Wid? Kenapa nggak kasi tai gue? Wah, kebangetan kalian berdua," ucap Adit.


"Gue kira lo udah tau. Intan wajar pacaran sama Kak Restu, mereka udah lama deket. Kalo lo nggak ada angin nggak ada hujan tiba-tiba pacaran sama Bintang, gue aja nggak tau kalo lo kenal sama Bintang," ucap Widia.


"Ceritain dong Dit, aku jadi kepo," ucap Intan.


"Ah, nggak mau gue. Lo aja nggak kasi tau gue kalo lo pacaran sama Restu," tolak Adit.


"Kalo gitu aku tetep percaya kalo kamu udah apa-apain Bintang," ucap Intan.


"Ya ampun, plis... Gue cuma bercanda tadi," ucap Adit


"Gimana kalo lo mau cerita, gue akan kasi lo pinjem buku komik keluaran terbaru, plus CD anime terbaru, dan satu lagi, gue baru dibeliin PS keluaran terbaru, nanti lo boleh main sepuasnya," ucap Widia.


"Wah! Seriusan?" tanya Adit.


"Iya... komik gue itu limited edition loh, Bang Iyan yang kemarin beliin gue pas dia keluar kota."


"Ya udah deh, gue lanjutin cerita. Oke, ceritanya kita skip. Hari itu gue emang rebutan buku komik sama Bintang, tapi dia langsung masukin buku komik itu kedalam lemari, dan nggak ada adegan plus-plus kayak yang gue ceritain tadi. Habis pinjem buku komik gue langsung pulang. Besoknya gue kembali ke rumah Bintang lagi..." ucap Adit.


»»»»»»»» Kilas Balik ««««««««


Keesokan harinya Adit kembali ke rumah Bintang karena makanan anjing yang dibeli Bintang tertinggal di mobil Adit.


Teet... teet... teet...


Adit memencet bell rumah Bintang. Beberapa saat kemudian Bintang datang untuk membukakan pintu.


"Adit?..." ucap Bintang.


"Ini, gue mau ngembaliin makanan anjing lo, kemarin ketinggalan di mobil gue," ucap Adit.


"Oh iya, dari kemarin anjing gue belum makan. Makasi ya."


"Iya sama-sama... Lo sakit ya?" tanya Adit karena melihat wajah Bintang yang pucat.


"Iya..."


"Pantesan aja tadi gue nggak lihat lo di sekolah. Biar gue yang bawa makanan anjingnya, ini lumayan berat, lo kan lagi sakit."


"Iya, ayo masuk..."


Bintang pun mengajak Adit masuk kedalam rumah.


"Makanan anjingnya taruh dimana?" tanya Adit.


"Sini, taruh deket kandang anjing gue aja." Bintang mengajak Adit ke kandang anjingnya.


"Anjing lo besar juga. Siapa namanya?"


"Coki"


"Gimana kalo sekalian gue kasi makan? Dari kemarin kan dia belum makan."


"Nggak usah, nanti gue ngerepotin lo."


"Nggak apa-apa, santai aja, gue udah biasa kasi makan anjing, gue juga punya anjing di rumah. Lo duduk aja," Adit langsung memberikan Coki makan.


"Lo udah ke dokter?" tanya Adit sambil memberi makan Coki.


"Udah..." jawab Bintang.


"Di rumah lo nggak ada orang lagi?"


"Lo jangan ngerasa sendiri... Kalo lo perlu apa-apa atau cuma sekedar cerita, lo bisa hubungin gue."


"Iya, makasi ya Dit."


"Iya..."


Sejak saat itu Adit dan Bintang menjadi akrab. Mereka sering menghabiskan waktu bersama, seperti mengerjakan tugas, membaca komik, menonton anime, merawat hewan peliharaan, dan lain sebagainya.


Suatu hari ketika Adit sedang mengajak anjingnya jalan-jalan ditaman dekat sungai, secara kebetulan ia juga melihat Bintang duduk sendirian di pinggir sungai. Adit yang melihat hal tersebut langsung menghampiri Bintang.


"Bintang..." sapa Adit.


Mengetahui kedatangan Adit, Bintang segera menghapus air matanya karena memang tadi ia sedang menangis. Bintang langsung menunjukkan ekspresi seolah dirinya baik-baik saja dan menyapa Adit serta anjingnya (Bolly). "Eh, Adit sama Bolly juga..."


