
Terima kasih sudah mampir 🤗...
Selamat membaca 💕...
••••••••••••••••••••
Hari ini adalah ulang tahun SMA Nusantara yang ke 23. Ulang tahun sekolah dilaksanakan dengan sangat meriah. Ada berbagai macam kegiatan yang dilaksanakan, seperti perlombaan dan acara hiburan lainnya.
Acara dimulai dengan upacara bendera dan pidato dari kepala sekolah, kemudian berbagai macam perlombaan pun dilaksanakan.
Perlombaan pertama yaitu lomba modeling. Banyak siswa dan siswi yang mengikuti lomba tersebut, termasuk Clara dan teman-temannya. Semua terpesona dengan penampilan Clara yang sangat menawan dan elegan. Willy yang menyaksikan perlombaan tersebut juga ikut terpesona dengan kecantikan Clara. Sebelumnya Willy sudah sering memperhatikan Clara, dan ia sudah lama menyukai Clara.
Tak disangka-sangka ternyata Bryan juga mengikuti lomba tersebut. Bayak siswi yang berteriak histeris ketika Bryan tampil, mereka bersorak dan menyanyikan yel-yel untuk menyemangati Bryan.
"Go Bryan... go Bryan go..." sorak beberapa kelompok siswi.
"Semangat Bryan... aye..." sorak siswi lainnya.
"Bryann... I love you Bryan..." teriak para siswi.
"Lihat Wid, kakak kamu ikut lomba," ucap Intan.
"Wah, iya Tan, Bang Iyan parah banget, ikut lomba nggak bilang-bilang ke gue... Mana fansnya Bang Iyan banyak banget, pada heboh lagi, kayak nonton bola aja," ucap Widia.
"Wkwkwk... Masak sih kakak kamu nggak bilang ikut lomba?..." tanya Intan.
"Iyaa... gue aja baru tau setelah dia muncul di panggung," jawab Widia.
***
Perlombaan selanjutnya adalah lomba cerdas cermat yang diwakili oleh 2 orang dari masing-masing kelas. Kelas X IPA 1 pun diwakilkan oleh Adit dan Intan, namun sayang sekali Widia tidak bisa menyaksikan teman-teman berlomba, karena ia juga ikut lomba menggambar ilustrasi yang dilaksanakan secara bersamaan dengan lomba cerdas cermat.
Selesai lomba Widia, Intan, dan Adit makan di kantin sambil berbincang-bincang.
"Gimana lombanya Wid?" tanya Intan pada Widia.
"Syukurlah, lombanya lancar Tan."
"Gue yakin lo pasti menang Wid. Gue kan pernah lihat gambar lo Wid, gambar lo bagus banget," ucap Adit.
"Iya Wid, gambar kamu kan bagus banget, kamu pasti bisa menang," ucap Intan.
"Amin... makasi ya, tapi kalian terlalu berlebihan, gue nggak sehebat itu kali... Ngomong-ngomong lomba kalian gimana?"
"Lombanya lancar Wid, kita bisa jawab banyak pertanyaan," ucap Adit.
"Waah, kalian hebat banget... Gue yakin pasti kalian yang jadi juara."
"Amin..." ucap Adit dan Intan.
"Tadi aku lihat Kak Dimas sama kakak kamu juga ikutan loh Wid," ucap Intan.
"Iya tan, mereka udah bilang kalo ikut lomba cerdas cermat."
"Terus Kak Dimas sekarang dimana?. Kamu nggak nemuin dia?."
"Nggak Tan, biasalah, dia sibuk terus, Bang Iyan juga sama, sibuk terus..." ucap Widia dengan kecewa.
"Mereka berdua kan sibuk karena kegiatan positif, aku yakin Kak Dimas pasti nemuin kamu setelah urusannya selesai," ucap Intan.
"Lo tenang aja Wid, kan masih ada kita berdua, kita akan selalu ada buat lo. Ya kan Tan?" ucap Adit.
"Iya, bener kata Adit. Kita berdua akan selalu ada buat kamu," ucap Intan.
