Choco

Choco
Berbohong



Seperti yang Dimas dan Widia rencanakan, sore harinya Dimas mencari Widia ke rumah untuk diajak ke pantai.


"Dimas?... Ada apa lo kesini?" tanya Bryan melihat kedatangan Dimas.


"Wkwkwk... Bryan, Bryan..." batin Dimas tertawa.


"Gue mau cari Widia," jawab Dimas.


"Nah, tu anaknya..." ucap Bryan sambil menunjuk Widia yang menuruni tangga.


"Kalian mau kemana?" tanya Bryan.


"Kita mau jalan bang," jawab Widia.


"Jalan?... kok pakaiannya santai banget sih? wkwkwk..." Bryan tertawa karena melihat Dimas dan Widia hanya memakai baju kaos dan celana olahraga.


Dimas menatap malas pada Bryan. "Pake ketawa lagi... Kita cuma mau lari ke pantai, biar sehat."


"Ya udah, jaga adek gue," ucap Bryan.


"Widia jalan ya bang," ucap Widia.


"Iya..."


"Bye!..." ucap Dimas pada Bryan.


Dimas dan Widia pun berjalan keluar.


"Gaya banget lo, jaga tuh adek gue!" teriak Bryan.


"Iya, iyaa... bawel banget lo..." ucap Dimas sambil tetap berjalan.


"Kak Dimas, Kak Dimas..." ucap Widia sambil tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya.


"Kok gue ngerasa aneh ya?..." gumam Bryan.


***** di mobil


"Kok tumben pake mobil yang ini kak?" tanya Widia.


"Emangnya kenapa?. Kamu nggak suka ya?"


"Bukan gitu kak, soalnya tumben aja Kak Dimas pake mobil yang ini."


"Aku cuma lagi pengen aja pake yang ini."


"Ooo..."


"Wangi Kak Dimas pas banget, nggak berlebihan kayak biasanya. Hari ini dia beda banget," batin Widia sambil menatap Dimas yang sedang menyetir.


»»» Yang Sebenarnya Terjadi «««


Dika yang ingin makan siang, tidak sengaja melihat handphone Dimas di atas meja makan.


"Ini Hp-nya Dimas... tapi dia kan udah berangkat rapat OSIS buat persiapan acara ulang tahun sekolah. Jangan-jangan Hp-nya ketinggalan," gumam Dika.


Dika pun mengambil ponsel Dimas dan iseng memasukan tanggal lahir Dimas untuk membuka sandi, secara kebetulan ponsel Dimas dapat terbuka.


"Wah, Dewi Fortuna sedang berpihak sama gue. Maafin gue Dim, gue pinjem Hp lo bentar," gumam Dika.


Dika membuka WA Dimas dan melihat percakapannya dengan Widia.


"Apaan ni, masak pacaran kayak gini. Datar banget, nggak ada romantis-romantisnya," gumam Dika membaca percakapan Dimas dan Widia.


"Maafin gue Dim..." ucap Dika. Dika kemudian berpura-pura menjadi Dimas dan mengirim pesan pada Widia untuk mengajaknya ke pantai.


Ting...


Masuk pesan dari Widia menanyakan tentang Dimas yang seharusnya ikut rapat OSIS.


Dika pun merasa kebingungan karena hal tersebut. "Ya ampun... gue jawab apa nih?. Jawab asal aja deh."


Beberapa saat kemudian Widia pun mengirim pesan bahwa ia menyetujui ajakan Dika.


"Yes... Widia setuju. Gue harus cepet-cepet hapus pesan ini biar nggak ketahuan Dimas." Dika kemudian segera menghapus pesan tersebut.


Dika segera keluar rumah untuk menuju barber shop dan memotong rambutnya agar rapi seperti Dimas. Di depan rumah Dika berpapasan dengan Dimas yang baru datang.


"Pasti Dimas balik mau ngambil Hp-nya. Maafin gue Dim, biarin gue egois sekali ini aja..." ucap Dika dalam hati.


Dika pun memotong rambutnya agar rapi seperti Dimas, setelah itu ia langsung bersiap-siap untuk ke pantai.


Dika bercemin sambil menyisir rambutnya. "Gini banget gaya rambutnya Dimas, tapi kalo dilihat-lihat, gue tetep ganteng wkwkwk..." gumam Dika.


"Gue heran kenapa Widia lebih milih Dimas daripada gue. Nggak tau kenapa, gue ngerasa Widia itu suka sama gue, karena gue juga ngerasain hal yang sama... Gue akan buktiin kalo lo sebenarnya emang suka sama gue," batin Dika.


»»»»»»»»»»»»»» • ««««««««««««««


***** di pantai


Mereka berdua berlari menyusuri pantai, terlihat Widia yang terus tertawa bahagia karena candaan dari Dika.


"Seneng banget lihat Widia ketawa terus," batin Dika.


"Kak Dimas beda banget, gue ngerasa kayak sama... Dika. Mereka kan kembar, mungkin ini cuma perasaan gue aja. Apa ini tandanya gue mulai suka sama Kak Dimas?..." batin Widia yang mengira Dika adalah Dimas. Widia kemudian meraih tangan Dika dan menggandengnya.


Deg...


Seketika jantung Dika terasa seperti ingin berhenti karena tangannya dipegang oleh Widia.


Dika memandang tangannya yang dipegang oleh Widia kemudian memandang Widia yang dibalas senyumam oleh Widia.


"Widia megang tangan gue... Apa biasanya Dimas sama Widia emang seakrab ini?" batin Dika.