Walaupun Bintang menunjukkan ekspresi ceria, Adit tetap mengetahui Bintang baru saja menangis karena mata Bintang yang masih bengkak dan memerah akibat menangis. "Lo... lo habis nangis?"


"Nggak, gue nggak nagis," tungkas Bintang.


Mata Bintang kembali berkaca-kaca, namun ia berusaha mengalihkan pikirannya dengan cara berinteraksi dengan Bolly.


Adit menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan, kemudian ia memalingkan wajahnya kearah sungai. "Lo nggak usah bohong, mata lo masih merah..."



Bintang kemudian duduk menghadap sungai. Adit pun ikut duduk disamping Bintang. Bintang yang sudah tidak dapat membendung air matanya dengan segera mengusap matanya.


"Kan gue pernah bilang, kalo lo ada apa-apa, lo bisa cerita sama gue..." ucap Adit dengan lembut.


"Gue... gue cuma kangen sama orang tua gue aja..."


"Lo yang tabah... Mereka pasti udah tenang di alam sana... Gue akan selalu ada buat lo..."


"Makasi ya Dit..."


"Iya..."


Mereka pun duduk disana sambil berbincang-bincang dan melihat matahari terbenam. Karena waktu sudah menunjukkan pukul 07.30 Adit pun menghantar Bintang pulang.


***** sesampai di rumah Bintang


"Gue boleh pinjem komik lagi nggak?" tanya Adit.


"Boleh..."


Bintang pun mengajak Adit masuk kedalam rumahnya.


"Belum ada orang juga jam segini di rumah lo..." ucap Adit karena keadaan rumah terlihat sepi.


"Iya, mereka emang pulang malem-malem, paling cepet jam sembilan malam. Gue nggak akrab sama paman, bibi, ataupun sepupu gue, gue cuma bicara seperlunya sama mereka. Semenjak orang tua gue meninggal, gue ngerasa kesepian... Seneng rasanya kalo ada orang yang sekedar nanya kabar kita... Tapi gue nggak punya..." terlihat raut wajah Bintang yang menunjukkan ekspresi sedih.


"Jangan ngerasa sendirian, selalu ada orang yang diam-diam merhatiin lo... Dan orang itu adalah gue..."


Bintang langsung menandang Adit, Adit pun memegang tangan Bintang.


"Gue suka sama lo... Gue sayang sama lo... Gue mau hubungan kita lebih dari sekedar teman. Lo mau kan jadi pacar gue?..."


Bintang tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya pelan. Adit yang melihat respon Bintang langsung menunjukkan ekspresi bahagia di wajahnya.


"Gue bahagia banget hari ini..." ucap Adit.


"Gue lebih bahagia..." ucap Bintang.


Mereka berdua pun saling berpelukan.


Sebelum Adit pulang Bintang memberikan Adit buku komik yang waktu itu ia larang dibaca oleh Adit. Ternyata buku komik buatannya itu menceritakan hayalannya tentang Adit dan dirinya. Bintang sebenarnya sudah lama menyukai Adit. Selain itu Bintang juga selama ini diam-diam sering memperhatikan Adit, ia sangat ingin dekat dekat dengan Adit hanya saja ia merasa malu dan tidak percaya diri karena Adit merupakan idola para siswi di sekolahnya.


»»»»»»»»»»»»»»»»««««««««««««««««


"Aaaa.... so sweet... Gue jadi ira..." ucap Intan.


"Matep banget lo Dit," ucap Widia.


"Iya dong, kalo biasa-biasa aja buka Adit namanya," ucap Adit dengan senyuman bangganya.


"Adeh... Gaya banget lo..." ucap Widia.


"Dasar Adit..." ucap Intan.


"Wkwkwk..." Adit hanya merespon ucapan Widia dan Intan dengan tertawa.


"Tapi Dika kemana sih? Gue nggak lihat dia dari tadi," batin Widia.


BERSAMBUNG•••••••


••••••••••••••••••••


°


°


°


Sambil menunggu cerita ini update, yuk mampir ke cerita author yang lainnya judulnya "Berbeda"


Jangan lupa like, komentar, vote, dan ratenya ya, agar author jadi lebih semangat 🤗...


Terima kasih 🙏💕...