"Makasi ya, kalian emang sahabat terbaik gue..." ucap Widia.
"Iya, sama-sama Wid," ucap Intan dan Adit.
"Setelah ini kan ada lomba basket, kita nonton yuk..." ajak Intan.
"Gue pasti nonton Tan, Bang Iyan kan ikut lomba, gue mau nyemangatin dia."
"Kakak kamu hebat banget ya, semua lomba dia ikut. Lomba model, cerdas cermat, mana nanti ikut lomba basket juga, jadi ketua OSIS lagi," ucap Intan.
"Sebenarnya gue heran sama abang gue, semua kerjaan diambil. Wkwkwk... ribet banget jadi dia. Tapi gue salut sama Bang Iyan, dia hebat hampir di setiap hal."
"Pantes aja Kak Bryan banyak fans, wkwkwk..."
"Ngomong-ngomong lo ikut nonton kan Dit?" tanya Widia.
"Gue nggak bisa ikut, gue kan harus siap-siap buat lomba futsal," jawab Adit.
"Oh ya, lupa gue. Semangat ya, kita pasti dukung lo Dit," ucap Widia.
"Iya Dit, kita pasti dukung lo," ucap Intan.
"Iyaa... kalian nanti harus dateng..."
"Siap boss..." ucap Widia.
"Iya, kita pasti dateng," ucap Intan.
Setelah selesai makan Widia dan Intan pun pergi menonton pertandingan basket, sementara Adit bersiap-siap untuk lomba futsal.
Sesampai di lapangan sudah banyak murid yang berkumpul untuk menonton pertandingan basket dan beberapa menit kemudian pertandingan basket antar jurusan pun dimulai.
Bryan dan Willy ikut bermain bersama tim jurusan IPA, dan Bryan sebagai kapten tim. Sementara di tim jurusan IPS terlihat Dika yang ikut bermain dan menjadi kapten tim.
Semua suporter melompat-lompat dan bersorak menyayikan yel-yel dengan keras mendukung tim mereka. Begitupun dengan Widia dan Intan yang terlihat sangat bersemangat.
Namun di tengah-tengah sorakan para suporter samar-samar Widia mendengar seseorang menyebut nama Dika. Widia pun melihat ke sumber suara tersebut, ternyata orang yang menyemangati Dika adalah Aulia.
"Ternyata Kak Aulia..." ucap Widia dalam hati.
Sementara itu di pendukung jurusan IPA, selain menyemangati tim jurusan IPA, banyak juga yang menyemangati Bryan. Tetapi tiba-tiba ada seseorang yang meneriaki nama Dika.
"Semangat Kak Dikaa... Pangeran bervespa putih kuu..." teriak Monica.
Sontak saja teriakan Monica mengundang perhatian suporter pendukung tim jurusan IPA termasuk Widia.
"Bikin malu aja lo Mon..." bisik Rani.
"Iya deh, iyaa..." ucap Monica.
Pertandingan pun berlangsung dengan sengit, dan akhirnya dimenangkan oleh tim dari jurusan IPS.
Sebelum perlombaan selanjutnya dimulai, yaitu lomba futsal, semua murid diberikan waktu istirahat sejenak. Waktu istirahat ini pun digunakan Widia untuk menemui Bryan.
Di ruang istirahat, Widia melihat Aulia sedang duduk bersama Dika, dan Aulia juga mengusap peluh Dika. Dika dan Widiapun sejenak saling menatap satu sama lain.
Intan yang melihat ekspresi sedih di wajah Widia, langsung mengajaknya untuk pergi.
"Yuk Wid..." Intan kemudian menarik tangan Widia dan mengajaknya pergi.
"Widia..." ucap Dika dalam hati.
"Aulia, gue, gue ke toilet dulu ya..." Dika kemudian langsung pergi ke toilet.
"Ini pasti gara-gara Widia. Widia lagi, Widia lagi..." batin Aulia.
***
"Eh, adek abang sama Intan dateng..." ucap Bryan pada Widia dan Intan yang baru datang.