Jantung Dika berdegup dengan kencang dan semakin tak karuan karena Widia memegang tangan Dika semakin erat.


"Hah? Kak Dimas bilang apa?" tanya Widia karena tidak dapat mendengar suara Dika dengan jelas.


"Gue kenapa sih bisa segugup ini? jadi salting kayak gini..." ucap Dika dalam hati.


"Maksudnya itu ada dangang jagung, beli jagung yuk," ajak Dika.


"Ayok... Baru kali ini Kak Dimas pengen makan di dagang kaki lima."


"Aku lagi pengen aja..."


Mereka pun berjalan menghampiri pedagang jagung manis tersebut sambil tetap berpegangan tangan. Dika menarik nafas dalam dan menghembuskannya pelan untuk mengurangi kegugupannya. Tanpa disadari bibir Dika terus tersenyum tanpa bisa menahannya.


Akhirnya Widia melepaskan tangan Dika karena Dika ingin membayar jangung yang mereka beli. Mereka berduapun duduk makan jagung disana.


"Adek berdua ini emang cocok ya, yang satu ganteng, yang satunya lagi cantik," ucap abang pedagang jagung.


"Ah, abang bisa aja..." ucap Dika.


"Yah, nggak percaya... Tapi jarang-jarang ada orang pacaran disini jam segini, biasanya disini malem-malem rame yang dateng, apalagi malam mingguan," ucap abang pedagang jagung.


"Kita ini pacaran sehat bang, nggak kayak mereka-mereka... Abang kayaknya udah lama jualan disini, sampai hafal sama hal kayak gitu." ucap Dika.


"Kak Dimas beneran beda banget, nggak biasanya dia bisa semudah ini akrab sama orang baru..." pikir Widia melihat keakraban Dika dan pedagang jagung tersebut.


"Saya udah 3 tahun jualan disini, selain itu saya kan juga pernah muda."


"Tapi kan, beda jaman lah bang, wkwkwk..." ucap Dika sambil tertawa.


Widia yang semakin curiga, memperhatikan Dika yang sedang tertawa.


"Ya, nggak terlalu beda jauh juga, wkwkwk..." ucap pedagang jagung tersebut sambil tertawa.


"Iya deh bang, iya... serah abang aja..."


Pedagang jagung tersebut membungkus 3 buah jagung manis dan memberikannya pada Dika. "Ni saya kasi adek jagung lagi, khusus untuk adek gratis."


"Wah, yang bener bang? ini buat saya?."


"Beneran, ayo ambil..."


"Makasi nih bang... Nggak isi racun kan?" tanya Dika bercanda.


"Nggak lah, jagung saya dijamin bersih dan sehat."


"Jarang-jarang loh ada pedagang jagung murah hati kayak abang. Kalo saya nikah, semua jagung abang saya pesen deh, wkwkwkk..." ucap Dika santai, seakan-akan sudah lama akrab dengan pedagang jagung tersebut.


"Lah, udah kepikiran nikah aja. Sekolah dulu yang benerr..." tegur pedagang jagung tersebut sambil menepuk pundak Dika.


"Iya bang, iyaa..."


Dika yang menyadari Widia dari tadi menatapnya pun merasa ada yang aneh.


"Ada apa Wid?" tanya Dika pada Widia.


"Siapa lo sebenarnya?" tanya Widia dengan serius.


"Jangan-jangan Widia udah tau kalo gue bukan Dimas. Dari awal gue emang niat ngaku dan nanya perasaan Widia setelah jalan sama gue, mending gue jujur aja," batin Dika.


"Gu-gue..." Perkataan Dika terpotong oleh Widia.


"Lo Dika kan!."


"Iya..."


"Keterlaluan lo!..." Widia langsung berlari pergi meninggalkan Dika.


Dika pun langsung mengejar Widia dan berhasil menghentikannya. "Gue bisa jelasin Wid..."


"Nggak ada yang perlu dijelasin!"


"Gue nggak pernah lihat lo akrab sama Dimas kayak lo akrab sama gue kayak tadi. Gue nggak ngerti kenapa lo mau pacaran sama Dimas."


"Gue pacaran sama siapa aja, itu bukan urusan lo!."


"Tapi gue tau lo sebenarnya suka sama gue, karena gue juga ngerasa kayak gitu..."


"Lo salah paham, gue nggak suka sama lo!" ucap Widia tanpa menatap Dika.


"Lo bohong!."


"Gue nggak bohong!."


"Sekarang coba lo tatap mata gue, dan bilang kalo lo nggak suka sama gue."


"..." Widia hanya diam tanpa menatap Dika.


"Lo suka sama gue Wid..."


Widia langsung menatap Dika dan menentang ucapan Dika. "Nggak!... Gue nggak suka sama lo!. Mending lo jauhin gue!!." Widia langsung berlari meninggalkan Dika.


"Baik, kalo itu mau lo Nyet, gue nggak akan ganggu lo lagi..." ucap Dika dalam hati sambil memandang Widia berlari meninggalkannya.


"Ya ampun Dika... Gue nggak bisa bohongin perasaan gue, kalo gue emang suka sama lo. Tapi disisi lain gue udah janji sama Dimas, bagaimanapun gue harus berusaha lupain lo," batin Widia. Ia pun sudah tak bisa menahan air matanya yang keluar.


°


°


°


Jangan lupa like, komentar, dan ratenya ya, agar author jadi lebih semangat 🤗...


Terima kasih 🙏💕...