"Widia... Intan..." ucap Willy.
"Bang Iyan sama Kak Willy hebat banget mainnya," ucap Widia.
"Iya, Kak Bryan sama Kak Willy keren banget," ucap Intan.
"Yah, kalian mujinya berlebihan, orang kita kalah tadi," ucap Bryan.
"Dapet juara 2 aja, udah bersyukur," ucap Willy.
"Bener kata Kak Willy, Kak Bryan harus bersyukur," ucap Intan.
"Iya, iyaa..."
"Tapi kenapa Bang Iyan nggak bilang-bilang kalo ikut lomba model?" tanya Widia.
"Tadi itu abang ikut lombanya dadakan, gara-gara temen abang tiba-tiba sakit. Tapi adek abang kenapa? lagi sakit ya?" ucap Bryan.
"Nggak kok bang, Widia ke toilet dulu ya," ucap Widia lesu, Widia kemudian langsung pergi ke toilet.
"Widia kenapa Tan?" tanya Bryan.
"Tadi dia lihat Kak Dika, kayaknya mereka berdua lagi berantem," jawab Intan
"Pantesan aja..."
"Awas aja si Dika, gue bakalan cari dia," ucap Willy kesal.
"Nggak usah, biar gue aja. Nanti gue minta tolong sama lo, anterin adek gue pulang ya. Soalnya gue masih ada urusan, si Dimas pasti sibuk juga..."
"Oke Yan..."
Sementara itu di tolilet, Widia berpapasan dengan Dika yang baru saja keluar dari toilet. Mereka berdua hanya lewat tanpa mempedulikan satu sama lain.
"Ternyata lo masih marah sama gue Dik..." ucap Widia dalam hati.
"Gue sebenernya nggak pengen dan nggak kuat kayak gini terus, tapi lo yang nyuruh gue jauhin lo Wid..." batin Dika.
Setelah Widia dan Intan pergi, Bryan langsung mencari Dika. Dika hanya duduk bengong sendiri di ruang istirahat, karena semua orang pergi menonton pertandingan futsal.
"Lo ngapain kesini?..." tanya Dika pada Bryan.
"Lo yang ngapain disini sedirian?. Lo nggak nonton futsal?. Biasanya kan lo yang paling semangat dan jadi pemimpin suporter."
"Gue lagi pengen diem aja, capek gue..."
"Lo nggak usah boong, lo pasti bad mood gara-gara berantem sama adek gue kan?."
"Lo tau dari mana?."
"Dari gerak-gerik kalian aja udah kelihatan. Kalian berdua ngapain sih berantem terus?. Seharusnya kalian berdua itu ngaca, gue tau sebenarnya kalian itu saling suka. Gue cuma bingung aja, kenapa adek gue bisa sama Dimas."
"Gue juga bingung kenapa Widia bisa sama Dimas, karena gue ngerasa dia itu suka sama gue. Gue udah jujur sama dia, tapi dia yang nyuruh gue buat ngejauhin dia."
"Adek gue kayak gitu pasti ada sebabnya, kalo lo bener-bener suka sama dia, lo harus perjuangin dia."
"Yaelah, gaya banget lo, sok nasihatin gue. Lo aja masih jomblo sampe sekarang, dasar, jomlo abadi!..." ejek Dika.
"Enak aja ngejek gue, biar kayak gini, gue itu banyak fans... Tapi awas aja lo berani sakitin adek gue, lo akan berurusan sama gue!."
"Iya, iyaa... gue nggak mungkin sakitin dia."
"Gue pegang janji lo..."
"Iyee... bawel banget. Pergi sono, lo ketua OSIS malah enak santai-santai disini."
"Ni juga mau pergi, ogah banget berduaan disini sama lo..."
°
°
°
Yuk mampir ke cerita author yang lainnya judulnya "Berbeda"
Jangan lupa like, komentar, dan ratenya ya, agar author jadi lebih semangat 🤗...
Terima kasih 🙏💕...